Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 23. Maafkan Shei


__ADS_3

Sheilla Jannes menunduk tidak berani menjawab pertanyaan Elfa yang sedang marah besar. Mulutnya seolah kelu karena baru pertama kali melihat Elfa marah. Hampir dua tahun berteman Elfa selalu ramah dan pengertian terutama dengan teman dekat.


Sheilla Jannes teringat beberapa waktu yang lalu diminta tolong Dokter Yohan Garnett untuk memanggil Elfa. Dokter itu sudah hampir dua bulan tidak bisa bertemu dengan Elfa di rumah sakit. Selain Elfa selalu menghindar juga karena Elfa sering mencari alasan agar tidak bertemu dengan Dokter Yohan Garnett.


Dengan iming-iming nilai bagus untuk tugas kampus. Dengan sedikit ancaman juga akhirnya Sheilla Jannes terpaksa bersedia memanggil Elfa untuk datang. Dengan alasan ada pasien yang membutuhkan pertolongan.


"Mengapa Shei tega sama El, apa salah El?" tanya Elfa menurunkan emosi, tetapi mata berkaca-kaca ingin menangis.


Belum sempat Sheilla Jannes menjawab, datang Dokter Yohan Garnett sambil berlari mendekati Elfa, "Jangan salahkan Seilla, aku yang memaksa dia untuk memanggil kamu. Terus terang aku putus asa karena kamu susah aku dekati."


Elfa mengambil napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. Hatinya semakin kesal mendengar dokter yang menyukainya datang lagi. Sangat terlihat ingin memaksakan kehendak hati.


"Apa salahku, El. Mengapa kamu menghindar dan menolak terus?" tanya Dokter Yohan Garnett kembali.


Elfa berbalik badan tidak mau melihat wajah dokter yang masih ingin berjuang, "Maaf ya, Dok. Anda tidak bersalah, tetapi hati tidak bisa dipaksa."


Elfa berjalan ke luar ruangan dengan perasaan yang tidak menentu. Tidak ada yang berani menyusul Elfa yang berjalan menuju parkiran mobil. Mereka hanya terpaku berdiri memandang Elfa sampai tidak terlihat.


Elfa masuk mobil dan duduk di kemudi sambil memukuli setir sambil menangis tersedu-sedu. Hati rasanya sangat sakit karena merasa dipaksa hanya karena cinta. Pemaksaan itu membuat Elfa teringat dengan peristiwa hilanngnya hal yang berharga hampir dua tahun yang lalu.


Setiap insan ingin merasakan jatuh cinta dan dicintai. Ingin juga merasakan yang namanya jatuh cinta. Namun, ingin semua berjalan sesuai kata hati dan tidak dengan memaksa diri.


Elfa berkali-kalli memukul dadanya sendiri. Sesak di hati yang dirasakan kini semakin mamuncak. Entah mengapa cinta tidak bisa tumbuh dengan cepat seperti teman-teman yang mengalami sejak saat SMA.


Mungkin karena pengalaman Mami Mitha dan Teteh Rania yang pahit. Seolah hati langsung membentengi diri tanpa disadari. Susah hati berlabuh pada lawan jenis yang selalu ingin mendekat.


Seolah cinta hanya untuk Papi Alfarizi dan Abang Alfian saja. Belum bisa menambah rasa cinta yang tumbuh dihati. Ibarat kata cinta pertamanya hanya untuk papi tercinta saja.


Hampir satu minggu lamanya Elfa mengerjakan tesis di dalam apartemen saja. Menghubungi pembimbing hanya menggunakan online. Dengan dukungan tegnologi semua bisa dikerjakan karena dengan memanfaatkan teknologi ibarat kata dunia ada di genggaman.


Pesan permintaan maaf dari Sheilla Jannes tidak pernah di tanggapi. Masih ada rasa kesal karena sahabat yang selama ini dikenalnya mengkhianati. Tega hanya karena nilai kuliah mengorbankan teman sendiri.

__ADS_1


Sabtu pagi Sheilla Jannes menekan bel pintu apatemen Elfa berkali-kali. Bibi Suti yang membukakan pintu, "Neng Shei, silahkan masuk!"


"Ada El, Bibi?"


"Ada sih, Neng. Hanya saja Neng El jarang keluar kamar, Bibi tidak berani masuk kalau tidak dipanggil."


