
Hanya dengan melihat bangunan masjid Istiqlal, seolah Hanry Alexander sudah terpaut dengan Jakarta. Ingin mendalami agama tidak hanya untuk diri sendiri tetapi untuk keluarga besar yang ada di Eropa. Rasa damai yang tidak pernah didapat selama di mana pun yang membuat Henry Alexander langsung jatuh cinta pada masyarakatnya yang ramah.
"Kamu yakin akan meninggalkan, bisnis, Kris dan keluarga yang ada di Eropa?" tanya Asisten Dwi Saputra.
"Ya, Hanry akan memanfaatkan visa kunjungan selama dua bulan ini untuk belajar."
"Apakah kamu sudah merundingkan ini kepada Mama dan keluarga terutama Kris?" tanya Juan Mahardika.
"Rencananya mama akan ikut Henry di sini. Dan untuk Kris, Henry yakin pasti Kris akan setuju."
Asisten Dwi Saputra menatap lekat wajah Henry Alexander. Laki-laki itu terlihat sangat yakin dengan keputusan yang diambil. Yakin akan lancar dengan semua yang direncanan.
"Apakah setelah dua bulan dan kembali ke Erepa, kamu akan menikah dengan Kris?" tanya Juan Mahardika.
"Itu rencana dan harapan Henry, mohon doa dan dukungannya."
Kyai Din datang dan bergabung lagi dan memberikan petunujuk kepada Hendry Alexander. Langkah selanjutnya setelah resmi menjadi mualaf. Hendy Alexander harus menjalankan syarat laki-laki muslim yaitu di khitan.
__ADS_1
"Apa itu khitan, Kyai?" tanya Henry Alexander.
"Khitan itu tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari senjata milik pria."
Ada sebagian masyarakat dunia walau bukan muslim ikut melakukan khitan demi kesehatan. Banyak dokter yang meneliti jika laki-laki khitan mengurangi risiko terjadinya penyakit menular. Hanya sayangnya, Henry bukan salah satu dari mereka yang ikut khitan.
"Apakah itu harus?" tanya Henry Alexander kepada Asisten Dwi Saputra.
Asisten Dwi Saputra mengangguk dan tersenyum sambil membayangkan laki-laki dewasa itu di khitan. Terkadang pikirannya iseng karena teringat masa lalu saaat masih sekolah. Jika ada teman yang belum khitan sudah besar, menganggap akan susah di potong dan ditakut-takuti akan dipotong dengan parang.
"Sakit cuma sedikit saja, tetapi jika sudah dewasa biasanya akan sedikit susah, hati-hati nanti kepotong semuanya," canda Asisten Dwi Saputra.
"Waduh, itu betul?"
"Bercanda."
"Apa manfaat dari di khitan itu?"
__ADS_1
"Penyakit menular seperti herpes atau sifilis sangat rentan pada laki-laki yang tidak di khitan. Mencegah terjadinya penyakit pada senjata laki-laki, seperti nyeri pada kepala atau kulup yang disebut fimosis. Mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran kemih, yang berkaitan dengan masalah ginjal," jawab Asisten Dwi Saputra dengan jelas.
Henry Alexander mengerutkan keningnya saat melihat Juan Mahardika tersenyum mendengar jawaban Asisten Dwi Saputra, "Tuan, apakah pernah terjadi terpotong habis seperti kata Asisten Dwi?"
Juan Mahardika tergelak membayangkan seperti yang dikatakan Henry Alexander. Itu hanya cerita anak-anak untuk yang takut di khitan. Tidak mungkin terpotong karena hanya melakukan khitan dibagian ujung senjata saja.
"Jangan takut, itu tidak mungkin terjadi."
"Ooo terima kasih."
Juan Mahardika mengangguk dan termenung teringat pusaka bumerang yang sudah libur selama satu bulan ini. Rasa rindu beraksi tiba-tiba muncul di pikiran. Bergegas Juan Mahardika mengetuk dahinya perlahan, "Jangan memancing, ingat sepuluh hari lagi," kata Juan Mahardika pada pikirannya sendiri.
Asisten Dwi Saputra dan Henry Alexander bingung dengan ucapan Juan Mahardika. Keduanya saling pandang dan saling bertanya tentang apa yang dimaksud sepuluh hari lagi, "Apa yang kurang sepuluh hari lagi, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra.
BERSAMBUNG
__ADS_1