
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Di Kadipaten Banyukuat, Siluman Lidah Kelu, Siluman Mata Setan, Siluman Tangan Setan, Pangeran Keriting, Pangeran Botak, Pangeran Derajat, dan Joko Tingkir, kini dikepung oleh pasukan pimpinan Panglima Siluman Gebuk Bumi.
“Mundur! Mundur!” teriak Pangliman Siluman Gebuk Bumi cepat, ketika tiga dari Lima Pangeran memasang enam bola sinar merah dari ilmu Telur Iblis.
Pasukan Kerajaan Siluman yang sudah mengepung Siluman Lidah Kelu dan keenam rekannya, segera bergerak mundur. Sepertinya Siluman Gebuk Bumi tahu apa jadinya jika keenam Telur Iblis itu meledak.
Mundurnya pasukan itu menciptakan ruang kosong yang lebar. Para prajurit di lingkaran terdalam terlihat jelas dilanda ketegangan.
“Ini senjata makan tuan, Pangelan Keliting!” kata Siluman Lidah Kelu.
“Ini cara yang ada untuk membuat pasukan itu mundur!” sahut Pangeran Keriting.
Mereka bertujuh memang berada di tengah-tengah ke enam kurungan bola sinar mereka sendiri. Jika keenam sinar itu meledak, maka mereka akan terkena langsung oleh daya ledaknya.
Set!
Tiba-tiba Siluman Gebuk Bumi merampas satu tombak milik prajuritnya. Tombak itu dilesatkan ke arah salah satu sinar Telur Iblis.
“Tiaraaap!” teriak Pangeran Keriting cepat sambil buru-buru menjatuhkan tubuhnya ke tanah jalan.
Keenam rekannya cepat ikut tiarap ke tanah. Sementara Joko Tingkir mengajak Siluman Lidah Kelu tengkurap ria bersama.
Bluar bluar bluar…!
Ketika tombak mengenai satu bola sinar dan meledak, maka kelima sinar lainnya turut meledak dahsyat di udara. Mereka bertujuh dapat merasakan hantaman ledakan keenam sinar merah, tetapi tidak membuat mereka terluka dalam. Sementara pasukan yang mengepung di lingkaran terdalam, berjengkangan.
“Seraaang!” teriak Siluman Gebuk Bumi berkomando.
“Seraaang!” teriak para prajurit sambil berlari maju kembali siap menyerang Siluman Lidah Kelu dan kawan-kawan dari berbagai arah.
Ketujuh pendekar itu buru-buru bangkit untuk melawan lagi. Namun, tiba-tiba….
“Minggiiir! Kuda Suci mau lewat!” teriak seseorang begitu keras dari sisi belakang pasukan yang mengepung.
Seiring itu, terdengar suara lari kaki kuda dan roda kayu yang kencang. Semua mata seketika menengok ke belakang pasukan dari sisi utara.
Dari belakang, dua ekor kuda berlari kencang, menarik sebuah pedati yang terbakar hebat. Ada seorang sais yang menggebah kedua kuda dengan kencang. Sais kuda itu tidak lain adalah Siluman Kuping Buntu yang masih berpakaian prajurit Kerajaan Siluman.
Para prajurit yang berada di jalur lari kedua kuda, jadi terkejut. Mereka berteriakan panik sambil berlari dan berlompatan ke samping agar tidak tertabrak oleh kuda dan pedati.
Dari pada nahas tertabrak kuda atau pedati berapi, para prajurit memilih membuka jalan. Pedati berkuda itupun berhasil menerobos dan masuk ke tengah-tengah pengepungan, tetapi ia tidak berhenti dan terus berlari lurus.
Joko Tingkir cepat melompat ke punggung salah satu kuda.
“Lidah Kelu sayang!” teriak Joko Tingkir kepada Siluman Lidah Kelu sambil mengulurkan satu tangannya.
__ADS_1
Siluman Lidah Kelu cepat menyambut tangan Joko Tingkir lalu tubuhnya melompat dan duduk di belakang Joko Tingkir.
Pangeran Keriting dan pangeran Botak sama-sama melompat ke punggung kuda satunya. Siluman Tangan Setan dan Pangeran Derajat sama-sama melompat ke sisi kusir.
Mereka yang menunggangi kuda duduk merunduk di punggung kuda. Siluman Lidah Kelu tampak merunduk di atas punggung Joko Tingkir, sementara kedua tangannya memeluk erat pinggang Joko Tingkir.
Sementara itu, Siluman Mata Setan memilih menghilang masuk ke alam gaib.
Mau tidak mau, barisan prajurit pada sisi yang bersebarangan juga membuka jalan daripada ditabrak oleh kuda nekat.
“Penyelamatan gemilang, Kawan!” teriak Pangeran Derajat kepada Siluman Kuping Buntu.
“Aku tidak sempat bilang-bilang, karena aku sedang menyamar!” sahut Siluman Kuping Buntu.
“Hahaha!” Yang tertawa justru Siluman Tangan Setan.
Tseb!
Ada seorang prajurit yang berhasil menusukkan tombak pada leher salah satu kuda. Namun, bukannya melumpuhkan si kuda, justru kuda itu semakin liar mengamuk dengan tombak yang tetap menancap di lehernya.
Akhirnya, pedati terbakar yang mengangkut tujuh orang itu bisa keluar dari tengah pengepungan. Para prajurit hanya bisa berlari mengejar. Pedati kuda itu terus berlari kencang, terlebih satu di antaranya terluka sehingga menjadi semakin liar.
