
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
“Hah! Mau mengejar rombongan Raja Anjas?!” kejut Bidadari Payung Kematian saat mendengar keputusan Joko Tenang. “Kami baru saja berlari kencang demi sampai ke mari, lalu disuruh balik lagi? Gusti Prabu, berilah minum segar dulu kepada kami.”
“Kau setuju saja, Pancung Kelamin!” hardik Siluman Kuping Buntu. “Kita baru saja berlari tanpa henti, seharusnya kita istirahat dulu. Kelelahan bisa membahayakan kita jika ada penyergapan!”
“Siapa yang setuju?” bantah Bidadari Payung Kematian.
“Kuping Buntu!” sebut Permaisuri Sri Rahayu.
“Hamba, Bidadari!” sahut Siluman Kuping Buntu.
Sri Rahayu lalu berkata menggunakan bahasa isyarat kepada siluman tuli itu.
“Hah! Bidadari Payung Kematian?” pekik Siluman Kuping Buntu terkejut. Ia lalu beralih kepada si nenek gemuk, “Jadi, namamu sebenarnya adalah Bidadari Payung Kematian? Itu nama yang cantik sekali. Kenapa kau mengaku bernama Pancung Kelamin, Nek?”
“Hahaha!” tawa Siluman Mata Setan dan Siluman Tangan Setan.
Joko Tenang dan Sri Rahayu hanya tersenyum. Sementara Bidadari Payung Kematian hanya menarik kedua sudut bibir tuanya dengan lirikan yang sinis.
“Kalian beristirahatlah di kamar-kamar kami. Besok pagi berangkatlah ke Kadipaten Banyukuat dan ciptakan kekacauan di sana untuk memancing pasukan Kerajaan. Jangan lupa bawa kuda-kuda kami!” perintah Sri Rahayu.
“Baik, Bidadari!” ucap Siluman Mata Setan dan Siluman Tangan Setan.
“Gusti Prabu, izinkan aku ikut dengan kalian!” ujar Bidadari Payung Kematian. “Jika aku lama-lama dengan Kuping Buntu, bisa cepat muda aku.”
“Hahaha!” tawa rendah Joko Tenang. “Bukankah kau lelah, Tetua?”
“Memang lelah, tetapi aku ini nenek-nenek sakti,” jawab Bidadari Payung Kematian.
“Aku kira nenek-nenek cantik,” celetuk Sri Rahayu seraya tersenyum.
“Hihihi! Aku tahu diri, Gusti Permaisuri,” kata Bidadari Payung Kematian seraya tersenyum malu.
“Ikutlah,” kata Joko Tenang.
Siluman Mata Setan, Siluman Tangan Setan dan Siluman Kuping Buntu lalu pergi masuk ke penginapan. Mereka pergi mengetuk pintu kamar Bidadari Wajah Kuning, Arya Mungga dan Riskaya.
“Gusti Prabu dan Permaisuri menunggu di luar,” ujar Siluman Tangan Setan kepada Riskaya.
Pesan yang sama disampaikan kepada Bidadari Wajah Kuning dan Arya Mungga. Ketiga siluman lalu mengambil alih kamar tersebut untuk ditiduri. Mereka memang butuh istirahat.
“Kau ada di sini, Payung Kematian?” tegur Bidadari Wajah Kuning saat bertemu dengan tokoh seangkatannya.
“Kenapa kau ikut rombongan Gusti Prabu?” tanya Bidadari Payung Kematian curiga.
__ADS_1
“Hihihi!” Bidadari Wajah Kuning hanya tertawa sebagai jawaban untuk rekannya.
“Ayo!” ajak Joko Tenang lalu melesat menembus kegelapan malam.
Sri Rahayu dan keempat orang lainnya segera mengikuti Joko Tenang. Mereka melesat menuju luar kademangan. Mereka hanya mengandalkan ketajaman penglihatan dan insting, tanpa mengandalkan penerangan.
Setibanya di satu tempat yang cukup jauh dari kademangan, mereka berhenti di sebuah lembah kecil.
“Tutuplah telinga kalian!” kata Joko Tenang.
Meski tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Joko Tenang, Bidadari Payung Kematian, Arya Mungga dan Riskaya menurut menutup lubang telinganya dengan jari tangan. Bidadari Wajah Kuning sendiri sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Joko Tenang yang ditaksirnya itu.
“Kaaak!”
Tiba-tiba Joko Tenang berkoak kencang, hingga-hingga telinga yang sudah ditutup masih juga tertusuk gendangnya. Mereka yang mendengar koakan itu hanya mengerenyit menahan dengan pengerahan tenaga dalam.
Setelah itu, suasana berubah hening. Mereka menunggu.
Kaaak!
Akhirnya terdengar suara koakan di langit yang tinggi. Hal itu membuat Bidadari Payung Kematian, Arya Mungga dan Riskaya mendelik terkejut di dalam kegelapan.
