8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 25: Ilmu yang Mengerikan


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


Di dalam kereta kuda, Bidadari Wajah Kuning terus menatap wajah Tembangi Mendayu, membuat gadis itu memendam kedongkolan. Jelas ia tidak nyaman jika sepanjang perjalanan dipandangi terus. Jika Joko Tenang yang memandanginya, mau sepuluh hari sepuluh malam, ia tidak akan masalah.


Sebelum melanjutkan perjalanan, Joko Tenang yang sudah berhasil meluluhkan hati keras Tembangi Mendayu, menawarkan sang gadis naik bersama di dalam bilik kereta kuda. Namun, Bidadari Wajah Kuning tidak mau mengalah, ia juga mau di dalam kereta. Dua dayang yang awalnya ikut di kereta, dipindahkan ke pedati. Giliran Pangeran Mabuk yang naik kuda.


“Kenapa kau memandangi Tembangi terus, Bidadari? Kau memandanginya sejak kemarin,” tanya Joko Tenang yang memahami ketidaknyamanan Tembangi Mendayu.


“Karena dia sangat cantik,” jawab Bidadari Wajah Kuning.


“Ya, dia memang cantik,” kata Joko Tenang seraya tersenyum kepada Tembangi Mendayu yang justru merengut samar.


“Tapi dia juga pengganggu!” tukas Bidadari Wajah Kuning. “Seharusnya aku bisa menikmati kebersamaan dengan Gusti Prabu, tapi dia mengacaukannya.”


Mendengar kata-kata Bidadari Wajah Kuning, semakin geramlah Tembangi Mendayu.


“Lebih baik aku berkuda!” kata Tembangi Mendayu kesal, lalu beranjak hendak membuka pintu bilik kereta.


“Eh!” sergah Bidadari Wajah Kuning sambil memalangkan tangannya menghalangi Tembangi Mendayu. Lalu katanya, “Biar aku yang keluar!”


Bidadari Wajah Kuning lalu membuka pintu dan bergerak keluar, di saat kereta masih berjalan. Ia melompat turun lalu melompat lagi dan mendarat di bak pedati.


Maka tinggallah Joko Tenang dan Tembangi Mendayu di dalam bilik kereta. Joko Tenang tersenyum kepada Tembangi Mendayu, membuat gadis itu akhirnya mau tersenyum.


Namun, kebersamaan mereka di dalam bilik kereta tidak berlangsung lama.


“Seraaang!”


Joko Tenang dan Tembangi Mendayu mendengar suara teriakan banyak orang, seperti satu pasukan, tetapi sumber teriakan itu terdengar cukup jauh.


“Joko! Kita sudah sampai di Jalur Bukit!” lapor Joko Tingkir dari luar.


Rombongan mereka sudah berhenti.


Joko Tenang segera membuka pintu bilik kereta. Dia melongok sebentar. Ternyata mereka sudah berada di ujung jalan dan akan memasuki daerah tandus Jalur Bukit. Ia segera turun, demikian pula Tembangi Mendayu.


Mereka semua bisa melihat daerah Jalur Bukit. Di kaki bukit, sedang ada pertarungan. Dari arah barat, puluhan lelaki berpakaian hitam-hitam sedang berlari di udara menuju posisi pertarungan di kaki bukit.


Di kaki bukit itu, kelompok Petra Kelana dan Nenek Rambut Merah dibuat terkejut dengan kedatangan pasukan berseragam hitam.


Saat itu juga menjadi waktu kematian bagi Reka Wani di tangan Murai Manikam.


Adapun bagi nenek Surti, meski terkejut melihat kematian Reka Wani, harapan untuk terselamatkan jadi terpampang di depan mata.


Zersss!

__ADS_1


Namun, harapan itu menjadi tertutup kembali setelah tiba-tiba dari bukit sebelah muncul kejadian aneh. Seekor makhluk sinar kuning berwujud ular raksasa bersayap kalelawar muncul naik ke langit. Di atas ular besar itu berdiri gagah lagi anggun sosok Permaisuri Kerling Sukma.


