8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 16: Melacak Jejak


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


Siluman Mata Setan, Siluman Kuping Buntu, Siluman Tangan Setan, dan Bidadari Payung Kematian, mendatangi seorang petani yang sedang memanjat pohon kelapa. Petani itu sedang memetik beberapa buah kelapa di senja yang menjelang gelap.


Di bawah pohon sudah ada sejumlah kelapa muda yang dijatuhkan dari atas. Lelaki petani yang tidak berbaju itu kembali menjatuhkan satu buah kelapa ke bawah, tanpa melihat ke bawah.


Ketika tidak mendengar suara hantaman kelapa pada tanah, bapak petani mendadak diam. Ia heran karena tidak mendengar suara jatuhnya kelapa. Ia segera melihat ke bawah.


“Kisanak!” teriak Siluman Kuping Buntu seraya tersenyum, dengan wajah mendongak ke atas dan tangan menimang si buah kelapa.


Melihat keempat orang berperawakan pendekar itu, membuat si bapak petani agak terkejut. Ada sekeping rasa takut dalam dadanya.


“Ada apa, Nak Pendekar?” tanya si petani, usianya memang lebih tua dari ketiga pendekar lelaki di bawah. Ia tetap bertahan di pucuk pohon kelapa yang tinggi.


“Apakah kau melihat rombongan pendekar berkuda lewat jalan ini?” tanya Siluman Kuping Buntu.


“Tidak,” jawab si petani.


Mendengar jawaban itu, Siluman Mata Setan, Siluman Tangan Setan dan Bidadari Payung Kematian berbalik pergi meninggalkan Siluman Kuping Buntu.


“Bukan rombongan pendekar berbadak, tapi rombongan pendekar berkuda, sekitar delapan belas kuda. Apakah mereka sudah lewat di jalan ini?” tanya Siluman Kuping Buntu.


“Tidak. Tidak ada rombongan yang lewat di sini!” tandas si petani.


“Jangan macam-macam, Ki. Aku hanya bertanya, kenapa harus bayar uang keamanan segala? Apakah kau tidak tahu bahwa kami ini pendekar?” kata Siluman Kuping Buntu ngotot.


Si petani jadi terkejut dan takut.


Tak!


“Gundul Monyong!” maki Siluman Kuping Buntu saat kepalanya dihantam sesuatu yang kecil tapi keras. Ia cepat menengok ke belakang.


Siluman Kuping Buntu terkejut lagi saat melihat ketiga temannya sudah tidak ada. Ia cepat mencari di kejauhan. Ternyata, ketiga temannya itu sudah berada di ujung jalan yang menuju ke aliran sungai.


“Setaaan!” teriak Siluman Kuping Buntu sambil berlari kencang mengejar. Ia berteriak “Setan” bukan karena ada setan, tetapi memanggil nama kedua temannya yang punya Setan.

__ADS_1


Siluman Kuping Buntu akhirnya tiba pada ketiga temannya yang tertawa-tawa.


“Kenapa kalian menangis?” tanya Siluman Kuping Buntu setibanya di belakang ketiga rekannya.


“Hahahak…! Aku jadi menangis sungguhan!” kata Siluman Tangan Setan yang tidak memiliki dua tangan. Ia sampai turun berjongkok, tetapi tidak bisa memegangi perutnya.


“Hihihi! Kuping Buntu, tenanglah!” kata Bidadari Payung Kematian.


“Eh, aku kira kalian menangis, ternyata kalian tertawa. Apa yang lucu, Pancung Kelamin?” tanya Siluman Kuping Buntu.


Bidadari Payung Kematian hanya menjawab dengan tunjukan ke arah Siluman Mata Setan.


“Kenapa kau menunjukku, Nenek Payung?” tanya Siluman Mata Setan terkejut karena ditunjuk.


“Kau yang melempar kepala Kuping Buntu. Pasti benjol,” kata Bidadari Payung Kematian lalu pergi meraih kepala Siluman Kuping Buntu seperti meraih kepala anaknya.


“Apa yang kau lakukan, Pancung Kelamin? Aku tidak punya kutu!” kata Siluman Kuping Buntu sambil memberontak, menolak kepalanya dipegang-pegang.


“Hei, jangan bercanda! Kita ini sedang dalam perkara serius!” hardik Siluman Tangan Setan.


“Tidak ada yang lain, di sini hanya ada satu orang yang bisa disebut janda. Hahaha!” kata Siluman Kuping Buntu, lalu tertawa, seolah komunikasi mereka baik-baik saja.


“Pasti ada jejak di persimpangan Sungai Bening Abang,” kata Siluman Tangan Setan.


