
Tanpa diduga Juan Mahardika mengangguk mendengar perintah Elfa. Padahal matanya terpejam dengan napas yang teratur. Seolah dia mendengar dan mematuhi apa yang diperintahkan oleh Elfa.
"Ingat sekali lagi, pusaka bumerang ini akan tertidur dan mati suri walau siapapun wanita yang akan membangunkan dengan cara apapun, dia hanya akan bangun setelah bertemu dengan gue, mengangguklah jika elo mengerti!" perintah Elfa sambil menunjuk pusaka bumerang Juan Mahardika yang terlihat lemas.
Juan Mahardika kembali mengangguk dengan patuh setelah lengannya diusap oleh Elfa. Mata tetap terpecam dan badan tidak bergerak. Seolah hanya telinga saja yang sedang bekerja.
Elfa terpaksa mengambil jas Juan Mahardika yang ada di lantai. Langsung dipakai untuk menutupi baju blus miliknya yang terlepas kancingnya. Keluar kamar menuju pintu belakang dan melompati pagar seperti kemarin.
Elfa pulang ke villa milik Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Padahal biasanya lebih memilih menginap di markas yaitu rumah Rena. Rumah sederhana namun penghuninya sangat bersahaja.
Elfa jarang menunjukkan identitas aslinya. Tidak banyak yang tahu latar belakang keluarganya yang tajir jika tinggal di sekitar villa. Demi untuk keamanan anggota kelompok pejuang gadis.
Sebagian gadis desa hanya mengetahui jika Elfa adalah gadis asli berasal dari Ngawi tanah kelahiran Almarhumah Nenek Ani. Hanya Rena alias Rey dan Krisnawati alias Kris yang mengetahui identisas Elfa.
Sampai hampir pagi menjelang Elfa berendan di bath-up yang ada di kamar pribadi. Menangis meratapi diri yang kini sudah tidak virgin lagi. Seolah merasa dirinya kotor karena sudah ternoda.
Menangis sambil teringat cerita Mami Mitha. Nasibnya kini lebih parah dari Mami dan Tetah Rania. Mereka setidaknya terenggut setelah menikah tetapi dirinya kini terenggut tanpa ada status.
"Bagaimana ini, apa yang harus El lakukan, El harus curhat pada siapa?" monolog Elfa sambil menangis tersedu-sedu.
***
Sementara pagi hari Juan Mahardika bangun tidur dalam keadaan badan sakit semua. Rasanya seperti selesai bekerja berhari-hari tanpa henti. padahal tadi malam hanya melakukan balas dendam kepada gadis yan pernah menggagalkan usaha nikah sirri.
Melihat badan yang masih polos memar dan lebam semua. Bibir robek terkena tendangan kaki Elfa yang sangat kuat. Hanya bagian kaki saja yang tidak ada luka atau memar.
Juan Mahardika tersentak kaget setelah bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Gadis yang tadi malam menangis tersedu sambil duduk di lantai sekarang ini tidak ada, "Ke mana gadis itu?" monolog Juan Mahardika sendiri.
Langsung mendekati cendela untuk memeriksa kaca cendela. Karena kemarin gadis itu kabur membongkar teralis dan kaca, "Masih utuh kacanya. Lewat mana gadis itu?" Kembali Juan Mahardika bermonolog sendiri.
__ADS_1
Juan Mahardika membersihkan diri di kamar mandi dan berendam di buth-up. Merasakan hari ini seperti hari baru yang belum pernah dilalui. Otak dan pikirannya terasa tenang dan damai tanpa beban.
Sambil sarapan di meja makan setelah selesai mandi dan rapi. Juan Mahardika membuka laptop miliknya. Ingin melihat CCTV yang terhubung di laptopnya.
Mulai melihat Elfa ke luar dari kamar sambil mengendap-endap. Juan Mahardika membuka matanya lebar saat melihat pakaian yang dikenakan oleh Elfa, "Dia memakai jas gue?"
Selesai sarapan bersamaan selesai juga memperhatikan Elfa melompati pagar seperti dulu. Pagar yang sama dan kursi untuk melompat juga sama, "Kemungkinan gadis itu memiliki ilmu bela diri yang lumayan, badanku rasanya sakit semua," kata Juan Mahardika berbicara sendiri.
