Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 104. Masuk Kandang Singa


__ADS_3

Dokter Yohan Charnett tahu saat datang tadi siang selalu diawasi. Pura-pura pulang dengan membawa keluar mobilnya ke luar parkiran. Ternyata hanya berpindah parkir di komplek pertokoan yang ada di depan mall.


Masuk kembali ke mall menghabiskan waktu dan mengawasi sekitar tempat acara resepsi pernikahan Elfa dan Juan Mahardika. Mencari waktu yang tepat untuk bisa bicara berdua dengan Elfa. Sampai menjelang sore masih tetap ditunggu.


Sampai Rena dan Krisnawati meninggalkan Elfa sendiri. Dokter Yohan Charnett bergegas mendekati Elfa, "El, aku ingin bicara sebentar!"


"Eeee, ngapain ada di sini lagi?"


"Sudah aku bilang aku ingin bicara sebentar dengan kamu!" Dokter Yohan Charnett menarik paksa tangan Elfa.


"Anda mencari mati, Dok. lepaskan tangan El!" teriak Elfa.


"Aku tidak perduli," jawab dokter urologi itu terus menarik tangan Elfa berjalan keluar area resepsi melewati pintu samping.


"Ok kalau itu mau Anda."


"Memang apa yang bisa kamu lakukan?"


Jika berniat ingin melakukan sendiri, dengan satu tendangan saja pasti laki-laki itu sudah terjengkang. Namun, saat ini pergerakan Elfa terbatas karena memakai gaun pengantin modern rancangan Mami Mitha. Juga enggan mengeluarkan keringat, lebih enak memanggil pemilik hati yang sebenarnya, "Akak JM?" teriaknya dengan suara keras.


Tidak hanya Juan Mahardika yang menengok mendengar teriakan Elfa. Tiga asisten, Alfian Alfarizi dan dua sahabat Elfa berlari menyusul langkah panjang Dokter Yohan Charnett. Semua emosi dan kesal melihat kenekatan dokter yang nekad masuk ke kandang singa.


Juan Mahardika dan Alfian Alfarizi yang pertama lari paling cepat. Kedua tinju mereka mendarat bersamaan di pipi kiri dan kanan dokter itu. Tangan Elfa langsung terlepas seketika dan masuk dalam pelukan Juan Mahardika.


"Berani sekali kamu menyentuh tangan istriku!" Sambil memeluk Elfa kaki Juan Mahardika menendang telapak tangan dokter urologi itu dengan keras.


"Akak cukup, jangan ada masalah lagi, di Australia ada masalah. Jangan sampai di sini juga ada masalah!" Elfa mengeratkan pelukannya untuk meredamkan emosi sang suami.


"Juan, ajak El pergi dari sini biarkan dia hanya Abang yang akan mengurusnya!" perintah Alfian Alfarizi.


"Baik, Bang."


Juan Mahardika mengajak Elfa menjauhi pintu samping gedung. Mengusap tangan Elfa dengan tisu basah yang kebetulan ada di kantong jasnya, "Jangan sampai ada bekas dokter brengsek itu menempel di tangan El!"


"Akak ini, tidak harus segitunya lah."


"El tahu tidak, tidak seorang pun menyentuh milik Akak?"


Elfa tidak menjawab pertanyaan Juan Mahardika. Mata dan telinganya mendengar Alfian Alfarizi yang beberapa kali memukul Dokter Yohan Charnett. Ada teriakan Papi Alfarizi yang berteriak memanggil nama putranya.

__ADS_1


"Abang, cukup. Jangan membuat masalah!"


"Dia berani membuat masalah, Papi."


"Papi Tahu, Papi juga melihat kejadian itu secara langsung. Lebih baik bawa dia ke kantor security!"


"Untuk apa, Pi?"


"Kita bicarakan di sana, security bawa dia!" perintah Papi Alfarizi.


"Baik, Tuan." Dua secuurity mengawal dokter yang berdarah bibir kanan dan kiri itu ke kantor security.


Mereka beramai-ramai ke kantor security yang ada di lantai satu. Elfa terus memperhatikan apa yang dilakukan papi dan abang kandung. Sambil membiarkan Juan Mahardika yang membersihkan tangan Elfa yang tadi dipegang Dokter Yohan Charnett menggunakan tisu basah.


"Ayo kita ke kamar saja, akan Akak bersihkan sisa dari dokter brengsek itu!"


