
Kris mulai bercerita dari pertemuan pertama saat sedang melakukan terapi dengan pasien depresi di rumah sakit. Saat itu Dokter Yohan Canett baru bekerja sebagai dokter di sana setelah di tolak oleh Alfian Afarizi. Sikapnya manis dan sangat sopan membuat sebagian karyawan wanita kesengsem padanya.
Mengetahui Kris adalah teman Elfa saat menghadiri acara pesta pernikahan Elfa dan Juan Mahardika. Dokter Yohan Carnett mulai sering mengajak berbincang saat bekerja di satu rumah sakit yang sama. Sering bertanya tentang Elfa dalam sela-sela perbincangan membahas pekerjaan.
Hanya Kris yang tidak tertarik pada dokter urologi itu walau dia sangat diidolakan oleh karyawan yang lain. Satu bulan berlalu sikap Kris tetap sama seperti pertama kali bertemu. Sampai Dokter Yohan Carnett di deportasi oleh Juan Mahardika ke negaranya.
Satu bulan setelah pulang ke Autralia, Dokter Yohan Carnett datang sebagai anggota pekerja sosial kumpulan dokter. Kembali bertemu di suatu acara pembagian makanan untuk anak yang mengalami gizi buruk yang ada di desa. Kris masih bersikap biasa dan terlihat cuek dengan dokter yang dibilang tampan oleh rekan kerja di rumah sakit.
Hanya bertemu satu kali di acara sosial, tiba-tiba dokter asli dari Autralia itu menemui Kris dalam suasana yang mencekam. Langsung menunjukkan vedio yang sangat membuat Kris syok. Tidak ada angin dan tidak ada hujan semua berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena vedio itu.
Kris hampir tidak bisa bercerita karena sangat sedih teringat vedio itu. Mulutnya seolah kelu, bibirnya hanya bisa dibuka, tetapi tidak satu patah kata pun bisa ke luar dari mulut. Bibirnya sampai bergetar dan air mata menganak sungai dan mengalir deras.
Elfa langsung mengambil air mineral yang ada di nakas meja kecil di samping tempat tidur, "Minum dulu, Kris!"
"Hhmm maaf!" Air mata dan air yang ke luar dari hidung sampai tidak bisa di bedakan.
Rena mengmbil tisu dan diberikan kepada Kris, "Ini usap ingusmu, jorok banget sih!" gerutu Rena sengaja agar sahabatnya bisa tersenyum walau sidikit.
"Iya maaf," jawab Kris sambil tersenyum tetapi juga menangis dan mengeluarkan air yang banyak dari hidung.
"Dasar jorok!" Elfa juga ikut emosi sambil tersenyum juga ikut mengusap air mata.
Suara ingus yang ke luar dari hidung Kris membuat ketiga sahabat itu tertawa sambil menangis. Kebersamaan yang sederhana membuat ketiganya semakin memahami dan saling mendukung. Ada rasa haru, kasihan, iba campur aduk menjadi satu pada ketiga sahabat yang baru saja bertemu.
"Sudah tenang sekarang?" tanya Elfa.
"Iya terima kasih, boleh Kris minta buah atau susu, bayi ini mulai berontak meminta kiriman makanan?" pinta Kris tanpa malu.
Rena langsung mengusap perut Kris, "Ya Allah, kamu lapar lagi ya, Nak?"
"Dia selalu lapar dan minta kiriman makanan apapun yang penting kenyang." Kris ikut mengusap perutnya sambil tersenyum, tetapi air mata masih mnggenang di mata.
"Tunggu, Elfa mintakan pada pramugari!"
__ADS_1
Yang datang tidak cuma dua pramugari yang membawa susu dan buah yang dipotong dadu. Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra juga ikut masuk ingin mengetahui keadaan tiga sahabat.
"Ini buah dan susunya, Nyonya." Ada dua piring buah yang bermacam-macam isinya. Yang satu piring untuk Elfa dan satu piring lagi untuk Kris.
"Terima kasih."
"Sama-sama, kami permisi."
Dua pramugari ke luar kamar, Juan Mahardika duduk di samping Elfa. Mengusap air mata yang masih ada di ujung mata Elfa, "El menangis lagi, ya?"
