
"Akak ini, nanti di dengar Dokter Emy malu dong," jawab Elfa sambil berbisik di telinga Juan Mahardika.
Sambil tersenyum dan melirik dokter yang duduk di samping istri tercinta, Juan Mahardika menggeser duduk lebih dekat. Memeluk pinggang dan mengusap pinggang bagian belakang, "Dia tidak dengar."
"Sudah selesai meeting hari ini?"
"Sudah, El mau ke Balikpapan sekarang atau besok pagi?"
Elfa mengerutkan keningnya, sudah tidak sabar ingin berkunjung ke Titik Nol IKN. Jika berangkat besok pagi pasti akan banyak membuang waktu dan membutuhkan istirahat. Harus registrasi juga karena akan tinggal di hotel bukan di apartemen seperti yang di Samarinda.
"Setelah senja saja kita berangkat, besok pagi El mau mengunjungi Titik No IKN biar tidak panas."
"Baiklah, sore ini El tidak ingin jalan-jalan di Samarinda?"
"El hanya ingin ke Islamic Center saja, menunaikan ibadah di sana sebelum berangkat ke Balikpapan."
"Ok siap, semua dipersiapkan segera."
Ada pegawai perusahaan yang bertugas mempersiapkan semua keperluan Elfa dan Juan Mahardika selama di Samarinda dan Balikpapan. Akan melakukan perjalanan lewat jalan tol menuju Balikpapan dengan diantar pegawai perusahaan. Pesawat pribadi sudah berada di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Spinggan Balikpapan.
Hampir menjelang magrib, Elfa dan Juan Mahardika serta tim dokter sudah berada di Masjid Islamic Center Samarinda. Masjid yang menjadi salah satu ikon Kota Samarinda, Kalimantan. Masjid termegah dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal Jakarta.
Masjid Islamic Center Samarinda posisinya berada tepat di tepi Sungai Mahakam. Masjid yang berdiri kokoh dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Masjid yang tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah, melainkan pusat peradaban dan wisata religi.
"Megah banget masjid ini ya, Akak."
"Iya tadi Akak baca di internet masjid ini perpaduan antara arsitektur Eropa, Timur Tengah dan Indonesia. Gaya arsitektur tersebut dapat dilihat dari kubah masjid yang mengadopsi model kubah dari Masjid Hagia Sophia Turki dan desain menaranya terinspirasi oleh menara Masjid Nabawi."
"El jadi teringat Almarhumah Oma Anna dan Opa Ali."
"Lebih baik kita masuk saja, sholat dan berdoa untuk beliau berdua!"
"Betul juga, ayo kita masuk!"
Elfa dan Juan Mahardika sekalian menunggu sampai isya baru keluar dari Masjid Islamis Center Samarinda. Keluar dari lingkungan masjid sengaja mencari makan malam yang ada di sekitar masjid. Ada yang sangat membuat Elfa penasaran tentang makanan khas yang ada di seberang masjid yaitu soto banjar.
"Akak El mau makan itu saja," kata Elfa sambil menunjuk sebuah restoran kecil dengan tulisan 'Soto Banjar Acil Misna'
"Ayo, Akak sangat suka kuah dari soto ini!"
__ADS_1
"Akak sudah pernah makan?"
"Sering, saat Akak ke sini sering makan soto banjar tetapi tidak pakai nasi."
"Jadi pakai apa dong?"
"Ada dua pilihan, Sayang. Bisa pakai nasi atau lontong."
"Akak tahu apa saja kondimennya dari soto banjar apa saja?"
"Tidak, nanti Akak tanyakan langsung pada Acil yang jualan."
"Apa itu Acil?"
"Acil itu artinat tante atau bibi."
"Ooo ...."
Sambil meracik Soto Banjar, wanita paruh baya yang dipanggil Acil Misna menerangkan tentang soto Banjar. Yaitu soto ayam berempah yang lahir di tengah masyarakat suku Banjar di Kalimantan. Bisa dibilang juga hidangan ini adalah salah satu masakan terpopuler dari Kalimantan.
