
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
Pagi itu, seluruh pejabat Kerajaan Sanggana Kecil sudah hadir di ruangan balairung utama yang dinamai Aula Sanggana Perkasa. Sidang ini bisa disebut sebagai sidang akbar, karena pejabat tinggi hingga pejabat tingkat desa hadir. Mereka mengenakan pakaian terbaiknya masing-masing. Mereka berdiri berbaris menghadap ke tahta yang masih kosong.
Gong!
Tiba-tiba satu pukulan gong terdengar keras, bahkan mengejutkan sebagian pejabat yang hadir. Memang, itu adalah pertama kalinya pertemuan sidang yang nuansa dan prosedurnya begitu formal, sampai-sampai memberi kegugupan bagi mereka yang baru kali pertama berstatus pejabat.
“Yang Mulia Gusti Prabu Dira Pratakarsa Diwana dan Gusti Ratu Getara Cinta, bersama enam permaisuri, tibaaa!” teriak prajurit protokol Istana.
Dari sudut depan kanan ruangan besar itu muncul Prabu Dira dengan penampilan lengkap sebagai seorang raja, lengkap dengan mahkotanya yang terbuat dari emas tanpa berhias permata. Ia begitu tampan dan gagah penuh karisma kewibawaan. Bukan hanya para wanita yang tergiur untuk memilikinya, tetapi para kaum lelaki pun merasa iri dengan keberuntungannya. Mereka berasumsi bahwa Joko Tenang adalah lelaki yang paling beruntung di dunia ini, karena mereka mengukur keberuntungan itu hanya dengan tahta, harta dan wanita.
Prabu Dira berjalan di dampingi oleh Ratu Getara Cinta yang begitu cantik. Di belakang keduanya berjalan enam permaisuri lainnya, yang “terlalu, kelewatan dan kebangetan” cantiknya. Keenam permaisuri itu adalah Permaisuri Yuo Kai, Permaisuri Tirana, Permaisuri Kerling Sukma, Permaisuri Nara, Permaisuri Sandaria, dan Permaisuri Kusuma Dewi.
Di balik keanggunan dan keindahan itu tersimpan pula satu kekuatan yang tidak terbantahkan. Satu orang permaisuri saja memiliki kesaktian yang tinggi, apa jadinya jika seluruh kesaktian itu disatukan.
Tidak sejumlah itu saja rombongan tersebut, di belakang ada barisan dayang dari Ratu dan para permaisuri. Setiap dua dayang mewakili satu orang permaisuri.
“Hormat!” teriak protokol Istana.
“Hormah sembah untuk Gusti Prabu Dira!” ucap seluruh pejabat sambil turun berlutut satu kaki dan kepala menunduk dalam dengan kedua telapak tangan bertemu di depan dahi. “Semoga Gusti Prabu selalu sejahtera!”
Prabu Dira dan Ratu Getara Cinta pergi ke kursi singgasananya, sementara keenam permaisuri lainnya pergi ke deretan kursi mewah di sisi kanan. Setelah Prabu Dira duduk di tahtanya, barulah Ratu dan keenam permaisurinya ikut duduk. Sementara para dayang berdiri di belakang kursi Ratu dan para permaisuri.
“Bangkitlah dan duduklah!” perintah Prabu Dira kepada seluruh pejabatnya.
Maka, para pejabat itu bergerak bangun berdiri tegak, kemudian turun duduk bersila, baik lelaki maupun perempuan.
Prabu Dira lalu memandang kepada Mahapati Turung Gali, lalu memberi anggukan sebagai tanda. Selain sebagai mahapati, Turung Gali juga adalah mertua Prabu Dira karena ia adalah ayah dari Permaisuri Tirana.
__ADS_1
“Persidangan Sanggana Perkasa dimulai!” teriak Mahapati Turung Gali.
“Baik. Hal penting pertama yang ingin aku sampaikan kepada kalian adalah kehadiran Permaisuri Pertama, yaitu Permaisuri Yuo Kai, di tengah-tengah kita. Permaisuri Pertama aku tetapkan sebagai Menteri Hukum dan Kebijakan Istana. Aku pun menetapkan seluruh permaisuri sebagai Dewan Hukum Sanggana Kecil, yang bertugas merumuskan berbagai peraturan dan hukum di dalam Sanggana Kecil. Hasil dari pembuatan peraturan tersebut akan disahkan oleh Menteri Hukum atas dasar persetujuan dariku. Dan aku pun menetapkan Permaisuri Kelima sebagai Hakim Agung!” seru Prabu Dira cukup bersemangat sebagai pembuka awal sidang.
“Terima kasih atas kepercayaan Gusti Prabu!” ucap para permaisuri sambil turun berlutut dari kursinya.
“Bangunlah kalian semua, wahai belahan jiwaku!” kata Prabu Dira mencoba rasa romantis. Lalu katanya kepada Mahapati Turung Gali, “Sampaikan laporanmu, Mahapati!”
“Terima kasih, Gusti Prabu,” ucap Mahapati Turung Gali. Ia lalu memulai laporannya, “Dua kadipaten telah terbentuk, yaitu Kadipaten Gunung Prabu dengan tiga desa dan Kadipaten Malam Abadi dengan dua desa. Di Gua Api ada tambang minyak dan emas. Iblis Takluk Arwah yang selama ini menjaga tempat itu telah memberikan gua dan isinya kepada Kerajaan. Namun, tambang itu belum bisa dikelolah karena kita harus menunggu ahli tambang dari Kerajaan Tabir Angin. Sementara di Kadipaten Malam Abadi yang dipimpin oleh Adipati Ririn Salawi, ….”
