
Dengan kesibukan Elfa tentang sesis S2 tidak ada waktu memikirkan hal yang sering dibicarakan Sheilla Jannes. Gadis sahabatnya itu sudah tidak berniat datang padahal sudah mendekati diadakannya kuliah mata pelajaran khusus oleh dosen tamu, dia masih patah hati. Seolah tidak rela mendengar kabar jika Juan Mahardika sudah bertunangan.
Sebagian mahasiswi banyak yang tidak perduli dengan isu pertunangan itu. Juan Mahardika juga tidak pernah menanggapi pertanyaan wartawan atau infotaiment tentang pertunangan dan persoalan pribadi. CEO MAHARDIKA CORP itu hanya menjawab no comment saat ditanya soal pribadi terutama tentang pertunangan.
Bersamaan dengan Juan Mahardika menjadi dosen tamu di kampus tempat Elfa kuliah. Bertemapatan juga Elfa selesai mengerjakan tesisnya. Tinggal menunggu kelulusan dan wisuda saja, tidak ada kegiatan lagi tentang perkulaiahan.
Hari ini juga Elfa mengundurkan diri dari rumah sakit yang selama ini tempat dia menyalurkan ilmunya. Elfa langsung diperintahkan berangkat ke Riyadh dengan dijemput langsung menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Alfarizi Zulkarnain tanpa diberi tahu ada apa di sana. Bersama mobil kesayangan dan Bibi Suti juga ikut ke tanah kelahiran dari ayah kandung Papi Alfarizi.
Saat Juan Mahardika sedang mengisi mata kuliah di kelas. Asisten Dwi Saputra sedang berada di kantor dekan. Meminta data mahasiswa yang sedang mengikuti kuliah Juan Mahardika.
Dengan sengaja Asisten Dwi Saputra memindahkan nama semua mahasiswa yang ada di universitas itu. Ada ribuan mahasiswa dari berbagai jurusan baik yang menempuh jenjang S1, S2, S3 dan Paska Sarjana. Ada juga yang sedang cuti kuliah dua tahun terakhir juga diambil datanya oleh Asisten Dwi Saputra.
Yang pertama di pisahakan adalah mahasiswa laki-laki langsung dieliminasi tanpa diperiksa. Yang kedua adalah mahasiswi yang berasal dari seluruh luar Indonesia. Yang terakhir adalah mahasiswi yang berasal atau keturunan Indonesia.
Hanya dari keturunan dan berasal dari Indonesia masih ada ratusan jumlahnya. Asisten Dwio Saputra masih bingung cara memisahkan. Langsung membuka catatan yang didapat dari keterangan satu tahun yang lalu di sekitar villa.
"Mencari data nama mahasisiwi yang ada unsur nama El nya," monolog Asisten Dwi Saputra dengan lirih sambil menggeser mouse laptop.
"Ya Allah masih ada seratus lebih, apa lagi ya?" Kembali Asisten Dwi Saputra bertanya pada diri sendiri.
Melihat satu persatu nama dan alamat mereka, tidak ada yang sesuai kabar yang didapat dulu saat menyelidiki di sekitar villa, "Coba aku pisahkan mahasiswi yang berasal dari pulau jawa."
Tinggal kurang dari seratus setelah dipisah asal mereka. Kembali Asisten Dwi Saputra memisahkan mereka yang berasal dari Jawa Timur. Padahal saat memisahkan dari pulau jawa ada nama El berada dalam deretan itu.
Bahkan sempat Asisten Dwi Saputra membaca nama lengkapnya dengan lirih, "Ini namanya Elfamitha Alfarizi Zulkarnain, dia keturunan Arab dan suku Sunda. Berarti bukan dia yang aku cari kelahiran dari Ngawi Jawa timur."
__ADS_1
Sampai terakhir penyelidikan ada dua mahasiswi yang berasal dari Ngawi. Yang pertama kelahiran asli Ngawi dan yang satu lagi beralamat di Ngawi.
Nama keduanya kebetulan ada kata El nya. Yang pertama adalah Eliyana dan Maya Beliyani. Hanya sayangnya Asisten Dwi Saputra tidak mengambil sekalian foto mereka, hanya biodata dan alamat lengkap saja.
