
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Akhirnya Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang kembali bisa pakai celana. Para istri pun kembali girang meski mereka tahu, setelah itu tidak ada pertarungan ranjang, sebab agenda Joko Tenang sebagai raja terlalu padat.
Sesembuhnya Prabu Kecil dan dicabutnya PPKM Level 4, Joko langsung mengadakan rapat terbatas dengan kedelapan istrinya yang sudah berkumpul semua.
Istana itu memiliki ruangan kecil yang bernama Ruang Awan Putih. Di ruangan itulah Joko Tenang berkumpul bersama istri-istrinya, apakah itu sekedar bercumbu rayu, bersenda gurai, hingga membahas urusan kerajaan dan berbagai permasalahan lainnya.
Di ruangan itu pula, Permaisuri Yuo Kai sebagai Menteri Hukum dan Kebijakan Istana memimpin sidang Dewan Hukum Sanggana Kecil untuk merumuskan berbagai hukum.
Joko dan kedelapan istrinya duduk di kursi masing-masing yang membentuk formasi melingkar, sehingga tubuh mereka terlihat penuh dari atas kepala hingga ujung kaki. Di setiap sisi kanan kursi ada meja sederhana yang masing-masing di atasnya ada minuman dan berbagai buah sekeranjang bambu.
“Hal pertama yang kita bahas adalah tentang Kerajaan Baturaharja. Bagaimana kondisi di istana sana?” tanya Joko Tenang dengan wajah menatap kepada Permaisuri Yuo Kai dan Permaisuri Sandaria sebagai pemimpin agresi ke Kerajaan Baturaharja.
Sandaria hanya tersenyum-senyum sendiri, seolah lebih memilih bersikap imut daripada harus menjelaskan kondisi terkini Kerajaan Baturaharja.
“Tahta Kerajaan Baturaharja kini diduduki oleh Prabu Banggarin. Ia diperkuat oleh Raja Akar Setan, Nyai Kisut dan para pejabat lama yang ketika Prabu Arta Pandewa digulingkan, mereka memilih menyerah dan dipenjara. Aku melihat, selain Prabu Banggarin sendiri, hanya Raja Akar Setan yang memiliki kesaktian tinggi. Dengan kembalinya Mahapati Turung Gali dan Senopati Batik Mida bersama pasukan Sanggana Kecil dan Balilitan, maka kekuatan pertahanan Kerajaan Sanggana masih rapuh,” tutur Permaisuri Negeri Jang.
“Aku pernah bertarung dengan Raja Akar Setan dan dia sahabat nenekku, jadi dia bisa diandalkan untuk menjaga tahta,” kata Sandaria sambil tersenyum dengan mata tertutup.
“Raja Akar Setan adalah salah satu tokoh yang diundang dalam pertemuan di Jurang Lolongan. Itu artinya, ada kemungkinan dia akan meninggalkan tahta selama beberapa pekan jika memilih hadir ke Jurang Lolongan,” kata Joko.
“Kubu pemberontak yang dipimpin oleh Mahapati Abang Garang dan kelompok pendekar yang melakukan pemberontakan di Kadipaten Repakulo, kini sedang memusatkan perhatian untuk urusan besar di Jurang Lolongan. Mereka pun berangkat beramai-ramai ke sana. Jadi menurutku, untuk sementara tahta Kerajaan Baturaharja akan aman dari serangan besar. Jadi bisa saja kita membersihkan sisa-sisa pemberontak itu di Jurang Lolongan,” kata Permaisuri Tirana. “Aku mengetahuinya karena aku dan Gusti Mulia Raja Anjas menaklukkan Kadipaten Repakulo.”
“Berarti musuh telah menunggu lebih dulu di Jurang Lolongan karena mereka sudah bergerak beberapa hari yang lalu, sedangkan kita masih berembug di sini,” kata Permaisuri Kerling Sukma.
“Aku melihat ada tiga kelompok musuh yang menunggu kita di Jurang Lolongan. Pertama, kelompok yang dipimpin oleh Putri Aninda Serunai. Kedua, kelompok yang dipimpin oleh Mahapati Abang Garang. Dia memiliki julukan asli Siluman Hitam, termasuk orang Kerajaan Siluman. Ketiga, kelompok yang memimpin pemberontakan di Kadipaten Kelang. Aku yakin, ketiga kelompok ini pada intinya satu kelompok di bawah komando Putri Aninda Serunai atau Kerajaan Siluman, yang sekarang dirajai oleh Jin Gurba,” kata Permaisuri Sri Rahayu yang kondisinya sudah sehat wal afiat.
