Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 161. Teman Saja Dulu


__ADS_3

Elfa langsung memandang penampilan Kris yang terlihat berbeda dari biasanya. Menduga hati dan pikirannnya mulai teringat masa lalu yang dulu dikejar oleh Henry Alexander, "Kris tahu siapa yang memposting ini?"


"Tahu, dia itu Henry Alexander."


"Berarti Kris berdandan karena ini?" tanya Rena.


"Ya tidak lah, Kris lagi pingin dandan saja. Tidak mungkin Henry mau sama Kris sekarang ini, coba lihat perut Kris sudah segede gentong."


Elfa dan Rena tergelak melihat Kris yang menepuk perut buncitnya perlahan. Baru saja berniat ingin mempertemukan dengan sahabat yang dulu menyukai. Kris seolah sudah memberikan jawaban jika tidak mungkin akan ada hubungan karena sekarang sedang hamil besar.


Sementara Elfa dan Rena menata meja dan di bantu oleh Kris sambil berbincang mengenang masa lalu. Ternyata di balik tangga menuju lantai atas ada Juan Mahardika, Asisten Dwi Saputra, dan Henry Alexander yang mendengar dan mengintip tiga sahabat sedang berbincang.


Tanpa diketahui oleh Elfa dan Rena, Henry Alexander sudah datang satu jam yang lalu. Laki-laki teman kuliah tiga sahabat itu datang sendirian dan lebih cepat karena sang Mama tidak bisa ikut serta. Mama dari Henry Alexander ada reuni bersama teman zaman remaja dulu yang tinggal di Australia.


Karena makan malam belum siap, Juan Mahardika mengajak Henry Alexander ke kantor pribadi. Satu jam Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra bercerita sekilas tentang nasib Kris yang malang. Cerita yang baru setengah dan belum terungkap semua.


Karena Henry Alexander tidak memiliki nomor ponsel Kris. Dengan sengaja Henry Alexander mencoba untuk berhubungan dengan Kris melalui media sosial. Ingin mengetahui reaksi wanita yang dulu disukai dan tidak bisa move on sampai sekarang.


"Dia pesimis sekali, Henry. Mungkin karena dia masih berstatus istri orang," bisik Juan Mahardika sambil melihat ruang makan yang sudah hampir selesai dipersiapkan.


"Benar sekali, Tuan. Saya ingin menjadi teman dia saja dulu."


"Baiklah, ayo kita ke luar saja untuk bertemu mereka!" ajak Juan Mahardika.


"Ok, kita pura-pura dari pintu utama saja, Tuan." Asisten Dwi Saputra ke luar terlebih dahulu dari balik tangga.


Bertiga langsung berjalan sambil berbincang dan masuk ruang tamu, "Assalamualaikum," ucap Juan Mahardika dan Aisten Dwi Saputra.


"Good night, Guys," sapa Henry Alexander sambil melambaikan tangan.


Setelah menjawab salam, yang paling terpana adalah Kris melihat ada laki-laki yang dulu pernah mengejar cintanya. Mulut Kris sampai terbuka menganga tanpa disadari. Tidak memperdulikan Elfa dan Rena yang tersenyum sambil melambaikan tangan pada Henry Alexander.


"Hai Kris, apa kabar?" Henry langsung mendekati Kris sambil mengulurkan tangan.


Kris masih terpaku, dengan terpaksa Elfa dan Rena mencium pipi Kris kiki dan kanan. Baru Kris tersentak kaget dan mengusap pipinya, "Bikin kaget saja," bisik Kris.


"Itu lo dia mengulurkan tangan cepat di sambut!" perintah Rena.

__ADS_1


"Kris baik, Alhamdulillah. Silahkan duduk!" Kris menarik kursi untuk Henry Alexander duduk.


"Kebalik dodol, seharusnya Henry yang menarik kursi untuk Kris," kata Elfa sambil memukul pundak Kris perlahan.


"Eeee betul juga, kok Kris jadi eror."


"Ciee salah tingkah ya?" goda Rena.


"Sudah bercandanya, ayo makan dulu!" perintah Juan Mahardika.


