Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 96. Berusaha


__ADS_3

Juan masih bingung dan tidak mengetahui dari mana suara benda jatuh dengan suara menggema. Hanya menengok arah kamar mandi yang berada di samping dapur. Tiba-tiba pintu terbuka dengan ada lampu yang menyala terang, sedangkan ruang dapur hanya temaram.


"Astagfirullah!" Kembali Juan Mahardika kaget ada sosok wanita cantik keluar dari kamar mandi.


"Allahu Akbar!" tanpa sengaja Elfa menabrak tubuh Juan Mahardika yang berjalan terburu-buru.


Elfa keluar kamar mandi dengan terburu-buru tanpa sengaja menabrak suami yang jalan tidak melihat arah depan, "Sayang, ya Allah. Kemana saja dari tadi Akak cariin?"


"Maaf, tadi El sakit perut karena Akak lama di kamar mandi jadi El memakai kamar mandi di dapur."


"Tadi suara apa yang terdengar jatuh dengan suara menggema?"


"Gayung yang sudah terisi air tersenggol siku jadi jatuh," jawab Elfa dengan nyengir kuda.


"Akak kira ada hantu, mengapa memakai gayung?"


"Ini kamar mandi untuk bibi, orangnya tidak bisa memakai closed duduk."


Juan Mahardika mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Elfa. Di jaman sekarang ini masih ada saja yang tidak bisa menggunakan closed model berjongkok. Membuat teringat di Ngawi yang sebagian besar masyarakatnya tidak memiliki peturasan.


"Apakah dua bibi itu berasal dari Ngawi?"


"Iya."


"Pantas saja mereka biasa BAB di sungai."


Sambil berjalan ke kamar Elfa tertawa sendiri tanpa sebab, "Mengapa El tertawa begitu?" tanya Juan Mahardika.


"El membayangkan Akak BAB di sungai," jawab Elfa sambil tergelak.


"Eee mana mungkin itu terjadi, yang ada pusaka bumerang Akak ikut larut terkena aliran air."


Elfa kembali tertegak teringat cerita Bude Marmi yang nyeleh. Yaitu Bude Marmi terbiasa BAB di sungai karena ada rasa sensasi tersendiri saat jongkok di sungai. Pa*tat yang terendam air mengalir akan membantu melancarkan benda kuning yang keluar dari tempatnya.


"Sudah jangan bahas itu, ini sudah malam El mau tidur."

__ADS_1


Dengan mendekatkan badan dan menempel pada Elfa, Juan Mahardika berbisik di telinga, "Kalau Akak bahas yang tadi bagaimana?"


"Yang tadi mana?" tanya El pura-pura tidak tahu.


"Yang tadi, jangan pura-pura lupa, Sayang. Setelah Akak pikir di kamar mandi tadi, yang itu adalah favorit Akak lo."


"Akak ngomong apa sih, El tidak faham?"


Semakin Elfa pura-pura lupa, Semakin Juan Mahardika berpikiran mesum. Semua ucapan dan tindakannya selalu dihubungkan dengan senjata bumerang yang ingin beraksi, "Kita reka adegan lagi yok, biar El lebih faham!"


Elfa tidak menjawab permintaan Juan Mahardika, hanya mengerucutkan bibir saja. Sebenarnya setelah merasakan aksi yang tadi, jantung selalu berdegup dengan kencang. Ada sensasi yang menuntut hati ingin melanjutkan ke tempat inti.


Saat berteriak dan tiba-tiba ingin berhenti karena seolah baru saja tersadar dari mimpi. Dalam hati ingin melanjutkan, tetapi perasaan masih ada sesuatu hal yang mengganjal. Namun, tidak tahu apa yang masih membatasi diri untuk bisa menyerahkan seluruh jiwa raga pada suami.


Sampai kamar Elfa masih termenung memikirkan hal masih belum tahu jawaban pertanyaan perasaan hati. Membersihkan wajah dan memakai krim malam juga sambil termenung. Tidak mendapatkan jawaban yang bisa membuat hati sejalan dengan pikiran.


Teringat ilmu ikhlas yang sering ingin dilakukan. Teringat takdir dan jodoh hanya yang maha kuasa yang menentukan. Sebagai hamba harus ikhlas dan menerima karena semua manusia tidaklah sempurna.