“Baik. Aku setuju untuk memberantas sisa-sisa pemberontak Baturaharja di Jurang Lolongan. Nanti bisa dimasukkan ke dalam hukum Kerajaan, bahwa Sanggana Kecil terlibat membantu dalam memburu buruan kerajaan sahabat. Dalam kasus ini kerajaan sahabat itu adalah Kerajaan Baturaharja,” kata Joko Tenang memutuskan.
“Baik, Kakang Prabu,” kata Yuo Kai.
“Wajib bunuh para pemimpin pemberontak dan lumpuhkan para pengikutnya, kecuali sangat membahayakan, maka wajib bunuh. Untuk mengantipasi adanya serangan yang tidak terduga terhadap tahta Baturaharja, kirimkan separuh Pasukan Hantu Sanggana ke Baturaharja sebagai bantuan keamanan!” kata Joko Tenang memutuskan.
__ADS_1
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Kerling Sukma.
“Kirim Adipati Sewa Legit ke Baturaharja untuk menjabat posisi apa saja. Jika Senopati Duri Manggala tidak mau kembali ke Baturaharja, untuk sementara perintahkan prajurit untuk membangunkan kediaman di Hutan Malam Abadi. Aku lebih cenderung mengangkatnya sebagai pejabat yang mengurus kerja sama dengan Kerajaan Walangan. Tapi itu setelah urusan Jurang Lolongan selesai,” kata Joko.
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Ratu Getara Cinta.
“Mahapati Turung Gali akan tetap berada di Istana. Jika ada serangan dadakan dari kelompok mana saja di saat kami berada di Jurang Lolongan, bangunkan para pendekar yang kedudukannya warga biasa!”
“Baik, Kakang Prabu,” ucap sang ratu lagi.
“Oh ya, bagi dua ratusan warga dari Kadipaten Repakulo untuk menempati Kadipaten Gunung Prabu dan Kadipaten Hutan Malam Abadi. Lahan di kedua kadipaten itu masih luas. Ratu bisa langsung mengesahkan kedudukan Kakek Yono Sumoto sebagai adipati di Kadipaten Gunung Prabu, menggantikan Pangeran Kubur,” kata Joko.
“Baik, Kakang Prabu,” ucap sang ratu.
“Kakang Prabu, kita akan berhadapan dengan adik Kakang Prabu,” kata Sri Rahayu mengingatkan.
“Siapa pun dia, hukum harus ditegakkan. Jika aku bertemu dengannya nanti, aku akan mencoba membujuknya untuk berhenti menjadi orang jahat,” kata Joko Tenang. “Jika memang harus beradu nyawa dengan adik sendiri, apa boleh dikata.”
“Aku pun akan mengikuti pendirian Kakang Prabu,” kata Sri Rahayu yang juga adalah kakak dari Putri Aninda Serunai.
“Sejauh mana kau membuatnya terluka, Sandaria?” tanya Joko Tenang.
“Hihihi!” Sandaria justru tertawa. Lalu dia mengerutkan hidungnya, seolah sedang berpikir dalam posenya yang menggemaskan. Lalu jawabnya, “Tidak, Putri Manik Sari tidak akan mati. Aku yakin dia akan bertemu seseorang yang menolongnya. Jangan salahkan aku, aku hanya membela diri.”
“Biarkan dia mendendam. Dia adalah putri Prabu Menak Ujung. Kita hanya bisa berharap dia bisa memahami bahwa ayahnya adalah orang jahat. Seperti diriku,” kata Sri Rahayu.
“Baik, seperti itulah adanya tentang Putri Manik Sari. Sekarang kita bahas tentang keberangkatan ke Jurang Lolongan. Aku memutuskan, aku dan Permaisuri Nara yang akan hadir dalam pertemuan para tokoh aliran putih, seperti yang sebelumnya kita bahas. Kecuali Ratuku yang sedang hamil, semua permaisuri berangkat ke Jurang Lolongan. Ingat, tugas kalian untuk mencegah pertumpahan darah golongan aliran putih dan membekuk para pemberontak itu. Kirim pula tiga ratus pasukan di belakang sebagai pengangkut tahanan. Pasukan itu harus dipimpin langsung oleh Senopati Batik Mida dan sepuluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana Kecil,” kata Joko Tenang. “Bagaimana dengan adikku, Putri Sagiya?”
“Putri Sagiya sudah pulang bersama Gusti Mulia Prabu Anjas, Kakang Prabu,” jawab Ratu Getara Cinta.
“Loh,” ucap Joko Tenang.
“Katanya dia tidak mau mengganggu Kakang Prabu di saat sakit. Tapi dia berjanji akan datang ke sini lagi,” timpal Tirana.