“Hah!” kejut Pasukan Khusus Kerajaan Siluman melihat kemunculan makhluk penghuni Cincin Mata Langit.


“Permaisuriku memang hebat!” puji Joko Tenang seraya tersenyum lebar melihat aksi Permaisuri Mata Hijau dari kejauhan.


Tembangi Mendayu hanya merengut cemburu. Yang jelas, dia tidak mau bertemu lagi dengan Kerling Sukma.


Dari pinggang bukit melesat berkelebat tiga Pengawal Bunga, yaitu Hantam Buta, Warok Genang dan Lintang Salaksa. Dari balik bukit, muncul pula sepuluh prajurit berkuda yang memacu tunggangannya dengan kencang.


“Nenek Putih! Kali ini aku yang akan membunuh kalian!” teriak Bidadari Wajah Kuning saat mengenali satu sosok berpakaian serba putih di kejauhan itu. Ia langsung melesat cepat menuju kaki bukit.


Terkejut Joko Tingkir, Lanang Jagad dan Arya Permana mendengar keberadaan pembunuh guru-guru mereka.


“Heah! Heah!” teriak ketiga pemuda itu langsung menggebah kuda-kudanya.


“Waktunya bertarung!” teriak Joko Tingkir.


“Sepertinya aku juga harus bertarung untuk memastikan aku sudah sembuh. Hehehe!” kata Linglung Pitura kepada Joko Tenang.


Kakek berpenampilan rapi itu lalu menggebah kudanya, tapi lebih terkesan santai. Rara Sutri mengikuti gurunya.


Tinggallah Joko Tenang, Gadis Cadar Maut di atas kuda, Tembangi Mendayu, pasukan pejalan kaki dan kedua sais.


“Kerling Emas! Habisi!” teriak Kerling Sukma nyaring dengan menyebut nama ularnya.


Ular Kerling Emas terbang cepat lalu merendah dan menerabas puluhan prajurit Pasukan Khusus Kerajaan Siluman. Para prajurit itu sudah berusaha menghindar, tetapi tetap saja ada belasan orang yang ditabrak oleh sang ular.


Belasan prajurit berpentalan lalu meregang nyawa seperti orang kehilangan oksigen. Tidak lama kemudian, mereka mati sekaligus.


“Bidadari Wajah Kuning tiba!” seru seorang pendekar Hantu Sanggana sambil menunjuk ke arah kedatangan si nenek cantik dan lainnya.


Kemunculan Permaisuri Kerling Sukma dan rombongan Joko Tenang, membakar semangat para pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana, termasuk pasukan berkuda yang sejak tadi hanya menonton karena pertarungan itu bukan level mereka. Namun, kemunculan Pasukan Khusus Kerajaan Siluman yang jumlahnya sekitar seratus orang, membuat mereka harus bertempur juga.


“Kenapa hanya satu orang, Rambut Merah?!” teriak Bidadari Wajah Kuning sambil mendaki kaki bukit dengan kudanya.


“Yang lainnya sudah mati semua, tinggal yang satu ini!” teriak Nenek Rambut Merah menjawab.


“Biar kami yang membunuhnya!” teriak Joko Tingkir, Lanang Jagad dan Arya Permana bersamaan.


Ketiga pemuda tampan itu kompak melompat meninggalkan kudanya, lalu berlari di udara menuju ke posisi nenek Surti yang berdiri panik. Namun, Bidadari Wajah Kuning yang lebih dulu berkelebat mendahului ketiga pemuda itu.


Furr!


“Bidadari!” pekik Petra Kelana terkejut melihat tindakan Bidadari Wajah Kuning yang dinilainya bodoh.


Wanita tua berfisik muda itu melesat kepada Surti, tetapi tidak langsung menyerang, hanya datang kepada Surti. Dengan cepat Surti menaburkan Racun Bening Mati. Bidadari Wajah Kuning membiarkan dirinya disiram tanpa perlawanan.

