
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Dewa Kematian yang sedang duduk bersila seorang diri dengan mata tertutup, tiba-tiba terkejut dengan sepasang mata yang terbuka nyalang.
“Siapa orang yang bisa sampai ke sana?” ucap Dewa Kematian lirih kepada dirinya sendiri. Sepasang alisnya mengerut bertaut, berpikir keras yang tidak mungkin menemukan jawabannya jika hanya berdiam di sana. “Apakah ini menjadi bencana yang terulang?”
Dewa Kematian lalu bangkit dari lantai kamarnya. Ia melangkah menuju pintu. Namun, baru selangkah saja, tubuh lengkap dengan pakaiannya sudah terurai menjadi seperti pasir halus, yang kemudian melesat melayang secara bergerombol seperti pasukan lebah.
Cukup lewat celah-celah kamar, serbuk itu terbang ke luar. Dewa Kematian terus terbang ke alam lepas. Ia kembali menyatukan wujud saat tiba di sebuah taman batu dengan sedikit tanaman hias. Di atas tiga batu yang berbeda bentuk, terbaring tiga sosok gurunya para guru, yaitu Tiga Malaikat Kipas. Mereka tidur di kala matahari sedang berada di puncaknya, tetapi taman itu termasuk daerah yang selalu tertutupi bayangan.
Ketika kaki Dewa Kematian baru mendarat dalam wujud yang sudah mengutuh, Ewit Kurnawa, Iblis Timur dan Minati Sekar Arum, melek serentak dan melemparkan pandangan kepada sosok Dewa Kematian.
“Kenapa serius sekali?” tanya Minati Sekar Arum dengan wajah mengerenyit, menunjukkan bahwa ia benar-benar tidur barusan.
“Dewi Geger Jagad sudah bangkit!”
“Apa?!” pekik Tiga Malaikat Kipas bersamaan dan seru.
“Jangan tertawa!” bentak Ewit Kurnawa dan Iblis Timur bersamaan sambil saling menunjuk. Kedua juga saling mendelik serius tapi lucu.
“Sejak kapan kau menjadi lelaki yang suka mengerjai teman, Pratakarsa?” tanya Minati Sekar Arum seraya sunggingkan senyum, tanda tidak percaya. Ia tidak mau kena prank.
“Kita harus kumpulkan para tamu sekarang!” tandas Dewa Kematian.
“Eh, sepertinya kau serius,” kata Minati Sekar Arum lagi sambil bangkit kepada posisi duduk.
“Penjara Mahkota Suci baru saja bersinar ke langit. Aku sebagai pemasangnya bisa sangat merasakannya,” kata Dewa Kematian.
“Kita temui Rawa Banggir!” ajak Ewit Kurnawa.
Clap!
Serentak Tiga Malaikat Kipas lenyap dari tempatnya. Dewa Kematian menyusul dengan mengurai diri lalu terbang seperti kawanan serangga yang sangat banyak.
Tahu-tahu mereka sudah tiba di rumah tuan rumah, Ki Rawa Banggir, yang saat itu sedang meyambut kedatangan dua tokoh tua sakti. Rupanya dia lelah harus menyambut tamu di tangga kaki bukit.
Kedua tokoh tua itu tidak lain adalah Ki Ageng Kunsa Pari dan Ki Sombajolo.
Ki Sombajolo adalah seorang kakek gendut lagi pendek. Kepalanya botak di atas, berambut di pinggiran bawah. Wajahnya bulat tanpa kumis dan jenggot. Hidung pendeknya mancung seperti paruh burung. Ia mengenakan jubah putih yang juga pendek. Ialah yang selama ini kadang-kadang namanya disebut, tetapi baru kali ini muncul, yaitu guru dari Joko Tingkir dan Gujara.
Gujara dan Joko Tingkir ada di depan rumah. Mereka tidak diizinkan masuk menemui Ki Rawa Banggir.
Sekilas cerita sebelumnya. Joko Tingkir yang sedang berduka menyesali nasibnya karena kalah jauh dari Joko Tenang, ditemukan oleh gurunya dan Gujara yang sedang menuju Jurang Lolongan. Maka mereka bertiga pergi bersama.
Di Gerbang Bukit Dalam, mereka bertemu dengan Ki Ageng Kunsa Pari. Kedua orang tua itu adalah sahabat kental, tapi jarang bertemu maupun video call-an.
Spesial bagi Ki Ageng Kunsa Pari, awalnya dia sudah berpesan kepada Joko Tenang bahwa dia akan absen dalam pertemuan itu. Namun, rupanya dia diserang gelisah saat berada di Kerajaan Sanggana. Ia begitu ingin hadir dalan reunian tersebut. Pengajuan izinnya disetujui oleh Raja Anjas Perjana Langit, sehingga hari itu dia bisa berada di antara para sahabatnya.
__ADS_1
“Guru!” ucap Ki Ageng Kunsa Pari dan Ki Sombajolo bersamaan sambil menjura hormat kepada Tiga Malaikat Kipas dan Dewa Kematian.
Namun, sapaan dan penghormatan kedua orang tua itu tidak digubris oleh Tiga Malaikat Kipas dan Dewa Kematian. Keduanya jadi heran dengan mengerutkan dahi tuanya. Lalu keduanya saling pandang seolah salih bertanya. Bahkan Tiga Malaikat Kipas dan Dewa Kematian tidak memandang mereka.
