Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 78. Londo Masuk Pasar


__ADS_3

Juan Mahardika menatap sendu ke arah Elfa mendengar perintah Alfian Alfarizi. Suara calon abang ipar itu terdengar sangat marah dan seolah tidak setuju. Masih belum percaya dan meragukan cinta yang dirasakan.


"Mengapa menatap El seperti itu? Kalau Akak takut sebaiknya mundur saja dan sana pulang kandang!" Elfa berkata di depan semua orang.


"Tidak, Akak tidak takut. Sepuluh Abang Al juga Akak hadapi demi El," jawab Juan Mahardika dengan mantap.


Dua asisten langsung bertepuk tangan mendengar jawaban Juan Mahardika. Pakde Sarto mengacungkan dua jempolnya setuju. Papi Alfarizi dan Mami Mitha hanya tersenyum sambil pandang sesaat.


"Syukur kalau begitu, selamat berjuang. Nanti kalau Akak babak belur jangan menyesal ya?"


"Tidak mungkin, Akak akan siap lahir batin sama seperti siap lahir batin menikah dengan El."


"Sudah jangan berdebat, semoga kali ini Abang Al tidak menguji Juan seperti kemarin," kata Papi Alfarizi melerai Elfa dan Juan Mahardika.


"Maksud Papi menguji dengan apa, selain memukul?" tanya Juan Mahardika.


"Papi juga tidak tahu, Abang Al itu sering memiliki banyak ide yang brilian. Dari kecil dia sudah mandiri, terkadang Papi kalah dewasa cara berpikirnya. Kamu tidak perlu khawatir."


"Baik, Juan akan siap apapun ujian dari Abang Al."


"Waah semangat empat lima demi pujaan hati," puji Pakde Sarto.


Mereka melanjutkan diskusi sambil sarapan pagi. Sarapan nasi goreng jawa ditampah telur mata sapi dan kerupuk. Juan Mahardika memilih makan telur mata sapi saja tanpa nasi goreng. Laki-laki yang tidak terbiasa makan nasi itu masih belum bisa menyesuaikan makan nasi seperti keluarga yang lain.


"El, coba buatkan sarapan roti bakar buat Nak Juan, kasihan hanya makan telur mata sapi saja!" perintah Mami Mitha.


"Di warung tidak ada yang jual roti tawar, Mi. Harus belanja ke pasar dulu."


"Tidak apa Juan makan ini saja." Juan Mahardika sudah menikmati telur mata sapi ketiga dimakan dengan tambahan kecap.


"Nanti kalian belanja ke pasar sana. Beli semua keperluan untuk membuat menu khusus yang biasa dimakan Nak Juan!"


"Iya, Mi." Juan Mahardika dan Elfa menjawab bersamaan.


"Ciek ciek kompak banget!" godaan Pakde Sarto.


Juan Mahardika tersenyum saat menyetir mobil dan ada Elfa disampingnya. Baru kali ini bisa pergi berdua dengan restu orang tua. Selalu memandang Elfa dengan tatapan mata yang memuja.


"Akak, lihat jalan depan jangan melihat El terus!"


"Apakah El ada magnetnya ya, mata Akak selalu ingin memandang bidadari cantik terus?"

__ADS_1


"Gombal."


"I love you, Garwoku**."


"Emboh ora weruh," jawab Elfa dengan bahasa Jawa.


Kebetulan Juan Mahardika tidak memasang goegle translate. Sehingga tidak tahu apa yang di katakan oleh Elfa, "Apa artinya itu?"


"Emboh ora waruh," Elfa mengulang sekali lagi kata-kata itu.


Juan Mahardika langsung meminggirkan mobil dan berhenti sejenak. Membuat Elfa kaget dan bingung, "Mau ngapain berhenti, Akak?"


"Sebentar, Garwoku. Akak mau pasang goegle translate dulu."


"Akak ini macam-macam saja sih!"


Tidak kurang dari lima menit Juan Mahardika melajukan mobilnya kembali. Mengetahui arti dari kata yang diucapkan Elfa yang artinya 'Entahlah tidak tahu' Membuat Juan kembali bertanya, "El kan tahu cinta Akak. Kapan El menjawab cinta Akak sih?"


Elfa mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Juan Mahardika. Enggan menjawab pertanyaan itu walau sangat diharap dan ditungu-tunggu. Padahal sudah menerima lamaran dengan banyak syarat tetapi keraguan itu masih sering terlintas.


