
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Zerzz zerzz zerzz…!
Petir-petir dari ilmu Petir Awan Hitam berlesatan menyerang Anjas. Semua orang tahu, seperti apa kecepatan petir dalam menghanguskan target yang ada di bumi.
Semua orang terperangah takjub dan terkejut. Mereka melihat Anjas bermain dengan petir-petir itu. Anjas menangkal serangan hujan petir itu dengan ilmu Ratu Menangkis Raja Menyerang yang dipadu dengan ilmu Bayang-Bayang Malaikat.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Anjas menahan setiap lidah petir dengan kedua telapak tangannya secara bergantian.
Sri Rahayu terkejut melihat kenyataan yang tergelar. Ilmu Petir Awan Hitamnya benar-benar tidak berfungsi di tangan Anjas. Ini jelas kerugian besar bagi Sri Rahayu, sebab itu adalah salah satu ilmu yang ia andalkan untuk membunuh mertuanya.
Ilmu Ratu Menangkis Raja Menyerang yang ada di telapak tangan, memantulkan kembali petir-petir yang menyerang Anjas. Petir-petir itu dipantulkan kembali ke udara atas, tetapi tidak ke arah Sri Rahayu yang melayang di udara. Para petir yang dipantulkan hilang dengan sendirinya di langit.
Anjas sengaja tidak memantulkan ke arah Sri Rahayu, sekali lagi ia tidak bermaksud mencelakai menantu cantiknya itu.
Melihat hal itu, Ratu Sri Mayang Sih berubah cemas. Sanggupnya Anjas mengalahkan ilmu Petir Awan Hitam jelas sudah merupakan kekalahan bagi Sri Rahayu.
“Raja Anjas! Hentikan!” teriak Ratu Sri Mayang Sih tiba-tiba.
Sri Rahayu jadi menghentikan serangan ilmu Petir Awan Hitam-nya, ia memandang kepada ibunya. Raja Anjas jadi berhenti pula dan menengok ke belakang. Ia tidak khawatir Sri Rahayu akan membokong, ia sudah yakin bahwa menantunya seorang pendekar yang punya harga diri.
Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu juga mengalihkan pandangannya kepada Ratu Sri Mayang Sih. Sang ratu maju dengan tertatih-tatih bertopang pada tongkat pemapahnya. Pada jarak tertentu ia berhenti.
“Ada apa, Ibunda?!” tanya Sri Rahayu agak berteriak dari udara.
“Aku tidak ingin kau mati di tangan Raja Anjas. Kita kalah, aku bersedia menjadi istrinya!” seru Ratu Sri Mayang Sih.
Terkejutlah sebagian orang yang mendengar pernyataan Ratu Sri Mayang Sih. Mereka tidak habis pikir, bagaimana ceritanya seorang wanita bersedia menjadi istri dari lelaki yang membunuh suaminya.
“Ratu Sri Mayang Sih rupanya sama dengan aku,” kata Ratu Lembayung Mekar kepada Mahapati Tarik Sewu dan Senopati Langgapati, seraya tersenyum.
Ratu Lembayung Mekar akan menikahi Prabu Dira yang menjadi pemimpin pihak orang yang membunuh Raja Galang Madra. Orang yang membunuh langsung Raja Galang Madra adalah Permaisuri Kerling Sukma di dalam peperangan Jalur Bukit.
“Menurutmu mana yang lebih tidak masuk akal, Mata Hijau? Aku menikahi suami muridku dan murid mantan kekasihku, atau Ratu Sri yang menikahi lelaki yang membunuh suaminya?” tanya Nara kepada muridnya, Kerling Sukma.
“Seharusnya pilihan Ratu Sri, Permaisuri Guru,” jawab Kerling Sukma.
Kembali kepada ketegangan antara Anjas dengan Sri Rahayu dan ibunya.
“Tidak, Ibunda! Aku belum kalah! Aku masih memiliki Mutiara Ratu Panah!” seru Sri Rahayu.
Terkejutlah Ratu Sri Mayang Sih dan Raja Anjas, termasuk Tirana. Adapun permaisuri yang lain dan para tamu, mereka sudah tahu bahwa Sri Rahayu memiliki Mutiara Ratu Panah, yang diberikan oleh Joko saat pernikahan.
“Jika Mutiara Ratu Panah tidak bisa membunuh Raja Anjas, maka aku kalah!” seru Sri Rahayu.
“Baiklah!” sahut Ratu Sri Mayang Sih akhirnya.
Wezz!
