Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 117. Jangan Su'uzon


__ADS_3

Juan Mahardika terkena bantal di badan karena Elfa yang kesal. Sudah berkali-kali menolak, suaminya itu terus panik dan mengajak ke rumah sakit, "Kalau Akak tidak diam, El timpuk sama guling nich," kata dengan kesal.


"Sayang, Akak ini khawatir."


"Ambilkan air hangat saja, Akak!"


"Untuk apa air hangat?"


"Kompres perut dan pinggang El."


"Baik, Akak rebus air dulu berarti ya?" Juan Mahardika berlari akan keluar kamar.


"Akak!" teriak Elfa.


Juan Mahardika langsung menghentikan langkanya sambil memegang handel pintu. Berbalik badan dan kembali mendekati Elfa, "Ya, Sayang?"


"Ambil air hangat dari kamar mandi saja tidak perlu merebus!"


"Oya istri Akak pintar deh." Sambil mengacungkan jempol, Juan Mahardika berlari ke kamar Mandi.


Juan Mahardika ke luar lagi masih panik dan bingung, pasalnya tidak ada gayung di kamar mandi. Sekarang ini sedang berada di kamar mandi di Italia bukan di Indonesia. Kalau Indonesia sebagian besar menggunakan closet jongkok bukan closet duduk.


"Sebentar ya Sayang, Akak cari tempat dulu. Tidak ada gayung di kamar mandi."


"Memang kamar mandi di Indonesia mencari gayung," jawab Elfa dengan lirih dan diikuti sang suami nyengir kuda.


Ada kotak beeukuran sedang di atas meja rias Elfa. Kotak tempat kosmetik milik Elfa agar tidak berantakan, "Akak pakai kotak ini saja ya?"


"Hhmm."


Dengan telaten Juan Mahardika mengompres perut dan pinggang Elfa bagian belakang. Terkadang Elfa bergerak kesamping untuk mengurangi nyeri. Dan terkadang nungging untuk mengurangi perut yang terasa kaku dan melilit.


"Sayang, jangan banyak bergerak, Akak jadi teringat tadi malam!"


"Teringat apa sih, Akak. Perut El terasa kaku dan pinggang nyeri?"


"Teringat El sedang bersemangat beraksi. Nanti kalau pusaka bumerang terbangun bahaya."


"Akak jangan berpikiran yang macam-macam, Akak harus libur satu minggu," jawab Elfa sambil kembali pada posisi nunggging.

__ADS_1


"Yaaah, lama banget sih, apakah ada kompensasi satu atau dua hari gitu?"


"Akak ngawur aja."


Setelah setengah jam berlalu, nyeri dan sakit perut mulai berkurang. Setelah mulai keluar haid dengan lancar pasti akan mulai bisa beraktifitas seperti semula. Yang terpenting memakai pengaman yang nyaman dan tidak bocor.


Elfa duduk dipinggir tempat tidur setelah memakai pembalut sisa bulan lalu yang tersimpan di koper. Hari ini harus membeli lagi untuk stok beberapa hari ke depan. Memundurkan rencana jalan-jalan untuk berbelanja pembalut ke supermarket.


"Antar El ke supermarket dulu untuk membeli pembalut ya Akak?"


"Sudah tidak sakit perutnya?"


"Ya masih, tetapi El harus membeli pembalut."


"Akak saja yang beli, El istirahat di sini, ok!"


Elfa menggelengkan kepala tidak setuju. Lebih baik berangkat berdua karena takut bertemu dengan mantan masa lalu. Kata-kata Magdalena yang mengatakan jika suami adalah milik sejuta wanita selalu diingat dalam hati.


"Tidak, Akak tidak boleh berangkat sendiri. El mau ke supermarket milik orang Asia."


"Supermarket itu jauh dari sini, Sayang."


Juan Mahardika bingung sambil memandang Elfa lekat-lekat. Wajahnya terlihat pucat dan sesekali meringis menahan sakit, "Sayang, Akak tidak tega melihat El pucat dan terus menahan sakit!"


"El juga tidak rela kalau Akak berangkat sendiri bertemu dengan mantan masa lalu di antara sejuta wanita seperti yang dikatakan Magda," jawab Elfa jutek.


"Ya Allah ya Rob, Sayang. Tidak mungkinlah pusaka bumerang mau dengan wanita sejuta umat itu lagi, dia hanya mau sama El seorang."