"Akak mau dimasakkan apa?" tanya Elfa mengalihkan perhatian.


"Mengapa malah membahas makanan?"


"Iya maaf, Akak pingin makan steak."


"Apa lagi?"


"Mashed poteto, sandwich atau meat pai."


"Banyak betul sih?"


Juan Mahardika tersenyum sambil memutar kemudi, "El tidak perlu memasak, Akak hanya menyebutkan makanan yang sering Akak konsumsi. Akak tidak mau Garwoku capek."


"El bisa buat itu, tetapi ...?" Sebelum Elfa melanjutkan ucapannya Juan Mahardika langsung memotong, "Tujuan Akak ingin menikah El bukan untuk masak makanan kesukaan, Akak ingin membuat El bahagia, membuat El jatuh cinta sama Akak."


Elfa mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Kembali lagi membahas tentang cinta padahal sudah susah-payah mengalihkan dengan membicarakan hal yang lain. Jangankan mengucapkan kata keramat itu, merasakan saja masih samar-samar. Masih tetap beriringan dengan rasa sakit hati yang tak kunjung juga hilang.


"Parkirnya di mana ini, Garwoku?" tanya Juan Mahardika setelah sampai di pasar.


"Di pinggir pasar yang sebelah belakang."

__ADS_1


"Ok, sebelah sini?"


"Iya."


Baru saja turun dari mobil, Juan Mahardika langsung menutup hidungnya. Seumur hidup baru kali ini masuk pasar tradisional. Bau pasar yang campur aduk membuat Juan Mahardika mual dan ingin muntah.


"Waduh kok baunya seperti ini?"


"Apakah Akak tidak pernah masuk pasar?"


"Belum pernah."


Baru masuk gerbang pintu pasar ada tukang parkir yang nyeletuk, "La ono Londo melebu pasar."


Setiap satu langkah orang selalu melirik dan melihat Juan Mahardika yang menutup hidung sambil berjalan mengikuti Elfa. Tidak ada orang yang melewatkan menandangi laki-laki keturunan Jawa Australia dengan pandangan yang heran. Berpenampilan necis dan rapi, tetapi masuk pasar yang becek dan kotor.


Banyak juga yang berkomentar macam-macam melihat Bule masuk pasar. Bagi masyarakat desa yang jarang ada turis masuk desa merupakan pemandangan yang langka. Komentar mereka cenderung lucu dan nyeleneh.


Banyak juga gadis desa dan para ibu muda yang memandang dengan penuh kekaguman dan seolah memuja. Yang tua pun tidak kalah heboh karena kagum melihat Juan Mahardika yang terlihat tampan dan atletis.


Belum sampai di lokasi pedagang daging, telinga Elfa sudah risih mendengar celotehan para pengunjung pasar. Dengan kesal Elfa mengambil masker yang ada di dalam tas, "Akak pakai masker saja, panas telinga El mendengar celotehan aneh mereka!"


Juan Mahardika menunduk sambil tersenyum. Elfa langsung memakaikan masker di mulut dengan tangan sendiri. Tentu saja Juan Mahardika menatap dengan tatapan mata yang penuh dengan bunga-bunga cinta.


"Mengapa Akak tersenyum begitu?"


"Tidak apa-apa, Akak sangat bahagia saja melihat El marah karena ibu-ibu pengunjung pasar."


"Apa maksud Akak?"


"Rasanya bahagia hati Akak karena El cemburu."


"Idih GR banget, ayo jalan!"


Elfa menuju tempat pedagang daging langganan Bude Marmi. Biasanya Elfa sering ikut Bude Marmi belanja ke pasar pada pagi hari setelah sholat subuh. Daging masih dalam keadaan segar baru diambil dari pemotongan.


Baru saja Elfa ingin memesan daging kepada pedagang Juan Mahardika jongkok membuka masker dan memuntahkan semua sarapan tadi pagi. Untung ada parit kecil di samping pedagang daging yang bisa dipakai untuk membuang isi perutnya.


"Kenapa Akak?" tanya Elfa dan langsung menekan tengkuk Juan Mahardika untuk mengurangi mual.


Pedagang daging memberikan air satu ember untuk menyiram bekas muntah Juan Mahardika, "Apakah si Mbak lagi hamil sehingga suami yang muntah?" tanya Pedagang Daging.

__ADS_1


"Ha ...!"


__ADS_2