__ADS_1


Bidadari Wajah Kuning pun jatuh.


“Bidadari!” sebut Joko Tingkir yang begitu cekatan berinisiatif menolong si nenek cantik. Tubuh si nenek yang jatuh ia tangkap dengan kedua tangannya.


“Boddoh!” maki Petra Kelana melihat tindakan Joko Tingkir pula.


Joko Tingkir memang berhasil menangkap tubuh aduhai Bidadari Wajah Kuning, sehingga wanita itu terpukau menatap ketampanan si pemuda. Namun sebentar kemudian, keduanya jatuh bertindihan, tapi tidak bertindihan adu depan. Itu terjadi karena keduanya keracunan. Joko Tingkir terpapar racun dari yang melekat pada tubuh dan pakaian Bidadari Wajah Kuning.


Petra Kelana cepat datang dan menotok tubuh si nenek cantik dan Joko Tingkir, mengamankan jantung mereka berdua dari serangan racun.


“Kenapa kau bertindak bodoh, Bidadari?!” bentak Petra Kelana.


“Tidak apa-apa, aku memiliki tabib sakti dan tampan,” ucap Bidadari Wajah Kuning sambil mengerenyit menahan sakit, seiring racun mulai menyerap ke dalam tubuh.


“Dasar!” maki Petra Kelana setelah mengetahui niat wanita itu.


“Guru, maafkan aku, tidak bisa membalas kematianmu,” ucap Joko Tingkir lirih, sedih.


Sementara itu, Surti kembali dikeroyok habis-habisan oleh Nenek Rambut Merah yang kakinya sudah bebas, Setan Ngompol, Limarsih, ditambah Lanang Jagad, dan Arya Permana.


Pangeran Mabuk dan Rara Sutri memilih menyambut serangan Pasukan Khusus Kerajaan Siluman, sama seperti tiga Pengawal Bunga, lima pendekar Pasukan Hantu Sanggana, dan para prajurit berkuda.


Namun, sebelum para pendekar itu sampai kepada Pasukan Khusus Kerajaan Siluman, Kerling Sukma telah lebih dulu melompat terjun dari atas ularnya.


Jess!


Sluff sluff sluff…!


Bress bress bress…!


“Aak! Akh! Ak…!”


Ketika ujung kaki kanan Kerling Sukma menyentuh tanah di hadapan pasukan musuh, gelombang sinar hijau melesat cepat dan melebar ke arah depan, seolah melakukan pengecatan terhadap tanah dan bebatuan.


Para prajurit yang berkemampuan di atas standar prajurit biasa itu, masing-masing meloncat tinggi menghindari jalaran sinar hijau di tanah.


Namun, cepatnya jalaran sinar hijau itu membuat sejumlah prajurit terkena langsung kakinya, lalu tubuhnya langsung terpanggang api hijau yang sangat ganas.


Sebagian dari mereka yang berhasil meloncat menghindar, tetap saja menjadi korban ketika posisi kakinya kurang begitu jauh atau tinggi. Dari lapisan sinar di tanah itu, berlompatan naik sinar hijau berwujud seperti mulut terompet tanpa putus dari dasarnya, menangkap kedua kaki para prajurit dan menahan loncatan mereka. Jeratan itu membuat tubuh mereka langsung terbakar oleh api hijau.


Jeritan para prajurit itu melengking memilukan, seiring tubuhnya habis terpanggang hanya dalam setarikan napas saja. Pakaian, kulit dan daging tubuh mereka terbakar habis. Separuh dari pasukan seketika habis.


“Ilmu yang sangat mengerikan!” ucap Pangeran Mabuk terkejut menyaksikan ilmu Dewi Bunga Dua itu.


Puluhan kerangka manusia berbalut daging hangus kini berserakan di kaki bukit itu. Bau sangit yang tajam tercium menusuk hidung hingga jauh.


Pertempuran kembali dilanjutkan. Empat punggawa pasukan yang memimpin Pasukan Khusus pun turun tangan. Mereka siap perang habis-habisan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2