
Elfa hanya terdiam dan tidak menjawab permintaan Juan Mahardika. Hanya mengikuti langkah suami yang akan masuk kamar. Sudah dua hari ini selalu menghindar saat suami meminta untuk berpindah beraksi karena masih nervous dan takut.
Elfa membutuhkan waktu hampir seminggu untuk bisa menikmati aksi suami. Sekarang mulai terbiasa menerima aksi itu karena selalu dilakukan setiap ada kesempatan. Perlakuan manis seolah sudah menjadi kebiasaan yang diterima Elfa kini.
Baru masuk kamar dan belum sempat menutup pintu, Juan Mahardika sudah mengagetkan Lamunan Elfa, "Sedang membayangkan itu ya?" tanya Juan Maharika sambil memeluk dari belakang.
"Bagaimana bisa membayangkan, merasakan belum?" jawab Elfa sekenanya.
Juan Mahardika teringat dulu saat mengambil paksa kehormatan sang istri. Dulu juga pernah melakukan aksi di dua gundukan itu. Kemungkinan karena saat itu dalam pengaruh obat Elfa tidak teringat kejadian itu.
"Yok kita praktek agar bisa dibayangkan!"
"Idih, itu saja maunya. Sana mandi dulu Akak bau acem!"
"Betulkah?" Juan Mahardika melepas pelukannya dan mencium lengannya sendiri.
Saat Juan Mahardika masuk kamar mandi, Elfa bergegas keluar kamar. Membantu dan mengarahkan bibi memasak di dapur. Pasalnya bibi terbiasa masak masakan Arab, sedangkan Juan Mahardika terbiasa makan masakan menu Eropa.
Selama di Riyadh, Elfa selalu membuatkan menu makanan kesukaan suami. Hari ini akan membuatkan steak daging ditambah dengan roti arab yang di sebut manakeesh. Roti yang berbahan dasar tepung terigu dicampur dengan madu dan gula dibentuk agak pipih seperti pizza dan dipanggang di tungku tradisional.
Cita rasa roti manakeesh yang manis dipadu dengan steak daging yang gurih, akan menambah hidangan semakin istimewa. Ini akan menjadi makanan favorit Juan Mahardika karena sesuai selera dan lidah yang tidak suka pedas. Makanan perpaduan antara Eropa dan Asia khusus untuk yang jarang menggunakan nasi sebagai karbonya.
Juan Mahardika langsung duduk di kursi meja makan setelah mandi dan menyusul Elfa ke dapur. Melihat Elfa sedang sibuk membuat adonan roti manakeesh sambil tersenyum. Ada adonan putih terkena tepung terigu di pipi Elfa.
"Hai, Sayang!"
"Akak mau makan sekarang?"
"Tidak, Akak hanya ingin melihat koki cantik yang sedang masak."
"Mau kopi?"
"Teh hangat saja kalau ada."
"Teh Syai haleeb mau?"
"Seperti teh tarik Aceh kah?"
__ADS_1
"Iya, hanya bedanya ini ada rempah khas."
"Boleh juga."
"Tunggu sebentar, El buatkan."
Elfa masih belum menyadari ada tepung di pipi sebelah kanan. Dengan santai setelah membuat teh yang dicampur susu dan kondimen lainnya. Minuman yang juga dikenal sebagai teh susu rempah khas Arab ini memiliki campuran yang terjadi dari rempah-rempah, seperti kayu manis, cengkeh, kapulaga, goalpara, dan ditambahkan dengan susu sapi murni.
"Ini, silahkan di minum!"
"Terima kasih, tetapi tunggu dulu, Akak mau menunjukkan sesuatu. kemarilah!"
Juan Mahardika menempelkan pipinya sendiri di pipi Elfa yang terkena tepung. Dengan sendirinya, Juan juga ikut terkena tepung, "Akak ikut putih ya?"
Sambil tergelak, Elfa mengusap pipi Juan Mahardika dengan lembut. Bergantian Juan Mahardika juga mengusap pipi Elfa sambil mengedipkan mata. Seakan dunia hanya milik berdua, ada dua bibi di dapur dianggap hanya mengontrak saja.
"Di minum teh syai haleeb nya!"
"Terima kasih."
