Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 76. Will You Merry Me?


__ADS_3

Elfa terpana melihat Juan Mahardika berjongkok menekuk kaki melamar waktu hampir tengah malam. Di pinggir sungai tengah sawah yang sangat sepi dan tenang. Hanya di saksikan oleh suara jangkrik dan riak air sunga yang mengalir.


Melihat wajah Juan Mahardika yang penuh harap. Janji, ucapan dan usaha serta perubahan sikap membuat Elfa mulai mempertimbangkan. Apalagi saat teringat permintaan dan harapan Papi Alfarizi dan Mami Mitha.


"El, please. Will you merry me?"


"Baik, El terima lamaran Akak dengan banyak syarat."


"Alhamdulillah, katakan apapun syaratnya akan Akak penuhi."


"Terutama jangan sekali-kali Akak memaksa tentang hal itu!"


Juan Mahardika mengerutkan keningnya berpikir karena tidak memahami yang dimaksud ucapan Elfa, "Maksudnya apa saja tentang hal itu?"


"Setelah kita menikah El tidak mau Akak memaksa seperti yang Akak lakukan dulu, El masih takut."


"Ya Allah ya Rob, ampunkan dosa hamba. Akak berjanji akan menunggu sampai El tidak takut lagi, tetapi Akak boleh usaha dong?"


"Lihat saja nanti."


"Akak tidak boleh cerita tentang trauma yang El alami kepada siapa pun, termasuk Mami, Papi dan Abang Al."


"Mulut Akak sudah terkunci."


"Ini terpenting, jangan Akak nilai sesuatu dengan uang, El tidak suka. Kalau Akak melakukan itu El akan menyita semua kekayaan Akak."


Juan Mahardika tersenyum dan menggelengkan kepala, "El tidak perlu menyita, semua milik Akak milik El juga. Kalau El mau akan Akak serahkan untuk mas kawin."


"Tidak mau."


"Apa lagi syaratnya?"


"El sudah mengantuk, besok lagi saja."


"Ok siap."


Saat Elfa masuk kamar tidak ada seorangpun yang masih terjaga. Juan Mahardika mengantar Elfa sampai depan pintu kamar. Awalnya ingin masuk kamarnya sendiri, tetapi karena bahagia mata tidak terasa mengantuk.

__ADS_1


Membuka ponsel dan melihat Asisten Dwi Saputra masih online. Bergegas mengirim pesan memerintahkan untuk datang ke kamar. Akan langsung berencana menyusun acara pernikahan dalam waktu minggu ini.


"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra setelah masuk kamar Juan Mahardika.


"Iya duduklah!"


"Ada apa, Tuan?"


"Dalam minggu ini saya akan menikah, tolong kamu urus segala sesuatu tentang akad nikah dan acara pesta!"


"Anda akan menikah di sini, Tuan?"


"Iya."


Juan Mahardika menceritakan sekilas tentang lamaran yang baru saja dilakukan. Perintah Papi Alfarizi dan Mami Mitha yang harus segera menikah dalam minggu ini. Permintaan Elfa yang harus bersabar tentang semua hal yang terjadi di masa lalu.


"Apa yang harus saya lakukan pertama kali, Tuan?"


"Persiapkan semua administrasi untuk menikah, Aku mau menghubungi Mom dan Dad dulu!"


"Siap, Tuan."


Juan Mahardika langsung meminta keluarga datang ke Ngawi sekarang juga. Bercerita akan menikah dalam waktu dekat. Bercerita calon istri adalah putri pengusaha terkenal keturunan Arab.


Jika dilihat dari perusahaan masih besar milik keluarga Mahardika. Namun, Daddy Hans Mahardika sangat mengenal pengusaha Papi Alfarizi. Langsung setuju dan akan berangkat besok siang bersama keluarga inti.


Mommy Vera dengan antusias akan mengurus perlengkapan untuk pernikahan putra sulung. Lengkap dengan cincin dan mas kawin yang akan digunakan untuk mas kawin nanti. Yang tidak dipersiapkan hanya baju pengantin karena Mommy Vera tahu jika calon besar adalah salah satu desainer ternama di Indonesia.


