8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 6: Dewi Bunga Tiga


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


“Hukum Mati!” seru Joko Tenang kepada istrinya.


Tiba-tiba Permaisuri Sri Rahayu memunculkan dirinya di udara, lebih rendah dari posisinya semula. Sepasang lengannya sudah diliputi oleh sinar biru bercampur warna putih.


Ses! Sess! Swet…!


Melihat kemunculan Sri Rahayu pada posisi yang terjangkau, sejumlah pendekar siluman kompak melesatkan sinar dari ilmu kesaktiannya ke udara depan sana.


Zwerss! Bresss!


Blar blar blar…!


Sebelum belasan sinar sakti itu sampai kepada Sri Rahayu, wanita beracun itu lebih dulu mengayunkan kedua lengannya. Maka dahsyat.


Lima sinar biru putih berwujud piringan mata gergaji raksasa melesat cepat pada lima garis lurus. Kelima sinar biru putih itu menabrak barisan manusia sakti. Sebagian dari mereka bertindak cepat menghindari serangan maut itu. Namun, bagi mereka yang tertabrak telak, tubuhnya langsung terbelah dua, karena tinggi kelima piringan raksasa lebih tinggi dari kepala mereka. Bukan hanya membelah satu lalu selesai, tetapi bisa menerabas lima orang sekaligus.


Belasan pendekar siluman langsung tewas mengerikan dengan tubuh terbelah dua. Lima garis lesat membuat ruang hindar mereka sangat sempit. Seperti itulah kehebatan ilmu Dewi Bunga Tiga.


Sementara itu, Joko Tenang muncul di titik lain tanpa melakukan serangan.


“Itu dia!” teriak seorang pendekar saat melihat keberadaan Joko Tenang.


“Seraaang!” teriak Siluman Pedang Botak garang, lalu bersama delapan siluman lainnya melesat maju menyerang Joko Tenang.


Sess! Sezz! Swest…!


Blar blar blar…!


Joko Tenang tidak menghindari serangan itu. Dibiarkan saja datang. Sinar-sinar sakti itu berlesatan menabrak lolos tubuh Joko Tenang, seperti menabrak sosok hologram. Sinar-sinar itu terus saja melesat dan meledakkan jalanan dengan begitu bisingnya.


Ketika mereka tiba pada sosok Joko Tenang, Siluman Pedang Botak dan kedelapan rekannya bergantian menghujani Joko Tenang dengan pukulan dan tendangan maut, serta menggunakan senjata mereka. Siluman Pedang Botak menebaskan pedangnya berulang-ulang.


Mereka hanya mendelik frustasi, orang yang mereka serang tidak tersentuh.


Tiba-tiba Joko Tenang bergerak cepat membalas keroyokan para pendekar siluman itu.

__ADS_1


“Aww, adaw, ak…!” pekik dan jerit mereka ketika gerakan tangan Joko Tenang yang begitu cepat mencubiti mereka satu per satu.


Setelah mencubiti semuanya, Joko Tenang berhenti dan berjalan meninggalkan mereka. Joko Tenang menuju ke para pendekar yang lain. Siluman Pedang Botak dan kedelapan rekannya hanya heran dan saling pandang.


“Hahahak…!”


Tiba-tiba kesembilan pendekar siluman itu tertawa sendiri tanpa sebab. Mereka tertawa terbahak-bahak berjemaah seperti tawa setan kegelian.


Kejadian itu mengejutkan dan mengherankan rekan-rekan yang sedang dalam kondisi panik pula. Pasalnya di ujung sana, Sri Rahayu telah turun ke tengah-tengah pasukan siluman yang masih hidup.


Para pendekar yang didatangi Sri Rahayu cepat berlompatan menjauh. Asap merah yang menyelimuti tubuh bawah sang permaisuri bergerak menyebar. Namun, tetap saja ada lima orang yang terkena asap merah berhawa panas dan beracun itu. Lima orang pendekar langsung mengejang keracunan.


Wuss!


Dua orang pendekar siluman berusaha menangkal serangan asap merah beracun dengan melepaskan angin pukulan.


Dua gelombang angin kuat itu memang bisa meniup buyar asap merah tersebut jauh ke udara. Namun setelah itu, asap merah yang buyar tiba-tiba bergerak menyatu kembali di udara, lalu melesat deras membentuk model kepala setan yang berteriak kencang, menyerang balik dua pendekar tadi.


Kedua pendekar itu cepat berkelabat menghindar ke dua arah. Namun, asap merah melesat mengejar dengan memecah tubuh menjadi dua gumpalan asap, lalu terus mengejar hingga kedua targetnya tertangkap.


“Aaak!” jerit kedua pendekar itu saat mereka diselimuti penuh oleh asap merah yang beracun.