“Apa yang kau panggil, Gusti Prabu?” tanya Bidadari Payung Kematian.
“Burung,” jawab Joko Tenang singkat.
“Hihihi!” tawa Bidadari Wajah Kuning. “Biar aku yang menggendongmu, Bidadari Tua.”
“Baiklah!” kata Bidadari Payung Kematian sambil pergi ke belakang punggung Wajah Kuning.
“Eh eh eh! Apa yang mau kau lakukan?” sergah Bidadari Wajah Kuning.
“Tadi kau menawarkan gendongan,” jawab Bidadari Bayang Kematian.
Kaak!
Gimba yang sudah sampai di atas mereka, kembali berkoak, mengejutkan Bidadari Payung Kematian, Arya Mungga dan Riska. Mereka terbelalak melihat bayangan hitam raksasa yang terbang di atas langit yang gelap. Bidadari Payung Kematian cepat membuka salah satu payungnya dan bernaung di bawahnya. Ia takut jika ada serangan dari atas.
Wusss!
Satu angin laksana badai berembus ketika Gimba mendarat dengan mengepakkan sayapnya. Hal itu membuat Bidadari Wajah Kuning dan lainnya terhempas hingga terdorong. Bidadari Payung Kematian dan Riskaya sampai jatuh terduduk.
“Hihihi!” tawa Bidadari Wajah Kuning melihat kejatuhan Bidadari Payung Kematian.
“Kau tidak apa-apa, Riskaya?” tanya Joko Tenang sambil mengulurkan tangannya kepada gadis cantik itu.
“Tidak apa-apa, Gusti Prabu. Hanya jatuh,” ucap Riskaya seraya tersenyum dalam gelap karena bahagia mendapat perhatian dari sang prabu.
__ADS_1
Hal itu membuat Bidadari Wajah Kuning mendelik.
“Aduh!” keluh si nenek tiba-tiba, seiring ia jatuh terduduk ke samping. Ia berusaha mencari perhatian Joko Tenang.
“Apa yang terjadi denganmu, Kuning?” tanya Bidadari Payung Kematian sambil cepat menghampiri rekan selevelnya yang hanya merengut itu.
“Ayo kita berangkat!” seru Joko Tenang.
Semakin takjublah Riskaya kepada Joko Tenang saat mengetahui bahwa burung raksasa itu adalah milik sang prabu.
“Ternyata Prabu Dira memiliki burung yang perkasa, pantas saja banyak wanita cantik yang jatuh hati,” ucap Riskaya dalam hati.
Maka, berangkatlah rombongan itu menuju Hutan Maruk. Seperti biasa, Joko Tenang dan permaisurinya duduk di tengkuk Gimba. Penumpang yang lain ditempatkan pada kedua kaki besar Gimba.
Pergi melalui udara membuat mereka akan bebas hambatan dan lebih mudah.
Akhirnya, Joko Tenang hanya bisa mencumbu Sri Rahayu secukupnya di atas Gimba, setidaknya ada sedikit pelunasan dari hasrat yang tertunda.
Mereka terbang di langit gelap. Selaku yang punya wilayah, Sri Rahayu jadi penunjuk jalan. Hanya dia yang tahu di mana letak Hutan Maruk, hutan yang dijadikan basis Pasukan Murka Kegelapan di luar Istana Siluman.
Karena menggunakan jasa Gimba, maka tidak butuh waktu lama untuk tiba di atas Hutan Maruk.
Gimba diperintahkan untuk terbang memutar di atas Hutan Maruk. Joko Tenang dan Sri Rahayu memperhatikan ke bawah sebelum memutuskan mendarat.
“Ada nyala api,” ucap Joko Tenang.
“Mungkin itu Pasukan Murka Kematian,” kata Sri Rahayu.
“Kita lakukan penyergapan,” kata Joko Tenang.
Keduanya melihat ada nyala api yang kelap-kelip karena terhalang oleh dedaunan pohon.
Gimba terus terbang berputar di atas hutan.
“Kita sepertinya terbang berputar di atas hutan,” kata Bidadari Wajah Kuning.
“Mungkin ini yang namanya Hutan Maruk,” jawab Bidadari Payung Kematian.
Tiba-tiba mereka melihat Permaisuri sudah terbang sendiri bersama asap merahnya.
“Ayo lompat!” teriak Joko Tenang yang mereka lihat tahu-tahu sudah melompat turun di dalam gelapnya langit menuju ke bawah.
“Apa? Ini terlalu tinggi!” kata Bidadari Wajah Kuning.
“Ini, gunakan!” kata Bidadari Payung Kematian sambil memberikan satu payungnya kepada Arya Mungga.
Si nenek gemuk lalu menggaet pinggang Bidadari Wajah Kuning dan mengajaknya melompat terjun.
__ADS_1
Melihat tindakan Bidadari Payung Kematian, Arya Mungga juga melakukan hal yang sama bersama adiknya. (RH)