
Elfa berlari menuju belakang rumah sambil terisak, "Baru menikah sehari sudah membuat ulah," monolog Elfa dengan mengusap air mata.
"Sayang, tunggu! Jangan salah faham. Akak jelaskan dulu."
Juan Mahardika berlari menyusul Elfa menuju sungai. Walaupun tidak dihiraukam oleh sang istri tercinta, tetapi terus berusaha menjelaskan. Sebenarnya dalam hati tersenyum tipis karena Elfa marah berarti sudah ada cinta dan cemburu.
Elfa duduk di batu besar melipat kaki menenggelamkan kepala diantara dua kaki. Air mata terus mengalir sambil terisak, hatinya terasa sakit teringat foto yang ada di ponsel suami. Berpikir ketakutan dan keraguan yang dulu muncul sebelum menikah kini terlintas lagi di pikiran.
"Sayang, dengarkan Akak dulu," kata Juan Mahardika dengan lembut.
"Akak pergi sana, Akak jahat!"
"Foto tadi berhubungan dengan Abang Al, Sayang."
Elfa mengangkat kepala memandang wajah Juan Mahardika dengan semakin kesal. "Jangan bilang Akak menuduh Abang Al bermain gila dengan wanita tadi?"
"Eee mengapa berpikiran aneh-aneh?"
"Jangan menutupi kesalahan sendiri dengan menuduh orang lain, Abang Al tidak mungkin berselingkuh," kata Elfa semakin marah.
"Akak tidak bilang Abang Al berselingkuh, ceritanya berawal dari Abang Al mengirim pesan WA kepada Akak tentang Dokter Yohan Charnett."
Elfa mengusap air matanya sendiri perlahan sambil memandang wajah Juan Mahardika. Sorot matanya terlihat jujur dan tidak ada kebohongan sedikitpun. Bahkan, wajahnya terlihat sedih dan bingung serta sorot mata yang terlihat memohon untuk mendengarkan.
"Akak jahat membuat El menangis," ucapnya dengan manja.
"Makanya dengarkan dulu penjelasan Akak!"
"Katakan!"
"Boleh Akak sambil memeluk El?"
"Tidak boleh!"
Juan Mahardika tersenyum tipis sambil mengusap pipi Elfa sekilas. Membuka ponsel dan menunjukkan tulisan pesan WA dari Alfian Alfarizi, "Ini bacalah pesan Abang Al!"
Elfa hanya membaca satu persatu tulisan pesan WA dari Alfian Alfarizi. Yang memegang ponsel dan yang menggeser semua tulisan Juan Mahardika. Tulisan yang berisi kemungkinan Dokter Yohan Charnett yang ada di desa Mami Mitha.
"Apa hubungannya dengan pesan WA Abang Al dengan foto gadis yang El lihat tadi?"
__ADS_1
"Akak meminta bantuan teman untuk mencari informasi tentang dokter sialan itu, coba lihat ini!"
Juan Mahardika menunjukkan pesan WA yang dikirim pada Jonny Evans beserta jawabannya. Seperti tadi Elfa hanya membaca dengan teliti tanpa memegang ponsel. Yang memegang dan menggerakkan ke atas pesan WA tetap Juan Mahardika.
"Saat El duduk di samping Akak tadi Akak ingin menolak syarat yang diminta Jonny Evans, Eee ada yang cemburu," kata Juan Mahardika sambil tersenyum.
Elfa masih cemberut sambil mengerucutkan bibirnya, menoleh ke arah air yang mengalir. "Siapa yang cemburu?"
"Terima kasih, Garwoku Sayang. Akak sangat bahagia sekarang ini."
"Akak bahagia melihat El menangis?"
"Bukan dong, Akak sangat bahagia karena El cemburu. Akak merasa menjadi orang yang paling beruntung bisa mendapatkan cinta El."
"Tidak usah merayu, El masih kesal."
Juan Mahardika langsung menarik Elfa masuk dalam pelukan. Mendekap dengan lembut sambil mengecup dahi berkali-kali, "Jangan berpikir yang bukan-bukan, Akak tidak mungkin tergoda dengan wanita seperti itu, Akak sangat mencintai El."
"Jangan berhubungan dengan pemilik kafe itu, dia itu pemilik kafe bermuka dua, berkedok owners tetapi penjahat dan mucikari."
"El mengenal Jonny?" tanya Juan Mahardika sambil melepas pelukannya.
"Dari mana El mengenal laki-laki gila harta itu?"
