
Satu tahun berlalu tanpa terasa bagi Elfa kuliah di Autralia. Waktunya dihabiskan untuk belajar dan bekerja sosial di rumah sakit saja. Tidak pernah ada kata bermain dan pacaran dalam kamus hidup Elfa.
Satu tahun juga tidak pulang ke Indonesia. Jika Mami Mtha dan papi Alfarizi yang merindukan putrinya. Merekalah yang berkunjung ke Autralia.
Hari ini adalah hari eniversery kampus tempat Elfa kuliah. Akan ada evant dan ceremony yang akan di gelar. Atheer Ahmed adalah salah satu panitia yang akan menyelenggarakan acara. Sambil mendekati Elfa walaupun sudah beribu kali Elfa terus menghindar dan menolak.
Elfa sedang ikut kegiatan sosial di lapanagan kampus. Ada banyak masyarakat yang memeriksakan kesehatan gratis di sana. Salah satu program dalam rangka hari jadi kampus.
"El, apakah bisa minta tolong sebentar?" tanya Athe sambil melihat buku catatannya.
"Tidak bisa El sedang sibuk," jawab Elfa tanpa melihat arah laki-laki yang berdiri di depannya.
Elfa sedang membantu salah satu dokter wanita yang sedang memeriksa menggunakan statoskop. Elfa mencatat semua yang dikatakan dokter. Untuk melihat Athe saja seolah tidak sempat.
Dengan mata melotot Athe langsung memandang Elfa. Hanya sayangnya Elfa cuek dan tidak memperhatikan sama sekali laki-laki yang sedang kesal.
Sambil mengambil napas panjang Athe mencoba meredamkan emosi. Dengan pura-pura sok cool meminta kepada dokter yang ada disebelah Elfa, "Dok, apakah boleh pinjam asistennya yang cantik ini?"
"Tidak," Elfa menjawab dengan jutek.
"Dok ... please!"
"Tunggu sebentar ya, setelah ada pengganti nanti bisa di pinjam," jawab Dokter sambil tersenyum.
"Baik ... Athe carikan pengganti sebentar."
Atheer Ahmed memanggil mahasiswi jurusan ekonomi untuk membantu dokter, "Apakah kamu bisa membantu dokter sebentar?"
"Kalau kesehatan saya tidak tahu, Ahe!" teraik Mahasisiwi ekonomi
"Kalau mencari ganti yang sesuai dong, mana bisa dia mencatat tentang ini, cari yang sama dan satu jurusan dengan Elfa." Dokter itu terlihat emosi.
"Baik Dok, maaf saya carikan lagi!"
Sambil menggerutu sendiri Atheer Ahmed meninggalkan dokter dan Elfa yang sedang memeriksa pasien yang semakin waktu semakin banyak yang datang. Elfa hanya tersenyum devil sambil merlirik Athe yang gagal untuk mendekat.
Tanpa harus menolak keinginan Athe. Elfa bisa menghindar tanpa membuat alasan. Ada saja rintangan untuk laki-laki itu mendekat, seolah alam memang tidak pernah merestui.
Dengan terpaksa Athe menunggu Elfa sampa selesai tugas. Menunggu dengan ketidak pastian di parkiran mobil milik Elfa. Sampai detik terakhir Elfa pulang hampir menjelang senja.
__ADS_1
"El tunggu!"
"Ada apa lagi, bukankah acara sudah selesai?"
"Athe ingin bicara pribadi, apakah bisa kita bicara di kafe?"
"Maaf tidak bisa, El harus menjalankan ibadah sebentar lagi."
Atheer Ahmed mengangguk, faham betul karena dirinya juga seorang muslim, "Baiklah, Athe minta waktunya sebentar saja."
"Silahkan!"
"El tahu kalau Athe sangat menyukai El, apakah bisa El berikan kesempatan Athe untuk ...?"
Belum sempat Atheer Ahmed melanjutkan ucapannya. Elfa langsung menyatukan kedua tangan di dada. Sambil membungkukkan badan dan sambil tersenyum.
"Terima kasih, Athe. Dari awal El tidak bisa menerima Athe lebih dari sahabat. Sampai sekarang El tidak bisa menganggap Athe teman istimewa. Sekali lagi maafkan El ya."
"Mengapa kita tidak mencoba dulu, El. Apakah karena dokter itu?"
Elfa menggelengkan kepala, "Bukan karena dokter itu, El juga tidak punya perasaan dengan dokter itu, hati tidak bisa dipaksakan Athe."
