8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 12: Pidato Kemenangan


__ADS_3

*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


 


Pasukan Kerajaan Siluman yang menyerah ditugaskan untuk mengubur ratusan mayat rekan-rekan mereka. Sebuah lubang besar di buat di pinggir Hutan Malam Keabadian sebagai kuburan massal.


Sementara para prajurit pasukan militer Sanggana Kecil yang tidak terlibat dalam puncaknya perang, mereka bekerja mengumpulkan senjata-senjata musuh dan benda-benda yang bisa disebut harta rampasan perang, termasuk ratusan ekor kuda.


“Bagaimana keadaanmu, Adipati?” tanya Joko Tenang menyapa wanita cantik bersuara lelaki, Ririn Salawi.


“Aku baik-baik saja, Gusti Prabu,” jawab Ririn Salawi seraya tersenyum manis. Ia merasa senang karena mendapat perhatian dari Joko Tenang.


Joko Tenang lalu mendatangi Adipati Yono Sumoto.


“Kakek, kau terluka!” ucap Joko Tenang agak cemas saat melihat Adipati Yono Sumoto berdarah pada bagian pinggangnya.


“Tidak apa-apa, ini hanya luka biasa, tidak berbahaya,” kata Adipati Yono Sumoto yang berada bersama para pendekar yang terluka. “Gusti Prabu, aku tidak menyangka bahwa kerajaan baru ini ternyata sudah memiliki pasukan yang luar biasa.”


“Kita memang harus kuat, Kek. Apalagi jika kita mengaku sebagai kerajaan yang berpihak kepada kebenaran,” kata Joko Tenang seraya tersenyum.


Joko Tenang kian tersenyum ketika melihat keberadaan Parsuto yang kakinya sedang dibalut perban oleh seorang perawat wanita. Ia lalu pergi kepada sahabatnya itu.


“Rupanya pendekar hebat kita ini masih bisa terluka,” kata Joko Tenang.


“Hahaha!” tawa Parsuto. “Aku hampir saja mati. Beruntung Gemara menyelamatkanku.”


“Kau kenal dengan Gemara?” tanya Permaisuri Kusuma Dewi seraya tersenyum kepada Parsuto, yang merupakan teman sekampung masa kecilnya.


“Aku baru mengenalnya setelah perang berakhir. Tentu aku harus mengucapkan terima kasih kepadanya,” kata Parsuto sambil memandang ke arah Gemara yang berada sepuluh tombak jauhnya.

__ADS_1


Gemara, pendekar Pengawal Bunga yang cantik dan berpenampilan seksi, sedang membantu seorang pendekar wanita dari Pasukan Pedang Putri yang terluka cukup parah.


“Hati-hati, kau bisa selalu terbayang akan pesonanya, hihihi!” goda Kusuma Dewi.


“Hahaha!” tawa Parsuto.


Tim medis yang merupakan anak buah Tabib Rakitanjamu sedang bekerja ekstra karena banyak pendekar yang terluka.


Joko Tenang yang dikawal oleh Ratu Getara Cinta dan para permaisuri lainnya, lalu pergi mendatangi deretan mayat para pendekar Sanggana Kecil yang gugur.


“Kita kehilangan tiga puluh sembilan pendekar. Kebanyakan pedekar dari Pasukan Hantu Sanggana dan Pasukan Pedang Putri. Lima orang pendekar Kadipaten Gunung Prabu dan empat pendekar Kadipaten Hutan Malam Abadi,” lapor Ratu Getara Cinta saat Joko Tenang berdiri terdiam sedih memandangi puluhan mayat pendekarnya.


“Kuburkan mereka dengan terhormat di satu area. Itu akan kita jadikan tanah makam khusus prajurit dan pendekar Sanggana Kecil. Makam itu kita namai Tanah Ksatria Sanggana!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Mahapatih Turung Gali.


“Baik, Gusti Prabu!” ucap Mahapatih lagi.


Setelah perkara di Lereng Tiga Mata diselesaikan, kemudian semua pendekar dan prajurit Sanggana Kecil telah diobati, serta para tahanan diamankan di suatu tempat, para prajurit dan pendekar pasukan Kerajaan Sanggana Kecil dikumpulkan di pelataran Istana yang luas.


Pasukan Kerajaan Sanggana Kecil itu berkumpul tetap dalam barisan yang teratur. Beberapa pendekar yang terluka parah tampak harus dipapah untuk berkumpul, karena mereka akan mendengarkan pidato kemenangan Prabu Dira Pratakarsa Diwana.


Agar lebih berwibawa, Joko Tenang disarankan menyampaikan pidato kemenangannya dengan berdiri di atas punggung macan sinar hijau milik Ratu Getara Cinta. Ketika Joko Tenang sudah muncul dengan macan sinar hijau yang melayang di udara, semua prajurit dan pendekar terdiam dengan pandangan fokus kepada raja mereka.


