8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 23: Hancurnya Pasukan Tangkal Bencana


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


 


Ketika Menak Ujung mengurung Permaisuri Lima Pesona dan Putri Wilasin di Bukit Buruan dengan pagar gaib Cangkang Dewa, Menak Ujung mengajarkan kepada Salik Jejaka cara menembus pagar gaib itu.


Di saat Prabu Menak Ujung melakukan isolasi mandiri dengan Cangkang Dewa-nya, maka Salik Jejaka bisa membuka pintu agar empat siluman bisa masuk. Keempat siluman yaitu Siluman Ular Hitam, Siluman Caping Merah, Siluman Gelang-Gelang, dan Siluman Badan Batu.


Salik Jejaka berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh menghadap ke arah Kaputren. Kedua telapak tangan saling menempel di depan dada. Dengan bergetar, kedua telapak tangan itu lalu ditarik saling menjauh, tenaga dalamnya seolah sedang membuka sesuatu.


“Pintunya terbuka tepat di depanku, masuklah!” perintah Salik Jejaka.


Siluman Ular Hitam, Siluman Caping Merah, Siluman Gelang-Gelang, dan Siluman Badan Batu segera melesat masuk ke halaman Kaputren. Faktanya, mereka tidak membentur pagar gaib.


Keempat siluman itu langsung disambut oleh Pasukan Tangkal Bencana.


Pertarungan sengit pun terjadi di halaman Kaputren. Prabu Menak Ujung masih menjadi penonton setia.


Sang Kancil, Komandan Pasukan Tangkal Bencana berhadapan dengan Siluman Ular Hitam. Sementara prajurit yang lain mengeroyok Siluman Caping Merah, Siluman Gelang-Gelang dan Siluman Badan Batu. Di luar, Salik Jejaka, empat siluman lainnya dan para prajurit Walang Kekek menonton dari luar.


Sang Kancil memburu Siluman Ular Hitam dengan permainan pedangnya yang cepat. Meski bertubuh gemuk dan besar, Siluman Ular Hitam mampu bergerak gesit mengelaki setiap tebasan dan tusukan pedang.


Pada satu ketika, pedang Sang Kancil menusuk mengincar leher musuh. Siluman Ular Hitam cukup menarik sedikit kepalanya. Pada saat itu, tiba-tiba kalung ular kayu hitam bergerak hidup seperti ular sungguhan. Ular itu merayap cepat di pedang Sang Kancil dan mematuk tangan.


“Akk!” jerit tertahan Sang Kancil, membuat pegangannya pada pedang terlepas.


Siluman Ular Hitam segera memanfaatkan momentum. Ia mendesak Sang Kancil dengan serangan tangan menyerupai kepala ular. Gerakannya sangat cepat dan rapat. Ketika Sang Kancil hendak memangkas jurus Siluman Ular Hitam, tiba-tiba tangan kanannya mendadak lumpuh.


Tuk tuk tuk!


Tiga patukan tangan ular mendarat beruntun di leher Sang Kancil. Komandan Pasukan Tangkal Bencana itu mengejang keras dalam berdirinya.


Tuk!


“Aaak…!”


Tiba-tiba ular kayu hitam muncul begitu saja dan mematuk antara kedua mata Sang Kancil.


Sang Kancil menjerit panjang, seolah memberi tanda bahwa ia telah gugur.


Baks!


Siluman Ular Hitam menutup pertarungannya dengan melancarkan satu tendangan bertenaga dalam tinggi ke wajah Sang Kancil. Komandan prajurit yang sudah keracunan itu terbanting tanpa nyawa.


Sementara itu, Siluman Badan Batu banyak membunuh korban. Sesuai namanya, Siluman Badan Batu benar-benar seperti batu. Tubuhnya kebal dari bacokan pedang.


Siluman Badan Batu menangkap dengan tangan kosong dua pedang yang menebas dari depan.


Dak! Bak bak!

__ADS_1


Setelah menangkap kedua mata pedang, pedang itu dengan keras didorong sehingga gagangnya mengenai wajah pemiliknya. Selanjutnya tendangan sekeras batu mematahkan tulang dada.


Tak tak!


Dua bacokan bersarang di punggung lelaki besar itu, tetapi tidak ada luka irisan sekecil apa pun. Bacokan itu dibalas dengan tendangan mengibas dan menampar kedua kepala prajurit, membuat keduanya tumbang dengan wajah berdarah.


Selanjutnya, Siluman Badan Batu mengamuk. Setiap tinju dan tendangannya langsung meremukkan tulang, membuat jumlah Pasukan Tangkal Bencana berkurang drastis.


Wezz! Wezz!


Sesekali Siluman Badan Batu melompat tinggi di udara dan melesatkan sinar hijau berekor dari tendangannya. Prajurit yang terkena sinar Tendangan Bawah Awan harus ikhlas tubuhnya hancur sebagian.


Sementara itu, Siluman Gelang-Gelang berkelebat ke tempat yang agak jauh dari para prajurit. Ia berdiri memasang kuda-kuda. Tangan kanannya yang lurus ke atas telah bersinar biru berpijar seperti kembang api kecil. Sementara tangan kirinya memegangi bawah bokong, khawatir kejadian seperti tadi terulang kembali.


Siluman Gelang-Gelang siap menunjukkan kehebatan ilmu Panah Matahari-nya.


Sejumlah prajurit Pasukan Tangkal Bencana datang mengejar keberadaan Siluman Gelang-Gelang.


Zuz! Cess!


