8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 8: Rusuh Sandaria


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


Pagi itu, tepat saat matahari terbit, Permaisuri Sandaria dan rombongannya diizinkan datang ke Istana, tepatnya di Balairung Kejayaan. Setibanya di Balairung Kejayaan, hanya Permaisuri Sandaria dan dua Pengawal Bunga yang diizinkan masuk.


Ketika sudah memasuki ruang utama, maka terpukaulah para lelaki yang hadir di Balairung Kejayaan itu melihat kejelitaan dan keimutan tamu mereka.


Tampak di kursi tahta yang terbuat dari kayu bagus berpadu emas, duduk seorang lelaki bermahkota. Lelaki itu usianya sudah lebih separuh abad, mungkin sudah enam puluh tahun. Ia memiliki postur tubuh yang berbahu lebar. Ia mengenakan pakaian kuning keemasan dengan celana hitam. Ia memelihara jenggot dan kumis. Sorot matanya tajam, seolah ia adalah seorang lelaki yang kejam. Rambutnya gondrong sebahu. Kepala, leher, tangan hingga kaki memiliki hiasan dari emas. Ialah orang yang bernama Prabu Menak Ujung.


Permaisurinya tampak duduk anggun dengan busana berwarna putih bersih agak jauh di sisi kanan. Rambutnya yang disanggul banyak dihias bunga melati selain emas permata. Usianya lebih tua dari usia Ratu Lembayung Mekar. Kecantikannya pun biasa saja. Mungkin karena suaminya orang jahat.


Agak jauh di sisi kiri tahta duduk seorang yang sebelumnya telah dikisahkan di Bukit Buruan, yaitu Salik Jejaka yang berjuluk Pendekar Mata Elang. Hanya kali ini usianya sudah semakin tua, mungkin sudah tidak jomblo lagi atau bahkan sudah bebini. Tongkat setengah depanya ia selipkan di punggung. Kini ia menjabat sebagai Pengawal Prabu.


Di sisi kiri Salik Jejaka duduk Mahapati Abang Garang. Ia adalah seorang lelaki berusia tiga puluh lima tahun. Masih sangat muda untuk jabatan tinggi seperti itu. Namun, karena kesaktiannya yang tinggi dan banyak memiliki jasa terhadap kedudukan Prabu Menak Ujung saat ini, ia sangat dipercaya. Lelaki terbilang tampan itu mengenakan pakaian serba hijau tua. Ada hiasan di kepala yang menunjukkan bahwa ia adalah pejabat kerajaan. Mahapati Abang Garang memiliki sebuah keris bagus di belakang pinggangnya.


Di sisi kiri Mahapati duduk Senopati Duri Manggala yang sudah dikenal dan mengenal Sandaria.


Dalam pertemuan itu pula duduk seorang tua berambut serba putih. Kumisnya bahkan sudah putih. Ia mengenakan kain selempangan sutra berwarna merah. Ia tidak menyandang sebuah senjata pun. Ia adalah Penasihat Kerajaan yang bernama Angger Buda.


Selain beberapa pejabat lainnya, dua adipati yang semestinya tidak berada pada pertemuan itu, ikut hadir. Kedua pejabat daerah itu adalah Adipati Kadipaten Kelang dan Adipati Kadipaten Repakulo.


Ketika Sandaria berjalan, selain tangan kanannya memegang tongkat, tangan kirinya juga dipegangi oleh Sugigi Asmara. Sementara Surya Kasyara berjalan di belakang.


Keberadaan Sugigi Asmara dan Surya Kasyara benar-benar merusak pemandangan, pikir Prabu Menak Ujung dan para pejabatnya.


Akhirnya, tibalah Sandaria di antara para lelaki yang duduk di kursi empuk tanpa sandaran menghadap ke singgasana Prabu Menak Ujung. Sandaria memberi isyarat kepada Sugigi Asmara agar pindah ke belakangnya.


