
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Tubuh Ratu Sri Mayang Sih benar-benar meluncur terjun menuju dasar jurang yang kering dan berbatu. Ratu Sri Mayang Sih sudah pasrah bahwa ia akan mati di jurang itu. Rasanya sulit menemukan keajaiban untuk selamat.
Namun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kemunculan enam buah caping yang melesat cepat mengejar tubuhnya. Keenam caping itu mendahului jatuh tubuhnya, kemudian bergerak membentuk formasi yang saling menempel. Lalu keenam caping yang membentuk wadah tersebut berusaha menangkap tubuh Ratu Sri Mayang Sih.
Bruakr!
Tubuh indah sang ratu berhasil ditangkap oleh rangkaian caping. Namun kemudian, caping dan tubuh Ratu Sri Mayang Sih menghantam bebatuan dasar jurang. Semua caping hancur terbelah, tapi tidak bagi tubuh Ratu Sri Mayang Sih.
“Akk!” erang Ratu Sri Mayang Sih.
Anggota tubuhnya memang tidak ada yang terlihat terluka atau putus dari raga, tetapi ia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan salah satu kakinya, karena jika digerakkan akan timbul sakit yang luar biasa. Hal yang sama ia rasakan pada lengan kanannya. Sepertinya tulang lengan kanannya ada yang patah.
Dari atas langit melayang turun Anyam Beringin laksana Dewa Penolong. Anyam Beringin mendarat dengan baik di bebatuan dan menunjukkan wajah yang sangat cemas.
“Kekasihku cantik, bagaimana keadaanmu?” kata Anyam Beringin sambil mendekat hendak menyentuh tangan Ratu Sri Mayang Sih.
“Jangan menyentuhku, Kisanak!” teriak Ratu Sri Mayang Sih.
“Tapi kau perlu ditolong, Bidadariku!” kata Anyam Beringin.
“Tidak! Jangan sentuh aku!” teriak Ratu Sri Mayang Sih marah.
“Baik baik baik, aku tidak akan menyentuhmu,” kata Anyam Beringin dengan wajah sedih. “Tapi kau terluka….”
“Biarkan aku seperti ini!” bentak Ratu Sri Mayang Sih.
“Baiklah,” ucap Anyam Beringin sedih karena ditolak.
Akhirnya Ratu Sri Mayang Sih hanya tergeletak berbaring di atas batu. Ia menahan rasa sakit yang mendera tubuh, kaki dan tangannya. Ia memilih diam. Diam-diam ia berusaha meredakan rasa sakit pada tubuhnya dengan pengerahan tenaga dalamnya.
Anyam Beringin tahu bahwa Ratu Sri Mayang Sih tidak akan bisa bangkit tanpa bantuan orang lain. Dan satu-satunya orang lain yang ada di tempat itu adalah dirinya. Anyam Beringin memilih menunggu. Pikirnya, perjuangan cinta terkadang membutuhkan kesabaran.
Setelah diam cukup lama, Ratu Sri Mayang Sih akhirnya mencoba mengangkat kakinya.
“Ak!” jerit Ratu Sri Mayang Sih tertahan.
Spontan Anyam Beringin mendekat.
“Bidadariku!” sebut Anyam Beringin cemas.
“Jangan dekat-dekat denganku! Aku tidak mau kau lecehkan, Lelaki Mesum!” teriak Ratu Sri Mayang Sih.
__ADS_1
“Aku tidak bermaksud melecehkanmu, Bidadariku. Apa yang aku lakukan adalah ungkapan rasa cinta dari seorang lelaki yang menemukan wanita impiannya,” kata Anyam Beringin. “Apakah aku salah jika mencintaimu?”
“Sangat salah!” kata Ratu Sri Mayang Sih lantang. “Karena aku sedikit pun tidak berniat melirikmu!”
“Tapi biarkanlah aku mencintaimu dan menunjukkan rasa cintaku,” kata Anyam Beringin. “Lihatlah diriku. Aku seorang yang sakti, aku juga tampan.”
