
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
Ki Rawa Banggir alias Ganesa Putih selaku tuan rumah dan Tiga Malaikat Kipas sebagai yang punya acara, sudah menyerahkan waktu dan tempat kepada Dewa Kematian untuk berbicara.
“Dengan sangat terpaksa, aku meminta kepada Tiga Malaikat Kipas dan Ganesa Putih untuk melakukan pertemuan mendesak. Ada masalah genting yang merupakan buah dari dosa masa laluku pada puluhan tahun yang lalu. Anggaplah pertemuan mendadak ini sebagai pengakuan dosaku. Dan kalian sangat perlu tahu karena mungkin sebagian dari kalian akan memiliki kaitan di kemudiannya,” ujar Dewa Kematian dengan nada bicara yang penuh wibawa, membuat pertemuan itu benar-benar terkesan sakral. Bahkan Tiga Malaikat Kipas yang suka tertawa sembarangan, kini berlakon tiga rius.
“Seindah apa dosamu sehingga kau harus mengungkapkannya kepada kita semua, Dewa?” tanya Datuk Kramat.
“Jika pengakuan dosamu melibatkan aku, berhentilah! Aku datang bukan untuk mengenang masa lalu, Pratakarsa!” kata Dewi Mata Hati ketus dan lantang dengan menyebut nama asli Dewa Kematian.
“Dosaku ini tidak melibatkanmu, tetapi akibatnya akan sangat berdampak terhadapmu, Nara!” sahut Dewa Kematian.
“Baiklah, aku akan mendengar pengakuan dosamu, semoga kau bisa lebih lega dan kami pun jadi tahu sesuatu yang selama ini tertutupi,” kata Resi Kumbalabatu lebih lembut.
“Lanjutkanlah, Pratakarsa!” perintah Ewit Kurnawa.
“Sekitar lima puluh tahun yang lalu, pada masa aku mencari-cari delapan calon Dewi Bunga, salah satu gadis yang aku inginkan adalah Dewi Ara yang berjuluk Dewi Geger Jagad….”
“Apa? Kau sampai berniat menjadikan Iblis Wanita itu sebagai calon Dewi Bunga dari ilmumu?” ucap Bidadari Wajah Kuning terkejut.
“Biarkan Dewa Kematian memperjelas ceritanya, jangan kalian potong terus!” hardik Minati Sekar Arum datar.
Terdiam merengutlah Bidadari Wajah Kuning.
“Aku termasuk orang yang sangat terpikat oleh kecantikan Dewi Geger Jagad. Jadi aku sangat berambisi untuk menjadikannya salah satu Dewi Bunga dan mengikatnya sebagai orang aliran putih. Namun, aku gagal. Dia menolakku mentah-mentah dengan keangkuhannya. Dan ketika aku menguasai ilmu Delapan Dewi Bunga, aku mendatanginya dan menawarkannya kembali, karena aku masih sangat terpikat kepadanya. Aku ingin menjadikannya sebagai istriku yang kesembilan, tetapi bukan sebagai Dewi Bunga. Dia baru bisa menjadi Dewi Bunga jika salah seorang istriku meninggal. Namun, dia kembali menolak. Aku sakit hati. Akhirnya aku bersumpah untuk membuatnya takluk dan meruntuhkan keangkuhannya. Kami bertarung selama tiga hari tiga malam. Dewi Geger Jagad aku bunuh dengan ilmu Kumbang Tidur Abadi, aku kunci keperawanannya dengan Penjara Mahkota Suci sebagai hukuman masa depannya….”
“Bisa kau jelaskan lebih rinci tentang ilmu Kumbang Tidur Abadi dan Penjara Mahkota Suci itu? Aku yang sudah ringkih ini cukup sulit meresapinya,” kata Iblis Takluk Arwah.
“Ilmu Kumbang Tidur Abadi bisa membunuh orang tanpa mati, tetapi dia akan terus tertidur sampai ada seorang lawan jenisnya yang menyetubuhinya….”
“Eh! Tidak aku sangka kau punya ilmu keji seperti itu, Dewa Kematian! Grrr!” hardik Iblis Takluk Arwah, lalu menggeram halus. Di masa muda, dia termasuk salah satu pemuda yang berani adu nyawa demi mendapatkan cinta Dewi Geger Jagad.
