
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Mereka semua terkejut dengan kemunculan tiba-tiba sosok jelita berambut pendek tetapi bermata hitam penuh.
“Siapa kau?” tanya Ratu Sri Mayang Sih agak mengegas.
“Aku Dewi Mata Hati, Permaisuri Kelima dari Prabu Dira. Satu istri boleh berubah menjadi musuh Prabu Dira, tapi ingat, dia harus berhadapan dengan semua istri sakti Prabu Dira!” kata Permaisuri Nara tegas.
Terkejutlah Ratu Sri Mayang Sih dan Lima Pangeran Dua Putri, termasuk Anyam Beringin yang mengenal siapa Dewi Mata Hati adanya.
“Bidadari Sayang!” sebut Anyam Beringin sambil begerak menghampiri Ratu Sri Mayang Sih. “Lebih baik kita jangan berurusan dengan Dewi Mata Hati.”
“Aku tidak kenal dia siapa dan aku tidak peduli siapa pun dia!” teriak Ratu Sri Mayang Sih sambil menatap tajam kepada Dewi Mata Hati. “Akkh!”
Tiba-tiba Ratu Sri Mayang Sih menjerit kejang, mendelik dengan mulut terbuka. Wajahnya agak mendongak. Terlihat leher sang ratu menegang kencang, seolah menahan cekikan yang tidak terlihat.
Hal itu membuat semuanya terkejut. Putri Embun dan Putri Pelangi yang memapah Ratu Sri Mayang Sih jadi bingung harus berbuat apa.
“Permaisuri Nara, aku mohon jangan sakiti Ibunda Ratu!” seru Permaisuri Sri Rahayu sambil cepat menghampiri Dewi Mata Hati.
“Lepaskan Ibunda Ratu, Sayang!” perintah Joko Tenang dengan nada lembut.
Dewi Mata Hati pun membebaskan Ratu Sri Mayang Sih yang saat itu nyaris tidak bisa bernapas. Dengan berhentinya kekuatan tenaga sakti Dewi Mata Hati menyerangnya, Ratu Sri Mayang Sih kembali bisa bernapas lega dan tidak kejang lagi.
“Kau boleh marah atas kematian suamimu, tetapi kau pun tidak boleh bersikap buta dengan hanya meyakini dugaanmu, Ratu. Suamimu mati dibunuh adalah hal yang layak dan bahkan itu tidak cukup dengan satu kali kematian. Kau pasti tahu, ada banyak pendekar aliran putih yang menginginkan kematian Malaikat Dewa Raja Iblis, setelah dia memimpin pembunuhan para pendekar tiga puluh tahun yang lalu!” kata Dewi Mata Hati.
Terkesiap Ratu Sri Mayang Sih mendengar kata-kata Dewi Mata Hati.
“Kau tidak ada urusan dengan pembunuhan terhadap para pendekar tiga puluh tahun yang lalu!” tukas Ratu Sri Mayang Sih masih mencoba untuk berdebat.
“Usiaku lebih seratus tahun, bagaimana aku tidak punya urusan dengan kejahatan suamimu yang kau pun berada di belakangnya? Aku adalah salah satu orang yang menghentikan kekejaman Raja Kerajaan Siluman. Dan kau, Dewa Seribu Tameng!”
Dewi Mata Hati menunjuk Anyam Beringin. Lelaki tampan pembawa banyak caping itu terbeliak ditunjuk oleh Dewi Mata Hati, seolah ia benar-benar memiliki ketakutan jika berurusan dengan wanita tua berwujud muda itu.
“Ayahmu Dewa Perisai Langit adalah salah satu orang yang dibunuh langsung oleh suami wanita itu!” ungkap Dewi Mata Hati.
“Apa?!” kejut Anyam Beringin. Namun, dia buru-buru berkilah, “Tapi itu adalah kejahatan suami Ratu, bukan kejahatan Ratu.”
Sri Rahayu hanya terdiam mendengar kata-kata Dewi Mata Hati yang kali ini banyak diucapkan, tidak seperti biasanya.
“Seharusnya kau bersyukur, Ratu, putrimu bisa menjadi istri Prabu Dira. Dengan demikian putrimu tidak mengikuti jejak ayahnya. Namun sekarang, kau justru ingin mejatuhkan tanggung jawab Raja Anjas kepada Prabu Dira, semua istri Prabu Dira tidak akan menerima itu,” kata Dewi Mata Hati.
