8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
BMP 28: Siasat Anjas di Atas Ranjang


__ADS_3

*Bibir Merah Pendekar (BMP)*


 


“Sepertinya suamimu ingin mengulangi kejayaannya di masa lalu, ketika ia masih menjadi pendekar muda golongan hitam yang bisa memporak-porandakan golongan putih,” kata Anjas.


“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Ratu Sri Mayang Sih yang masih dalam kondisi ditotok gerak tubuhnya. Ia masih dalam kondisi terbaring di bawah selimut dalam kondisi tanpa sehelai pakaian pun.


Sementara Anjas yang juga memasukkan kaki dan separuh tubuhnya ke dalam selimut, berbaring miring kepada sang ratu sambil kepalanya bertopang dengan satu tangan. Dengan santainya ia mengajak istri musuh bebuyutannya berbincang di atas ranjang, layaknya sepasang suami istri.


“Aku mencatat semua tentang diri, kesaktian, hingga silsilah keluarga musuh besarku. Dengan demikian aku tahu berhadapan dengan siapa dan apa saja kelemahannya. Aku pun tahu bahwa Raga Sata adalah cicit dari Jin Gurba, dan Jin Gurba itu masih hidup karena memiliki usia beratus tahun. Aku pun tahu siapa ayah ibumu, Ratu,” tutur Anjas.


Mendeliklah Ratu Sri Mayang Sih mendengar itu.


“Siapa kau sebenarnya, Anjas?” tanya Ratu Sri Mayang Sih, kali ini ia menyebut nama lelaki yang sedang melecehkannya itu.


“Aku hanya seorang suami yang berusaha mengambil istriku setelah dua puluh tiga tahun diculik dan disandera,” kata Anjas. “Jika suamimu dan pengawalnya tidak berbuat curang terhadap Ningsih Dirama, mungkin kau sudah lama menjadi janda. Jika dulu aku bisa mengalahkan suamimu, maka hari ini pun aku pasti bisa mengalahkannya.”


“Kau tidak akan bisa menyelamatkan diri dari para prajurit Kerajaan Siluman!”


“Aku akui, kalian memiliki banyak perwira dan prajurit-prajurit siluman berlatar belakang pendekar sakti. Itu sudah aku perhitungkan. Karenanya, aku punya ide menggunakan Ratu sebagai alat untuk membuat pertarungan berjalan adil,” kata Anjas.


Anjas lalu bergerak bangkit duduk sambil menghela napas berat.


“Lihatlah, sehebat apa kau sehingga bisa lolos dari kepungan para prajurit siluman!” ketus Ratu Sri Mayang Sih dengan lirikan yang tajam.


“Ada yang datang!” kata Anjas dengan nada berbisik tiba-tiba.


Anjas yang bisa mendeteksi keberadaan empat prajurit penjaga depan pintu kamar, bisa merasakan kedatangan seseorang mendekati pintu kamar. Ia pun mendengar percakapan di depan pintu antara Panglima Siluman Pedang dengan prajurit penjaga.


Tuk!


Anjas lalu menotok jalan suara Ratu Sri. Setelahnya, Anjas bergerak naik ke atas tubuh sang ratu, membuat wanita itu hanya bisa mendelik terkejut. Anjas benar-benar naik, meski ia tidak berbaju, tetapi ia tetap mengenakan celana lengkap. Di atas tubuh bugil itu Anjas mengatur posisi.


Anjas menutup bagian tubuh bawah mereka dengan selimut hingga pinggang, sehingga celana Anjas pun tertutupi. Namun untuk tubuh atas, ia biarkan terbuka. Ia tutupi dada sang ratu dengan dadanya, benar-benar rapat. Wajahnya pun ia dekatkan ke wajah sang ratu.


Rasa nano-nano lah di dalam hati Ratu Sri Mayang Sih. Ia marah dan malu, tapi ingin menangis juga karena tidak berdaya.


Tuk tuk tuk!


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu yang mengejutkan Ratu Sri, tetapi tidak bagi Anjas.


Sementara Panglima Siluman Pedang menunggu sejenak di luar. Ia menunggu respon dari dalam kamar.


“Jika prajurit di luar bertanya, Ratu jawab dengan wajar, atau jari-jariku akan melubangi leher Ratu!” bisik Anjas begitu dekat di telinga sang ratu, sementara kelima jari tangan kanannya membara biru gelap. Anjas mengeluarkan ilmu Jari Alam Kematian.

__ADS_1


Ratu Sri Mayang Sih bisa merasakan hawa menyengat tajam yang mengenai kulit lehernya. hal itu membuatnya sedikit berkeringat di dahi.


Sementara di luar kamar. Setelah beberapa tarikan napas tidak ada respon dari dalam, Panglima Siluman Pedang kembali mengetuk.


Tuk tuk tuk!


“Gusti Ratu, Gusti Prabu menunggu Gusti di Gua Mutiara!” kata Panglima Siluman Pedang agak berteriak setelah mengetuk untuk kedua kalinya.


Anjas cepat membebaskan totokan pada suara sang ratu.


“Jawablah!” bisik Anjas, sementara jari tangannya didekatkan pada leher mulus Ratu Sri.


Ratu Sri Mayang Sih lalu berteriak menjawab Panglima Siluman Pedang, “Baik, nanti aak!”