Tampak semua menunggu dan semua perhatian hanya terpusat kepada sosok Sandaria yang selalu tersenyum sejak kedatangannya.


“Aku Permaisuri Sandaria dari Kerajaan Sanggana Kecil, menghaturkan hormat kepada Yang Mulia Prabu yang selalu perkasa dan mensejahterakan rakyatnya!” ucap Sandaria sambil turun menghormat.


“Hahaha!”


Tiba-tiba terdengar suara tawa rendah dari para lelaki itu. Justru tawa Prabu Menak Ujung yang terdengar paling kencang. Tampak hanya Senopati Duri Manggala yang tidak tersenyum atau tertawa.


Buru-buru Sugigi Asmara maju dan berbisik kepada junjungan mungilnya.


“Maaf, Gusti Permaisuri. Gusti salah menghadap!” kata Sugigi Asmara.

__ADS_1


“Ups! Hihihi!” terkejutlah Sandaria sambil membekap mulutnya sendiri lalu tertawa cekikikan. “Pantasan pada tertawa.”


Ketika menghormat, Sandaria memang menghadap ke arah Mahapati Abang Garang.


“Apakah ke arah sini, Sugigi?” tanya Sandaria sambil menunjukkan tongkatnya nyaris mengenai wajah Penasihat Angger Buda.


Angger Buda sempat terkejut sehingga ia langsung memasang ilmu pertahanannya diam-diam.


“Bukan, Gusti. Maaf, Gusti!” ucap Sugigi lalu memegang pelan kedua lengan Sandaria dari belakang. Sugigi lalu sedikit mengarahkan arah tubuh junjungannya.


“Terima kasih, Sugigi!” ucap Sandaria yang hanya membuat para tuan rumah tersenyum.


Sandaria kembali turun menghormat.


“Hormatku kepada Yang Mulia Prabu yang selalu perkasa dan mensejahterakan rakyatnya!” ucap Sandaria. Kali ini arah penghormatan Sandaria benar.


“Bangkitlah, Permaisuri!” kata Prabu Menak Ujung berwibawa.


“Maafkan kebutaanku yang suka membuat onar, Gusti Prabu. Hihihi!” kata Sandaria lalu tertawa sendiri.


“Kami berasal dari Kerajaan Sanggana Kecil, Prabu. Wilayah utara Kerajaan Baturaharja berbatasan langsung dengan wilayah selatan Kerajaan Sanggana Kecil. Sebagai kerajaan baru, kami sangat berkepentingan untuk memperkenalkan diri dan menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lain. Suamiku Prabu Dira Pratakarsa Diwana mengutusku bertemu dengan Gusti Prabu untuk memperkenalkan kerajaan kami. Mungkin Prabu Dira mengutusku supaya Prabu Menak terhibur dengan kehadiranku,” ujar Sandaria, yang pada akhirnya dia mengerutkan hidung mungilnya, membuat kecantikannya kian menggemaskan terlihat.


“Hahaha!” tawa Prabu Menak Ujung. Lalu katanya, “Aku hargai niat baik Prabu Dira sampai bersusah payah mengirim permaisurinya yang sangat cantik jauh-jauh datang ke mari. Dan aku sangat berterima kasih kepada Prabu Dira yang sudah memadamkan upaya pemberontakan Gerombolan Kuda Biru di Kadipaten Surosoh.”


“Oh, Gusti Prabu tahu tentang peristiwa di Kadipaten Surosoh?” tanya Sandaria seraya tersenyum lebar.


“Senopati Duri Manggala melaporkan semuanya. Termasuk cerita tentang penyelamatan hebat Permaisuri dan kelima binatangnya kepada pasukanku saat peperangan di Jalur Bukit,” kata Prabu Menak Ujung.


“Hihihi! Sudah seharusnya kami membantu pasukan Baturaharja karena kita tidak memiliki permusuhan,” kata Sandaria.