Pedati kuda akhirnya berhasil lolos dari pengepungan. Namun, mereka harus terkejut, karena di depan ada penghadangan dua baris prajurit. Pasukan itu sudah siap dengan tombak-tombaknya. Mereka dipimpin oleh Panglima Siluman Elang.
“Lempaaar!” teriak Siluman Elang berkomando.
Set set set…!
Wuss! Wuss!
Joko Tingkir dan Pangeran Keriting yang duduk di depan di punggung kuda, bersamaan melepas angin pukulan untuk menghalau tombak-tombak itu.
Tseb tseb tseb!
Angin pukulan Joko Tingkir dan Pangeran Keriting memang berhasil menghalau sebagian tombak, tetapi ada juga yang berhasil lolos lalu menancapi kedua kuda dan pedatinya. Mereka yang tersasar langsung oleh tombak, dengan cekatan mereka menangkis dan menghindar.
Bdluk!
Tiba-tiba dua kuda yang menarik pedati tersungkur bersamaan. Akibatnya, Joko Tingkir, Siluman Lidah Kelu, Pangeran Keriting, dan Pangeran Botak, terlempar ke depan. Pangeran Keriting dan Pangeran Botak jatuh tersungkur. Sementara Joko Tingkir dan Siluman Lidah Kelu jatuh bertindihan.
Joko Tingkir membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pelindung. Saat terlempar dari punggung kuda, ia berhasil mengatur posisi jatuhnya bersama Siluman Lidah Kelu, sehingga gadis cantik cadel itu jatuh di atas tubuh Joko Tingkir dan tidak cedera sedikit pun.
Siluman Kuping Buntu, Siluman Tangan Setan dan Pangeran Derajat juga jatuh dari duduknya di pedati, tetapi mereka bisa jatuh dengan baik.
“Kepuuung!” teriak Siluman Elang.
Ratusan prajurit cepat berlarian membentuk formasi mengepung. Pagar betis berlapis diciptakan oleh pasukan Kerajaan Siluman.
__ADS_1
“Bidik!” teriak Siluman Elang lagi.
Barisan terdepan dalam kepungan serempak membungkuk di tempatnya. Ternyata, barisan lapis dua adalah pasukan panah. Mereka serentak membidikkan panahnya kepada ketujuh pendekar yang terkepung.
Tinggal satu komando lagi, maka hujan anak panah akan terjadi. Pangeran Keriting dan rekan-rekannya sudah berdiri berkumpul pada satu titik dan saling memunggungi. Joko Tingkir menggenggam tangan Siluman Lidah Kelu.
“Lidah Kelu, sepertinya kita sudah berada di ujung maut. Aku bersumpah, jika kita berdua selamat dari pengepungan ini, aku akan menikahimu dan tidak akan mencari wanita lain untuk kugoda!” kata Joko Tingkir kepada Siluman Lidah Kelu.
Meski wajah Siluman Lidah Kelu tegang menghadapi kondisi keritis itu, tetapi wajah hatinya tersenyum lebar berwarna merah muda. Hatinya merasa bahagia. Ia yakin, Joko Tingkir tidak akan berdusta dalam kondisi di ujung maut seperti itu.
“Aku pun beljanji, jika kita bisa selamat dali kematian hali ini, aku belsedia menjadi istlimu!” tandas Siluman Lidah Kelu.
Tersenyum lebarlah Joko Tingkir. Ia cepat mencium jari-jari tangan kiri Siluman Lidah Kelu yang sejak tadi digenggamnya. Gadis itupun merasa berbunga-bunga.
“Kami menjadi saksi atas janji kalian berdua!” kata Siluman Botak.
“Jika begitu, jangan sampai mati!” teriak Joko Tingkir keras.
“Tahaaan!” teriak seseorang tiba-tiba dari sisi belakang kepungan para prajurit. “Perintah dan berita dari Istanaaa!”
Mendengar itu, Siluman Elang cepat berteriak.
“Tahaaan!”
Pangeran Keriting dan rekan-rekannya jadi tegang bercampur harap. Mudah-mudahan saja ada kabar gembira yang bisa menyelamatkan nyawa mereka. Setidaknya mereka tidak dibunuh, jika harus dipenjara,itupun tidak masalah.
Seorang prajurit berkuda cepat turun dari kudanya. Dia menghormat kepada Siluman Elang.
“Lapor, Panglima! Berita dari Istana adalah, Gusti Ratu Aninda Serunai telah digulingkan dari tahta oleh Gusti Ratu Sri Mayang Sih dan Putri Sri Rahayu!”
“Hah!” desah terkejut Panglima Siluman Gebuk Bumi dan Siluman Elang.
Cerialah Pangeran Keriting dan rekan-rekannya. Itu menunjukkan bahwa ada harapan besar mereka akan selamat.
“Perintah dari Gusti Ratu Sri. Jangan bunuh para pendekar di Kadipaten Banyukuat!” Prajurit itu melanjutkan laporannya.
Semakin terkejut kedua panglima pasukan Kerajaan Siluman itu.
“Turunkan busur!” teriak Siluman Elang akhirnya.
Legalah Pangeran Keriting dan rekan-rekannya.
“Akhirnya kita bisa menikah, Gadis Cadel! Hahaha!” teriak Joko Tingkir gembira lalu tiba-tiba memeluk erat tubuh Siluman Lidah Kelu sambil tertawa.
“Jangan kulang ajal, Tingkil!” teriak Siluman Lidah Kelu merontah, melepaskan diri dari pelukan si pemuda.
Plak!
__ADS_1
“Hahaha…!”
Bukan hanya rekan-rekannya yang tertawa, para prajurit yang awalnya tegang, jadi riuh tertawa melihat Joko Tingkir mendapat tamparan keras. (RH)