Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 12. Fasilitas Papi Alfarizi


__ADS_3

Elfamita kembali ke Jakarta dengan hati yang gundah gulana. Seolah setengah hatinya masih tertinggal di desa Mami Mitha. Masih Banyak gadis yang perlu dibantu bebas dari tradisi aneh di sana.


Hanya sayangnya kini hati masih rapuh dan sakit. Hati terasa hancur lebur setelah dirinya sendiri menjadi korban perjuangan yang dilakukan. Tidak menyangka perjuangan yang dilakukan harus dibayar mahal dengan kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup.


"Mami ... Papi Elfa pulang. El akan menjadi putri kesayangan Mami dan Papi seperti dulu lagi," monolog Elfa terus melajukan mobilnya menuju rumah yang ada di Bekasi.


Elfa sampai rumah tepat saat istirahat siang. Perut rasanya sudah keroncongan ingin diisi. Hampir satu minggu berlalu jarang memperhatikan asupan gizi yang masuk dalam perut.


Mencium bau opor ayam kesukaan Papi Alfarizi rasanya air liur ingin menetes. Lebih dari satu bulan Elfa tidak pulang ke Bekasi. Sangat merindukan masakan opor ayam buatan Mami Mitha.


Baru melangkah masuk ruang makan. Elfa sudah di suguhi adegan romantis dari kedua orang tuanya. Mami Mitha sedang menyuapi Papi Alfarizi yang sedang konsentrasi pada laptopnya.


"Ya ... ya ... baru masuk rumah, sudah membuat El iri saja sih," canda Elfa sambil mendekati dan mencium pipi Mami Mitha.


"Putri Mami yang cantik, Mami kangen banget. Muaaah ...." Mami Mitha membalas mencium pipi Elfa.


"El ini juga dong!" Papi Alfarzi menunjuk pipinya meminta dicium juga.


"Iya ...iya ... apa kabar, Papi?"


"Papi baik, Nak."


"Elfa juga mau dong disuapi Mami!"


"Tentu sini duduk sebelah Papi!" perintah Mami Mitha.


Tidak hanya satu piring untuk berdua saja. Kini satu piring untuk bertiga makan nasi dengan lauk opor ayam dan sambal terasi. Sambil berbincang dan bercanda tiga piring sudah ludes perpindah ke perut.


Elfa langsung naik ke lantai atas masuk ke kamar pribadi setelah izin untuk beristirahat. Merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang nyaman. Mata menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


Dada rasanya bergemuruh antara marah dan penyesalan. Jika teringat dengan laki-laki casanova yang telah menghancurkan masa depan. Ingin berteriak sekencang mungkin untuk membebaskan beban di hati, namun tidak mungkin dilakukan kini.


Terus teringat peristiwa itu, terus terbayang di pelupuk mata tawa laki-laki itu. Wajah yang seolah merasa menang karena berhasil merenggut hal berharga. Apalagi teringat tubuhnya yang polos membuat Elfa semakin hari semakin  membencinya.


Dari awal datang, Elfa belum bercerita niatnya untuk pulang. Melihat Papi Alfarizi sedang bekerja online, diurungkan untuk bercerita. Berniat setelah sore hari saat santai baru akan bercerita.


Elfa berkali-kali mencoba untuk memejamkan mata. Ingin melupakan peristiwa yang sangat menyakitkan hati. Hanya sayangnya setiap mata terpecam bayangan itu selalu saja menari di relung hati.


"Brengsek ...!" teriak Elfa sambil mengajak rambutnya.

__ADS_1


Elfa memilih ke luar kamar kembali bergabung dengan Mami Mitha dan Papi Alfarizi. Lebih memilih melupakan peristiwa itu dengan menyibukkan diri. Tidak ingin larut dalam kesedihan dan kegelisahan berkepanjangan.


"Mami ... Papi, " panggil Elfa sambil berlari menuruni tangga.


"Katanya mau istirahat, kok cuma sebentar?" tanya! Mami Mitha.


"El tidak bisa tidur,  mau cerita dulu sama Mami dan Papi." Elfa duduk di samping Mami Mitha yang sedang mengupas buah mangga.


"Mau cerita apa, El?" tanya Papi Alfarizi sambil tetap konsentrasi pada laptopnya.


"El mau berangkat ke Australia besok."