“Sebentar!” seru Prabu Dira memotong penuturan Mahapati Turung Gali. “Aku ingin tahu Adipati Ririn Salawi yang berjuluk Penagih Nyawa!”
“Hambalah orangnya, Gusti Prabu!” sahut seorang perempuan cantik berusia matang sambil mempertemukan kedua telapak tangannya di depan kepala. Wanita cantik berhidung jambu itu berpakaian serba merah, serasi dengan dandanannya yang berbibir merah muda. Rambutnya digelung di atas kepala, memperlihatkan dua giwang bermata biru beningnya. Ada kalung emas pada leher putihnya.
“Wanita yang cantik. Selamat bergabung dengan golongan orang-orang sakti, Adipati,” ucap Prabu Dira yang didahului dengan pujian, membuat Ririn tersenyum.
“Terima kasih, Gusti Prabu,” ucap Ririn Salawi. Sebagai seorang wanita, ia terkagum dengan ketampanan junjungannya itu.
“Lanjutkan, Mahapati!” perintah Prabu Diri.
“Dengan demikian, sekarang Sanggana Kecil bertetangga dengan Kerajaan Walangan dan Baturaharja. Benar demikian?” tanya Prabu Dira.
“Benar, Gusti Prabu,” jawab Mahapati Turung Gali.
“Kita harus menjalin hubungan yang baik dengan para tetangga, sehingga apa yang kita miliki bisa kita jual lebih luas dan apa yang kita butuhkan dari mereka bisa memperkuat kita. Besok aku dan Permaisuri Kedua akan pergi menjemput calon permaisuri kedelapan. Karena kepergianku kali ini bisa saja menjemput maut, maka dari sekarang aku umumkan, jika terjadi maut kepada diriku, maka Permaisuri Kelima yang akan mengambil kendali kekuasaan tertinggi Kerajaan Sanggana Kecil!”
“Hamba akan patuhi titah, Gusti Prabu,” ucap Permaisuri Nara.
“Pada saat kepergianku ke Kerajaan Siluman, aku perintahkah Permaisuri Ketujuh pergi bertamu ke Kerajaan Walangan untuk memperkenalkan kerajaan kita kepada penguasanya. Aku perintahkan pula kepada Permaisuri Keenam pergi bertamu ke Kerajaan Baturaharja sekaligus menyelidiki permasalahan Putri Wilasin. Jika nanti ternyata terbukti pasti bahwa tahta itu adalah hak milik Putri Wilasin, maka kita akan lengserkan rajanya!”
Terkejut Adipati Pangeran Kubur mendengar keputusan Prabu Dira.
__ADS_1
Adipati Pangeran Kubur adalah seorang lelaki tua berusia enam puluh tahunan. Ia berpakaian hitam rapi dan bagus. Rambut gondrongnya yang sudah didominasi warna putih disisir rapi ke belakang. Tangan kirinya memiliki kuku panjang berwarna keunguan.
“Mohon ampun, Gusti Prabu!” ucap Adipati Pangeran Kubur sambil menjura hormat.
“Ya, ada apa, Adipati?” tanya Prabu Dira.
“Tolong hamba diikutsertakan dalam permasalahan tahta Kerajaan Baturaharja,” ujar Adipati Pangeran Kubur.
“Apa alasan Adipati sehingga aku harus menyertakanmu?” tanya Prabu Dira.
“Aku adalah Prabu Banggarin, ayah dari Raja Arta Pandewa yang digulingkan oleh Menak Ujung. Aku adalah kakek dari Putri Wilasin,” jawab Adipati Pangeran Kubur.
Terkejutlah Prabu Dira dan sebagian permaisurinya, termasuk para pejabat yang lain.
“Kau bisa membuktikan dirimu sebagai kakek dari Putri Wilasin, Adipati?” tanya Prabu Dira.
“Yang Mulia Gusti Permaisuri Kelima mengetahui jati diriku, Gusti Prabu,” kata Adipati Pangeran Kubur.
Prabu Dira dan yang lainnya seketika beralih memandang kepada Permaisuri Nara.
“Apa yang dikatakan Adipati Pangeran Kubur benar, Gusti Prabu,” kata Permaisuri Nara sebelum suaminya bertanya kepadanya.
“Kenapa sebelumnya Permaisuri Kelima tidak memberitahukan kepadaku tentang jati diri Pangeran Kubur? Aku merasa bersalah memberinya posisi yang tidak layak,” kata Prabu Dira.
“Aku menginginkan Adipati sendiri yang mengungkapkan jati dirinya kepada Gusti Prabu,” kilah Permaisuri Nara.
“Baiklah, maafkan aku karena memberimu posisi yang tidak layak, Prabu Banggarin. Tapi aku haru Prabu sudi bersabar dengan jabatan itu, ketika tahta Kerajaan Baturaharja kami rebut, maka tahta itu akan aku berikan kepadamu!” kata Prabu Dira.
“Beribu terima kasih aku ucapkan kepada Gusti Prabu,” ucap Adipati Pangeran Kubur.
“Selamat bergabung dengan kerajaan kecilku, Tabib Teguk Getir!” seru Prabu Dira menyapa Tabib Rakitanjamu.
__ADS_1
“Dengan senang hati hamba mengabdi kepadamu, Prabu Dira,” ucap Tabib Rakitanjamu.
Selanjutnya sidang terus berlangsung hingga lama, karena memang banyak hal yang harus disampaikan oleh para pejabat yang meminta perintah atau arahan. (RH)