Tiba-tiba tubuh Sri Rahayu yang masih diliputi oleh asap hitam berlistrik, memancarkan sinar ungu pada bagian dadanya. Seolah menunjukkan bahwa di dalam dada itulah tempat Mutiara Ratu Panah bersemayam. Kemudian muncul garis sinar ungu pula di sepanjang kedua lengan Sri Rahayu, dengan telapak tangan bersinar ungu agak menyilaukan. Yang lebih membuat Sri Rahayu menyeramkan adalah sinar yang keluar dari dalam kepalanya. Sinar itu keluar memancar lewat lubang-lubang di kepala, termasuk kedua mata.
__ADS_1
Meski Raja Anjas sedikit banyaknya mengetahui tentang kesaktian Mutiara Ratu Panah, tetapi ia belum pernah menghadapi langsung kesaktian pusaka yang tidak bisa ditaklukkan oleh seorang Malaikat Dewa Raja Iblis.
Anjas segera melompat mundur, seolah mengambil jarak untuk bersiap menghadapi serangan Mutiara Ratu Panah.
Joko Tenang, para ratu, para permaisuri, juga penasaran tentang kehebatan Mutiara Ratu Panah.
Ketegangan sangat terasa pada diri para penonton. Anjas pun agak tegang. Terutama Joko Tenang. Ia akan merasa sangat berdosa jika sampai pusaka pemberiannya kepada Sri Rahayu justru membunuh ayah kandungnya.
Zez zez zez…!
“Ciaat!”
Wuss!
Ketika Sri Rahayu menghentakkan kedua tangannya dengan jari-jari lurus, maka melesatlah sinar-sinar ungu berwujud panah-panah kecil dari kedua ujung jari-jari tangan itu. Jangan ditanya jumlahnya berapa anak panah, karena serangan anak panahnya tanpa henti keluar dari ujung tangan Sri Rahayu. Seolah-olah tubuh Sri Rahayu adalah mesin tembak canggih yang tidak akan kehabisan amunisi.
Saking cepatnya dan banyaknya sinar anak panah ungu yang melesat, sehingga terlihat seperti garis tanpa putus ketika menembak.
Yang membuat semua orang terperangah terkejut, ketika Anjas mendahului mengeluarkan ilmu Badai Malam Dari Selatan.
Angin dahsyat itu berhasil menahan laju ribuan anak panah sinar ungu. Namun, itu hanya sementara menghambat, bahkan tidak mampu menerbangkan tubuh Sri Rahayu, kecuali memusnahkan asap hitamnya. Setelah anginnya lewat, deretan anak panah sinar ungu kembali melesat cepat menembak ke arah Anjas.
Dret dret dret…!
Namun, sinar ungu yang terlihat seperti dua garis panjang dari kedua tangan Sri Rahayu, terbentur ilmu perisai Lapisan Pemelihara Nyawa. Ledakan-ledakan kecil yang sangat rapat terus terjadi pada ilmu perisai itu, karena tembakan sinar ungu tidak berhenti.
Anjas bisa merasakan bahwa ilmu perisainya terkikis, karenanya ia cepat mengerahkan ilmu tabirnya. Tiba-tiba Anjas hilang dari pandangan. Ilmu ini pernah digunakan beberapa kali saat melawan Prabu Raga Sata.
Blaar!
Clap! Werzz!
Tiba-tiba Anjas muncul di salah satu titik pelataran, tidak jauh dari posisi pertamanya. Ilmu tabirnya telah ia cabut, karena fungsi ilmu itu hanya menutupi pandangan lawan, bukan Anjasnya yang bisa menghilang masuk ke alam genderuwo.
Kemunculan Anjas disertai dengan pelesatan sinar emas berbentuk cakra yang berputar kencang. Sinar emas itu berhenti di udara, tidak menyerang ke arah Sri Rahayu.
Kemunculan Anjas memancing Sri Rahayu untuk langsung menembak ke posisi mertuanya. Ia tidak begitu mengindahkan sinar cakra emas di udara, tetapi tetap mewaspadainya. Jika sinar itu tidak menyerang, pasti ada fungsi lainnya.
Raja Anjas menggunakan ilmu Bayang-Bayang Malaikat untuk melesat ke sana ke mari menghindari tembakan ribuan anak panah sinar ungu yang tanpa henti. Lantai pelataran hancur membentuk garis seperti terkena tembakan sinar laser yang berjalan.
Anjas harus bergerak tanpa henti karena ada dua aliran sinar yang menyerangnya, yang bisa bebas diarahkan ke mana saja. Anjas tidak berani ambil risiko dengan melompat ke udara, justru itu akan membuatnya jadi sasaran empuk karena gerakannya akan terbaca.
Namun, tidak berapa lama, kekuatan sinar Cakra Delapan Kematian mulai bekerja terhadap kesaktian Mutiara Ratu Panah.
Anak panah sinar ungu mulai tertarik oleh kekuatan sedot Cakra Delapan Kematian. Arah tembakan dua garis sinar itu tidak akurat lagi. Secara perlahan sinar itu justru tertarik mengarah kepada sinar cakra yang terus berputar.
