Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 92. Berkunjung ke Makam


__ADS_3

Elfa mengerucutkan bibirnya mendengar permintaan Juan Mahardika. Dari kemarin masih takut dan terbayang dipelupuk mata masa lalu yang menyakitkan hati. Berusaha untuk melupakan dan membayangkan hal yang ditakutkan menjadi indah, tetapi belum juga berhasil.


"El bukan makanan, kalau tentang itu jangan memaksa!"


"Akak tidak memaksa, Sayang jangan takut. Akak hanya tanya kalau boleh ya Alhamdulillah, tetapi kalau masih takut ya berusaha," kata Juan Mahardika langsung menarik Elfa dalam pelukan.


Badan Elfa langsung terasa dingin, tetapi tidak berkeringat. Menunjukkan sudah ada perubahan dan kemajuan walau hanya sedikit. Tinggal berusaha lebih keras, mungkin dalam waktu dekat bisa menikmati indahnya beraksi berdua.


"Maaf, apakah bisa minta waktu lagi, Kak?"


"Tentu saja, Sayang. Akak akan menunggu sampai itu terjadi."


"Terima kasih atas pengertian Akak."


"Everiting for you, Garwoku."


"Ayo kita makan betulan!"


"Ayo ikut El ke bar sebelah sana!" Elfa menggandeng tangan Juan Mahardika.


Yang digandeng tersenyum simpul sambil mengikuti langkah sang istri tercinta. Hati berbunga-bunga padahal hanya digandeng saja terlihat sangat romantis. Pasalnya baru kali ini Elfa dengan sengaja menggandeng tangan kekar sang suami.


"Akak duduk sini!" perintah Elfa sampai di bar mini yang ada di kabin paling belakang.


"Terima kasih." Juan Mahardika duduk di kursi tinggi khas bar yang berjajar rapi.


"Ada menu steak daging, steak ayam, spagetti dan sop krim, Akak pilih yang mana?"


"Steak ayam saja."


"Karbo nya mau apa?"


"Ada apa saja?"


"Nasi, roti, mash potato dan pure nasi."


"Roti saja."


Dengan cepat Elfa menyajikan pesanan Juan Mahardika, roti hanya di panggang dengan microwave. Steak ayam dan kondimen seperti wortel dan buncis yang di steam.


"ini silakan!" Dua piring tersaji di depan Juan Mahardika.


"Alhamdulillah, terima kasih ini pasti rasanya istimewa karena yang membuat juga sangat istimewa."

__ADS_1


"Makan aja tidak perlu ngegombal segala."


Menu yang diambil hanya dua piring untuk Juan Mahardika saja. Elfa tidak mengambil menu makanan untuk dirinya sendiri. Sehingga Juan tidak jadi menikmati menu yang di ada di meja.


"El tidak makan?"


"Tidak, El tidak lapar. Akak makan aja, El ambilkan minum!"


Elfa mengambil minum es teh, Juan Hahardika tidak juga mulai makan. Memilih menunggu sampai Elfa datang membawa es teh. Sampai datang pun menu makan itu masih utuh dan tidak tersentuh sedikit pun.


"Kok belum dimakan sih?"


"Akak nunggu El, ayo buka mulutnya suapan yang pertama untuk El saja!" Juan Mahardika memotong steak ayam dan sepotong roti dijadikan satu.


"Akak aja yang makan!"


"Kalau El tidak makan, Akak tidak jadi makan, ayo buka mulutnya!"


Dengan terpaksa Elfa membuka mulut dan makan dari tangan Juan Mahardika. Secara bergantian suapan demi suapan masuk sampai habis menu makan yang ada di piring. Satu gelas es teh pun juga diminum satu gelas berdua.


"Lebih nikmat, 'kan?"


"Akak tidak apa-apa makan bekas El?"


Karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Riyadh. Elfa, Juan Mahardika dan Abi Ali tiba sampai rumah Abi Ali menjelang subuh. Hanya beristirahat selama dua jam, Elfa langsung berangkat ke pemakaman Almarhumah Umi Anna.


Di makam inilah biasanya Elfa membagi kegelisahan hati yang tidak pernah dibagikan kepada siapa pun. Hanya dengan Almarhumah Umi Anna Elfa bisa terbuka, hanya sayangnya belum sempat bercerita tentang peristiwa masa lalu beliau sudah pergi untuk selamanya.