“Karena itu dia menyebutnya pengakuan dosa!” celetuk Ratu Naga Lembah Seribu dengan lirikan kesal.
Terdiamlah Datuk Kramat dan yang lainnya. Dewi Mata Hati hanya diam, meski ada sedikit didihan air panas di dalam hatinya mendengar cerita itu. Sebagai wanita cantik jelita lintas masa, bukan hanya dengan Ki Ageng Kunsa Pari dia pernah menitip hati, tetapi juga kepada Dewa Kematian di masa yang lebih lampau.
Dewa Kematian kembali melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
“Aku tidak mau ketika Dewi Geger Jagat bangkit kembali, itu adalah masa dimana aku masih hidup. Karenanya aku menguburnya di lubang bumi paling dalam, yang tidak mungkin akan didatangi oleh seorang lelaki, kecuali aku. Karena itu, tidak ada orang yang tahu di mana kuburannya. Meski hanya dengan cara menodai barulah Dewi Geger Jagad bisa hidup kembali, belum tentu pula lelaki yang menemukannya mau menyetubuhi mayat, meski ia sangat cantik. Jadi, untuk memaksa lelaki yang menemukannya melakukan perbuatan hina itu, maka aku tanamkan ilmu Penjara Mahkota Suci pada keperawanannya. Ilmu itu menyebarkan pengaruh gairah yang sangat tinggi. Jika kesucian Dewi Geger Jagad terenggut, maka saat itu Penjara Mahkota Suci akan terbuka dan sinarnya akan melesat sampai ke langit, sebagai tanda dan mengumumkan kepada dunia bahwa kesucian Dewi Geger Jagat telah ternodai. Itu juga menjadi tanda kebangkitannya,” tutur Dewa Kematian.
Pada tahap ini, kedua puluh satu tokoh tua lainnya mendengarkan dengan khidmat.
“Baru saja, aku merasakan bahwa Penjara Mahkota Suci telah terbuka, yang artinya Dewi Geger Jagad telah bangkit dari tidur panjangnya,” tandas Dewa Kematian.
“Appa?!” pekik sebagian tokoh tua, meski yang terkejut hampir semuanya, kecuali mereka yang sudah tahu.
Mereka semua terkejut karena hampir semua dari mereka pernah punya urusan masa lalu dengan Dewi Geger Jagad. Dari sebatas urusan cinta, sampai urusan nyawa.
“Berarti, itu juga sebagai tanda pertarungan besarku akan terjadi sebentar lagi!” kata Dewi Mata Hati dingin.
Semua mata jadi memandang kepada wanita bermata hitam penuh itu. Hampir semua dari mereka tahu tentang cerita kedua orangtua Dewi Mata Hati yang mati di tangan Dewi Geger Jagad.
Prakr!
Tiba-tiba lantai papan yang diduduki oleh Nara hancur, mengejutkan Pendekar Seribu Tapak dan Nenek Peti Terbang yang duduk di sisi kanan dan kirinya. Namun, itu tidak membuat Dewi Mata Hati jatuh ke bawah karena tubuhnya melayang di udara.
“Redam dulu dendammu, Nara!” kata Minati Sekar Arum. “Bukan hanya kau yang memiliki dendam kepada Dewi Ara.”
“Dosamu sungguh menyusahkan, Dewa Kematian!” tukas Pangeran Tapak Tua, yang merupakan Guru dari Kembang Buangi. Ia sosok kakek tua yang wajahnya penuh kerutan hingga ke jari-jarinya. Sehingga ia terlihat begitu tua rentah. Ia mengenakan jubah hitam dengan bahu putih. Ia membawa tongkat seperti garpu dengan dua mata. “Jika memang benar seperti yang kau ceritakan, yang terpenting sekarang adalah beri tahu kepada kami, di wilayah mana kau kubur Wanita Iblis itu?”
“Benar! Di lubang mana Wanita Iblis itu kau simpan, Dewa Kematian? Dan bagaimana bisa, dengan mudahnya ada lelaki yang datang kepadanya?” tanya Bidadari Wajah Kuning dengan intonasi yang cukup tinggi.
“Di jurang Gua Lolongan!” jawab Dewa Kematian dengan jelas.