Pesawat akan mendarat di Bandara Internasional Adi Sumarmo Solo. Akan di jemput oleh Asisten Dwi Saputra menggunakan helikopter menuju Ngawi. Jika tidak ada halangan sore hari keluarga dari Australia tiba.


Setelah sholat subuh, Juan Mahardika bercerita kepada Papi Alfarizi berdua saja di mushola. Elfa sudah setuju untuk menikah dalam waktu minggu ini. Dan mengabarkan keluarga akan berangkat dari Australia siang hari ini.


"Apakah orang tua kamu setuju?"


"Sangat setuju, Pi. Mom mempersiapkan semua pagi ini termasuk mas kawin nanti."


"Kalau mas kawin sebaiknya kamu bicarakan sama El, putri Papi itu agak susah dan sangat teguh pendirian. Jangan sampai kamu salah sedikit saja!"

__ADS_1


"Kira-kira apa yang sesuai dengan keinginan El, PI. Emas, permata, rumah atau yang lain?"


"El tidak mungkin mau kamu kasih semua itu, El sudah punya semua."


Juan Mahardika termenung teringat tadi malam Mommy Vera membelikan cincin dan perhiasan khusus untuk calon menantu. Bahkan, Mommy membelikan perhiasan dalam jumlah yang fantastis. Dari dulu Mommy Vera selalu menganggap semua gadis menyukai perhiasan emas.


"Baik, nanti Juan tanya El mau mas kawin yang didinginkan."


"Bagaimana dengan Daddy kamu, Papi tahu Beliau berbeda keyakinan?"


"Daddy sangat setuju, Beliau sangat mengenal Papi Al."


"Betulkah?"


"Iya, Tadi malam Daddy bercerita sering membaca di majalah bisnis online tentang kiat bisnis Papi dan Abang Al."


Papi Alfarizi hanya tersenyum mendengar cerita Juan Mahardika. Sangat mengenal Hans Mahardika dan sepak-terjangnya dalam berbisnis, walaupun belum pernah sekali pun bertemu. Pengusaha yang terkenal tegas dan disegani oleh teman ataupun lawan bisnis.


Di kamar Elfa setelah solat subuh, Elfa dan Mami Mitha sedang berbincang serius tentang pernikahan. Elfa bercerita tadi malam telah menerima lamaran Juan Mahardika. Hanya sayangnnya ekspresi Elfa tidak mencerminkan kebahagiaan layaknya seorang gadis yang bahagia karena akan menikah.


"Mengapa menerima lamaran Nak Juan tetapi ekspresi wajah El seperti itu, Nak?"


"Dari kemarin sebenarnya El masih ragu, Mi."


"Apa alasan masih ragu dengan pemuda yang jelas-jelas mencintai dan selalu memuja El?"


"Banyak sekali, Mi. Terutama tentang masa lalu dia."


"Semua orang mempunyai masa lalu, tetapi sebaik-baik orang adalah yang mau berubah dan memperbaiki diri. Mami melihat Nak Juan seperti Papi dulu, awalnya Papi dulu juga termasuk orang yang kurang baik dalam bertindak. Dia berubah drastis saat mengajar cinta Mami."


"El masih takut suatu saat nanti dia berubah seperti dulu lagi."


"Semoga tidak, Nak. Yang terpenting El bisa mengajak dan selalu mengingatkan jalan kebaikan. Suksesnya seorang suami pasti karena peran istri yang mendukung."


"El menerima juga Kak Juan karena Papi dan Mami yakin tentang dia. Apa yang sebenarnya yang membuat Mami yakin dan meminta El harus menikah sekarang?"


"Dari banyak hal, Nak. Terutama dari cerita Pakde Sarto, kegigihan Nak Juan mengejar El ke sini. Dan juga dia selalu meminta izin kepada Mami dan Papi saat akan mendekati El."

__ADS_1


Sedang asyik berbincang, ada notifikasi suara pesan WA di ponsel Elfa dari Abang Alfian. Ada satu foto yang dikirim olehnya yaitu foto Dokter Yohan Charnett. Dokter itu sedang melamar pekerjaan menjadi dokter spesialis urologi di rumah sakit Alljuzeka.


"Waduh, jangan diterima, Bang?" teriak Elfa berbicara dengan ponselnya sendiri.


__ADS_2