
*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*
Siluman Seribu Tampar memiliki kelebihan berupa kecepatan tamparan tangan yang tinggi. Namun, kelebihan itu menjadi tidak begitu menguntungkan ketika bertemu dengan tangan kiri Pangeran Kubur yang bermain cakar beracun.
Pak pak pak!
Akhirnya dia bermain tampar-tamparan jarak jauh, tapi bukan online. Ternyata tamparan jarak jauh masih mampu ditangkal oleh tangkisan jarak jauh Pangeran Kubur pula.
Sresrr!
Pada satu kesempatan, Pangeran Kubur maju beberapa langkah dengan cepat sambil tangan kanannya menebar sesuatu yang tidak jelas di tanah. Di atas permukan tanah tiba-tiba muncul puluhan ular yang merayap cepat memburu posisi kaki Siluman Seribu Tampar.
Lelaki berjubah hitam itu cepat melompat naik ke udara, tetapi cepat disambut oleh kelebat tubuh Pangeran Kubur. Hal yang menyerang Siluman Seribu Tampar adalah lesatan serangkaian tali sinar biru yang bersumber dari kuku panjang Pangeran Kubur.
Lima tali sinar biru itu menjerat tubuh Siluman Seribu Tampar lalu membantingnya ke tanah. Tanah yang tadi ramai ada ular merayap sudah bersih.
Sets!
Tangan kanan Siluman Seribu Tampar tiba-tiba bersinar merah membara. Telapak tangan itu ia tebaskan memutus kelima tali sinar yang menjeratnya.
Zets! Blar!
Berhasil bebas dari jeratan tali sinar, tidak membuat Siluman Seribu Tampar lepas. Tangan kanan Pangeran Kubur langsung melesatkan selarik sinar putih kepada tubuh Siluman Seribu Tampar.
Lelaki berjubah itu cepat berguling, membuat serangan sinar putih meledakkan tanah dengan keras, tetapi ledakannya mementalkan tubuh Siluman Seribu Tampar.
Siluman Seribu Tampar meringis kesakitan. Pangeran Kubur langsung memburu.
Dak!
“Hukh!” keluh Siluman Seribu Tampar saat satu tendangan keras menghantam lambungnya.
Dari atas cakaran tangan kiri datang menusuk. Siluman Seribu Tampar tidak bisa mengelak selain menahan dengan telapak tangannya yang bersinar merah.
Saling tekan dan tahan terjadi kuat. Asap yang lebih tebal terlihat muncul dari adu dua tenaga sakti itu.
Zess! Crekr!
Namun, ketika tiba-tiba kelima jari tangan kiri Pangeran Kubur bersinar biru lebih terang, muncul tenaga yang jauh lebih tinggi pada tekanan Pangeran Kubur. Akibatnya, kelima kuku biru Pangeran Kubur menusuk masuk ke dada Siluman Seribu Tampar.
“Akkrr!” pekik Siluman Seribu Tampar kesakitan luar biasa.
Siluman Seribu Tampar cepat balas menusukkan kedua telapak tangannya yang bersinar merah membara, tetapi Pangeran Kubur telah melompat mundur dari atas tubuh lawannya. Sambil tangan kanan melesatkan lagi selarik sinar putih.
Zets! Blar!
“Aakk…!”
__ADS_1
Siluman Seribu Tampar tidak bisa mengelak. Sinar putih itu mengenai tepat pusat perut. Menghancurkannya. Siluman Seribu Tampar semakin menjerit histeris menyongsong akhir masa hidupnya.
Sementara itu di pertarungan lain.
Salik Jejaka naik ke udara dengan tubuh berputar seperti gangsing. Pada puncak lejitannya, tiba-tiba tubuhnya berhenti berputar dengan sepasang lengan menghentak kepada Raja Akar Setan.
Sersss!
Tiba-tiba belasan burung-burung kecil dari sinar kuning muncul dari kedua lengan Salik Jejaka, terbang menyerang ke arah Raja Akar Setan.
Cess cess cess!
Raja Akar Setan menghentakkan tangan kanannya. Di depannya langsung terbentang selapis sinar hijau yang kemudian ditabrak oleh semua sinar burung Salik Jejaka sehingga musnah dengan sendirinya. Rupanya burung Salik Jejaka kurang tangguh.
Salik Jejaka telah kembali turun ke tanah. Namun, Raja Akar Setan tidak berhenti.
Trakr!
Raja Akar Setan menghentakkan kedua lengannya. Maka segala benda berunsur kayu serentak berhancuran di tempat. Serpihan-serpihan kayu kecil diam melayang di udara.
Seset seset…!
Selanjutnya, hujan serpihan kayu kecil melesat menyerbu Salik Jejaka. Ia cepat melindungi dirinya dengan balas melepaskan angin pukulan bertenaga dalam tinggi.