"Sudah tidak usah banyak merayu, ayo berangkat!"


"Baiklah, Akak pakai masker, topi dan kaca mata hitam saja."


Suasana hati orang yang sedang datang bulan terkadang sangat sensitif dan mudah marah dan mudah tersulut emosi. Maksud Juan Mahardika agar istri tidak mendapat masalah nanti di supermarket. Namun, tanggapan Elfa jadi lain dan menganggap Juan Mahardika ingin lari dari masalah itu.


"Kenapa, Akak mau menyembunyikan wanita masa lalu dari El?"


"Eee Sayang, jangan su'uzon begitu. Ayo berangkat!"


Elfa berjalan dengan digenggam tangannya oleh suami tercinta, tetapi bibirnya dimonyongkan sampai hampir lima cantimeter. Rasa kesal tiba-tiba muncul jika teringat kata milik sejuta wanita.

__ADS_1


"Awas aja nanti kalu bertemu dengan mantan masa lalu di supermarket, tidak hanya wanita mantan yang El sleding, Akak juga akan El hukum."


"Sayang, tidak bertemu dengan wanita masa lalu, sekarang ini Akak sudah dihukum sama El."


Elfa tersenyum devil mendengar jawaban sang suami. Benar juga perkataannya, yang kemarin niatnya menghukum sehari tidak beraksi. Kini terjadi menjadi satu minggu tidak beraksi.


Juan Mahardika mengajak Elfa masuk ke supermarket milik warga Singapura. Semua produk yang di jual adalah produk asli negara Asia Tenggara. Termasuk ada berbagai macam produk buatan Indonesia.


Elfa langsung menyusuri gerai produk yang Indonesia terutama obat dan kosmetik. Pasti akan ada jamu yang dikemas secara modern jamu pereda nyeri haid. Walau harganya akan menjadi berkali-kali lipat mahal dibanding di negara sendiri.


"Yang mana, Sayang?" tanya Juan setelah melihat ada beberapa merk jamu pereda nyeri berjajar rapi di etalase.


"Yang itu aja, Akak!"


"Mau berapa, sepuluh atau dua puluh?"


"Tiga saja jangan banyak-banyak."


"Baiklah."


Setelah mengambil tiga botol jamu pereda nyeri haid. Elfa berpindah mencari pembalut di garai yang tidak jauh yaitu masih mencari produk dalam negeri. Produk yang tidak kalah berkualitas dengan negara lain.


Juan Mahardika terkadang insecure sendiri saat ada wanita yang lewat di dekatnya. Takut bertemu dengan mantan masa lalu yang tidak di kenal. Terkadang tanpa sengaja melirik saja dengan membetulkan topi yang dipakai agar tidak dikenal.


Keperluan Elfa sudah didapat semua khsusnya yang untuk datang bulan. Ditambah membeli produk Indonesia yang sangat autentik karena lama tidak makan makanan khas negeri sendiri, Elfa mengambil beberapa produk mie instan sehat yang biasa di konsumsi saat merindukan Indonesia masih kuliah.


Elfa sedang asyik memilih mie instan favorit. Juan Mahardika izin ke kamar kecil yang kebetulan ada di sebelah gerai Indonesia, "Akak ke kamar mandi sebentar ya, Sayang?"


"Hhmm, jangan lama-lama."


Bersamaan Juan Mahardika masuk kamar kecil. Ada laki-laki mendekati Elfa sambil tersenyum, "Hai Elfa," sapanya dengan ramah sambil melambaikan tangan.


Elfa langsung menengok sorang laki-laki yang sedang memegang map dan polpen dengan seragam berlogo supermarket. Laki-laki berwajah suku Melayu dengan kulit putih. Walau sudah lama tidak bertemu, tetapi masih mengenal dengan jelas.


"Henry, kamu Henry Alexander?" tanya Elfa sambil melipatkan kedua tangan di dada.


"Benar, sekali aku Henry, El apa kabar?"


Henry Alexander adalah teman kulaih Elfa saat kuliah S1 di Australia. Laki-laki keturunan Melayu Singapura dan Italia yang dulu pernah mengajar cinta Krisnawati. Sayangnya mereka tidak berjodoh karena Kris tidak pernah menerima cinta laki-laki itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah El ...?" Elfa tidak melanjutkan ucapannya karena Juan Mahardika datang langsung memeluknya dari belakang dengan posesif dan berbisik, "Sayang, siapa dia?"


__ADS_2