8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 13: Istri yang Hamil Pertama


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


“Permaisuri Mata Hijau tibaaa!” teriak prajurit penjaga depan pintu kamar Prabu Dira Pratakarsa Diwana.


Tidak terkejut Joko Tenang dan para istrinya mendengar ketibaan Permaisuri Kerling Sukma yang kini berjuluk Permaisuri Mata Hijau. Sebelumnya mereka sudah mendapat laporan awal bahwa rombongan Kerling Sukma telah kembali dari Kadipaten Kelang. Ia kembali bersama Senopati Duri Manggala bersama pasukannya.


Kerling Sukma memasuki kamar dengan keanggunan penuh kejelitaan dan keharuman tubuh yang lembut. Setibanya di Istana Sanggana Kecil, Kerling Sukma tidak langsung menghadap, tetapi ia membersihkan dan mewangikan diri lebih dulu. Setelah segar seperti buah apel di dalam kulkas, harum seperti toko parfum, dan jelita laksana bidadari negeri Benua Biru, Kerling Sukma pergi menghadap kepada suaminya.


“Hormat hamba, Kakang Prabu dan Gusti Ratu,” ucap Kerling Sukma sambil menghormat dalam kepada Joko Tenang dan Ratu Getara Cinta. Ia pun kemudian menghormat kepada Permaisuri Nara yang adalah gurunya, juga kepada Permaisuri Sri Rahayu.


“Begitu jelita dan harumnya permaisuriku ini!” puji Joko Tenang yang posisinya duduk bersandar di atas ranjang.


“Aku ingin mengalahkan harum mawar Putri Sri Rahayu, Kakang Prabu,” kata Kerling Sukma sambil melirik tersenyum kepada Permaisuri Sri Rahayu.


Sri Rahayu memang memiliki kekhasan wangi tubuh berupa aroma mawar yang tajam, sangat kontras dengan kulitnya yang beracun.


“Hahaha!” tawa Joko tetap bersikap gagah, meski Prabu Kecil untuk sementara sedang “bonyok”. “Putri Sri Rahayu sudah menjadi permaisuri.”


“Jadi Kakang Prabu menikah dalam kondisi masih sakit seperti ini?” tanya Kerling Sukma.


“Kalian tahu sendiri, aku begitu jatuh cinta kepada Sri Rahayu, jadi aku tidak bisa menunggu lama-lama,” kata Joko Tenang menutupi fakta yang sebenarnya.


“Bagaimana dengan tugasmu di Kadipaten Kelang? Bukankah terlalu cepat untuk kembali?” tanya Nara mengalihkan topik bahasan.


“Aku dan Senopati Duri Manggala sudah menyerbu ke Kadipaten Kelang, tetapi kami hanya menemui pendekar-pendekar tingkat bawah yang menjaga pusat Kadipaten Kelang. Pendekar Bola-Bola yang memimpin Kelompok Jago Sodok sudah pergi menuju Jurang Lolongan,” lapor Kerling Sukma.


“Itu berarti mereka tahu tentang adanya acara besar di Jurang Lolongan,” terka Ratu Getara Cinta.


“Berdasarkan percakapan rahasia yang Permaisuri Tirana dengar di Kerajaan Siluman, pihak yang berada di balik pemberontakan di Kadipaten Kelang dan Repakulo adalah Kerajaan Siluman. Apakah kau mengetahui tentang hal ini, Permaisuri Sri?” tanya Joko Tenang.


“Aku tahu banyak. Sejumlah pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah beberapa kerajaan, adalah rencana yang dibuat oleh mendiang Ayahanda sejak lama. Awalnya aku yang diandalkan untuk mengendalikan pemberontakan-pemberontakan itu. Namun, aku memilih menghilang dengan bersemadi di dalam Batu Siluman di Desa Wongawet. Tindakanku membuat Ayahanda melimpahkan tugas itu kepada adik tiriku dan juga adik tiri Kakang Prabu, Putri Aninda Serunai yang bergelar Putri Dua Matahari,” tutur Sri Rahayu.


“Lalu apakah kau tahu rencana ayahandamu di Jurang Lolongan?” tanya Joko Tenang lagi.