“Suatu hari nanti aku akan menyempatkan diri berkunjung ke Kerajaan Sanggana Kecil. Akan tetapi, saat ini aku harus mengatasi beberapa pemberontakan di daerah kekuasaanku, jadi aku tidak bisa menjanjikan pula,” kata Prabu Menak Ujung.


“Oh iya, Gusti Prabu, aku membawa satu hadiah dari Prabu Dira teruntuk Gusti Prabu,” kata Sandaria. Lalu panggilnya kepada pengawalnya, “Surya!”


Surya Kasyara lalu maju dengan membawa sebuah kotak kayu berwarna merah. Kotak kayu itu memiliki panjang sejengkal, lebar setengah jengkal dan tebal tiga jari.


“Hadiah dari Prabu Dira adalah lima Mutiara Hati,” kata Sandaria.

__ADS_1


“Ini, Gusti Permaisuri!” ucap Surya Kasyara sambil menyodorkan kotak dengan membungkukkan tubuhnya kepada Sandaria.


“Eh, Surya!” pekik Sandaria terkejut karena pegangannya pada kotak itu tidak tepat sasaran.


Maka terjadilah insiden. Kotak itu terlepas dari pegangan Sandaria. Ketika hendak jatuh, Sandaria dan Surya Kasyara justru berebut hendak menyelamatkan kotak. Namun, benturan tangan yang terjadi membuat kotak itu justru tersenggol terlompat ke atas dan kemudian membuka diri.


Kotak merah itu terbuka sendiri di udara, membuat lima butir mutiara yang ada di dalamnya juga terlompat liar berantakan. Semua pun jadi terkejut melihat hal itu.


Salik Jejaka cepat menghentakkan lengan kanannya. Tenaga dalamnya membuat kelima mutiara yang bergerak di udara terhenti bergerak. Demikian juga kotaknya. Dengan diamnya kelima mutiara itu di udara, maka terlihat pula keindahan lima Mutiara Hati yang memiliki warna merah terang.


“Dasar pengawal ceroboh!” geram Sandaria sambil memukul-mukulkan tongkat birunya kepada Surya Kasyara.


Surya Kasyara buru-buru mundur menjauhi junjungannya guna menghindari pukulan.


“Akan aku gantung kau, Pengawal Ceroboh!” ancam Sandaria sambil terus memukulkan tongkatnya, bahkan pukulan tongkat itu menyasar ke arah kepala Mahapati Abang Garang.


Tap!


Sebelum tongkat biru kecil Sandaria mengenai kepalanya, Mahapati Abang Garang cepat penangkap tongkat wanita mungil itu.


“Hentikan, Gusti Permaisuri!” kata Mahapati Abang Garang.


“Oh!” desah Sandaria terkejut. “Maaf, aku salah pukul!”


Salik Jejaka segera mengamankan kelima mutiara yang bertebaran di udara sehingga tidak jatuh ke lantai.


“Mutiara hadiahmu sudah aku selamatkan, Gusti Permaisuri,” kata Salik Jejaka.


“Oh, aku sangat berterima kasih. Maafkan aku, Gusti Prabu. Aku dan pengawalku sangat teledor!” ucap Sandaria dengan eksresi menyesal tapi menggemaskan, sebab ia mengerenyit sambil menggigit bibir bawahnya.


“Tidak apa-apa, Permaisuri. Memang tepat Prabu Dira mengirimmu. Jika kau berbuat salah, kau bisa terhindar dari kemarahan,” kata Prabu Menak Ujung.


“Agar aku tidak berbuat onar lagi, lebih baik aku izin diri, Gusti Prabu,” ujar Sandaria.


“Silakan, Permaisuri!” kata Prabu Menak Ujung yang tidak merasa tersinggung dengan kekacauan yang dibuat Sandaria dan kedua pengawalnya.


Sandaria dan kedua pengawalnya lalu menghormat dan melangkah mundur lalu berbalik pergi. Sugigi Asmara berjalan sambil memegangi tangan kiri junjungannya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2