“Oh, baiklah. Lalu bagaimana rencana pernikahan ayahku dengan Ibunda Ratu Sri Mayang? Ceritakan kepadaku!” kata Joko beralih bahasan.
__ADS_1
“Untuk sementara Ibunda Ratu Sri akan tinggal di Istana ini. Ibunda Ratu memberi syarat agar keratuannya dikembalikan, Ayahanda Prabu Anjas menawarkan sebuah kerajaan baru. Jadi Ibunda Ratu menunggu kerajaan baru itu. Pernikahan baru bisa terjadi jika kerajaan itu sudah terwujud,” jawab Sri Rahayu.
“Apakah tidak berbahaya jika Ibunda Ningsih dan Ibunda Ratu tinggal di satu istana?” tanya Tirana.
“Aku pastikan Ibunda Ratu sudah melupakan dendam dan mau menerima keadaan yang semestinya dia alami. Ayahanda Prabu Anjas pun telah berjanji akan sering-sering datang berkunjung ke mari,” kata Sri Rahayu.
“Setelah pertemuan ini, aku akan menemui Ginari, Ratu Lembayung Mekar, dan Ratu Puspa. Setelah itu kita berangkat ke Jurang Lolongan. Maka bersiaplah dan persiapkan pula Pasukan Pengawal Bunga!” kata Joko.
“Maaf, Kakang Prabu. Lebih baik dahulukan dulu temui Ratu Puspa. Ia sudah begitu uring-uringan karena belum bisa bertemu denganmu,” kata Tirana.
“Hahaha! Baik!” kata Joko yang didahului oleh tawanya. (RH)
****************************************
Kisah Covid-19 Author (Bag.2)
Saya tinggal di sebuah rumah kayu beratapkan asbes, yang jika siang hari suasana dalam rumah akan sangat panas seperti dalam open. Orang yang ada di dalamnya akan banjir keringat jika waktu siang.
Karenanya, jika saya di rumah, setiap hari pada siang hari saya pergi ke rumah kakak dan bekerja di kamar ibuku yang ada AC-nya.
Ketika saya menyimpulkan saya terkena Covid-19, saya memutuskan tidak pergi ke rumah Kakak. Pada malam hari saya sempat mengalami kondisi lemah yang hampir membuat saya pingsan. Seiring itu, kondisi pun melemah, batuk semakin parah, dan sesak napas.
Selama lima malam berturut-turut saya tidak bisa tidur. Fisik sangat lemah hingga pada tahap bangun dari duduk untuk berdiri saja, saya megap-megap seperti ikan keluar dari air. Sesak napas semakin panjang, sehingga ruang napas bersih saya tinggal setarikan pendek.
Saya tidak bisa isoman, karena kondisi rumah tidak memungkinkan. Dalam kondisi sakit seperti itu, saya masih serumah dengan mertua, istri dan anak yang masih bayi. Namun, untuk interaksi fisik saya cegah dulu, kecuali dengan istri jika minta bantuan berbagai hal.
Jika kondisinya separah saya, saya berpikir, mungkin akan berisiko jika isoman sendiri tanpa ada yang mendampingi, sebab sangat berisiko jika apa-apa dilakukan sendiri dalam kondisi sangat lemah dan napas terbatas.
Dalam kondisi lemas dan pusing, saya harus mengikhlaskan diri tidur di siang hari dalam kondisi panas seperti open. Ketika saya butuh apa-apa atau ingin minta bantuan, sementara posisi istri jauh dari saya, terpaksa saya harus memilih menunggu hingga istri datang mendekat sendiri. Pada saat istri posisinya jauh, timbul kekesalan.
Ada satu kejadian drama yang sempat saya lakukan demi menarik perhatian istriku yang sibuk mengeloni bayi. Saya yang memang lemas, pura-pura jatuh di tengah jalan pintu dalam rumah. Saya tergeletak agak lama dengan napas saya buat megap-megap sedramatis mungkin.
Dasar apes, sudahlah saya berakting maksimal, ternyata istri tak kunjung datang menolong, padahal posisinya tidak begitu jauh di dapur. Saya bertahan dalam kepura-puraan seperti orang sedang sekarat. Setelah agak lama, barulah istri datang dengan cemas. Ternyata, ketika saya pura-pura jatuh, istri saya memang tidak melihat sedikit pun. Barulah agak lama, ia akhirnya melihat.
__ADS_1
Mau tidak mau, akting saya pun berlanjut dengan pura-pura bisa bangun kembali. NASIBKU. (Bersambung)