Sri Rahayu sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk mengotrol penuh arah tembakannya. Tampak Anjas sudah berdiri diam, tidak berlari lagi. Ia seperti orang yang sudah menang sebelum pertarungan berakhir.
Ctar ctar ctar…!
Akhirnya dua aliran sinar ungu itu mengenai sinar kuning emas, bukan karena Sri Rahayu sengaja mengarahkan kepada sinar cakra itu, tetapi karena tersedot. Maka timbullah ledakan-ledakan sinar ungu yang ramai seperti kembang api tahun baru di tahun-tahun sebelum wabah Covid-19.
Akhirnya, Sri Rahayu memutuskan menghentikan pengerahan kekuatan Mutiara Ratu Panah.
__ADS_1
Inilah kesempatan bagi Anjas dan memang itu yang ia tunggu.
Wess! Tek! Press! Bluar!
Press!
Anjas melesat cepat langsung ke arah posisi Sri Rahayu yang masih melayang di udara. Seperti taktik sebelumnya, Anjas lebih dulu melesatkan kerikil untuk memastikan keberadaan Dinding Tanpa Wujud Sri Rahayu.
Ternyata Dinding Tanpa Wujud ada, terbukti kerikil yang dilesatkan membentur dinding tanpa wujud dan warna. Maka itu, Anjas langsung menghantam Dinding Tanpa Wujud dengan ilmu Surya Langit Jagad.
Ledakan dahsyat terjadi seiring hancurnya ilmu Dinding Tanpa Wujud dan Surya Langit Jagad. Serangan Anjas yang begitu cepat dan tepat mengambil momentum, membuat Sri Rahayu tidak berdaya selain menerima serangan.
Daya adu Dinding Tanpa Wujud dengan Surya Langit Jagad membuat tubuh Sri Rahayu terlempar deras dan jauh di udara.
Ketika tubuh Sri Rahayu melesat di udara, tiba-tiba tubuh Anjas muncul melesat satu tombak di atas tubuhnya, sementara tangan kanannya berbekal ilmu Surya Langit Jagad. Namun, Anjas tidak menghantamkan ilmu pamungkasnya itu.
Sri Rahayu yang kekuatan Mutiara Ratu Panah-nya telah padam, hanya bisa mendelik menatap wajah mertuanya yang tersenyum kepadanya.
“Sudah berakhir,” ucap Ratu Getara Cinta.
“Putriku akhirnya kalah,” ucap Ratu Sri Mayang Sih lemah di sisi lain.
Blugk!
Tubuh Sri Rahayu jatuh menghantam lantai pelataran.
“Hoekh!” Sri Rahayu muntah darah panas ketika tubuhnya berhenti berguling. Kuatnya kesaktian Sri Rahayu membuatnya hanya mengalami luka dalam tingkat sedang.
Biasanya, orang sakti manapun yang beradu ilmu dengan Surya Langit Jagad, mereka akan mati hangus.
Anjas mendarat halus di sisi tubuh menantunya.
“Menantuku memang luar biasa kesaktiannya,” puji Anjas kepada Sri Rahayu.
Anjas mengulurkan tangan kanannya ke arah sinar emas cakranya. Sinar cakra yang terus berputar di udara langsung melesat cepat ke tangan tuannya, lalu hilang.
Anjas lalu mengulurkan tangan kanannya kepada Sri Rahayu. Wanita jelita itu menyambut tangan mertuanya untuk berdiri.
“Terima kasih sudah berbuat bijak kepadaku, Gusti Prabu,” ucap Sri Rahayu.
Ratu Sri Mayang Sih berjalan tertatih-tatih mendatangi posisi putrinya. Ratu Getara Cinta dan para permaisuri juga berjalan mendatangi posisi Sri Rahayu dan Anjas.
Namun, sebelum Ratu Sri Mayang Sih mencapai putrinya, Anjas lebih dulu menghadang sang ratu.
Tatapan Ratu Sri Mayang Sih kepada Anjas masih menunjukkan kebencian. Anjas hanya tersenyum lembut kepada wanita yang masih cantik itu.
“Kita sepakat menikah?” tanya Anjas lembut. “Istriku sudah memberi izin untuk menikahimu, Ratu.”
“Ya, aku setuju menikah, tetapi aku masih memiliki syarat,” kata Ratu Sri Mayang Sih agak ketus.
“Apa syaratmu? Jika aku sanggup memenuhinya, pasti aku akan memberikannya,” tanya Anjas.
“Akan aku beri tahu saat aku mempersembahkan kopi pahit untukmu di kamarku!” jawab Ratu Sri Mayang Sih tanpa sedikit pun senyum.
__ADS_1
“Dengan senang hati,” kata Anjas seraya tersenyum manis. (RH)