“Aku sudah punya suami!” tandas Ratu Sri Mayang Sih.
“Siapa? Malaikat Dewa Raja Iblis? Aku akan bertaruh nyawa untuk mendapatkanmu, karena aku tahu suamimu adalah orang jahat!” kata Anyam Beringin.
“Baik, aku akan menerimamu sebagai suamiku jika kau bisa membunuh orang yang seharusnya menjadi suamiku,” kata Ratu Sri Mayang Sih.
Terkesiap gembiralah Anyam Beringin mendengar adanya pintu yang dibuka.
“Baik, aku akan datang langsung ke Kerajaan Siluman dan menantang tarung Malaikat Dewa Raja Iblis!” tandas Anyam Beringin.
“Bukan Raja Kerajaan Siluman yang harus kau bunuh, tetapi orang bernama Raja Anjas. Dia dalam perjalanan menuju Gunung Prabu!” kata Ratu Sri Mayang Sih.
“Baik, siapa pun itu, aku akan membunuhnya. Ini adalah bukti bahwa aku sangat serius mencintaimu!” kata Anyam Beringin.
“Sebelum kau membunuh Raja Anjas, jangan pernah mencoba menyentuhku!” tandas Ratu Sri Mayang Sih.
Sementara itu, di Istana Sanggana Kecil sedang ada pesta.
Dekorasi pernikahan sudah tertata rapi dan meriah. Para prajurit dan pendekar yang tidak memiliki misi penaklukan telah berkumpul di dalam kegembiraan.
Hadir pula Ratu Lembayung Mekar dan sejumlah pejabat dari Kerajaan Balilitan. Adipati Ririn Salawi alias Penagih Nyawa juga hadir bersama para kepala desa.
Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang tampil sangat tampan dengan pakaian serba merah. Ia sudah tidak lumpuh lagi. Kondisinya sudah kembali prima untuk melakukan tarung di segala medan.
Sementara itu, calon pengantin wanita, Putri Sri Rahayu alias Bidadari Asap Racun tampil pula dengan warna serba merah. Ia begitu jelita dalam riasan dan dandanan yang begitu mewah.
Melihat kecantikan Putri Sri Rahayu, Joko merasa ingin buru-buru ke kamar asmara. Kecantikan Putri Sri Rahayu begitu menggugah selera santapnya.
“Bagaimana, Putri? Apakah kita masih akan menunggu?” tanya Ratu Getara Cinta lembut kepada sang putri.
“Mungkin terjadi sesuatu yang menghambat Ayahanda dan Ibunda datang tepat waktu,” ucap Putri Sri Rahayu. “Kita laksanakan pernikahan!”
Ratu Getara Cinta lalu memberi tanda kepada prajurit protokol.
“Kedua pengantin saling bertemu!” teriak prajurit protkol.
Jika pengantin wanitanya didampingi oleh Ratu Getara Cinta, maka pengantin lelaki didampingi oleh calon istri kesembilan, yaitu Ratu Lembayung Mekar.
Diiringi senyum dari Ratu Getara Cinta, Ratu Lembayung Mekar, dan para hadirin yang menyaksikan, Joko Tenang dan Putri Sri Rahayu saling pandang dalam kebahagiaan yang tinggi. Hati di dalam dada keduanya saling berbunga-bunga, padahal di negeri itu tidak ada musim semi, kecuali musim kawin.
__ADS_1
Joko Tenang yang sudah melalui tujuh kali pernikahan, tetap saja merasakan kebahagiaan sebagai pengantin baru. Ternyata jadi pengantin itu tidak membosankan.
“Penyerahan benda sakti!” teriak prajurit protokol.
“Sebagai istriku yang kedelapan, pusaka Mutiara Ratu Panah ini aku berikan kepadamu sebagai mahar pernikahan kita, Sayang,” ujar Joko Tenang yang sudah mengeluarkan sebutir mutiara ungu di antara jarinya.