Namun, meski bisa menahan sebagian serangan serpihan kayu itu, Salik Jejaka tetap terhempas keras dengan tubuh ditancapi banyak kayu-kayu kecil.
“Akk!” erang Salik Jejaka. “Hiaat!”
Sebuah belalai hijau yang muncul dari balik jubah abu-abu Raja Akar Setan melesat menangkap tongkat tersebut. Panasnya tongkat Salik Jejaka membuat belalai hijau terbakar api.
Belalai hijau kembali melesatkan balik kepada Salik Jejaka dalam kondisi tongkat yang masih bersinar biru gelap.
Salik Jejaka cepat hendak melompat untuk menghindari senjatanya sendiri.
Set! Blet!
Namun, sebelum Salik Jejaka melompat, dari dalam tanah melesat satu belalai hijau yang langsung melilit kaki Salik Jejaka.
Tap!
“Aakk!” jerit Salik Jejaka.
Dari pada tongkatnya sendiri melubangi tubuhnya karena faktor panasnya yang tinggi, Salik Jejaka memilih menangkap tongkatnya. Akibatnya, tangannya terbakar.
Tas!
Dalam kondisi seperti itu, Salik Jejaka memukulkan tongkatnya ke belalai yang menjerat kakinya sehingga putus. Selanjutnya dia langsung melompat mundur lebih menjauh dari Raja Akar Setan.
Tuss!
__ADS_1
Salik Jejaka yang tongkatnya sudah padam, menusukkan tongkat itu dengan tangan kiri. Dari ujung tongkat melesat sinar merah berkekuatan tinggi kepada Raja Akar Setan. Orang tua berwajah buruk rupa itu menyambut sinar merah dengan sinar merah berbentuk bola di tinju kanan.
Bluarr!
Ledakan dua tenaga sakti terjadi dahsyat. Meski posisi Salik Jejaka lebih jauh dari sumber ledakan, tetapi tubuhnya terpental liar menghantam tembok Istana.
Sementara Raja Akar Setan terjajar nyaris terjengkang, tetapi tiba-tiba tubuhnya melesat cepat ke depan lalu menghilang dalam lesatannya.
Seet! Blet blet blet!
Dari dalam tanah tiba-tiba muncul melesat tiga belalai hijau menyerang Salik Jejaka yang baru hendak bangun.
Dua betis Salik Jejaka dililit kuat sehingga ia tidak bisa ke mana-mana. Satu belalai lagi langsung melilit ke leher dengan kuat.
“Hekkr!” erang Salik Jejaka sambil memegangi belalai yang menjerat lehernya.
Clap!
Raja Akar Setan tiba-tiba muncul begitu saja di belakang punggung Salik Jejaka.
Crekr!
“Aaakk!” jerit Salik Jejaka saat jari-jari tangan kanan Raja Akar Setan menusuk belikat kanan Salik Jejaka.
“Prabu Banggarin!” teriak Raja Akar Setan tiba-tiba. “Orang inilah yang memimpin pembunuhan Permaisuri Lima Pesona di Bukit Buruan!”
“Apa!” kejut Pangeran Kubur alias Prabu Banggarin. Lalu teriaknya, “Biarkan dia mati di tangankuuu!”
Pangeran Kubur berlari cepat lalu melompat melesat di udara. Kali ini bukan hanya kelima jari tangan kirinya yang menyala biru membara, tetapi juga sampai ke siku. Ia mendarat di depan Salik Jejaka yang masih hidup, tetapi sudah tidak berdaya.
Sreeet!
“Aaa…!” jerit Salik Jejaka panjang dan menahan sakit yang luar biasa.
Bagaimana tidak? Pangeran Kubur mencakar dari kepala Salik Jejaka lalu bergerak pelan turun ke wajah, seolah sengaja memberi rasa penderitaan yang edisi khusus jelang lebaran. Tengkorak kepala dan wajah bahkan sampai terbuka warnanya.
Lilitan belalai pada leher Salik Jejaka bergerak lepas, seolah memberi jalan bagi Pangeran Kubur.
Crass!
Dan benar saja, setelah lilitan pada leher lepas, cakaran Pangeran Kubur langsung merobek dalam leher itu, memutus urat besarnya.
Setelahnya, Raja Akar Setan menarik semua belalainya, membiarkan Salik Jejaka tumbang tanpa nyawa lagi.
Kemenangan itu disambut oleh sinar sang surya di ufuk timur.
“Yeee!” teriak Sandaria sambil menunjuk tongkatnya ke langit.
“Letakkan senjata kalian, semua!” teriak Putri Sagiya lantang kepada para pasukan yang masih tersisa.
__ADS_1
Para prajurit pun menjatuhkan senjata tanda menyerah. (RH)