
Elfa tiba di Indonesia pukul delapan pagi. Keluar dari Bandara Internasional Soekarno Hatta langsung menuju ke perusahaan Papi Afarizi. Tidak ikut pulang Abi Ali ke rumah yang ada di Bekasi.
Sampai di depan resepsionis langsung menyapa karyawan resepsionis yang sedang berjaga, "Selamat pagi."
"Selamat pagi, Nona."
"Apakah Papi ada di kantor?"
"Tuan Al sedang meeting di ruang meeting, Nona."
"Terima kasih."
Elfa bergegas berlari menuju ruang meeting. Tanpa mengetuk pintu langsung mendorong pintu sambil berteriak, "Papi ...!"
Elfa menghentikan langkahnya saat melihat laki-laki yang duduk di hadapan Papi Alfarizi. Laki-laki yang pernah merenggut kehormatannya dua tahun yang lalu. Laki-laki yang tidak ingin ditemui seumur hidup.
"El, kapan datang dari Riyadh, Nak?" tanya Papi Alfarizi.
Elfa langsung berbalik badan tidak jadi menemui Papi Alfarizi, "Papi, El mau menemui Mami di butik dulu, Assalamualaikum!" Elfa langsung berlari meninggalkan ruang meeting tanpa mau melihat Juan Mahardika.
Juan Mahardika langsung tersenyum sambil melihat Asisten Dwi Saputra. Memberikan kode dengan pandangan mata. Asisten Dwi Saputra tersenyum sambil mengangguk mengerti pencarian berhasil kini.
Yang paling aneh adalah pusaka yang mati suri. Dengan ajaib langsung kembali menggeliat perlahan. Perlahan tetapi pasti menegang sendiri tanpa dikomando.
Mata Juan Mahardika memandang Elfa yang berlalu pergi. Matanya seolah terhipnotis pada suara yang baru saja didengar. Sampai Elfa tidak terlihat, arah mata Juan tidak juga berpaling padahal hanya punggung saja yang terelihat.
"Itu putri Anda, Tuan Al?" tanya Asisten Dwi Saputra mengagetkan Juan Mahardika yang sedang terpana.
"Iya, Elfa putri bungsu saya."
"Apakah putri Anda tidak tinggal di Indonesia?" tanya Juan Mahardika.
"Tidak, Tuan Juan. Elfa kuliah S2 di Australia, tetapi dia baru pulang dari tempat Opa yang tinggal di Riyadh."
"Apakah putri Anda tidak ikut mengelola perusahaan, Tuan Al?" tanya Asisten Dwi Saputra lagi.
"Putri saya yang satu itu beda dengan abangnya, dia memilih bekerja sosial saja. Sering membantu pasien rumah sakit dengan ilmu yang dimiliki."
__ADS_1
"Maksudnya, Tuan?" tanya Juan Mahardika.
"Dia sering membantu pasien rumah sakit dengan ilmu hypnoterpy untuk membantu pasien depresi. Oya kita lanjutkan meeting nya?"
"Baiklah," jawab Juan Mahardika dan Asisten Dwi Saputra bersamaan.
Saat meeting berlangsung, Juan Mahardika sama sekali tidak konsentrasi. Selalu teringat dengan Elfa yang baru saja ditemukan. Memikirkan tentang cerita ilmu hypnoterapy dan hal yang terjadi dengan pusaka kebesaran.
Kemungkinan ada hubungannya antara keduanya. Namun, masih belum menemukan jawaban yang pasti tentang hal itu. Yang pasti masih ingin memastikan tentang pusaka miliknya yang kini sudah bisa menggeliat dan menegang.
Yang ada dalam pikiran Juan Mahardika kini hanya ada di sekitar tengah diantara dua kaki. Karena berkali-kali pusaka terbangun saat teringat yang pernah dilakukan dulu. Pikirannya tidak ada selain hanya beraksi dan ingin segera beraksi.
Untungnya Asisten Dwi Saputra sudah mempersiapkan kerja sama dengan matang. Sehingga tidak banyak melibatkan Juan Mahardika dalam penawaran kerja sama. Juan Mahardika hanya setuju dan tanda tangan saja tanpa tahu apa isi dari kerja sama yang di sepakati.