“Aku tidak tahu rencana Ayahanda yang terbaru. Namun, ketika aku di Penjara Menara Langit, Putri Aninda Serunai datang menemuiku membawa sebuah pusaka bernama Tongkat Jengkal Dewa….”


“Tongkat Jengkal Dewa!” sebut Nara yang memutus perkataan Sri Rahayu. “Pusaka itu pernah menjadi rebutan para pendekar di masa lalu sebelum kalian lahir. Banyak nyawa yang terbuang sia-sia karena pusaka itu. Itu pusaka warisan Ratu Bibir Darah.”


“Sepertinya pusaka itu memiliki hubungan dengan Kakang Prabu, sebab Aninda Serunai mengatakan bahwa Tongkat Jengkal Dewa adalah warisan leluhur dari garis ibu, yaitu dari ibu Kakang Prabu. Aninda Serunai mengatakan dia akan membuat sebuah permainan di Jurang Lolongan dengan senjata itu,” kata Sri Rahayu.

__ADS_1


“Itu artinya bahaya besar akan terjadi,” kata Nara yang membuat Joko Tenang dan ketiga istri lainnya berubah tegang.


“Hoekh!”


Tiba-tiba Ratu Getara Cinta mual. Ia cepat membekap mulutnya sendiri.


“Maafkan aku, Kakang hoekh!” ucap Ratu Getara Cinta lalu kembali mual hendak muntah, sampai-sampai sepasang matanya berair.


Kerling Sukma buru-buru mengambil wadah ludah yang berupa sebuah guci seukuran kepala lalu memberikannya kepada Ratu Getara Cinta. Sang ratu berbalik lalu meludah ke dalam guci. Untuk sementara, Joko Tenang dan permaisuri yang lain diam menunggu.


“Maafkan hamba, Kakang Prabu. Tiba-tiba saja perutkan berasa mual,” ucap Ratu Getara Cinta setelah bisa mengendalikan perasaannya. Ia menyeka bibirnya dengan sehelai kain yang diberikan oleh Kerling Sukma.


“Kau hamil, Gusti Ratu,” celetuk Nara.


“Hah!”


Perkataan Nara itu membuat Joko Tenang dan permaisuri lainnya mendelik terkejut, tapi bahagia. Terkhusus bagi Ratu Getara Cinta.


“Benarkah?” tanya Ratu Getara Cinta seolah tidak percaya.


“Hahaha…!” tawa Joko Tenang gembira dan bahagia.


“Jika Gusti Ratu tidak percaya, Tabib Rakitanjamu bisa memeriksanya,” kata Nara.


“Kemarilah, Ratu, perbolehkan aku memberi hadiah ciuman atas kehamilanmu!” kata Joko Tenang.


Ratu Getara Cinta lalu mendekat kepada suaminya. Ia dekatkan wajahnya kepada wajah Joko. Joko mengecup pipi kanan dan kiri Ratu Getara Cinta, lalu mencium dahinya.


Penciuman di depan para istri yang lain itu membuat wajah Ratu Getara Cinta bersemu merah.


“Aku merasa, aku juga sudah hamil, Kakang Prabu. Hanya aku tidak mual-mual,” kata Kerling Sukma yang iri melihat sang ratu mendapat hadiah ciuman.


“Hahaha…!” Meledaklah tawa Joko Tenang mendengar nada kecemburuan Kerling Sukma.


“Hihihi!” tawa Sri Rahayu pula.


“Kemarilah, Mata Hijau. Aku akan berikan hadiah atas kepulanganmu dengan selamat!” panggil Joko Tenang.


“Hihihi…!” tawa Kerling Sukma lalu buru-buru menghampiri Joko dan menyodorkan wajahnya ke depan wajah suaminya.


Cup! Cup! Cup!

__ADS_1


Joko Tenang pun mencium kedua kelopak mata Kerling Sukma. Terkahir mencium ujung hidung bangirnya.


“Untung aku sudah mandi lebih dulu,” ucap Kerling Sukma yang kini berubah ceria setelah mendapat ciuman itu.


Joko Tenang dan istri yang lain hanya tertawa mendengar perkataan Kerling Sukma, kecuali Nara.


“Lanjutkan perkataanmu tadi tentang bencana besar yang mengancam, Nara!” perintah Joko Tenang.