Siluman Gelang-Gelang menembakkan tangan kanannya. Sinar biru berpijar melesat cepat menembus tubuh prajurit yang ditembak.


Empat prajurit tewas satu per satu dengan tubuh berlubang hangus terkena tembakan Panah Matahari.


Hal itu membuat lima prajurit lain yang ingin menyerang Siluman Gelang-Gelang jadi berhenti. Mereka tidak mau terkena tembakan. Sementara Siluman Gelang-Gelang masih menunggu, siap tembak. Ketegangan tercipta.


Semua tembakan itu tepat mengenai sasaran. Rupanya Siluman Gelang-Gelang penggemar gim tembak-tembakan.


Di sisi yang lain, Siluman Caping Merah tidak kalah digdayanya. Sejak ia masuk ke dalam Cangkang Dewa, caping merahnya langsung terbang menyerang ke sana ke mari. Prajurit Pasukan Tangkal Bencana yang terkena hantaman caping, langsung disusul oleh tebasan pedang merah.


Namun, di saat keempat siluman itu bersikap jumawa, tiba-tiba….


Seet! Dugg!


“Akk!”


Blakk!


Sosok Prabu Menak Ujung yang sejak tadi diam duduk di kursinya, tiba-tiba melesat laksana kilat. Tahu-tahu lututnya menghantam dahsyat dada Siluman Caping Merah.


Lelaki bercaping itu terpental deras menabrak pagar gaib, seperti orang yang menabrak dinding kaca. Sepasang mata Siluman Caping Merah melotot berdarah, lidahnya menjulur ke samping dengan leher yang patah.


Hantaman Menak Ujung benar-benar terlalu kuat.


Semuanya jadi terkejut. Begitu mudahnya Menak Ujung membunuh satu siluman. Mereka jadi tegang.


Belum khatam keterkejutan mereka, Menak Ujung sudah melanjutkan pembunuhannya yang brutal. Setelah menyerang Siluman Caping Merah, dia langsung menyerang Siluman Badan Batu.


Pakk!

__ADS_1


“Hukhr!”


Telapak tangan besar Menak Ujung berkelebat cepat menghantam dada Siluman Badan Batu. Siluman itu tetap berdiri di tempatnya, tetapi darah kental dan segar terlompat dari mulutnya.


Bukr!


Dan terakhir bagi Siluman Badan Batu, tinju Menak Ujung terlalu cepat dan kuat menonjok wajah hingga tengkorak kepala itu hancur.


Siluman Ular Hitam yang sudah move on, cepat berkelebat menerjang Menak Ujung. Pada saat itu pula, ular kayu hitam melesat terbang menyerang pula untuk mematuk Menak Ujung.


West! Baam!


Tangan kiri Menak Ujung mengibas seperti mengusir lalat, menciptakan lapisan sinar merah yang mendorong balik Siluman Ular Hitam dan ularnya. Seiring itu menyusul tangan kanan Menak Ujung yang seperti menepuk lalat dari ketinggian. Ada bayangan sinar merah besar berwujud telapak tangan raksasa yang mengiringi tangan itu, menepuk tubuh Siluman Ular Hitam hingga terbanting rapat ke bumi.


Begitu kuatnya smash voli Menak Ujung sampai-sampai Siluman Ular Hitam tidak sempat mengucapkan kata-kata terakhir.


Zuz! Sess! Bross!


Siluman Gelang-Gelang menembakkan sinar biru dari ilmu Panah Matahari. Menak Ujung tidak mengelak tetapi mengadunya dengan sinar merah seperti mangkuk. Sinar itu langsung menelan sinar Panah Matahari dan terus menyerang kepada Siluman Gelang-Gelang.


Siluman botak itu terkejut. Buru-buru ia melompat menghindar, tetapi telat. Sinar merah Menak Ujung lebih dulu menyambar kaki Siluman Gelang-Gelang.


“Aaak…!” jerit Siluman Gelang-Gelang dalam kondisi tubuh terkapar di tanah tanpa kaki.


Baam!


Bayangan raksasa sinar merah berwujud telapak tangan memukul keras tubuh Siluman Gelang-Gelang yang sudah tidak berdaya. Maka matilah Siluman Gelang-Gelang.


Menak Ujung lalu berbalik menghadap ke luar pagar gaibnya.


“Hahaha!” tawa Menak Ujung kepada Salik Jejaka dan keempat siluman lainnya.


Para pemberontak itu hanya bisa mendelik ngeri melihat kebrutalan kesaktian Menak Ujung.


“Anak ingusan mu coba-coba merebut tahta! Hahaha…!” (RH) 


**************


Jika dikemudian hari novel 8 Dewi Bunga Sanggana ini tidak up up dalam waktu lama, mungkin itu adalah tanda selesainya kebersamaan kita. Mungkin Author (Om Rudi Hendrik) sudah dipanggil Tuhan.


Karena itu, pada kesempatan ini, Author ingin mengucapkan terima kasih atas segala doa dan dukungannya, serta kebersamaan yang mengasyikkan.


Jika novel yang Author tulis ternyata ada memberi pengaruh buruk kepada para Readers, tolong maafkan Author dan ikhlaskan.


Awalnya Author menyangka hanya sakit biasa, tetapi kemudian Author sadar bahwa Author telah kehilangan indera penciuman dan tidak bisa tidur. Ternyata Author positif COVID-19.


Di sela-sela menahan sakit, pusing, demam, Author tetap berusaha menyelesaikan bab demi bab.


Mohon doakan kesembuhan bagi Author, agar kebersamaan kita tetap berlanjut. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2