Ada rasa bangga di dalam hati mereka karena memiliki raja yang tampan, gagah dan sakti mandra berguna, meski jumlah permaisurinya membuat banyak yang sakit hati dan berharap. Sakit hati karena para permaisuri itu begitu cantik-cantik. Dan berharap bahwa suatu hari nanti mereka akan mendapat istri yang secantik para permaisuri.


“Di mana pasukan hebat Sanggana Kecil?!” teriak Joko Tenang keras sebagai pembuka dari pidato kemenangannya.


“Di sini!” teriak menjawab semua prajurit dan pendekar sambil memukul dadanya sendiri.

__ADS_1


Suara jawaban itu begitu menggema keras penuh semangat, seolah jumlah mereka jauh lebih besar dari yang terlihat.


“Wahai, prajurit-prajurit hebat dan pendekar-pendekar sakti Sanggana Kecil! Kerajaan ini dan semua wilayah yang dikuasainya, telah menjadi tanah air kalian, negeri milik kita. Jika ada kekuatan lain, kerajaan lain, atau pasukan lain, yang berusaha merebut sejengkal saja tanah negeri kita, maka kita wajib melawan. Lebih baik mati sebagai pembela daripada mati sebagai perampok. Bersama ratu dan para permaisuri, kalian telah menunjukkan bakti, kesetiaan dan kehebatan kalian. Pasukan musuh jauh lebih banyak dan kuat, tetapi Sanggana Kecil memiliki para prajurit dan pendekar yang lebih hebat dan tulus. Ingatlah di benak kalian kuat-kuat, aku Prabu Dira Pratakarsa Diwana, raja kalian, tidak akan mengabaikan semua pengorbanan kalian. Aku akan memberi kalian hadiah atas kemenangan ini. Aku akan memberi hadiah kepada keluarga prajurit dan pendekar kita yang gugur sebagai ksatria!” seru Joko Tenang. Ia lalu berhenti sejenak untuk menarik napas panjang.


“Mulia Gusti Prabu Dira!” teriak Mahapatih Turung Gali tiba-tiba pada jeda pidato itu.


“Mulia Gusti Prabu Dira!” teriak semua prajurit dan pendekar yang ada, termasuk para permaisuri berteriak.


“Mulia Gusti Ratu!” teriak Mahapatih Turung Gali lagi.


“Mulia Gusti Ratu!” teriak semua prajurit dan pendekar.


“Mulia Gusti Permaisuri!” teriak Mahapatih untuk ketigakalinya.


“Mulia Gusti Permaisuri!”


Teriakan yang mengelu-elukan Joko Tenang dan para istrinya akhirnya berhenti. Joko Tenang pun melanjutkan pidato kemenangannya.


“Wahai, prajurit-prajurit hebat dan pendekar-pendekar sakti Sanggana Kecil! Perang hari ini telah usai, tetapi musuh besar masih ada di luar sana. Hari ini kita kehilangan banyak prajurit dan pendekar hebat. Ini membuatku sedih. Istana akan segera memperbaiki pertahanan wilayah Sanggana Kecil, akan segera membekali para prajurit dengan senjata yang memadai dan cara berperang yang kuat, akan membekali para pendekar kesaktian yang wajib dimiliki sebagai pendekar Sanggana Kecil. Nyawa kalian kami ibaratkan adalah nyawa kami juga. Jika kami sebagai pemimpin ingin tetap hidup, kalian juga harus tetap hidup. Jika kami sebagai pemimpin ingin hidup nyaman dan layak, kalian juga harus hidup nyaman dan layak. Dan ingat, perang telah berakhir. Itu artinya tidak ada dendam, cukup selesai di medan perang. Karena besok, pasukan yang tadi menjadi musuh kita akan menjadi bagian keluarga besar kita. Ingat, tidak ada dendam. Jika kalian masih mendendam, mengadulah kepada Hakim Agung! Mengerti?!”


“Mengerti, Gusti Prabu!” jawab semua prajurit dan pendekar.


“Terima kasih atas bakti dan perjuangan kalian semua. Maafkan aku dan para permaisuriku, karena banyak prajurit dan pendekar yang gugur. Kembalilah untuk beritirahat, karena besok kita masih banyak tugas untuk kerajaan dan rakyat!”


“Mulia Gusti Prabu Dira!” teriak Mahapatih Turung Gali lagi.


“Mulia Gusti Prabu Dira!” teriak semua prajurit dan pendekar.


Setelah itu, Joko Tenang melompat turun dari punggung macan sinarnya. Makhluk penghuni Cincin Mata Langit itu kemudian ambyar dan tersedot masuk ke dalam tubuh Ratu Getara Cinta. (RH)

__ADS_1


__ADS_2