
Bukan hanya Kris yang kaget saat melihat Magdalena mendorong putri pejabat. Elfa dan Rena sampai berdiri karena tegang melihat siaran langsung yang dilakukan anak buah Asisten Julio. Sampai beberapa saat putri pejabat itu tidak bergerak dan diam saja.
"Pingsan saja sepertinya," kata Asisten Dwi Saputra sambil memperhatikan dengan seksama.
Model teman Magdalena berteriak meminta bantuan. Datang pengunjung yang masih waras dan tidak teler untuk membantu. Datang juga security club dan para bodyguard mengamankan tempat kejadian. Suasana tidak banyak berubah karena sebagian besar sudah teler dan tidak perduli sekitar mereka ada peristiwa.
Magdalena sendiri juga hanya terdiam seolah tidak merasa bersalah. Masih beusaha mendekat gebetan putri pejabat walau wanita itu masih tergeletak di lantai. Setali tiga uang dengan dua teman Magdalena dan teman laki-laki yang sedang duduk sedikit teler tidak terlalu merespon.
"Bagaimana keadaaan teman gue?" tanya Model papan atas itu sengan khawatir.
"Masih ada napasnya, dia hanya pingsan saja, apa yang terjadi?" Security memeriksa dengan menekan tangan dan pernapasan di hidung.
"Di dorong sama dia!" Model itu menunjuk Magdalena.
__ADS_1
"Dia yang mulai duluan," jawab Magdalena dengan jutek.
"Cepat panggil ambulan dan pihah yang berwajib!" perintah Security pada temannya.
Tayangan berakhir setelah putri pejabat itu di angkat menggunakan brankar tandu. Dibawa ke luar dari area club malam dengan dikawal pihak yang berwajib. Magdalena dan satu rombongan yang terdiri dari laki-laki dan wanita juga ikut digelandang pihak yang berwajib.
Siaran langsung sudah selesai, tetapi dilanjutkan dengan laporan pengiriman identits Magdalena dengan lengkap. Dari alamat tempat tinggal sampai pekerjaan orang tua. Ditambah akun media sosial juga ada termasuk nomor ponsel yang tertera persis seperti yang ada di nomor ponsel Kris.
Dugaan sementara dari Asisten Julio, Magdalena ingin mengadu domba mantan calon istri dengan istri Henry Alexander yang sekarang. Masih ingin mendekati laki-laki mapan yang sekarang ini ada di Jakarta apalagi sekarang sudah menjadi mualaf. Di kalangan Henry Alexander tinggal, laki-laki yang sedang belajar agama itu terkenal memiliki usaha besar di Italia.
"Cerdik memang Asisten Julio," kata Asisten Dwi Saputra sambil mematikan televisi.
"Bagaimana nasib Magda?" tanya Rena penasaran.
__ADS_1
"Tunggu kabar dari Bang Julio lagi, di sana tengah malam," jawab Elfa
"Benar juga, kita tunggu pagi di Jakarta saja." Kris juga ikut menjawab.
"Ayo kita sarapan dulu!" ajak Elfa.
Seharian ini setelah selesai sarapan, mereka berbincang dan bersantai di aparteman saja. Sengaja hanya menunggu kabar dari Asisten Julio tentang Magdalena. Mereka enggan ke luar karena masih penasaran yang terjadi pada putri pejabat.
"Sayang, coba cari di media sosial kalau penasaran tentang mereka siapa tahu viral!" perintah Juan Mahardika.
"Akak juga penasaran?"
"Sebenarnya Akak merasa ngilu melihat cara Asisten Julio tadi menjebak Magda," bisik Juan Mahardika di telinga Elfa.
__ADS_1
Elfa mengerutkan keningnya sambil memundurkan badan sedikit, tidak memahami ucapan suami, "Mengapa ngilu?"
Juan Mahardika dari tadi banyak diam saat melihat anak buah Asisten Julio memberikan satu butir pil kecil putih. Teringat dulu juga pernah melakukan itu karena dendam pada istri tercinta, "Akak jadi merasa sangat jahat karena pertemuan kita bertama kali juga berhubungan dengan obat itu," jawab Juan Mahardika sambil memeluk Elfa.