Sheilla Jannes masuk apartemen Elfa dengan ragu-ragu. Masih takut Elfa tidak mau memaafkan. Namun, semua harus cepat di selesaikan karena memang dirinya yang bersalah, "Tidak apa-apa, Bibi. Shei sendiri yang akan mengetuk pintu."


"Silakan, Neng!"


Tanpa berucap Sheilla Jannes mengetuk pintu kamar. Tidak ingin ditolak saat Elfa mendengar suara dirinya. Lebih baik diam dan menyangka yang mengetuk pintu Bibi Suti saja.


"Masuk saja, Bi!" teriak Elfa dari dalam.


"Maaf El, ini Shei bukan Bibi," kata Sheilla Jannes sambil membuka pintu.


Elfa hanya diam tanpa menjawab ucapan Sheilla Jannes. Hanya memandang wajah sahabatnya yang terlihat sedih dan ditekuk. Terlihat penyesalan dan merasa bersalah ada dalam tatapan matanya.


"Sudah El maafkan." Belum sempat Sheilla Jannes melanjutkan ucapannya langsung dijawab oleh Elfa.


"Terima kasih, peluk dong!" Seilla Jannes merentangkan tangan sambil tersenyum.


Elfa langsung memeluk sahabatnya dengan erat. Sudah tidak marah lagi karena semua sudah terjadi. Yang terpenting tidak mengulangi lagi.


"Shei berjanji tidak akan mengulangi lagi. El benar cinta tidak bisa dipaksakan."


"El dari dulu sudah memberikan kode jika El tidak suka sama dokter itu, yang El tidak suka mengapa dengan cara berbohong untuk bisa mengutarakan maksud hati."


"Dokter itu sampai putus asa karena cinta, dia sangat tergila-gila sama El."


Sheilla bercerita jika Dokter Yohan Carnett masih mencari informasi mengapa sampai Elfa tidak membalas cinta. Masih sering menghubungi Sheilla Jannes untuk mencari kekurangan agar bisa diterima. Seolah dokter itu belum menyerah untuk berjuang mendapatkan cinta Elfa.

__ADS_1


Sampai Dokter Yohan Carnett menduga karena perbedaan keyakinan. Penduduk asli Australia itu sekarang sedang mencari informasi tentang keluarga Elfa. Sampai rela mempelajari keyakinan sebagian besar keyakinan masyarakat Indonesia.


"Sampai sekarang dia belum menyerah, Shei?"


"Belum sama sekali, El. Dia sekarang ini sedang belajar tentang keyakinan yang kamu anut."


"Sudahlah, semoga suatu saat dia bisa mengerti jika cinta tidak bisa dipaksakan."


"Nanti jika dokter itu tanya, Shei bisa jelaskan lagi agar dia mengerti."


"Terima kasih."


Hari Senin Elfa dan Sheilla pergi ke kampus bersama untuk bertemu dengan pembimbing. Saat bertemu dengan mahasiswa lain, masih ada sisa-sisa cerita tentang CEO tampan yang mengisi materi kuliah ekonomi bisnis kemarin.


Termasuk Sheilla Jannes juga sangat mengidolakan Juan Mahardika. Kemarin walaupun Sheilla Jannes tidak ikut masuk kelas ekonomi dan bisnis. Saat pengusaha terkenal itu berpamitan keluar kampus, Sheilla melihat sekilas wajah tampan pengusaha itu.


"Sayangnya El pulang duluan kemarin, pengusaha itu sangat tampan sekali," kata Sheilla Jannes dengan penuh kekaguman.


Elfa hanya tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala. Tampan tidak disertai dengan pribadi dan hati yang baik. Termasuk buruk dan tidak patut diidolakan dalam kreteria Elfa.


"Seandainya El lihat sendiri, mungkin laki-laki seperti itu yang masuk pada kreteria El ya, tampan, tajir, CEO dan penuh dengan pesona?"


"Tidak, El tidak pernah memandang seseorang dari harta kekayaan semata."


"Jadi apa yang menjadi Kreteria El tentang laki-laki."


"Yang pertama dia baik, setia dan yang paling penting bisa menggetarkan hati El."


"Cocok El, Dosen tamu kemarin itu mampu menggetarkan seluruh mahasiswi di  kampus kita ini!"


Elfa tergelak dan kembali menggelengkan kepala, "Apakah Shei tidak tahu sepak terjang dari Juan Mahardika?"

__ADS_1


"Elfa mengenal dosen tamu itu?"


__ADS_2