“Kita harus mengumpulkan semua tamu dan adakan pertemuan siang ini juga!” kata Ewit Kurnawa kepada Ki Rawa Banggir dengan mimik wajah dan nada suara yang serius, memberi kesan ada kondisi yang sangat genting.
“Kenapa?” tanya Ki Rawa Banggir jadi ikut tegang.
“Ada perkara yang sangat penting yang harus dibahas di luar dari pembicaraan utama dalam pertemuan ini!” jawab Ewit Kurnawa.
“Baiklah!” ucap Ki Rawa Banggir.
“Dan kau, Kunsa Pari!” sentak Iblis Timur sambil menunjuk kepada Ki Ageng Kunsa Pari.
Terkejut Ki Ageng Kunsa Pari ditunjuk tiba-tiba seperti itu. Meski ia tokoh tua sakti yang disegani, tetap saja ia terkejut jika dibentak oleh gurunya tiba-tiba.
“Aku, Guru!” sahut Ki Ageng Kunsa Pari.
“Jangan membuat keributan jika kau bertemu dengan Nara!” bentak Iblis Timur memperingatkan.
Terkejut Ki Ageng Kunsa Pari mendengar peringatan itu. Ia terkejut bukan karena mendengar nama Nara, tetapi ia terkeju karena mendapat peringatan dari gurunya, dan itu terkesan sangat serius. Ia sebenarnya sudah menduga kuat bahwa Nara alias Dewi Mata Hati akan hadir juga dalam pertemuan di jurang tersebut.
“Baik, Guru,” ucap Ki Ageng Kunsa Pari akhirnya.
Hanya butuh waktu lima belas menit saja untuk bisa mengumpulkan semua tamu undangan yang sudah hadir di Perguruan Bukit Dalam. Mereka berkumpul di Pendopo Keagungan yang ada di puncak bukit.
Para peserta pertemuan lalu duduk di atas bantal-bantal tersebut. Jumlah yang hadir di ruangan itu sebanyak dua puluh dua orang, separuh dari jumlah tokoh yang diundang.
Mereka yang hadir di antaranya:
1. Ki Rawa Banggir.
2. Ewit Kurnawa.
3. Iblis Timur.
4. Minati Sekar Arum.
5. Dewa Kematian.
6. Dewi Mata Hati.
7. Malaikat Istana Maut.
8. Serigala Perak.
9. Ki Ageng Kunsa Pari.
__ADS_1
10. Tabib Teguk Getir.
11. Iblis Takluk Arwah.
12. Ki Renggut Jantung.
13. Nenek Peti Terbang.
14. Bidadari Wajah Kuning.
15. Dewi Tangan Tunggal.
16. Siluman Harimau Hitam.
17. Resi Kumbalabatu.
18. Raja Akar Setan.
19. Resi Tambak Boyo.
20. Ratu Naga Lembah Seribu.
21. Pangeran Tapak Tua.
22. Pendekar Seribu Tapak.
Sementara orang-orang yang datang ke tempat itu hanya sebagai pendamping, mereka tidak diizinkan ikut dalam pertemuan, termasuk Ratu Puspa yang dengan riangnya terus mengikuti Abna Hadaya. Setibanya di tempat itu, Abna Hadaya langsung mendapat mengobatan yang meringankan luka dalamnya.
Meski sudah usia lanjut, tetap saja kenangan asmara masa lalu tetap mempengaruhi pikiran dan perasaan Ki Ageng Kunsa Pari. Diam-diam dia mencuri pandang kepada sang mantan, yaitu Dewi Mata Hati, wanita tercantik yang ada di ruangan itu.
“Dia tidak berubah, masih secantik yang dulu…” ucap batin Ki Ageng Kunsa Pari.
Beberapa saat sebelumnya, ketika Nara memasuki Pendopo Keagungan, ia langsung menuju ke tempat duduk. Padahal ia berlalu di depan Ki Ageng Kunsa Pari dan Ki Sombajolo.
Namun, para pendekar tua yang lain sering kali memandang kepada Ki Ageng Kunsa Pari dan Nara, untuk melihat sikap keduanya jika dipertemukan di dalam satu ruangan seperti saat itu. Ternyata Nara bersikap begitu dingin dengan kediamannya.
Sementa Ki Ageng Kunsa Pari seperti dilanda kegelisahan, karena ia memergoki tatapan para pendekar tua yang lain sering memandang ke arahnya tanpa ada sebab. Bantal yang ia duduki seolah-olah berubah panas. Ingin rasanya dia bangkit dan pergi.
“Mereka semua sudah tahu bahwa aku adalah mantan kekasih Nara, tapi kenapa pandangan mereka kepadaku agak berlebihan?” pikir Ki Ageng Kunda Poyo.
Perlu diketahui, sebenarnya berita tentang Dewi Mata Hati menikahi murid dari Ki Ageng Kunsa Pari sudah terdengar oleh setiap telinga, kecuali telinga Ki Ageng Kunsa Pari dan Ki Sombajolo. Orang yang menjadi ban bocornya adalah Santa Marya alias Serigala Perak. (RH)
***********************
SEASSON BARU
Chapter ini adalah akhir dari seasson Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan) dan setelahnya adalah chapter pertama dari seasson Dewi Bunga Kedelapan (De Bude).
__ADS_1