Kekurangan, kelebihan, masa lalu dan pengalaman harus bisa menerima dengan segenap jiwa. Jika memang ini adalah garis takdir yang Allah berikan, pasti ini yang terbaik. Pengalaman pahit harus segera di buang jauh-jauh agar bisa mengawali masa depan yang lebih baik.


Kecewa tidak di tunjukkan, hanya kesabaran dan pengertian yang selalu di lakukan. Ketulusan hati seolah selalu terpancar pada wajahnya yang selalu mendampa. Keseriusan ingin menjadi yang terbaik sekarang mulai bisa mengikis hati yang luka menjadi terpesona.


Ada tangan melingkar di pinggang dan badan yang menempel di punggung. Mencium pipi berkali-kali membuat Elfa tersadar dari lamunan, "Apa yang dipikirkan, Sayang?"


"Banyak hal."


"Apakah karena Akak?"


"Maaf, El membuat Akak kecewa."


"Memang Akak akui ada rasa kecewa dalam hati Akak, tetapi dibalik rasa kecewa itu ada rasa syukur yang sangat besar yang Akak rasakan saat ini."


"Rasa syukur, apa maksud Akak?"


"Kemarilah, Akak jelaskan."

__ADS_1


Juan Maharidka membimbing Elfa berjalan ke tempat tidur. Berbaring bersama dengan lengan sebagai tumpuan kepala Elfa. Sambil mendekap memberikan rasa kasih dan hati yang tulus.


"Sejauh dari usaha Akak tadi, El hanya berkeringat dingin saat terakhir saja, saat Akak menurunkan kancing berjalan sampai terbuka, El tidak mengalami keringat dingin. Itu artinya sudah ada peningkatan yang sangat luar biasa."


"Akak memperhatikan sedetail itu?"


"Ya dong."


"Apakah El ini termasuk istri yang berdosa?"


"Mengapa El berpikir seperti itu?"


"El teringat tausiah Ustadz saat acara walimah kita dulu, seorang istri harus melayani suami dalam keadaan apapun juga, kalau perlu silahkan buka sendiri, goyang sendiri dan tutup sendiri jika sudah selesai."


Juan Mahardika tergelak sambil mengecup sekilas bibir Elfa, "Itu kalau seorang istri dalam keadaan baik-baik saja. El tidak berdosa karena masih ada something wrong di pikiran El karena perbuatan Akak di masa lalu."


"Sabar ya, Kak. El juga mencoba untuk tidak takut lagi kok."


"Akak juga ikut andil dalam masalah kita ini, jadi kita harus terus berusaha."


"Apakah setelah kejadian itu Akak tidak mengalami perubahan?"


"Akak hampir putus aja mencari jawaban pusaka bumerang yang tidak bisa beraksi."


"Betulkah, cerita dong. El ingin tahu!"


Juan Mahardika bercerita dari berangkat ke Amerika selama dua minggu setelah kejadin itu. Opa yang meninggal dunia di Amerika dan di makamkan di Australia. Baru kembali ke Indonesia setelah masa berkabung selesai.


Semanjak itulah pusaka bumerang anteng tertidur seolah mati suri. Berkali-kali berusaha, tetapi tidak satupun yang berhasil. Mencari penyebab mati suri dan berusaha mengingat yang terjadi, hanya sayangnya tidak berhasil.


Bisa menyimpulkan semua ada hubungan dengan kejadian itu. Menyelidiki dan mencari keberadaan penyebab mati surinya pusaka bumerang selama dua tahun tidak juga bertemu.


Setelah bisa bertemu, bisa sebentar terbangun, tetapi tidak untuk wanita lain membuat ingin balas dendam. Namun, saat ingin balas dendam setiap bertemu. Justru hati terbalik jadi terlena, terpesona dan jatuh cinta dengan segala kebaikan yang dilakukan.


Juan Mahardika mengambil napas panjang saat teringat dan menyadari sejatinya jatuh cinta seiring waktu. Ingin melanjutkan lagi ceritanya dengan memandang wajah Elfa, "Yaa Sayang, dari tadi Akak cerita panjang lebar ternyata El tidur?"

__ADS_1


__ADS_2