
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
Prabu Raga Sata duduk di kursi yang segera disediakan oleh Gurudi. Ia menatap selirnya dengan senyum yang tipis. Sementara Ningsih Dirama memasang wajah yang asam, ekspresi dingin yang selalu ia berikan kepada Prabu Raga selain dari ekspresi kemarahan dan kesedihan.
Sementara Gurudi duduk di dekat kaki Prabu Raga sambil memijit-mijit betis rajanya dengan tangan kecilnya.
“Aku ada kabar gembira untukmu, Ningsih,” ujar Prabu Raga.
“Sejak kapan kau memberikan kabar gembira kepadaku, Prabu?” tanya Ningsih dengan nada ketus.
“Aku bertemu dengan putramu, si Joko. Hahaha!” kata Prabu Raga Sata lalu tertawa, seolah itu adalah hal yang menyenangkan baginya.
“Kau berdusta, Prabu!” tukas Ningsih.
“Hahaha! Ayolah, Ningsih. Percaya kepadaku. Joko mendatangiku untuk melamar Sri Rahayu. Dia datang sebagai seorang raja yang bernama Prabu Dira. Wajahnya mirip denganmu, bibirnya merah seperti bibir indahmu.”
“Jelas sekali kedustaanmu, Prabu. Tidak mungkin anakku menjadi seorang raja. Seandainya iya, tidak mungkin kau menerimanya untuk putrimu!” tukas Ningsih lagi.
“Dia tidak tahu bahwa ibunya adalah selir di Istana ini. Ada tiga hasil yang kemungkinan aku raih dari menerima Joko Tenang sebagai menantuku. Pertama, kerajaannya bisa aku manfaatkan untuk memperlebar pengaruh Kerajaan Siluman. Kedua, dia akan mati sebelum menjadi menantuku karena harus memenuhi sejumlah syarat yang mengancam nyawanya. Dan yang ketiga, dia dan adik tirinya akan bertarung sampai mati.”
Jleger!
Seperti mendengar suara petir di dekat telinga, Ningsih Dirama tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya mendadak pucat dan bibirnya gemetar.
“Jangan pernah kau lakukan itu, Prabu!” ucap Ningsih Dirama dengan suara bergetar, sementara sepasang matanya sudah menitikkan air mata. “Jangan pernah kau buat Aninda bertarung melawan kakaknya!”
Prabu Raga Sata hanya tersenyum lalu berdiri. Ia lalu menyepakkan kaki kirinya mendorong tubuh Gurudi. Orang cebol itu jadi terjengkang di lantai, tetapi ia buru-buru bangun dan bersujud menyembah.
“Cita-cita kejayaan Kerajaan Siluman di seantero Tanah Jawi ini lebih penting dibandingkan kepentingan diri sendiri atau keluarga. Jangankan Aninda Serunai, ratuku atau putriku Sri Rahayu pun akan aku korbankan demi kepentingan kerajaan!” tandas Prabu Raga Sata menunjukkan sikap nasionalismenya yang sangat tinggi.
“Lelaki kejam tidak punya rasa kasihan!” maki Ningsih sambil melemparkan sebuah bantal kepada Prabu Raga.
“Hahaha…!” tawa Prabu Raga sambil berbalik melangkah keluar dari kamar.
“Pergi! Pergiii! Hiks hiks hiks…!” teriak Ningsih begitu emosi sambil melempar satu bantal lagi ke punggung Prabu Raga Sata sebelum raja itu hilang dari pandangan.
Ningsih kembali menangis tersedu-sedu.
“Ningsih Ningsih Ningsih! Jajaja… jangan menangis!” kata Gurudi, kali ini ia juga ikut sedih. Tawanya tidak terdengar.
“Aku tidak menangis, tapi aku marah, Gurudi! Hiks hiks hiks!” kata Ningsih Dirama sambil terus menangis. “Orang itu jahat sekali.”
“Mememe… memang jahat!”
Sementara itu di ruangan peristirahatan Joko Tenang.
Bress!
Tirana keluar dari jaring sinar laba-labanya yang muncul begitu saja di dinding.
__ADS_1
“Ke mana Putri Sri?” tanya Tirana saat ia tidak melihat keberadaan Putri Sri Rahayu.
“Pergi mandi. Nanti akan menyusul,” jawab Joko Tenang.
“Gurudi baru saja membawaku bertemu dengan ibu kandungmu, Kakang Prabu,” ujar Tirana.
“Apa?!” kejut Joko Tenang. “Ibuku tinggal di sini?”