“Nara, biarkan aku menghadapi Lima Pangeran sebagai syarat untuk menundukkan kekerasan hati Ibunda Ratu,” kata Joko Tenang kepada Dewi Mata Hati.
“Apakah Kakang Prabu yakin? Ingat, kesaktian Kakang Prabu sangat terbatas,” tanya Dewi Mata Hati.
“Aku yakin,” jawab Joko Tenang.
__ADS_1
“Baiklah,” kata Dewi Mata Hati. Ia lalu berkata kepada Sri Rahayu, “Yakinlah, Permaisuri Sri. Kakang Prabu tidak ada hubungannya dengan kematian ayahmu.”
Putri Sri Rahayu hanya mengangguk mengiyakan.
Permaisuri Nara lalu bergerak mundur memberi ruang bagi suaminya untuk bertarung. Sri Rahayu pergi ke dekat ibunya. Lima Pangeran kembali mengepung posisi Joko Tenang.
“Ingat, Ibunda harus memegang kata-kata Ibunda,” kata Sri Rahayu kepada ibunya.
“Aku tidak akan ingkar,” kata Ratu Sri Mayang Sih.
Lima Pangeran kembali bersiap.
“Silakan!” kata Joko Tenang datar tapi jelas terdengar.
“Serang!” seru Pangeran Keriting.
“Hiaat!”
Orang yang maju lebih dulu adalah Pangeran Derajat. Pemuda tampan tinggi itu berkelebat cepat di udara dengan tendangan bersinar biru.
Zerzz!
Prabu Dira alias Joko Tenang menghentakkan lengan kirinya menyambut datangnya tubuh Pangeran Derajat. Lima aliran sinar hijau berbentuk listrik dari kelima jari tangan kiri Joko, langsung menghentikan laju dan gerak tubuh Pangeran Derajat. Pemuda itu tersengat di udara.
Pada saat yang sama, Pangeran Keriting melompat ke udara sambil melepaskan tinju sinar putih bertenaga dalam tinggi. Tinju kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya menghantam dada Joko Tenang.
Bum!
Namun, kali ini Joko Tenang tidak diam saja. Ia adu Tinju Arwah Kematian milik Pangeran Keriting dengan Tinju Dewa Hijau. Tenaga sakti biasa beradu dengan tenaga sakti yang bersumber dari Permata Darah Suci.
Suara dentuman tenaga terjadi di pertengahan jarak. Pangeran Keriting terpental dahsyat dan tubuhnya menghantam tebing batu. Pangeran Keriting langsung menyemburkan darah dari mulutnya dan jatuh tergeletak.
Sementara itu, Pangeran Botak melesatkan bola sinar merah yang lebih besar dari bulatan kepala. Itu ilmu Telur Iblis yang memiliki daya ledak yang tinggi.
Wezz! Slep!
Namun, semuanya kembali terkejut ketika Joko Tenang menyambut serangan itu dengan punggungnya, membuat sinar Telur Iblis redam dengan masuk menghilang ke dalam Rompi Api Emas.
Pada saat yang sama, Joko Tenang melempar tubuh Pangeran Derajat lepas dari ilmu Lima Jerat Terakhir. Pemuda itu terlempar seperti seonggok bangkai yang hangus. Namun, kekuatan ilmu Lima Jerat Terakhir yang hanya seperempat, membuat Pangeran Derajat hanya mengalami luka bakar, tidak sampai mati. Itu cukup membuatnya tidak berdaya.
Serangan beruntun dan keroyokan terhadap Joko Tenang tidak berhenti.
Pangeran Basah bergerak cepat membokong Joko Tenang dengan cara menjerat leher menggunakan senjata benang bajanya.
Set! Tes! Buk!
Namun, benang baja yang seharusnya bisa langsung memutus leher Joko Tenang tertahan oleh kemunculan pedang putih di leher Joko. Pedang itu bahkan memutus benang baja, membuat Pangeran Basah terkejut. Sebab setelah itu, tinju kanan Joko melesat berputar ke belakang dan menghantam keras mulut Pangeran Basah. Pemuda tampan yang suka main air itu terbanting ke samping dengan bibir yang terayun dan satu giginya melompat tanggal dari gusinya.
Pangeran Botak yang gagal pada serangan sebelumnya, menyusul cepat kepada Joko Tenang dengan keris hitam menusuk ke arah dada.