Henry Alexander menikmati menu yang disajikan dengan lahap. Menu istimewa kenangan masa lalu yang sering dibelinya untuk Kris. Walau saat itu yang sering menikmati bukan Kris, tetapi yang kenyang Elfa dan Rena.


Stim Ikan Barramundi yang di santap dengan nasi putih hangat. Rasanya sangat lezat dan gurih walau bumbunya hanya sederhana saja. Perpaduan antara bawang bombai yang diiris memanjang di tambah bawang putih cincang ditambah jahe juga diiris memanjang.


Biasanya orang asli Australia makan ikan barramundi dengan roti tawar sebagai karbohidratnya. Ditambah dengan salad sayuran akan semakin nikmat rasanya. Namun, dulu Rena sering mengganti salad dengan urap yang dibuatnya sendiri,


Elfa dan Rena makan sambil tersenyum sesekali saling pandang. Melirik Kris yang makan sambil menunduk tidak berani melihat Henry Alexander. Padahal, Hendry sesekali melirik Kris yang terdiam sambil menikmati ikan yang sangat terkenal di Auatralia itu.


"Sayang, mengapa makan sambil tersenyum begitu?" tanya Juan Mahardika heran.


"El teringat dulu saat Henry sering memberikan stim ikan barramundi pada Kris."


"Maaf ya, Henry," kata Rena.


"Kenapa sih?" tanya Henry Alexander juga penasaran.


"Maaf ya, Kris." Elfa semakin tergelak.


Rena juga ikut tergelak sambil melihat Kris yang tersenyum kecut merasa bersalah, "Maafkan Kris ya Henry."


"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Juan Mahardika semakin penasaran.


"Dulu setiap Henry memberikan stim ikan barramundi begini El dan Rey yang makan."


"Benarkah?" tanya Henry Alexander kaget.


"Maaf, dulu Kriis ...!" Kris tidak lagi melanjutkan ucapannya karena dengan spontan Henry Alexander berdiri dan mengambilkan satu lagi ikan stim barramundi ke piring Kris.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tetapi sekarang Kris harus makan ikan ini karena sangat bagus untuk kesehatan baby yang ada dalam kandungan!"


"Terima kasih," jawab Kris sambil mengangguk.


"CIek .. ciek, perhatian banget sih!" goda Elfa dan Rena bersamaan.


"Apa sih?"


Sampai menu makan malam yang di piring ludes berpindah ke perut. Mereka tidak banyak berbincang lagi. Hanya sesekali Elfa dan Rena tersenyum sendiri sambil melirik Kris.


Selesai makan malam, Rena dan Asisten Dwi Saputra izin untuk ke luar mencari pesanan orang tua yang ada di desa. Elfa mengedipkan mata kepada Suami untuk mengajak ke kamar agar Henry dan Kris bisa berbincang berdua.


Kris dan Hendry duduk di ruang tamu duduk saling berhadapan, "Kris, maaf aku sudah tahu tentang kamu dari Tuan Juan."


"Henry kenal suami El dari mana?"


"Mendiang papa adalah karyawan Tuan Juan di perusahaan yang ada di Singapura."


"Ooo, maafkan Kris, Hen."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Apakah kamu mau menceritakan tentang ayah dari bayimu?"


Kris menunduk dan merasa tidak enak pada teman satu kampus dulu yang duduk di depannya. Sikapnya masih seperti dulu perhatian dan sangat pengertian, "Kris harus cerita mulai dari mana?"


"Tentang luka yang ada di punggung Kris!"


"Henry tahu juga tentang luka Kris ini?"


"Iya, Tuan Juan menceritakan semua tentang Kris, awalnya Tuan Juan hanya menceritakan sekilas, aku yang mendesak untuk mengetahui semua sampai detail."


"Maaf, Kris jadi merepotkan Henry."


"Tidak merepotkan sama sekali, justru aku akan senang jika Kris mau berbagi cerita, anggap saja aku sebagai teman seperti El dan Rey!"


"Baiklah Kris cerita, awalnya saat Kris posotif hamil, Mr. Yo tidak ingin memiliki bayi ini, tetapi Kris memilih untuk mempertahankannya."


BERSAMBUNG

__ADS_1


Yuk mampir di novel teman yg rekomen ini



__ADS_2