Anjas tiba-tiba menempelkan satu jarinya ke kulit leher Ratu Sri saat sedang bicara, membuat wanita itu terkejut dan menjerit tertahan di tengah teriakannya.


Jeritan itu membuat Panglima Siluman Pedang kerutkan kening. Hal yang sama dilakukan oleh keempat prajurit penjaga pintu yang juga mendengar jeritan tertahan itu.


Namun kemudian, Ratu Sri Mayang Sih kembali berteriak, “Sebentar lagi aku ke sana!”


“Aneh, nada suara Gusti Ratu bergetar samar,” pikir Panglima Siluman Pedang, tapi kemudian dia berteriak, “Baik akan aku sampaikan, Gusti!”


Setelah berteriak, Panglima Siluman Pedang tidak berbalik pergi, dia tetap berdiri di dekat pintu, seolah menunggu dengar sesuatu dari dalam. Anjas tahu apa tindakan Panglima Siluman Pedang.


“Kelelakianmu bangun!” bisik Ratu Sri kepada Anjas.


Anjas justru menjawab dengan kembali menempelkan satu Jari Alam Kematian-nya ke leher Ratu Sri.


“Aaak!” jerit tertahan sang ratu.


Jeritan itu membuat Panglima Siluman Pedang yang masih berdiri di balik pintu mendelik terkejut.


Pak!


Panglima Siluman Pedang cepat menghantamkan telapak tangan kirinya membuka paksa pintu kamar, sementara tangan kanannya telah menghunus pedang. Ia langsung masuk.


“Hah!” Panglima Siluman Pedang sangat terkejut.


Masuknya Panglima Siluman Pedang yang mendobrak pintu kamar membuat Anjas menoleh dan menatap tajam kepada Panglima Siluman Pedang. Sementara Ratu yang tidak bisa bergerak hanya melirik mendelik.


Melihat adegan memalukan di atas ranjang, membuat Panglima Siluman Pedang buru-buru berjalan mundur dengan capat. Ia kembali menutup rapat pintu besar kamar raja. Wajah Panglima Siluman Setan tampak agak pucat dan berkeringat dingin.


“Berhasil!” bisik Anjas lalu tiba-tiba dia mencium pipi kanan sang ratu.


Meski hanya ciuman pada pipi, tetapi itu membuat Ratu Sri Mayang Sih terkejut.

__ADS_1


“Maafkan aku, Ratu, karena telah berbuat tidak senonoh terhadapmu,” ucap Anjas.


“Kau benar-benar lelaki mesum, Anjas!” maki Ratu Sri Mayang.


Cup!


Anjas justru mencium bibir Ratu Sri Mayang Sih, membuat wanita itu gelagapan tetapi tidak bisa mengelak.


“Jika kau memakiku lagi, aku akan menciummu lagi!” ancam Anjas.


Ratu Sri Mayang Sih terdiam dengan ekspresi yang marah. Napasnya memburu benci.


Anjas turun dari atas tubuh sang ratu. Ia bergerak turun pula dari atas ranjang. Ia lalu kembali menutup tubuh sang ratu dengan selimut hingga leher.


Sementara itu, Panglima Siluman Pedang telah pergi untuk melapor. Langkah kaki Panglima Siluman yang menjauh bisa didengar oleh Anjas.


Anjas kemudian mengenakan bajunya kembali. Ia menilai siasatnya berhasil.


Anjas mendengar ada suara pergerakan agak ramai di luar pintu kamar. Saat ia menunggu, suasana kembali hening. Ia menduga ada penambahan prajurit di depan pintu.


“Kita tinggal menunggu suamimu datang ke sini,” kata Anjas.


“Kelak kau harus membayar perbuatanmu ini padaku!” kata Ratu Sri Mayang Sih.


“Jika aku mati, aku tidak akan bisa membayarnya. Namun, jika suamimu yang mati, aku bisa membayarnya dengan menggantikan posisi suamimu. Hahaha!” kata Anjas lalu tertawa pelan.


“Lelaki tidak tahu malu!” maki Ratu Sri Mayang Sih.


“Eh, aku ingatkan, sekali lagi Ratu memakiku, aku tidak akan segan bertindak lebih tidak senonoh lagi!” tandas Anjas.


Akhirnya, Ratu Sri Mayang Sih memilih diam dengan memendam banyak rasa.


Anjas lalu duduk bersila di lantai tengah ruangan kamar. Ia duduk menghadap arah pintu kamar.


Setelah menunggu agak lama, akhirnya Anjas mendengar suara orang banyak yang sedang berlari mendekati pintu kamar.


Sret!


Anjas Perjana Langit melebarkan kedua lengannya. Maka di depan badannya muncul sekelompok jarum-jarum sinar merah. Jumlahnya puluhan batang. Itulah ilmu Anjas yang bernama Jarum Neraka. Sepertinya Anjas Perjana mengidolakan penyanyi Nicky Astria, sehingga judul lagu Jarum Neraka dijadikan nama ilmunya.


Brak!


Akhrinya pintu kamar itu didobrak dari luar hingga satu daun pintu terlepas dari engselnya.


Sekelompok prajurit berpedang berseragam putih-putih telah menumpuk di depan pintu. Mereka langsung bergerak masuk. (RH)

__ADS_1


__ADS_2