“Tongkat Jengkal Dewa akan digunakan untuk mengulang peristiwa masa lalu. Puluhan pendekar aliran putih dan hitam tewas saat memperebutkan Tongkat Jengkal Dewa, karena mereka meyakini bahwa orang yang berhasil menguasai dan memiliki pusaka itu akan menjadi tidak terkalahkan di dunia persilatan. Karena itulah mereka mati-matian untuk menguasai senjata itu, meski pada akhirnya tidak ada seorang pun yang berhasil menguasainya….”


“Lalu siapa orang yang berhasil menghentikan perebutan itu?” tanya Sri Rahayu memotong penjelasan Nara.


“Keturunan Ratu Bibir Darah. Putri Bibir Merah turun langsung mengamankan pusaka itu. Ketika dia memegang pusaka itu, tidak ada seorang pun pendekar yang bisa mengalahkannya. Padahal waktu itu usia Putri Bibir Merah masih sangat muda. Aku tidak tahu apa hubungan Kakang Prabu dengan Ratu Bibir Darah dan Putri Bibir Merah. Sejak pusaka itu ada di tangan Putri Bibir Merah, dia memang menjadi orang yang tidak terkalahkan, sehingga tidak ada lagi orang yang berani merebut pusaka itu. Selanjutnya Putri Bibir Merah menghilang dari dunia persilatan bersama pusakanya. Sangat mengejutkan jika pusaka itu tiba-tiba dimiliki oleh Putri Aninda Serunai. Dan itu menunjukkan bahwa dia menjadi orang yang tidak terkalahkan saat ini,” tutur Nara agak panjang.


“Dugaanku bahwa Aninda Serunai akan menggunakan pusaka itu untuk memancing dan menjebak para pendekar agar mati di tangannya,” kata Sri Rahayu.


“Aku juga menduga seperti itu, Kakang Prabu. Yang aku khawatirkan, banyak pendekar aliran putih yang tergiur untuk memiliki pusaka itu,” kata Nara.


“Lalu apa yang harus kita lakukan, Kakak Permaisuri?” tanya Ratu Getara Cinta kepada Nara.


“Awalnya aku hanya ingin berdua bersama Kakang Prabu, tetapi kabar terbaru ini membuat kita harus mengerahkan kekuatan yang besar ke Jurang Lolongan. Bagaimana, Kakang Prabu?” kata Nara.


“Baiklah. Aku dan Permaisuri Nara tetap akan hanya berdua untuk menghadiri pertemuan di Jurang Lolongan. Kecuali ratuku sayang yang sedang hamil, semua permaisuri harus berangkat ke Jurang Lolongan untuk membantu melawan kelompok-kelompok yang digerakkan oleh Kerajaan Siluman,” kata Joko Tenang.


“Maafkan hamba, Kakang Prabu. Meski aku hamil, tetapi aku masih bisa menjaga diri. Izinkan aku ikut ke Jurang Lolongan!” kata Ratu Getara Cinta cepat.


“Tapi, Sayang. Kau harus menjaga sebaik mungkin bayi kita. Aku tidak mau karena pertarungan atau mengeluarkan kesaktian bisa berpengaruh pada janinmu. Kau harus tetap di Istana mengatur jalannya pemerintahan!” tandas Joko.


Maka muramlah wajah Ratu Getara Cinta.


“Gusti Ratu, ini demi kebaikan keluarga kita. Ini wujud cinta Kakang Prabu sehingga memanjakan Gusti Ratu,” kata Kerling Sukma mencoba menghibur sang ratu.


“Ratu, temuilah Senopati Duri Manggala untuk memastikan posisinya dan hubungan apa yang bisa kita jalin dengannya!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Kakang Prabu,” ucap Ratu Getara Cinta patuh.


“Malam ini aku tidur bersama dengan Sri Rahayu,” kata Joko Tenang lagi.


“Baik, Kakang Prabu,” ucap Sri Rahayu.


“Tapi kendalikan gairahmu, Kakang Prabu. Aku tidak akan memberi maaf jika Kakang Prabu memaksa lagi!” kata Nara memperingatkan.

__ADS_1


“Iya, Sayang,” kata Joko seraya tersenyum.


“Aku akan mencegah Kakang Prabu jika memaksa juga,” kata Sri Rahayu. (RH)


__ADS_2