“Appa?!”
Kali ini sekitar delapan puluh persen yang memekik terkejut, termasuk Ki Rawa Banggir. Maka ramailah para tokoh tua itu.
“Sedekat itu?”
“Bukankah di sana sedang ada banyak para pendekar yang memperebutkan pusaka sakti?”
“Waktunya menuntut balas!”
“Sepertinya pertemuan nanti malam tidak lebih penting dari mengurusi Wanita Iblis ini!”
__ADS_1
Ramailah orang-orang sakti itu berkomentar sehingga suasana menjadi ramai seperti reunian sungguhan.
“Dewi Mata Hati!” panggil Pendekar Seribu Tapak. “Bukankah cucu muridku Kerling Sukma dan para permaisuri lainnya sedang berada di Gua Lolongan?”
“Benar, cucuku Sandaria juga berada di sana!” sahut Serigala Perak juga.
“Lalu di mana suamimu, Mata Hati?” tanya Nenek Peti Terbang.
Jleger!
Suara petir di atas kepala itu seolah hanya didengar oleh Ki Ageng Kunsa Pari. Meski ia tidak memekik atau terlompat dari duduknya karena terkejut, tetapi sepasang mata tuanya mendelik. Ia hanya diam, meski di dalam dadanya sedang terjadi kerusuhan lokal.
Sementara Dewi Mata Hati mulai merasakan gelagat tidak bagus. Ia tidak bisa mencegah cuaca buruk itu ketika Ki Sombajolo bertanya.
“Aku baru tahu bahwa Dewi Mata Hati sudah bersuami. Siapa lelaki beruntung itu?” tanya Ki Sombajolo tanpa maksud memojokkan.
“Muridnya Kunsa Pari!” sahut Serigala Perak yang terkesan sudah tidak takut dengan Dewi Mata Hati. Sikapnya sangat berbeda dengan ketika mereka bertemu di Perguruan Tiga Tapak.
“Apa?!” pekik Ki Ageng Kunsa Pari dan Ki Sombajolo bersamaan. Keduanya sangat terkejut.
Seketika Ki Ageng Kunsa Pari berdiri dari duduknya, sehingga ia menjadi orang yang paling tinggi. Ia menatap tajam kepada wajah cantik Dewi Mata Hati yang berseberangan dengannya.
Wajah tua Ki Ageng Kunsa Pari menegang. Sepasang mata tuanya dengan cepat memerah dan berair. Sepasang deretan gigi tuanya saling menekan, seolah ingin saling mengalahkan. Sepasang lengannya juga menegang, terlihat dari kesepuluh jari tangannya yang mengepal kuat, menahan sesuatu.
Tercabik-cabik hati dan perasaan Ki Ageng Kunsa Pari hingga tidak bisa dikenali lagi. Maruahnhya seolah terjun bebas ke dalam jurang terdalam. Bukan hanya satu tusukan dari belakang yang menikamnya, tetapi beribu tusukan. Pikirannya seketika kacau, kusut dan uring-uringan tanpa pintu keluar. Benar dan salah seketika melebur satu menjadi satu warna di depan matanya.
“Ka… katakan, Nara. Aku ingin mendengar dari mulutmu langsung!” ucap Ki Ageng Kunsa Pari dengan suara bergetar dan agak serak. Ada setetes air mata yang jatuh menetes dari mata tuanya.
Meski tidak melihat, tetapi Dewi Mata Hati sangat tahu apa yang sedang melanda dan terjadi pada diri Ki Ageng Kunsa Pari. Ternyata guru Joko Tenang itu tidak seteguh Dewa Kematian.
“Kunsa Pari! Bukankah sudah aku peringatkan kau?!” bentak Iblis Timur.
“Aku tidak akan membuat keributan, Guru. Tapi izinkan aku keluar, ini terlalu sakit bagiku!” desis Ki Ageng Kunsa Pari dengan suara bergetar.
Ia lalu menghormat kepada Tiga Malaikat Kipas dan berbalik. Selanjutnya ia melesat melayang menuju pintu luar Pendopo Keagungan, membawa kehancuran harga dirinya di depan dunia persilatan aliran putih.
Sementara Dewi Mata Hati hanya diam. (RH)
__ADS_1