Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 169. Perbedaan Identitas


__ADS_3

Kris menangis bukan karena sedih dan kecewa. Kris menangis bersyukur karena bisa terlepas dari ayah dari putra yang dikandung. Tangan bergetar karena seolah tidak percaya bisa semudah itu suami Elfa menyelesaikan masalah.


"Terima kasih, El. Terima kasih, Rey." Kris memeluk Elfa dan Rena bersamaan dengan linangan air mata bahagia.


"Sama-sama, mulai sekarang jangan sekali pun Kris menyembunyikan persoalan pada El."


"Iya, maafkan Kris."


"Jika terjadi sesuatu cepat kabari Rey!"


"Iya, Kris berjanji tidak akan ada rahasia diantara kita."


Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra datang bertepatan saat tiga sahabat berpelukan. Ada perasaan lega di hati suami Elfa karena sebagian besar masalah Kris bisa diatasi. Melihat tiga sahabat yang terlihat tersenyum sumringah walau ada air mata menggenang di pelupuk mata.


"Kris tunggu dulu!' Asisten Dwi Saputra memanggil tetapi mata tertuju pada ponsel miliknya.


"Ada apa, Aa Dwi?" tanya Rena dan Kris bersamaan.


"Jangan senang dulu, Kris harus waspada karena persoalan belum selesai dengan tuntas."


"Maksudnya bagaimana, Aa?" tanya Rena dengan khawatir.


"Itu Aa kirim bukti jika belum selesai pesoalan Kris." Asisten Dwi Saputra mengirim dokumen melalui pesan WA di ponsel Rena dan Kris.


"Kirm juga ke ponsel El, Asisten Dwi!"


"Siap, sudah saya kirim ke Anda dan Tuan Juan juga."


Masih ada satu lagi yang diajukan oleh pihak Dokter Yohan Cernett sebagai tergugat. Dengan terpaksa dokter urologi itu menerima perceraian yang diajukan oleh pengacara. Bukti yang kuat membuat pengacara dan dokter itu tidak berkutik.


Pengacara tergugat mengajukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi tentang keturunan yang belum lahir. Mereka mengajukan jika yang lahir bayi laki-laki akan mengajukan hak asuh. Jika yang lahir perempuan akan menyerahkan hak asuh kepada pihak penggugat.


Dari pihak tergugat meminta alamat dan rencana mantan istri akan melahirkan. Meminta bukti USG bayi yang dikandung laki-laki atau perempuan. Berjanji akan membiayai saat hamil sampai melahirkan.


Dulu saat pertama kali mengetahui akan memiliki keturunan menolak. Berusaha ingin menggugurkan dengan berbagai cara. Namun, setelah ada kasus perceraian ingin mengasuh jika bayinya laki-laki.


Setelah Kris membaca laporan itu, kaki Kris seolah lemas tak bertulang. Hanya merasakan kelegaan sesaat saja dirasakan dalam hati. Ada lagi persoalan yang harus dihadapi.

__ADS_1


"Apakah dokter durjana itu tidak tahu kalau bayi Kris laki-laki?" tanya Rena setelah selesai membaca laporan.


Kris menggelengkan kepalanya dan bercerita. Teringat saat dua kali melakukan USG ketika masih bersama rombongan dokter. Yang pertama dilakukan di Surabaya dan yang ke dua dilakukan di Bali.


Yang pertama saat itu bayi sedang membelakangi perut. Berkali-kali dokter kandungan ingin melihat, tetapi tidak terlihat sama sekali hanya punggung saja yang terlihat. Akhirnya dokter menyarankan untuk USG lagi di bulan berikutnya.


Yang kedua USG Kris diantar oleh istri dokter. Saat itu dokter Yohan Carnett sedang bertugas di pelosok desa. Kris mengetahui bahwa bayinya adalah laki-laki, tetapi sengaja tidak diberitahukan kepada suami rahasia.


Waktu itu hasil USG tanpa sengaja hilang saat perjalanan dari rumah sakit menuju villa yang disewa. Kris memberikan alasan bayi tetap tidak bisa dilihat karena posisinya sama seperti bulan lalu. Saat ditanya alasan mengapa masih sama, jawaban Kris sangat aneh tetapi membuat dokter itu tidak bertanya lagi.