“Bukan tinggal, tetapi dipenjara oleh Prabu Raga.”
“Apa?!” Joko Tenang tambah terkejut dan seketika menunjukkan kemarahan.
“Tenang, Kakang!” seru Tirana untuk mencegah suaminya salah mengambil tindakan hanya karena tidak bisa mengontrol amarahnya. “Aku sudah berbicara banyak dengan Ibu. Kita harus menyusun rencana dengan baik, jangan sampai justru membahayakan kita dan Ibu. Ingat, kita berada di dalam sarang ular.”
“Jika aku tahu sebelumnya, aku lebih baik mengorbankan cintaku kepada Putri Sri,” gusar Joko Tenang, kedua tangannya mengepal kuat, menunjukkan kemarahannya yang berusaha di tahan.
“Ini tidak ada kaitannya dengan Putri Sri, tetapi ada kaitannya dengan Putri Aninda Serunai adik Putri Sri. Dia adalah adik tiri Kakang Prabu. Aku menduga, Prabu Raga sudah mencurigai Kakang sebagai putra Ningsih Dirama. Wajah Kakang memiliki kemiripan yang jelas dengan Ibu. Jikapun dugaanku ini salah, kita harus tetap menduga bahwa Prabu Raga sudah mengetahuinya untuk kewaspadaan kita,” kata Tirana.
“Mengapa bisa seperti ini kondisinya?” ucap Joko Tenang. “Bagaimana jika kita bebaskan Ibu dan pergi dari sini, Tirana?”
“Bisa dilakukan, tetapi akibatnya Kakang Prabu tidak akan mendapatkan Putri Sri. Jikapun bisa, akan memakan waktu lama dan Kakang akan lebih lama menguasai ilmu Delapan Dewi Bunga,” kata Tirana.
“Hormat hamba Gusti Prabu Dira, hamba adalah utusan untuk menjemput Gusti Prabu ke Arena Terakhir untuk bertarung dengan Raksasa Biru!” teriak satu suara prajurit dari luar ruangan tersebut.
“Tunggu sebentar!” sahut Prabu Dira. Lalu katanya dengan nada yang lebih pelan kepada Tirana, “Lalu rencana apa yang kau miliki?”
“Kakang dan aku pasti sangat diawasi oleh orang-orangnya Prabu Raga. Jika Kakang Prabu muncul seorang diri, mereka pasti akan mencariku dan curiga. Jadi aku akan selalu berada di sisi Kakang Prabu. Namun, ketika kita berada di ruangan ini, aku bisa bebas mengeluarkan Ibu. Gurudi tahu jalan rahasia masuk dan keluar Istana ini.”
Tirana mengikuti.
Setelah pintu ruangan dibuka, maka tampaklah seorang prajurit berpakaian hijau gelap.
“Silakan, Gusti Prabu!” kata prajurit tersebut mengarahkan.
Setelah Joko Tenang melangkah bersama Tirana, prajurit utusan tersebut mengikuti di belakang.
Tidak berapa lama berjalan, dari arah lain muncul Putri Sri Rahayu yang dikawal oleh dua orang wanita muda yang berwajah kembar. Keduanya berpakaian kembar pula dengan warna putih. Rambut keduanya panjang dan diikat oleh sejumlah pita yang cantik. Satunya menggunakan pita warna merah dan yang lainnya warna putih, mungkin sebagai wujud nasionalismenya. Sementara Putri Sri Rahayu tetap mengenakan pakaian warna serba merah, tetapi modelnya berbeda dengan pakaian sebelumnya. Aroma harum bunga mawar tetap tercium lembut tetapi jangkauannya cukup luas.
“Bagaimana, Permaisuri? Apakah semuanya baik-baik saja?” tanya Putri Sri Rahayu sambil bergabung.
“Ada sedikit masalah dan ini tidak boleh diketahui oleh Prabu Raga,” jawab Tirana.
“Apa itu?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Nanti kita bahas setelah pertarungan, karena ini sangat rahasia,” kata Tirana.
“Baik,” ucap Putri Sri Rahayu.
Mereka akhirnya tiba di depan sebuah mulut lorong.
“Kakang harus lewat lorong ini, kami akan ke atas,” kata Putri Sri Rahayu.
__ADS_1
“Baik,” kata Joko Tenang.
“Silakan, Gusti Prabu,” kata prajurit yang mengikuti.
Tirana dan Putri Sri Rahayu lalu berbelok arah. Mereka pergi menaiki tangga batu untuk ke atas.