Elfa duduk bersimpuh di makam, membersihkan dan mencabut rumput yang tumbuh liar di atas makam. Mengucapkan salam dan berdoa sejenak. Juan Maharika juga ikut apa yang dilakukan oleh Elfa berdoa dengan khusuk.


"Oma, perkenalkan dia suami El, dia juga yang menghancurkan El dulu," kata Elfa setelah selesai berdoa.


Juan Mahardika kaget dan menengok ke wajah Elfa. Tidak menyangka jika Elfa hanya bercerita tentang masalahnya di makam. Bercerita tentang masa lalu kepada orang yang sudah meninggal dunia.


"Maaf, Oma. Perkenalkan saya Juan, saya memang yang menyakiti cucu kesayangan oma ini, tetapi Juan sudah mendapatkan hukuman, sekarang Juan sangat mencintai cucu Oma. Mohon doa restunya."


"El berharap yang berlalu bisa di tukar menjadi kebahagiaan, El sekarang masih menata hati. Mohon doa restu Oma!"


Badan Juan Maharika mendekati Elfa, "Jadi selama ini El hanya curhat kepada Oma di sini saja?"


"Iya, hanya pada Oma Anna saja, El mencurahkan semua isi hati El. Oma Anna juga tahu semua masa lalu Akak."


"El cerita semua di sini?"

__ADS_1


"El hanya bisa cerita di sini saja, tidak berani cerita sama mami atau Abang Al."


Juan Mahardika mengangguk dan termenung teringat saat dihajar habis-habisan oleh Alfian Alfarizi. Baru mendengar ada yang merebutkan adiknya saja sudah babak belur. Apa jadinya jika abang ipar itu tahu pernah mengambil hal yang paling berharga dari adik tercinta.


"Maafkan Juan di masa lalu, Oma. Mulai sekarang El tidak akan bersedih lagi dan tidak akan menderita lagi. El hanya akan mendapatkan kebahagiaan dan perhatian dari Juan."


Elfa banyak cerita di depan makam Almarhumah Umi Anna. Terkadang tersenyum dan tertawa, tetapi terkadang sambil meneteskan air mata. Dengan setia Juan Mahardika menunggu dan sesekali memberikan perhatian lebih dengan mengusap air mata atau mengusap keringatnya.


Setelah satu jam berlalu, Elfa mengusap batu nisan yang berada di atas makam, "El dan Akak JM pamit dulu ya, Oma. Insyaallah El besok kesini lagi."


"Juan juga pamit, Oma."


Dalam perjalanan pulang sambil menyetir mobil, Juan Mahardika berkali-kali mengusap pipi Elfa, "El sangat dekat ya sama Almarhumah Oma Anna?"


"Iya, selain Almahumah Nenek Ani, El hanya bercerita di sini."


"Siapa Almarhumah Nenek Ani itu, Sayang?"


"Almarhumah Nenek adi adalah ibu tiri dari Pakde Sarto."


"Ooo, tetapi tunggu dulu, Mami Mitha itu asli suku Sunda. Mengapa mempunyai keluarga dari Ngawi?"


Elfa bercerita pertemuan pertama dengan Almarhumah Ibu Ani dengan Mami Mitha. Dulu Papi Alfarizi juga pernah mengejar Mami Mitha ke Ngawi. Sama seperti yang di lakukan Juan Mahardika kemarin.


"Berarti Papi kemarin memerintahkan Juan untuk segera menikah itu karena itu?"


"Iya, kata mami, mereka seolah melihat masa lalu mereka saat melihat perjuangan Akak."


"Alamdulillah, betapa syukukurnya Akak saat ini. Terima kasih ya Allah karena hamba dipertemukan dengan gadis yang sangat baik, sangat cantik dan sangat hamba cintai. Mohon restui kami ya Allah."


"Aamiin."


"Sayang, apakah boleh Akak meminta satu permintaan?"


"Permintaan apa sih, El tidak mau di paksa tentang hal itu. El masih berusaha?"


"Bukan tentang hal itu kok, Sayang. Ini mudah saja dilakukan oleh El."


"Bisa dilakukan sambil dalam perjalanan kita ini?"


"Bisa banget."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Please, say to me, you love me!"


__ADS_2