Satu jam berlalu tanpa terasa Asisten Dwi Saputra menyelidiki semua data mahasiswa. Bersamaan Juan Mahardika selesai memberikan materi kuliah pada fakultas bisnis elektronik dan informatika. Masuk ruang dekan didampingi oleh salah satu dosen.
"Apakah kamu dapat data yang sesuai dengan penyelidikan kemarin?" tanya Juan Mahardika berbisik di telinga asistennya saat dia duduk di sampingnya.
"Ini silahkan Anda lihat sendiri, Tuan!"
Dengan bergegas Juan Mahardika melihat dan membaca dengan teliti yang ada di layar laptop, "Mana fotonya?" tanya Juan Mahardika sambil berbisik.
"Tunggu sebentar, Tuan."
Asisten Dwi Saputra mengambil laptop lagi dan kembali menggerakkan mouse dengan teliti. Kembali mengambil data milik kampus yang masih dibebaskan oleh bagian administrasi. Hanya sayangnya Asisten Dwi Saputra langsung mengambil foto dua orang yang dicurigai tadi.
Mata Juan Mahardika sampai melotot memandangi dua foto itu. Tidak ada miripnya sama sekali kedua foto itu dengan gadis pimpinan pejuang gadis yang bernama El itu. Yang satu berbadan gemuk dan berhijab serta yang satu lagi kurus dengan rambut keriting.
"Dwi, coba lihat sini, kamu perhatikan foto dua gadis nya!"
"Ada apa, Tuan?"
"Tidak ada yang mirip sama sekali dua-duanya."
"Betulkah?"
__ADS_1
Asisten Dwi Saputra membuka ponsel dan mencari di galeri foto pejuang gadis yang bernama El. Dimasukkan foto melalui kabel data dan di sandingkan dengan dua foto yang baru saja didapat. Langsung ikut memperhatikan satu persatu dari tiga foto tanpa berkedip.
"Iya tidak ada yang sama diantara ketiganya."
Dengan mengambil napas panjang Juan Mahardika bersandar di sofa yang di duduki. Rasanya sia-sia usahanya selama ini mencari gadis itu. Kembali putus asa terpancar di wajah Juan Mahardika.
"Sabar dulu, Tuan. Jangan putus asa dulu, saya baru menyelidiki mahasiswa di kampus ini."
Kembali Juan Mahardika bersemangat saat mendengar perkataan asistennya. Di universitas tidak hanya ada mahasiswa. Ada juga dosen, dekan wakilnya. Pegawai mulai dari administrasi dan yang lain.
"Maksud kamu masih ada kemungkinan gadis itu pegawai atau dosen di sini?"
"Benar sekali, Tuan. Bersabarlah."
"Bagaimana cara kita melihat semua data yang ada di universitas ini?"
"Silahkan Anda berkeliling di kampus ini, terserah dengan alasan apapun, berikan saya waktu satu jam lagi untuk menyelidiki!"
"Baiklah."
Juan Mahardika berbincang dengan dekan dengan akrab. Berbincang tentang banyak hal baik bisnis, pengalaman ataupun tentang cerita zaman kuliah dulu. Setelah basa-basi sebentar, meminta izin berkeliling kampus agar lebih mengenal area kampus.
Dengan senang hati para dekan dan dosen menemani Juan Mahardika berkeliling setiap ke fakultas yang ada. Sambil berbincang dengan akrab. Sesekali sengaja berbincang dengan mahasiswa yang sedang bertemu atau berpapasan.
Tidak lupa Juan Mahardika memasuki fakultas tempat Elfa belajar. Hanya sayangnya kampus yang ditempati Elfa kosong tanpa ada mahasiswa. Karena semua mahasiswa sudah selesai melakukan tesis mereka.
__ADS_1
Saat memasuki kelas, ada desiran hati yang tidak bisa dikatakan dengan ucapan. Seolah hati terpaut di kelas apalagi Juan Mahardika berdiri di dalam kelas. Hanya sayangnya lagi-lagi Juan Mahardika tidak bisa mengetahui apa yang terjadi.
Juan Mahardika hanya berbicara dalam hati, 'Ada apa hati ini seolah terpaut di sini, mengapa setiap ada hal yang aneh aku tidak bisa menemukan jawabannya?'