Berbahan dasar ayam kampung, soto ini memiliki keunikan tersendiri. Yaitu bumbunya diperkaya dengan rempah-rempah biji pala, cengkih, dan kayu manis. Ada pula yang menambahkan beberapa butir kapulaga ke dalam air rebusan kuah soto yang semakin gurih berkat Kaldu Ayam.
Yang membuat soto ini semakin istimewa ada tambahan susu ke dalam kuah kaldu sehinga kuah soto nampak lebih keruh. Ada juga yang menambah telur ayam yang di kocok pada kuahnya. Sehingga cendering terlihat kuah berwarna putih seperti santan tetapi rasanya ringan dan tidak kental.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Juan Mahardika saat El baru saja mencicipi satu sendok kuah soto banjar.
"Rempahnya terasa banget, Kak. Terutama kapulaga dan kayu manis."
"El suka?"
"Suka, Akak tidak pakai nasi atau lontong?"
"Tidak, Akak suka sotonya saja, biasanya Akak habis dua mangkok. El juga mau Akak pesankan dua mangkuk?"
"El satu mangkuk saja pakai lontong sudah kenyang."
Sekitar pukul sepuluh malam baru tiba di hotel bintang lima Balikpapan yang ada di pinggir pantai. Langsung beristirahat di kamar agar esok bisa fit untuk mengunjungi wisata yang diinginkan. Sebelum tidur Elfa melakukan rutinitas seperti biasa membersihkan wajah dan memakai krim malam.
"Ayo sini, Sayang. Jangan lama-lama di depan kaca!" Juan Maharika menepuk tempat tidur yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Kalau Akak mengantuk tidur saja dulu, El belum mengantuk."
"Akat juga belum mengantuk, cepat sini!"
"Akak mau ngapain?"
Sambil tesenyum simpul, Juan Mahardika tidak menjawab pertanyaan Elfa. Hanya melambaikan tangan untuk cepat datang dan bebaring di samping. Teringat pembicaraan Dokter Emy Hartanti tadi sore dan ingin memeriksa sendiri.
"Mengapa Akak tersenyum sendiri begitu?"
"Nanti El juga tahu, ayo cepatlah, Akak sudah tidak sabar lagi!"
Dengan ragu Elfa mendekati suami yang sudah berbaring di tempat tidur. Hanya bisa menebak pasti akan modus seperti biasa sebelum tidur. Sudah menjadi kebiasaan yang jarang ditinggal sejak bisa beraksi dan hilang trauma istri.
"Akak ingin melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh Dokter Emy ada tidak pada puncak milik El?"
"Eeee ...?" Elfa menyilangkan kedua tangan di dada.
"Ayolah, Akak penasaran!"
"Tidak perlu diperiksa segala, Akak."
"Harus dong, Sayang. Akak harus yang tahu pertama kali kalau ciri-ciri itu ada."
"Hanya lihat saja ya, jangan modus?"
"Akak tidak janji, sini Akak buka sendiri!"
Satu persatu buah baju dilepaskan perlahan dan El masih duduk di pinggir tempat tidur. Memperhatikan dengan seksama salah satu puncak yang sudah terlihat nyata. Teringat perkataan dokter yang warnanya lebih merah, "Warnanya tidak merah kok, Sayang."
"Betulkah?" Elfa ikut memperhatikan sekilas.
"Coba Akak periksa apakah lebih kencang?" Juan Mahardika hanya menusuk perlahan gundukan itu dengan jari telunjuk.
"Iiih Akak, jangan ditusuk begitu!"
"Apakah rasaanya nyeri?"
"Tidak, tetapi jadi ...?" Elfa tidak melanjutkan ucapannya dengan menutup mulutnya.
__ADS_1
Juan Mahardika mendongak melihat wajah Elfa yang menutup mulut dan wajah yang memerah karena malu, "Jadi apa?"
Elfa menggelengkan kepala ingin menutupi satu gundukan yang terlihat nyata. Dengan cepat Juan Mahardika menahan tangan Elfa, "Jangan di tutup dong, Sayang. Akak tahu El pingin apa?"