Waktu itu Kris menjawab jika bayi yang ada dalam kandungan sedang demo. Marah kepada ayah yang selalu memukuli punggung sang ibu. Sengaja punggung yang ditunjukkan agar ayahnya tidak lagi memukuli ibu bayi.


"Jadi bagaimana ini, Akak?" tanya Elfa setelah selesai mendengar cerita Kris.


"Tenang saja, Akak sudah mengatasi sementara masalah itu?"


"Maksudnya bagaimana, Akak?"


"Tuntutan dari tergugat tetap tidak bisa kita hindari, setidaknya pengacara harus tetap bekerja sampai waktu yang ditentukan tiba."


"Benar, hukum akan dilanjutkan setelah Kris melahirkan."


Elfa sangat khawatir karena bayi yang akan dilahirkan Kris laki-laki. Teringat dulu katanya dokter itu tidak menginginkan bayinya. Namun, Sekarang memperkarakan jika yang akan lahir laki-laki.


"Apakah ada solusi terbaik, Akak?"


"Ada solusinya tenang aja, El jangan khawatir."


"Apa itu?" tanya tiga sahabat bersamaan.


"Gampang, ini solusi terbaik untuk sementara!" Juan Mahardika memberikan empat buku paspor dan empat identitas baru untuk keluarga Kris.


Elfa yang menerima empat buku itu dari tangan Juan Mahardika. Identitas baru Kris dan keluarga baik dari nama belakang dan alamat tempat tinggal. Nama depan sama seperti semula, tetapi nama ayah mereka yang tidak digunakan.


Prayuda adalah nama kandung ayah durjana Kris. Dengan sengaja Juan Mahardika mengganti nama Prayuda menjadi nama kakek dari ibu kandung Kris. Nama kakek Kris bernama Bambang Hernama.


Jadi dari Krisnawati Prayuda menjadi Krisnawati Hernama. Rama dan Trias juga ditambah Hernama. Hanya nama ibu saja yang ditambahkan nama depan menjadi Suki Hernama.

__ADS_1


"Apakah ini aman, AKak?"


"Dwi yang akan menjelaskan tentang itu," jawab Juan Mahardikan.


"Sangat aman, identitas itu resmi dan asli dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia."


Identitas kependudukan resmi dibuat oleh catatan sipil. Mulai dari desa pindah ke Bandung dilakukan oleh pengacara. Pergantian nama dan alamat dilakukan sepengetahuan dari pihak yang terkait.


Paspor juga didapat dari pihak yang berwenang. Bahkan, anak buah Asisten Dwi Saputra harus mempekerjakan banyak orang agar semua identitas baru itu selesai dengan cepat. Ditambah dengan dukungan tegnologi semua lancar dan mudah dilakukan.


"Jadi maksud Akak, Kris tidak akan bisa ditemukan oleh mantan brengsek itu?"


"Betul sekali, Sayang. Walau suatu saat nanti dokter itu bertemu Kris dia tidak bisa menuntut karena perbedaan identitas."


"Ooo, bagus kalau begitu," jawab Elfa merasa lega.


Ada satu kelemahan dalam solusi yang dilakukan oleh Juan Maharidika dan Asisiten Dwi Saputra. Pepatah mengatakan darah memang lebih kental dari air. Pasti wajah bayi akan sangat mirip dengan orang tua baik sifat atau pun bentuk raut wajah.


Apalagi jika tergugat menggunakan tes darah. Bisa dibuktikan dengan ilmu kedokteran jika suatu saat nanti mereka mengalami kekalahan dalam sidang.


"Berarti jika Kris ke Eropa kemungkinan kecil dokter itu bisa menemukan Kris?" tanya Elfa lagi.


"Benar sekali, Sayang. Tetap ada kelemahan rencana yang Akak buat ini. Ingat kesempurnaan hanya milik Allah."


"Iya kalau itu El tahu, manusia pasti tempat salah dan dosa. Kita hanya bisa berencana agar hal yang buruk bisa kita hindari."


"Apa kelemahan dari rencana itu?" tanya Kris.


"Pengacara dari tergugat bisa menuntut jika dia memakai bukti tes DNA walau identitas berbeda," jawab Asisten Dwi Saputra.


"Waduh ...!" teriak tiga sahabat bersamaan.


BERSAMBUNG


yok mampir di novel teman yang rekomen ini


__ADS_1


__ADS_2