Baru meminum satu seruputan teh khas Arab, rasa hangat dan manis langsung menghangatkan kerongkongan. Rempah yang terasa semakin menambah hangat di tubuh dan terasa rileks. Sangat cocok di cuaca arab jika di siang hari sangat panas dan malam hari sangat dingin.
Saat Elfa sedang mengantar Abi Ali ke rumah saudara yang tidak jauh dari rumah Abi Ali untuk berangkat bersama ke Madinah. Sengaja malam ini Juan Mahardika menata meja untuk *candlelight dinner* dibantu oleh bibi. Meja makan kecil khusus untuk berdua di tata di samping tempat tidur kamar Elfa.
Disiapkan hidangan yang dibuat oleh Elfa tadi sore. Ditambah dengan nasi briyani, es jeruk dan salad sayuran dengan dressing minyak zaitun dan mayonaise. Ditambah satu lilin di tengah meja dan dua tangkai bunga mawar merah.
Juan Mahardika mencukur cambang dan membersihkan jenggot tipis yang ada di dagu. Berganti baju setelan jas berwarna hitam. Memakai parfum dengan aroma kesukaan Elfa.
Tepat pukul delapan malam Elfa pulang, Juan Mahardika langsung mengajak Elfa masuk kamar, "Ayo masuk dulu, Sayang!"
"Kok penampilan Akak rapi banget, mau ke mana?"
"Jawabnya nanti saja, ayo langsung ke kamar!"
"Ada apa, Akak?"
"Ada kejutan untuk El."
__ADS_1
"Nanti aja, Kak. Makan malam saja dulu, Akak belum makan, 'kan?"
"Masuk saja dulu!" Juan Maharika menggandeng tangan Elfa masuk kamar. Lampu kamar mati dan hanya ada satu sinar dari lilin yang terlihat. Dua kursi yang saling berhadapan dengan suasana yang sangat romantis.
"Waow, ini Akak yang merancangnya?"
"Iya, untuk sementara kita candlelight dinner di sini dulu. Nanti setelah media tahu kita menikah Akak akan mengajak candlelight dinner di luar."
"Memang Akak malu candlelight dinner di luar sama El?"
"Justru Akak sedang menjaga nama baik El seperti amanah Papi dan Abang Al. Sebelum Papi mengadakan konferensi pers tentang pernikahan kita, Nama El harus tetap terjaga."
"Ooo terima kasih."
"El berganti gaun dulu, Akak tunggu!"
"Oya tunggu sebentar."
Elfa membuka lemari dengan cepat. Menyambar satu gaun berwarna hitam yang tergantung di lemari. Berlari ke kamar mandi untuk berganti baju.
Juan Maharika hanya menggelengkan kepala melihat Elfa yang masih terlihat malu. Sampai sekarang masih mandi dan beganti baju di kamar mandi. Hanya bisa bersabar dan menunggu sang istri sampai benar-benar siap.
Elfa hampir seperempat jam baru keluar dari kamar mandi. Keluar dengan penampilan yang sangat anggun walau tanpa make-up. Rambutnya di sanggul kecil dengan gaun berkerah sanghai dan lengan pendek.
Juan Mahardika langsung berdiri menyambut Elfa yang berjalan mendekat. Mata menatap tanpa berkedip sambil mengulurkan tangan. Langsung mengecup punggung tangan dengan mesra dan lembut.
"Cantiknya, I love you."
"Terima kasih."
"Duduklah!" Juan Mahardika menarik kursi.
Setelah duduk bunga mawar merah yang ada di pot diambil satu dan diserahkan pada Elfa, "Bunga cantik untuk Garwoku yang cantik, ini simbul cinta Akak yang membara."
Bunga diambil dan di cium sekilas, "Terima kasih."
Saling pandang dengan tatapan mata penuh cinta. Menikmati hidangan makan sambil bergantian suap-suapan. Tos gelas es jeruk minum sambil mengaitkan tangan. Terus tersenyum sambil selalu memandang tanpa berkedip.
__ADS_1
Selesai makan, Juan langsung berdiri dan mengulurkan tangan kanan dan tangan kiri menekan tombol musik lagu romantis, "Kita dansa, Sayang!"