“Hentikan kegelian hahaha… ini! Hahahak!” teriak Siluman Botak tidak tahan.


Namun, tiada yang peduli.


Siluman Delapan dan Siluman Kaki Tajam bersamaan menyerang Joko Tenang. Kali ini Joko Tenang tidak menggunakan ilmu Hijau Raga-nya, sehingga pertarungannya benar-benar adil, bisa saling sentuh meski tidak bisa saling kecup.


Joko Tenang memiliki kecepatan gerak di atas kedua lawannya, sehingga pertarungan tidak seimbang meski lawan unggul dua banding satu. Mudah bagi Joko Tenang untuk menghindar atau menangkis. Justru serangan baliknya membuat kedua panglima pasukan itu jadi keteteran.


Press! Blarr!


“Aaak!”


Pada satu kesempatan, tendangan berpisau Siluman Kaki Pisau datang berkelebat mengincar leher Joko Tenang. Dengan mudah Joko menangkap batang kaki yang memiliki senjata tajam. Ternyata, Joko Tenang menangkap dengan tangan kanan yang bersinar hijau menyilaukan mata. Ledakan terjadi.


Siluman Kaki Tajam menjerit tidak ketulungan. Ia tumbang dengan kaki kanan yang sudah musnah hingga setengah paha.


Zeess! Zerss!

__ADS_1


“Aaa…!”


Siluman Delapan menghentakkan kedua lengannya dengan jari-jari mengepal. Delapan garis sinar berbeda warna melesat dari kedelapan cincin wanita gemuk itu. Pada saat yang bersamaan pula, Joko Tenang juga melepaskan sepuluh garis sinar warna hijau dari ilmu Lima Jeratan Terakhir.


Delapan sinar hijau milik Joko tenang beradu dengan kedelapan sinar warna-warni Siluman Delapan. Sementara dua garis sinar lain milik Joko Tenang tidak ada lawan adu, akibatnya terus melesat menyengat tubuh si wanita gemuk.


Siluman Delapan pun menjerit mendapat dua asupan setruman. Akibatnya, pengerahan ilmu dari kedelapan cincin peraknya terhenti, membuat delapan garis sinar dari jemari Joko terus melesat menjerat tubuh Siluman Delapan.


Di saat proses penyengatan itu, dua pendekar melakukan pembokongan terhadap Joko Tenang. Yang satu melesatkan sinar berwujud tinju ungu. Yang satu lagi membabatkan tongkat pedangnya.


Wess! Slep! Set! Bluss!


Sinar ungu berwujud tinju itu meresap masuk ke dalam punggung rompi pusaka Joko Tenang, sehingga tidak memberikan efek apa pun. Si pemilik serangan hanya bisa terkejut.


Bersamaan saat itu, sebuah benda putih melesat keluar dari dalam tubuh Joko Tenang, sebelum pedang menyentuh leher dari belakang. Benda yang adalah Pedang Singa Suci, melesat menghantam tubuh pemilik tongkat pedang hingga jebol tembus ke belakang.


Pedang buntung itu terus melesat menyerang pendekar satunya, tetapi dengan gesit bisa menghindar dan memilih menjauh.


Blaar!


Siluman Delapan yang terjerat dalam sengatan ilmu Lima Jeratan Terakhir, akhirnya meledak hancur seperti di dalam tubuhnya ada bom waktu.


Melihat dua komandan tewas dan satu kesurupan dengan tawa yang tidak bisa berhenti, ditambah kesaktian lawan yang tidak main-main jagonya, Siluman Panah Kosong cepat berteriak mengambil keputusan tepat.


“Selamatkan diri kalian semuaaa!” teriak Siluman Panah Kosong. Wanita cantik bercelana pendek itu melesat berusaha kabur.


Zwerss! Bresss!


Sebelum semua siluman yang tersisa berhasil melarikan diri, Sri Rahayu kembali melepaskan ilmu Dewi Bunga Tiga.


Lima sinar biru putih berwujud piringan gergaji raksasa melesat tegak pada lima garis lurus, membelah apa saja yang dilaluinya. Sebanyak delapan pendekar siluman tidak sanggup menyelamatkan nyawa dan tubuhnya. Sementara yang lain berhasil meninggalkan tempat itu ke berbagai arah, ke mana saja mereka akan pergi, yang penting selamat.


Bak bak bak!


Tiga orang berhasil Joko Tenang bunuh dari jarak jauh menggunakan Pukulan Tapak Kucing.


“Hahahak…! Ampuuun! Hahahak…!” teriak Siluman Pedang Botak sambil terus tertawa tanpa henti bersama kedelapan orang lainnya.


Itu benar-benar siksaan yang menyakitkan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2