
Dengan mudah Asisten Dwi Saputra menjawab pertanyaan dari pengacara Dokter Yohan Carnett. Mengatakan jika Kkis tidak ingin bertemu dengan pengacara. Hanya akan bertemu dengan mantan suami setelah dibebaskan dari penjara.
Penolakan Kris untuk tidak bertemu dengan pengacara tergugat sudah di tandatangani dalam perjanjian. Walau mereka meminta untuk bertemu setiap saat, tetap saja mereka tidak bisa memaksa. Mencari sendiri tidak pernah bertemu dengan orang yang dimaksud.
"Alhamdulillah, biar kapok. Silakan saja berkeliling kota Bandung," gerutu Elfa setelah selesai mendengar cerita Juan Mahardika.
"Ee jangan emosi dong, Sayang."
"El kesal, coba ada mereka di sini sudah El bejek-bejek kayak rujak bebeg."
Kalau masalah yang asam-asam Juan Mahardika jagonya. Mendengar kata rujak tiba-tiba air liurnya seolah menetes. Padahal tidak tahu sama sekali yang namanya rujak bebeg.
"Apa itu rujak bebeg, Sayang. Akak kok jadi ngiler membayangkan rasanya asam nikmat gitu ya?"
"Rujak yang dibuat dari tumbukan aneka buah. Rasanya manis, asam, pedas dan sedikit sepat dengan tekstur halus dan aroma khas daun pisang."
"Isi buahnya apa saja?"
"Buah yang digunakan di rujak bebeg umumnya bertekstur keras. Seperti mangga, jambu, mentimun, pepaya muda, bengkoang, kedondong, nanas muda, dan ubi muda ditambah pisang batu atau mengkudu muda serta kebabal dalam racikan."
"Tunggu dulu, Sayang. Akak tahu mengkudu dan pisang batu tetapi Akak tidak tahu apa itu kebabal?"
Elfa tergelak mendengar pertanyaan suami tercinta. Makanan Indonesiai terkadang unik dan nyeleneh. Tetapi tidak dipungkiri rasanya tidak diragukan lagi nikmatnya.
"Kebabal itu anak buah nangka yang belum berbiji."
"Anak buah nangka ... anak buah nangka?" Juan Mahardika mengulang berkali-kali kata itu karena kurang faham maksudnya.
Dengan cepat Elfa membuka goegle mencari keterangan tentang kebabal. bentuknya kecil lonjong dengan warna hijau. berkulit halus tidak berduri seperti nangka yang sudah besar.
"Ini Akak lihat sendiri bentuk kebabal itu seperti ini!"
"Ooo begini."
"Yok kita buat sendiri rujak bebegnya, Sayang!"
"Mana bisa, rujak itu cara buatnya di tumbuk di lesung kecil. El tidak punya itu."
"Apalagi itu lesung?"
"Iiih Akak ini jadi orang kudet banget, cari sendiri rujak bebeg dan lesung di goegle," gerutu Elfa dengan kesal.
__ADS_1
"Namanya juga tidak tahu, mengapa marah sih?"
Setelah Juan Mahadika mencari tahu tentang rujak bebeg dan cara membuatnya. DItambah membaca racikan bumbu terdiri dari gula merah, cabai rawit, garam, sedikit terasi, dan air asam. Air liur serasa telah menetes karena membayangkan pasti sangat segar dan nikmat rasanya.
"Ayo kita beli rujak bebeg, Sayang!"
Elfa melihat jam dinding menunjukkan sekarang pukul sebelas malam. Tidak mungkin malam-malam begini ada orang berjualan rujak bebeg. Pada umumnya penjual rujak tumbuk itu baru akan mulai berjualan pukul sepuluh pagi dengan di pikul keliling kampung.
"Akak mau balas dendam, mana ada jam segini cari rujak bebeg?"
Juan Mahardika tergelak teringat kemarin setelah beraksi istri tercinta mengajak makan mie godog Jogja. Untuk mengalihkan perhatian agar air liur tidak menetes langsung merebahkan tubuhnya di samping Elfa.
"Akak mau beraksi dulu deh, biar tidak teringat rujak bebeg," katanya langsung tangan menyusup masuk dibalik baju tidur.
"Eee bagaimana kalau nanti setelah beraksi teringat lagi dan pingin rujak bebeg lagi?"
"Ya beraksi lagi." Juan Mahardika langsung menikmati tempat favorit bergantian kanan dan kiri.