__ADS_1
Ting! Buk! Das!
Joko Tenang yang sudah memegang Pedang Singa Suci menangkis keris maut Pangeran Botak, membuat keris itu patah dua. Pemuda botak itu terkejut, membuatnya tidak tanggap mengelaki tendangan Joko Tenang, membuatnya terjajar beberapa tindak.
Zerzz!
Lima sinar hijau berbentuk listrik langsung menjerat tubuh Pangeran Botak. Ia pun tersengat hebat.
Giliran Pangeran Mayat yang menyerang belakangan. Ketika dia maju mendekati Joko, Pedang Singa Suci berkelebat mencoba menyayat tubuhnya. Namun, Pangeran Mayat merasa unggul ketika dia bisa mengelaki tebasan pedang itu.
Tap!
“Matilah kau oleh Racun Kerak Kubur, Prabu Dira!” kata Pangeran Mayat dingin saat tangan kanannya berhasil memegang batang tangan kanan Joko.
Kulit tangan Joko Tenang seketika berubah warna jadi menghitam.
“Kau salah besar, Kisanak. Aku kebal racun,” kata Joko Tenang dengan tenang.
Mendelik Pangeran Mayat saat melihat kulit tangan Joko Tenang sangat cepat kembali normal warnanya.
Graurg!
Tiba-tiba satu makhluk sinar merah melesat keluar dari Cincin Macan Penakluk yang langsung menerkam tubuh Pangeran Mayat.
“Aaak…!” jerit Pangeran Mayat yang terjengkang dalam amukan Macan Penakluk.
Zerzz!
Joko Tenang melempar tubuh Pangeran Botak dari sinar Lima Jeratan Terakhir. Nasib Pangeran Botak tidak jauh berbeda dengan Pangeran Derajat. Ia tidak mati karena memang Joko hanya mengerahkan seperempat tenaga sakti ilmu Lima Jerat Terakhir.
Hal yang sama dialami oleh Pangeran Keriting. Ia pun tidak mati karena Joko hanya mengerahkan seper sekian dari kekuatan Tinju Dewa Hijau.
Joko Tenang lalu menarik masuk Macan Penakluk ke dalam cincinnya setelah Pangeran Mayat mengalami luka cakar dan gigitan yang cukup parah. Pedang Singa Suci pun kembali masuk ke dalam tubuh Joko Tenang.
Dengan demikian, terhenti sudah perlawanan Lima Pangeran. Nasib lebih baik dialami oleh Pangeran Basah, karena ia hanya bengkak bibir dan kehilangan satu giginya.
Hasil itu membuat Ratu Sri Mayang Sih dan Dua Putri terbelalak tidak percaya. Ratu Sri Mayang Sih merasa benar-benar kalah.
Joko Tenang melangkah menghampiri Ratu Sri Mayang Sih tanpa ada gelagat permusuhan.
“Ibunda Ratu, di Sanggana Kecil ada tabib sakti. Lebih baik Ibunda obati diri dulu dan tenangkan pikiran. Ayahku sedang menuju ke Sanggana Kecil, jadi kalian bisa bertemu dan menyelesaikan permasalahan kalian. Aku tidak akan turut campur sedikit pun jika Ibunda Ratu atau Permasuri Sri Rahayu ingin menuntut nyawa kepada ayahku,” ujar Joko Tenang.
Ratu Sri Mayang Sih tidak langsung menjawab. Ia menatap menantunya dengan tajam. Joko Tenang hanya memberi senyuman manis yang sejuk.
“Baiklah. Aku akan ikut putriku ke Sanggana Kecil,” kata Ratu Sri Mayang Sih akhirnya.
Tiba-tiba Joko Tenang turun berlutut di depan kaki Ratu Sri Mayang Sih, membuat wanita itu terkejut.
“Aku meminta restumu, Ibunda Ratu,” ucap Joko Tenang.
__ADS_1
Meski Ratu Sri Mayang Sih meunjukkan wajah dingin dan masih ada kesan permusuhan, tetapi tindakan Joko itu membuat hatinya tersentuh dan bergetar.
“Aku tidak bisa memberimu restu selama urusan menuntut balas ini belum terselesaikan!” ketus Ratu Sri Mayang Sih, lalu mencoba melangkah melewati Joko dalam papahan Putri Embun dan Putri Pelangi. (RH)