Joko Tenang terus melangkah memasuki lorong yang gelap, tapi tidak terlalu gelap. Satu prajurit terus mengikuti. Ada cahaya terang di depan.
Akhirnya mereka tiba di ujung lorong yang adalah sebuah pintu teralis tebal. Cahaya masuk membias dari luar. Di seberang teralis masih ada ujung lorong yang membatasi pandangan Joko Tenang.
Ada suara ramai terdengar oleh Joko. Suara itu mengingatkannya pada suasana tarung saat di Sumur Juara di Kerajaan Hutan Kabut.
Sementara itu, di sisi atas. Tirana dan Putri Sri Rahayu tiba di salah sisi tribun. Di tribun itu ternyata sudah hadir Prabu Raga Sata dan Ratu Sri Mayang Sih. Di belakang kursi Prabu Raga Sata berdiri Senopati Siluman Jarum dan seorang tua yang adalah Panglima Siluman Pedang yang kini menjabat sebagai Panglima Pengawal Prabu.
Di sisi belakang lagi, sejauh satu tombak, berbaris Pasukan Pengawal Prabu yang berseragam putih-putih bersenjatakan pedang.
“Selamat datang, Permaisuri Tirana!” ucap Ratu Sri Mayang Sih sambil berdiri menyambut.
Ratu Sri Mayang Sih mengarahkan Tirana untuk duduk di kursi sebelah kanannya. Selanjutnya Putri Sri Rahayu duduk di kursi sebelah kanan Tirana. Dua pengawal kembarnya berdiri di belakang kursi sang putri.
Kini mereka duduk menghadap ke sebuah lubang arena besar yang dikelilingi oleh tembok tinggi memutar. Di atas tembok itulah ada tribun penonton yang kini di penuhi oleh para prajurit berseragam hijau gelap, jumlah mereka ribuan orang.
Di sisi bawah tembok itu ada lubang-lubang lorong. Joko Tenang kini berada di salah satu lubang lorong tersebut. Di tengah-tengah arena ada sebuah tiang batu besar yang di atasnya ada sebuah arena berbentuk lingkaran berlantai batu tebal.
Antara arena dan tribun penonton ada pagar gaib yang berfungsi sebagai pembatas, agar apa yang terjadi di dalam arena tidak berimbas atau menyasar ke para penonton.
“Mulai!” perintah Prabu Raga kepada Patih Siluman Jarum.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Patih Siluman Jarum. Ia lalu mengangguk sambil memandang kepada seorang prajurit yang memegang sebuah trompet dari tanduk binatang.
Troet troet troeeet!
Prajurit itu meniup terompet tanduknya dengan kencang.
Dengan terdengarnya suara terompet, maka bersorak ramailah para prajurit yang berstatus sebagai penonton. Begitu riuh.
“Silakan, Gusti Prabu!” kata prajurit yang mengawal Joko Tenang setelah membukakan pintu teralis.
Joko Tenang lalu melangkah keluar. Semakin mendekati ujung lorong, suara ribuan manusia semakin keras terdengar. Ketika Joko Tenang keluar dari lorong, maka terlihatlah sebuah tempat yang mempengaruhi suasana hati dan emosi. Joko Tenang melihat ke sekeliling. Ia pun dapat melihat keberadaan Prabu Raga Sata di tribun sisi barat, bersama dengan Ratu dan kedua wanitanya.
Prabu Raga Sata melambai tangan kepada Joko seraya tersenyum. Joko hanya membalas dengan mengangkat tangan kanannya.
Joko Tenang berjalan memutari bawah arena. Ia juga memperhatikan lorong-lorong yang ada. Ia yakin bahwa lawannya akan keluar dari salah satu lorong.
“Raksasa Biru! Raksasa Biru!” teriak para penonton berulang-ulang.
Tiba-tiba sesosok tubuh besar yang berjalan agak membungkuk, keluar dari sebuah lubang lorong. Ia membungkuk karena tinggi tubuhnya tidak cukup dengan ketinggian lorong. Lelaki besar itu berkulit warna biru, semua bagian tubuhnya, termasuk bibirnya juga biru. Ia hanya mengenakan sehelai celana besar yang cocok dengan ukurannya.
Kemunculan lelaki besar tinggi itu langsung disambut oleh sorakan kegembiaraan para penonton.
Setelah keluar dari lorong itu, ia bisa berdiri tegak dan langsung menatap tajam kepada Joko Tenang. Dialah yang bernama Raksasa Biru. (RH)
__ADS_1