Semakin umur kehamilan bertambah, Elfa semakin mudah lelah. Baru saja mengimbangi satu ronde permainan suami. Napas Elfa mulai terengah-engah bak lari baraton sepuluh kilometer.
"Jangan tambah lagi, kalau Akak teringat rujak bebeg olahraga sana sampai pagi, El capek banget."
Elfa tersenyum sambil menarik selimut, "Terima kasih, Akak memang suami terbaik."
"Tidurlah, Akak ke kamar mandi sebentar!"
"Ya."
Ngidam memang sangat unik dan susah dimengerti. Banyak yang tidak percaya karena tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Namun, keinginan yang aneh itu seolah tidak bisa dibendung karena teringat dan teringat lagi.
Juan Mahardika mencoba mengisi waktu dengan mengerjakan pekerjaan yang menumpuk agar tidak teringat dengan rujak bebeg. Berolahraga di ruang gym juga terus terbayang nikmatnya rujak bebeg. Sampai dipertiga malam mata tetap terjaga hanya gara-gara rujak bebeg.
Akhirnya ke dapur membuka kulkas dan mencari buah yang rasanya asam. Ada nanas, mangga dan stroberi yang sudah dipotong dadu dan dimasukkan di kotak box tertutup.
"Sementara makan ini dulu, jangan ngiler ya?" monolog Juan Mahardika sambil menutup kulkas.
Elfa yang sudah terbiasa terbangun di sepertiga malam. Tidak menemukan suami tidur di sebelahnya. Bergegas keluar kamar untuk mencari sebelum melakukan solat malam.
Tepat saat Juan Mahardika menutup pintu kulkas, Elfa datang dan berdiri di samping kulkas. Dapur dalam keadaan lampu dimatikan. Hanya ada sorot lampu dari kulkas dan seketika gelap saat pintu kulkas ditutup.
Elfa terlihat seperti bayangan dengan perut membuncit membuat Juan Mahardika tersentak kaget, "Astagfirullah!" teriaknya.
__ADS_1
"Akak ini El."
"Sayang bikin kaget saja?"
"Ngapain jam segini buka kulkas?"
"Akak tidak bisa tidur teringat sama rujak bebeg dan kebabal terus."
"Jadi dari tadi tidak tidur sama sekali?"
"Tidak."
"Ya Allah, ini cari apa?"
"Untuk sementara Akak mau makan ini dulu besok baru kita cari."
"Baiklah, setelah makan cepat tidur, El mau solat dulu!"
"Iya."
Elfa menunaikan solat sunah di kamar samping tempat tidur. Juan Mahardika makan buah duduk di sofa panjang tanpa bersuara. Awalnya tidak berselera karena bentuk buahnya dadu, tidak hancur seperti rujak bebeg.
Setelah satu per satu masuk mulut dengan rasa yang asam. Lama-kelamaan satu kotak box habis tanpa sisa berpindah ke perut. Rasa asam buah yang dimakan sedikit mewakili asam yang dirasa membuat air liur tidak menetes lagi.
Juan Mahardika sengaja duduk di sofa walau buah sudah habis dinikmati. Berniat menunggu Elfa selesai menunaikan ibadah. Tetap duduk walau tidak melakukan apa-apa.
Setelah setengah jam berlalu, Elfa selesai solat. Tiba-tiba mendengar suara lirih Juan Mahardika, "Jangan lembut-lembut ditumbuknya, Sayang."
Elha tersentak kaget dan langsung berdiri dan menengok kebelakang. Juan Mahardika terlihat terbaring di sofa dengan tangan terlipat di belakang kepala sebagai bantal. Mulut terbuka dengan suara dengkuan kecil terderang,
"Jangan pedas, Sayang. Akak maunya yang manis!" mulut Juan Mahardika berkata tetapi mata terpejam.
"Ya Allah ya Rob, Akak ngigau gegara tidak keturutan makan rujak bebeg!"
Elfa beniat membangunkan Juan Mahardika yang mengigau, baru tangannya menyentuh pundak kembali suara suami terdengar, "Kebabal rasanya kok gurih banget sih, Sayang?"
Elfa tersenyum sambil menggerakkan pundak Juan Mahardika, "Gimana rasa rujak bebegnya, Akak?"
Spontan Juan Mahardika membuka mata dan menjawab, "Gurih banget."
"Ha ha ha!"
__ADS_1