Asisten Dwi Saputra menebak pikiran tuannya kini hanya tertuju pada putri dari rekan bisnis barunya saja. Sudah bisaa menebak apa yang dipikirkan Juan Mahardika. Pasti gadis yang baru saja dilihatnya itulah gadis yang pernah membuat pusaka tuannya mati suri.
Kesepakatan sudah ditandatangani oleh dua perusahaan besar. Kerja sama saling menguntungkan dari kedua belah pihak. Namun, bagi Juan sangat menguntungkan karena pusaka kebesaran kini mulai bisa terbangun dan tidak mati suri lagi.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra saat keduanya berada di parkiran perusahaan milik Papi Alfarizi.
"Apakah sekarang pusaka Anda sudah bisa terbangun?"
"Sepertinya iya, berkali-kali aku mengingat hal yang dulu aku lakukan dia langsung terbangun."
"Syukurlah."
Asisten Dwi Saputra bernapas dengan lega. Tidak sia-sia usaha tiga bulan pencarian akhirnya berhasil juga. Semoga dengan bangunnya pusaka itu, berharap tuannya akan menjadi pribadi lebih baik.
"Aku tidak sabar ingin mencoba dulu."
"Apa maksud Anda, Tuan?"
"Aku ingin mencoba pusaka ini lah."
Asisten Dwi Saputra tertegun mendengar jawaban Juan Mahardika. Ternyata harapan dan doanya tidak sesuai. Berharap bisa berubah setelah dua tahun mendapatkan cobaan yang membuatnya hampir putus asa.
"Tetapi, Tuan. apakah Anda tidak ...?" Asisten Dwi Saputra tidak sempat melanjutkan pertanyaan karena Juan Mahardika langsung masuk mobil dan duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
"Bawa sini kunci mobil, Kamu ke kantor naik mobil online saja!"
Asisten Dwi Saputra memberikan kunci mobil dengan pikiran yang bingung. Sampai tidak bisa berucap sepatah katapun karena bingung. Tidak menyangka tuannya tidak pernah menyadari kesalahan yang telah dilakukannya.
Mobil keluar dari parkiran perusahaan Papi Alfarizi dengan kecepatan tinggi. Asisten Dwi Saputra masih bingung dan tertekun tidak habis pikir. Bingung memikirkan seolah laki-laki itu tidak jera sudah mendapatkan hukuman selama dua tahun.
Di dalam kantor, saat Papi Alfarizi masuk sudah ada Elfa menunggu di dalam, "El, katanya ke butik Mami, kok ada di sini?"
"Mami tidak ada sudah pulang, jadi El nunggu Papi saja."
"Ooo El ada perlu sama Papi?"
"Tidak sih, El hanya kangen Papi dan Mami saja."
Papi Alfarizi berbincang dengan Elfa sambil mengerjakan meneliti berkas. Bercerita tentang banyak hal baik kabar kuliah dan kampus. Bahkan bertanya juga selama menemani Abi Ali di Riyadh.
Beda lagi dengan Elfa, sebenarnya menunggu Papi Alfarizi ingin bertanya tentang laki-laki yang tadi ditemui di ruang meeing. Hanya menunggu waktu yang tepat agar tidak dicurigai. Penasaran dengan tujuan dari laki-laki yang pernah membuat luka hati.
"Pi, mengapa lama betul sih meeting tadi?"
"Jelas dong, Sayang. Ini kerja sama pertama Papi dengan Tuan Juan Mahardika."
"El pernah melihat tuan itu kemarin di kampus sedang menjadi dosen tamu di fakultas ekonomi dan bisnis."
"Ooo betulkah?" Papi Alfarizi seolah tidak memperhatikan Elfa cerita.
"Apa saja yang dibicarakan sampai lama betul, apakah tanya juga tentang pribadi?"
"Tidak dong, Nak. Namanya bisnis ya bicara bisnis, hanya tadi cuma bertanya saat El masuk saja."
"Bertanya apa, Pi?"
"Bertanya apakah Elfa itu putri Papi, setelah Papi jawab iya, langsung beralih ke bisnis lagi. Sampai mereka pulang tidak bercerita atau tanya tentang hal pribadi lagi."
Elfa mengangguk dan mengucap syukur berkali-kali. Berharap tidak akan bertemu lagi selamanya dengan laki-laki itu. Hanya menyesal dalam hati, sudah dihindari selama dua tahun, tetapi justru bertemu di kantor Papi Alfarizi.
__ADS_1