Mereka mempercepat langkah untuk sampai di pinggir Sungai Bening Abang. Setibanya di pinggir sungai, mereka menyusuri jalan menuju hulu. Setelah itu, mereka mempercepat dengan berlari menggunakan ilmu peringan tubuh.


Seiring terbenamnya sang surya, mereka tiba di pertigaan jalan yang menanjak ke dua arah.


“Kurang ajar! Tanda kita ada yang merusak!” maki Siluman Mata Setan saat melihat ada robekan pada daun pisang yang mereka pasang di atas pohon.


“Jejak kudanya menunjukkan mereka pergi ke arah Hutan Maruk,” kata Siluman Mata Setan.


“Jejak-jejak kaki kuda ini menunjukkan rombongan Gusti Prabu Anjas pergi ke arah Hutan Maruk,” kata Siluman Kuping Buntu pula, seolah ia tidak mendengar perkataan rekannya barusan. “Mereka akan bertemu dengan Siluman Gelap dan Pasukan Murka Kegelapan.”


“Ayo kita susul mereka!” ajak Bidadari Payung Kematian.


“Kepada siapa kau mau menyusu, Nenek Pancung Kelamin?” tanya Siluman Kuping Buntu kesal, membuat Bidadari Payung Kematian ilfil.

__ADS_1


“Tidak, kita harus sesuai tugas. Kita ditugaskan bukan untuk berperang, tetapi untuk mengamankan jalan dan memberi berita,” kata Siluman Mata Setan.


“Lebih baik kita kabarkan kepada Bidadari Asap Racun,” usul Siluman Tangan Setan.


“Jangan, jangan pergi mengintai ke Hutan Maruk, sangat berbahaya. Itu sarang Pasukan Murka Kegelapan, mereka bisa ada di mana-mana. Lebih baik kita beri kabar kepada Bidadari Asap Racun,” kata Siluman Kuping Buntu.


“Kemungkinan Bidadari Asap Racun sudah tiba di Kademangan Binowengi,” kata Siluman Tangan Setan tanpa mengindahkan Siluman Kuping Buntu. “Bukankah di sana banyak teliksandi Kerajaan?”


“Benar,” jawab Siluman Mata Setan. “Kita harus bergerak cepat untuk tiba di Kademangan Binowengi, sebab hari mulai gelap.”


“Kalian mau berlari kencang lagi?” tanya Bidadari Payung Kematian, yang sebelumnya harus berlari tanpa henti untuk mendahului rombongan Raja Anjas.


“Baguslah kalau kau suka, Pancung Kelamin. Itu membuatku tidak merasa bersalah. Hahaha!” kata Siluman Kuping Buntu.


“Semoga jika aku tambah kurus, aku bisa lebih cantik,” ucap Bidadari Payung Kematian.


Wess!


Siluman Mata Setan tahu-tahu sudah melesat pergi meninggalkan tempat itu. Ketiga lainnya segera melesat menyusul. Jalan yang mereka ambil adalah menuju Kademangan Uruk Sowong. Untuk tiba di Kademangan Binowengi, mereka harus melewati Kademangan Uruk Sowong.


Mau tidak mau, mereka harus menempuh perjalanan malam yang cukup berbahaya demi sampai ke Kademangan Binowengi.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dengan ilmu peringan tubuh, keempat orang itu akhirnya tiba di Kademangan Binowengi.


Karena mereka tahu di kademangan itu banyak terdapat teliksandi, mereka berkeliaran dengan cara orang sakti, yaitu sebisa mungkin tidak terlihat oleh siapa pun.


Ternyata tidak sulit untuk menemukan keberadaan Joko Tenang dan Permaisuri Sri Rahayu. Mereka cukup mengintai ke beberapa penginapan. Keberadaan lima ekor kuda yang tertambat di sekitar penginapan menandakan keberadaan rombongan Joko Tenang.


Fiuk fiuk!


Siluman Mata Setan memberi tanda dengan suara tiupan pada kumpulan jari-jemarinya. Ia meniup di sisi penginapan.


Permaisuri Sri Rahayu yang baru saja hendak membuka pakaiannya guna melayani sang raja di atas ranjang, agak terkejut.


“Ada panggilan dari prajurit Siluman Generasi Pertama, Kakang Prabu,” kata Sri Rahayu.


“Pergilah selesaikan urusanmu, mungkin ada berita penting,” kata Joko Tenang yang hanya tersenyum karena kesenangan mereka berdua harus tertunda.

__ADS_1


“Baik, Kakang Prabu,” ucap Sri Rahayu seraya tersenyum. (RH)


__ADS_2