"Itu merupakan urusan pribadi El, sekali lagi maafkan El. Tolong jangan mengejar El lagi, permisi!"
"El please, hati ini hanya terpaut padamu."
Hanya sayangnya Elfa tidak mendengar ucapan Atheer Ahmed. Gadis itu sudah melajukan mobil kesayangannya meninggalkan parkiran kampus. Hanya bisa berdiri terpaku memandang mobil yang berlalu sampai tidak terlihat.
Sementara Asisten Dwi Saputra sudah satu minggu tinggal di kos-kosan Pak tua. Hanya sempat bertemu tiga kali dengan Rena. Tidak mendapatkan keterangan yang pasti dari Rena.
Asisten Dwi Saputra hanya mendapatkan keterangan yang beredar di masyarakat saat ini. Kelompok pejuang gadis sangat susah di tembus oleh sembarang orang. Hampir semua anggotanya tutup mulut rapat-rapat tentang identitas para pendirinya.
Asisten Dwi Saputra hanya bisa menebak dan menganalisa. Kegiatan Rena biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bahkan terlihat seperti pada gadis lainnya ceria dan senang bermain ponsel.
Tanpa diduga Antara Rena dan Asisten Dwi Saputra terlihat semakin akrab. Saat berbincang sering klop dan nyambung. Padahal biasanya Asisten Dwi Saputra jarang bergaul dengan lawan jenis.
Hari ini Asisten Dwi Saputra pamit akan kembali ke kota. Seolah meninggalkan setengah hati di desa. Mulai tertarik dengan Rena yang misterius dan tertutup. Namun tidak berani mengungkapkan perasaan hati.
"Rena, Aa pamit ya!" Asisten Dwi Saputra mengulurkan tangan untuk bersalaman.
__ADS_1
"Kok penelitian cuma satu minggu saja, Aa?"
"Iya, Aa masih harus pindah di beberapa kota lagi."
"Semoga sukses, Aa."
"Terima kasih, apakah boleh Aa menghubungi Rena saat ada waktu luang?"
Rena hanya tersenyum dan membungkuk sambil melepaskan tautan selaman tangan. Hanya berani melirik mata laki-laki yang terlihat tertarik. Sengaja pura-pura tidak tahu dan tidak menanggapi.
"Bye Rena, Aa pulang dulu!"
"Hati-hati di jalan, Aa."
Asisten Dwi Saputra hanya berjalan lima langkah dari kos-kosan sampai di villa milik Juan Mahardika. Tidak ada yang tahu jika sang asisten adalah orang kepercayaan pemilik villa. Disamping jarang datang di villa sang asisten jika datang langsung menuju villa tanpa berbelok ke manapun.
Baru masuk villa sudah di sambut suara bariton Juan Mahardika, "Kamu mencari informasi atau pacaran, lama benar?"
Asisten Dwi Saputra hanya nyengir kuda tanpa menjawab. Dia langsung duduk di hadapan Juan Mahardika . Membuka laptop dan menunjukkan hasil laporan yang dikerjakan selama satu minggu.
"Silahkan Anda baca dan dengarkan laporan saya ini, Tuan."
Yang pertama Juan Mahardika baca adalah tentang cerita semakin banyaknya gadis yang mulai mengikuti perkembangan jaman. Sekolah ke jenjang yang lebih tinggi tidak hanya lulusan Sekolah Dasar. Banyak gadis yang sadar dengan hak dan kewajiban dalam keluarga.
Menengarkan keterangan beberapa orang tentang pendiri pejuang gadis. Bisa memastikan ada tiga gadis yang diduga sebagai pelopor. Yang satu mengundurkan diri satu tahun yang lalu.
Bertepatan dengan Juan Mahardika mengambil kehormatan salah satu pendiri pejuang gadis. Setelah itu beredar kabar pimpinan tinggal dua orang saja. Semakin hari nama salah satu pendiri tenggelam tanpa ada kabar seiring berjalannya waktu.
"Apa kesimpulan kamu tentang masalah ini?" tanya Juan Mahardika setelah membaca dan mendengar rekaman penelitian di laptop.
"Kuncinya ada di gadis itu, Tuan."
"Maksudnya?"
"Kemungkinan ada sesuatu yang istimewa pada gadis itu, karena dari keterangan yang saya dapat, ketiga pimpinan pejuang gadis berpendikan tinggi."
"Bagaimana cara mencari gadis itu?"
"Kita mulai dari kota Ngawi, isunya gadis itu berasal dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur sana."
__ADS_1