Joko Tenang lalu menyodorkan Mutiara Ratu Panah ke arah bibir indah Putri Sri Rahayu. Seraya tersenyum manis, sang putri membuka bibirnya dan mencaplok Mutiara Ratu Panah plus kedua jari tangan calon suaminya.
Mendelik Joko Tenang merasakan sensasi pada dua jarinya yang dicomot oleh bibir Putri Sri Rahayu. Rasa desiran menggairahkan seketika menjalar dari dada ke bawah perut.
Zress!
Sementara itu, Putri Sri Rahayu mendelik ketika Mutiara Ratu Panah resmi masuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Putri Sri Rahayu bersinar ungu. Saat itu, Putri Sri Rahayu merasakan ada tenaga sakti rasa lain yang muncul di dalam tubuhnya. Dalam kepala Putri Sri Rahayu sempat memancarkan sinar ungu yang keluar melalui kedua mata, lubang hidung, mulut, dan kedua lubang telinga.
“Sayang, bagaimana keadaanmu?” tanya Joko lembut.
Putri Sri Rahayu tidak langsung menjawab. Hingga sinar ungu itu padam total, barulah ia berkata.
“Aku baik-baik saja, Kakang Prabu. Aku bisa merasakan kesaktian Mutiara Ratu Panah bersemayam di dalam tubuhku,” kata Putri Sri Rahayu.
“Pengucapan ikatan suci dan janji setia kedua pengantin!” teriak prajurit protokol.
Joko Tenang lalu meraih kedua tangan beracun Putri Sri Rahayu. Saat ia menggenggam jari-jari tangan lentik itu, mesin pemompa gairah di dalam tubuh Joko Tenang sudah semakin panas.
“Putri Sri Rahayu, Bidadari Asap Racun, bersediakah kau menjadi istriku mulai saat ini?” ucap Joko Tenang dengan nada yang terdengar terburu-buru.
“Ya, aku bersedia menjadi istrimu yang sangat mencintaimu. Setelah kalimatku berhenti, maka aku akan menjadi wanita pengabdimu, Kakang Prabu,” ucap Putri Sri Rahayu yang merasakan kebahagiaan yang begitu tiada tara. Terlebih saat ini ia juga sama-sama menahan rasa yang mendesak untuk dilampiaskan.
“Aku bersumpah, disaksikan oleh para wanita yang sangat aku cintai dan seluruh abdiku yang setia, akan memperlakukan Putri Sri Rahayu sebagai istriku dengan penuh kasih dan cinta. Dan aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga memberikan kebahagiaan kepada Putri Sri Rahayu di medan tarung dan di segala medan!” ikrar Joko Tenang.
“Bagaimana, Gusti Ratu dan Gusti Permaisuri?” tanya prajurit protokol.
“Sah!” jawab Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Nara.
“Yeee!” sorak gembira para pejabat dan prajurit. Mereka kompak menaburkan bunga-bungaan ke udara yang menghujani kepala mereka sendiri.
Seess!
Setelah itu, tiba-tiba tubuh Putri Sri Rahayu mengeluarkan asap merah tebal. Ratu Getara Cinta dan Ratu Lembayung Mekar segera menjauh, sebab mereka tahu bahwa asap merah itu beracun.
Asap merah tersebut keluar semakin banyak dan tebal yang dengan cepat menutupi seluruh tubuh Putri Sri Rahayu dan Joko Tenang. Selanjutnya, asap merah itu buyar dan sosok pengantin telah raib.
Semua orang sudah bisa menduga ke mana perginya Joko dan Putri Sri Rahayu.
Persetubuhan dengan rasa racun pun terjadi di kamar asmara. Joko Tenang sudah tidak terkendali, nafsu birahinya sudah begitu menggebu-gebu. Karenanya, Putri Sri Rahayu langsung ia lahap meski sang putri masih berpakaian lengkap.
__ADS_1
Mudah-mudahan perabot Joko Tenang tidak sampai bengkak-bengkak karena racun pada tubuh Putri Sri Rahayu. Mudah-mudahan Joko Tenang benar-benar sudah kebal racun itu seratus persen. (RH)