"Iya, maaf."
Asisten Dwi Saputra juga duduk di samping Rena, "Bagaimana keadaan Kris?" tanyanya sambil berbisik di telinga.
"Dia baru bercerita awal pertemuan dengan dokter gila itu," bisik Rena.
Kris menikmati buah segar dengan mata berbinar. Makan dengan cepat seolah tidak pernah makan selama satu minggu. Padahal belum ada dua jam dia menikmati satu porsi nasi, sayur bayam dengan lauk rendang daging dan segelas susu.
Piring yang dipegang Kris sudah kosong, sedangkan yang dipegang Juan Mahardika masih setengah. Mata Kris masih berbinar melihat buah segar itu seolah masih ingin menikmati. Hanya sayangnya, Kris tidak berani memintanya langsung karena suami Elfa yang memegang.
"Bayi Kris masih ingin makan buah lagi?" tanya Elfa.
"Hhmm," jawab Kris sambil menganggukkan kepala.
"Minum susunya dulu, Kris. Nanti Rey yang minta kepada pramugari lagi!"
"Iya." Susu ibu hamil rasa coklat langsung diminum oleh Kris tanpa sisa.
"Akak, kasihkan Kris saja buahnya. El sudah kenyang!"
"Baik, ini kalau Kriis mau."
"Benarkah, terima kasih." Bergegas Kris mengambil piring buah yang masih dipegang Juan Mahardika.
__ADS_1
Kris kembali menikmati setengah piring buah yang diambil dari tangan Juan Mahadika. Tanpa memperdulikan sekarang ini sedang diperhatikan oleh dua pasang suami istri sahabatnya sendiri. Yang penting perut terisi dan bayi yang ada dalam perut terpenuhi nutrisinya.
Ada suara kopilot yang mengabarkan bahwa waktunya untuk landing di bandara yang berada di Australia. Meminta semua untuk duduk dan dilarang untuk berjalan untuk sementara. Semua diperbolehkan bersiap-siap untuk turun dari pesawat setelah pesawat berhenti sempurna.
Elfa teringat belum mengetahui akan tinggal di mana setelah tiba di negara suami tercinta, "Akak, bagaimana dengan rumah yang akan kita tempati?"
"Beres, Sayang. Kita langsung ke rumah baru setelah dari bandara."
"Alhamddulillah, suami El memang is the best."
"Siapa dulu dong."
Elfa teringat saran Dokter Emy yang harus membawa Kris ke rumah sakit setelah pesawat landing dan ke luar dari bandara. Mengingat sekarang juga sedang berbadan dua, pasti bisa menebak sang suami tidak akan mengizinkan mondar-mandir dari rumah ke rumah sakit. Harus memiliki ide agar bisa mendengar cerita Kris terutama vedio yang belum di ceritakan.
Elfa tersenyum simpul setelah tahu sang suami bisa memenuhi permintaan membeli rumah dalam satu jam. Pasti akan bisa memenuhi satu lagi permintaan yang lebih kecil, "Akak, bagaimana keadaan rumah yang baru Akak beli?"
"Ada rumah utama, di belakang rumah panjang untuk para pegawai dan semua pegawai dari tuan yang lama masih menunggu kita, ada garasi besar di sebelah kanan rumah utama. Dan satu lagi ada rumah kosong di sebelah kiri yang dulu dipakai oleh pemilik rumah lama sebagai butik."
"Apakah boleh El minta satu permintaan lagi?"
"Tentu dong, Sayang, Everithing I do for yau."
"Tolong rumah yang kosong itu dibangun klinik pribadi, apakah bisa?"
"Tentu saja, Sayang. Ayo Dwi, kita bekerja lagi!"
Bersamaan Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra ke luar kamar. Pesawat landing di bandara, dan Kris selesai menikmati buah yang dipotong dadu. Elfa langsung duduk kembali di samping Kris, "Sekarang kirim vedio itu di ponsel El dan Rena sekarang, Kris!"
BERSAMBUNG
Ayo mampir di novel teman yang rekomen ini ya
__ADS_1