Seketika Papi Alfarizi menengok ke arah Elfa, "Mau ngapain ke sana?"


"El mendapatkan bea siswa kuliah S2 di kampus El dulu."


"Ya Allah, Nak. Papi cari uang untuk Elfa semua, mengapa harus kuliah dengan bea siswa?"


"El ini putri Mami, tidak suka menonjolkan kekayaan Papi," jawab Elfa asal.


Mami Mitha tersenyum sambil memeluk putrinya, "Apakah akan bertiga bersama Rena dan Kris seperti  dulu?"


"Ya jelas otak El seperti Papi."


"Naaah kalau itu baru betul," jawab Elfa sambil mengacungkan dua jempolnya.


Papi Alfarizi tersenyum bangga, tetapi sambil mengerutkan keningnya. Teringat saat awal kuliah ke Australia, Elfa memilih tinggal di kos-kosan bersama dua sahabatnya. Hanya menempati satu kamar tetapi fasilitas lengkap.


Papi Alfarizi saat itu membelikan apartemen untuk tinggal di sana. Namun Elfa menolak karena tidak ingin seorangpun tahu jika termasuk orang kaya. Lebih memilih tampil sederhana seperti kedua sahabatnya.


Kak Atha juga pernah menawarkan untuk tinggal bersama keluarga yang ada di sana. Namun Elfa memilih hidup mandiri. Tidak mau merepotkan keluarga selama mampu melakukan sendiri.


"El boleh melanjutkan kuliah S2 di sana, tetapi ada syaratnya," kata Papi Alfarizi.


"Apa syaratnya, Pi?"


"Elfa harus memakai fasilitas yang Papi berikan, tidak boleh tinggal hanya satu kamar."


"Ya Papi, El ingin mandiri."

__ADS_1


Mami Mitha mengusap lembut pipi Elfa, "Papi benar, Nak. Di sana El sendiri tanpa Rena dan Kris, lebih baik terima tawaran Papi."


Elfa mengerutkan keningnya teringat dulu bertiga saat menempuh jenjang S1. Kini sendiri tanpa ada temen yang dikenal. Harus menyesuaikan lingkungan baru dan teman baru.


"Baiklah ... El menempati apartemen yang dulu Papi beli."


"Bagus, tidak cuma apartemen, mobil dan bibi juga akan Papi siapkan."


"Kalau mobil tidak perlu, Pi. El naik angkutan umum saja ya?"


"Tidak ... El harus terima semua peraturan Papi, kalau El tidak mau Papi tidak akan mengizinkan kuliah di sana."


Elfa mengerucutkan bibirnya karena kesal. Sudah terbiasa hidup sederhana saat kuliah dulu. Karena lebih leluasa bergaul dengan siap saja dan tidak memandang latar belakang seseorang.


"Iya deh, El ikut peraturan Papi."


"Nah gitu dong, tunggu Papi menghubungi Asisten Surya."


"Kamu tuuh, Nak. Diberikan fasilitas malah menolak, dasar anak Mami."


"Enak aja, El juga anak Papi lo," kata Papi Alfarizi.


"Iya El ini kesayangan Papi dan Mami."


Elfa berangkat ke Australia di dampingi satu pembantu bernama Bibi Suti. Tinggal apartemen yang tidak terlalu jauh dari kampus. Isi apartemen sangat komplit dengan fasiltas lengkap dan modern.


Mobil keluaran terbaru dengan harga selangit juga sudah stanbye di parkiran lantai dasar apartemen. Awalnya Elfa menduga mobil yang harga standar. Karena kunci dititipkan di kantor security.


Keesokan harinya Elfa akan ke kampus untuk pertama kali. Mendatangi security untuk mengambil kunci, "Permisi Pak, saya akan mengambil kunci mobil titipan Tuan Alfarizi Zulkarnain."


"Apakah Anda Nona Elfamitha Alfarizi Zukarnain?"


"Benar sekali, Pak."


"Ini kunci mobil Anda, Nona."


Elfa menerima kunci mobil sambil membelalakkan matanya, "Ya Allah ya Rob, Papi. Mengapa BMW edisi terbatas sih?" monolog Elfa sambil membunyikan alarm kunci mobil.


"Ini Papi mau membuat Elfa jadi pusat perhatian ya, semua serba mewah?" kembali Elfa berbicara sendiri mencari posisi mobilnya.

__ADS_1


       


__ADS_2