"Dari teman El."
"Apa yang dilakukan Jonny terhadap teman, El?"
"El malas cerita, pokoknya Akak tidak perlu meminta bantuan laki-laki itu, Asisten Dwi Saputra saja yang diperintahkan untuk mencari informasi tentang dokter itu."
"Baiklah, Akak menghubungi Asisten Dwi sekarang."
Elfa meninggalkan Juan Mahardika begitu saja saat suaminya itu sedang sibuk memerintahkan sang asisten untuk melakukan pekerjaan pribadi. Melihat dari kejauhan ada Abi Ali yang sedang melihat pemandangan sawah yang menghijau. Berlari mendekati opa tercinta yang sedang berdiri membelakanginya.
"Opa ...!" teriak Elfa.
"El, buat Opa kaget saja." Abi Ali mengusap dada sambil menjawab.
"Opa lagi ngapain?"
__ADS_1
"Opa lagi melihat sawah yang menghijau, rasanya adem walau cuaca terik banget."
"Enakan di sungai sana, Opa lebih adem lagi."
"Tidak mau, ada orang berpelukan takut Opa mengganggu," jawab Abi Ali sambil tersenyum
"Opa ini, tadi El sedang kesal sama Akak JM."
"Sekarang bagaimana, masih kesal?"
"Masih sedikit."
"Lain kali kalau ada masalah jangan langsung marah, bicarakan baik-baik. Baru menikah sehari sudah berantem!" nasihat Abi Ali.
"El tidak berantem, Opa. El hanya kesal saja."
Juan Mahardika datang berlari mendekati Elfa dan Abi Ali. Mendengar percakapan antara cucu dan opanya. Tidak ingin terjadi salah faham lagi tentang peristiwa itu.
"El tidak salah, Opa. Juan yang kurang terebuka dengan El."
"Yang penting masalahnya sudah clear, betulkan? karena Opa lihat kalian berpelukan di pinggir sungai."
Juan Mahardika hanya tersenyum sambil melirik Elfa. Mengedipkan mata sambil berucap walau tanpa suara. Ucapan cinta tanpa batas selalu ditunjukkan.
Malam hari saat Elfa bersiap-siap packing sendirian untuk besok berangkat ke Riyadh. Juan Mahardika masih belajar agama dengan Pakde Sarto dengan didampingi Abi Ali. Memanfaatkan waktu yang tinggal malam ini untuk belajar.
Selesai packing, Elfa menyiapkan baju tidur Juan Mahardika di samping bantal. Merebahkan tubuh di tempat tidur untuk mengistirahatkan hati dan pikiran. Berniat tidur terlebih dahulu agar tidak ada drama yang dibuat oleh sang suami.
Hanya sayangnya, waktu sampai menunjukkan jam sepuluh malam, Elfa tetap tidak bisa terlelap. Mata terpejam tetapi hati dan pikiran masih tertuju pada semua yang yang terjadi di masa lalu. Bayangan itu seolah menari-nari dipelupuk mata, walau sudah berusaha untuk melupakan.
Juan Mahardika masuk ke kamar perlahan, melihat Elfa yang sudah terbaring dan terlihat terelelap. Memeluk guling sambil membelakangi pintu kamar. "Ya kok sudah tidur sih, Sayang?" bisiknya sendirian.
Juan Mahardika berganti baju yang sudah disiapkan oleh Elfa dan merebahkan tubuhnya di samping Elfa. Mengecup bibir Elfa sekilas dangan lembut. Melingkarkan tangan di pinggang, "Padahal Akak ingin bercerita tentang dokter sialan itu," monolognya lagi.
Padahal sebenarnya Elfa belum tertidur, tetapi hanya pura-pura tertidur. Hanya tidak berani membuka mata takut terjadi sesuatu. Berharap dalam hati semoga walau tertidur tetap bercerita.
"Coba saja dulu Akak tidak berbuat jahat, pasti kita sudah bisa menikmati indahnya malam pertama, andai waktu bisa diulang kembali. Akak akan menjadikan istri tercinta ini menjadi yang pertama dan terakhir." Kembali Juan Mahardika bermonolog sendiri sambil mengusap pipi dan bibir Elfa dengan lembut.
Juan Maharika memajukan bibirnya mendekati bibir Elfa. Kali ini tidak hanya mengecup dengan sekilas. Dibiarkan menempel sampai beberapa saat, tetapi tiba-tiba Juan Mahardika tersentak kaget, "Aduh ...!"
__ADS_1