Ada satu lantai mall yang paling atas dibangun layaknya hotel. Untuk tempat beristirahat keluarga di saat lelah setelah bekerja dan enggan pulang. Seluruh keluarga memiliki kamar pribadi sendiri-sendiri.


Kamar Elfa dihias bak kamar hotel bintang lima khusus untuk pengantin baru. Hiasan kamar bak putri raja yang sedang menikahi pangeran kerajaan. Ditambah harum ruangan khas vanila kesukaan Elfa.


Elfa membuka pintu kamar dengan sidik jari saja. Belum sempat tertutup sempurna Juan Mahardika langsung mencium tangan yang tadi dipegang oleh Dokter Yohan Charnett, "AKak, sebentar El mau menutup pintu kamar!"


"Akak saja yang mentutup," jawab Juan Mahardika menutup pintu kamar dengan kaki dan mengunci dengan tangan kiri.


"Eee, Akak untuk apa polos begitu?"


"Akak sudah bilang akan menghilangkan bekas dokter brengsek itu!"


"Yang dipegang lengan, mengapa sekarang ingin beraksi?"


"Ini untuk menyempurnakan agar bekasnya hilang semua."


"Alasan ...!"


Elfa sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Bibir sudah diajak bergerilya dan menyusuri sampai detail tidak terlewat sedikit pun. Berpindah beraksi sampai satu jam berlalu dan mencapai puncak nirwana dan di atas negeri awan berdua.


Dengan tersenyum devil Juan Mahardika mendekap Elfa dengan mesra setelah keduanya melalui puncak asmara, "Sekarang sudah tidak ada bekasnya lagi."


"Alasan AKak saja itu, bilang saja ingin beraksi," jawab Elfa dengan suara manja.

__ADS_1


Juan Mahardika hanya tergelak sambil mencium kening Elfa berkali-kali. Rasa cemburu bisa disalurkan dengan beraksi. Emosi bisa langsung hilang seketika berubah menjadi semangat yang membara.


"Mengapa tadi sampai sendiri, ke mana dua sahabat El?'


"Tadi El minta tolong untuk mengambilkan buah dan es krim."


"Lain kali jangan minta tolong kepada siapapun, bilang Akak pasti langsung Akak ambilkan!"


"Iya, maaf."


"Ayo kita mandi dulu, sebentar lagi magrib. Setelah sholat nanti akan Akak persiapkan apa yang El mau!"


Juan Mahardika langsung menggendong bridal Elfa ke kamar mandi, "Kita mandi bersama saja, waktunya tinggal sedikit lagi azan!"


Mandi berdua baru pertama kali Elfa alami. Dari kemarin masih malu, kini harus dilakukan karena waktu sudah mepet menjelang azan. Ternyata saat membersihkan badan pun Elfa juga tidak melakukan apa-apa. Seperti anak kecil yang dimandikan ibunya. Elfa hanya tahu beres dan diam saja sudah bersih, mulai dari keramas dan yang lainnya termasuk sikat gigi.


"Sudah berniat mandi besar, 'kan?"


"Sudah."


"Ok sudah selesai, ayo kita keluar!" Juan Mahardika melilitkan handuk besar di badan Elfa dan handuk kecil untuk menutupi rambut yang basah.


"Sana duduk dulu, jangan melakukan apa-apa, Akak pakai baju koko dan sarung dulu!"


"Hhmm."


Sekarang Juan Mahardika sudah terbiasa menggunakan sarung dengan cepat. Memakai baju koko dan tidak lupa songkok untuk menyempurnakan penampilan. Mendekati Elfa sambil membawa pengering rambut.


"Sini Akak keringkan rambutnya sebentar!"


Tangan Juan Mahardika lihai bak Hairstylist profesional. Hanya dengan sekejap rambut Elfa kering dan rapi. Kemudian membantu berganti baju, "Kalau semua Akak yang mengerjakan El ngapain jadinya?"


"Dari awal Akak sudah bilang, Akak akan menghujani kebahagiaan untuk El. Oya mengapa tadi tidak El sleding aja itu dokter brengsek?"


"El memakai gaun pengantin tidak bisa bergerak bebas, dan juga El sengaja ingin melihat Akak cemburu?" jawab Elfa sambil tersenyum simpul.


"Eee El mulai nakal ya?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


Jangan lupa mampir di sebelah ya kakak. Insyaallah Up setiap hari juga lo, kisah si Ais dan Abel



__ADS_2