Ada suara mobil masuk villa terdengar sayup-sayup di halaman villa. Bibi pembantu berlari ke pintu utama untuk membukakan pintu, "Siapa yang datang, Bibi?" tanya Juan Mahardika setelah pintu terbuka.
"Asisten Dwi Saputra yang datang, Tuan."
"Oooo biarkan dia masuk!"
"Baik ...."
"Selamat pagi, Tuan." Asisten Dwi Saputra berjalan dengan langkah panjang mendekati Juan Mahardika.
"Tuan Hans Mahardika memerintahkan saya untuk menjemput Anda sekarang juga."
"Daddy di Jakarta?"
"Iya ... Anda di tunggu di Bandara Internasional Soekarno Hatta sekarang."
"Bukankah pesawat pribadi sekarang ada di New York karena menjemput Grandpa Riswan?"
Asisten Dwi Saputra bercerita jika satu jam yang lalu pesawat pribadi milik keluarga Mahardika mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Akan menjemput sang cucu kesayangan Granpa Riswan Mahardika yang sedang berobat di New York.
Hanya sayangnya yang di jemput tidak mau pulang jika bukan cucu kesayangan yang menjemput sendiri. Dengan terpaksa pesawat harus bolak-balik Australia ke New York dan sekarang ke Indonesia. Hanya untuk menjemput satu orang saja yaitu Juan Mahardika.
__ADS_1
"Dasar Gandpa Riswan manja, mengapa harus gue yang repot sih?" gerutu Juan Mahardika kesal.
"Ayo berangkat sekarang, Tuan!"
Juan Mahardika masih enggan bangun dari tempat dudu, "Tunggu sebentar ...!"
"Anda tidak perlu packing, semua sudah dipersiapkan oleh bibi, jangan sampai saya memaksa Anda!" kata Asisten Dwi Saputra dengan suara tegas.
"Berani lo?" tanya Juan Mahardika dengan suara keras juga.
Asisten Dwi Saputra hanya nyengir kuda. Teringat perintah Tuan Hans Mahardika satu jam yang lalu. Untuk menjemput paksa jika perlu di seret seandainya menolak.
Setelah tiba di New York, Juan langsung menuju ke salah satu rumah sakit terkenal di sana. Seluruh keluarga sudah berkumpul. Hanya menunggu cucu kesayangan yang datang paling terakhir.
"Ada apa ini?" tanya Juan Mahardika setelah melihat seluruh raut wajah keluarga bersedih.
"Granpa ... ini yang di tunggu-tunggu sudah datang," bisik Jasmine Mahardika di telinga kakeknya.
Yang awalnya laki-laki tua yang berbaring lemah di brankar tempat tidur itu matanya terpejam. Langsung membuka mata dan tersenyum manis melihat cucu tersayang datang, "Juan ...."
"Granpa, maafkan Juan" Juan Mahardika duduk berjongkok dan mencium punggung tanangnya berkali-kali.
Riswan Mahardika dirawat selama tiga bulan di rumah sakit New York. Setengah tahun yang lalu mengalami stroke. Satu bulan yang lalu keadaannya sudah mulai membaik dan mulai bisa berjalan kembali.
Tidak menyangka sekarang ini Grandpa Riswan Mahardika kembali lemah dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saat tangannya meraih pipi Juan Mahardika tiba-tiba terjatuh kembali, "Grandpa .... Grandpa!" teriak Juan Mahardika.
Grandpa Riswan Mahardika dinyatakan meninggal dunia oleh dokter. Dimakamkan di Australia setelah dibawa pulang. Hampir satu minggu perhatian dan fokus Juan Mahardika pada keluarga yang baru kehilangan.
Hampir satu minggu Juan Mahardika mampu tidak beraksi karena masih berduka. Selalu berkumpul dengan keluarga saling menghibur dan mendukung. Perusahaan juga diliburkan untuk menghormati pendiri perusahaan.
__ADS_1
Juan Mahardika benar-benar bisa bertahan tidak merayu wanita hampir satu minggu ini. Pusaka bumerang anteng tertidur tanpa berontak. Tanpa menyadari yang terjadi dengan pusaka kesayangan yang biasanya selalu mengajak bergoyang.
"Sabar dulu ya, nanti kita balas dendam sehari lima kali kalau perlu" monolog Juan Mahardika sambil mengusap pusakanya.