Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 68. Panen Raya


__ADS_3

Panen raya adalah panen yang dilakukan bersama petani dengan jumlah besar dalam satu wilayah. Biasanya akan diawali oleh salah satu pimpinanan atau orang yang sangat disegani mengawali pemotongan padi. Sebagai simbolis akan dimulainya panen secara serentak dalam kelompok petani.


Setiap tahun panen raya selalu di rayakan dan di hadiri oleh Papi Alfarizi. Pelopor koperasi petani itu selalu menjadi orang yang memotong padi pertama kali secara simbolis. Dilanjutkan oleh Mami Mitha yang akan memasukkan pohon padi ke mesin penggiling menjadi bulir padi yang terlepas dari tangkainya.


Hari ini yang melakukan pemotongan padi pertama kali adalah Juan Mahardika. Dan yang melanjutkan memasukkan pohon padi ke dalam mesin penggiling adalah Elfa. Kedua pasangan yang statusnya masih abu-abu itu terlihat kompak.


Tepuk tangan bergemuruh setelah acara simbolis selesai. Juan Mahardika berdiri di samping Elfa, "Kita sudah di catat sebagai pasangan abadi di sini, love you, garwoku," bisiknya di telinga Elfa.


"Jangan ngarep," jawab Elfa juga ikut berbisik.


"Harus dong."


"Jangan memaksa!"


"Tidak memaksa, hanya wajib saja."


Elfa terdiam tidak menjawab lagi perkataan Juan Mahardika. Teringat sebelum berangkat ke acara panen raya tadi pagi. Baru mengetahui acara pemotongan padi dan menggiling padi harus dilakukan berdua sesaat sebelum berangkat.


Harus dilakukan bersama dengan Juan Mahardika sebagai pasangan calon suami. Padahal rencana awal hanya Elfa yang diminta Papi Alfarizi sebagai wakil. Hanya sayangnya masyarakat dan panitia meminta dilakukan oleh suami istri atau calon.


Pakde Sarto mendekati Elfa setelah mengambil foto berkali-kali menggunakan ponsel, "El, sudah selesai potong padinya, El boleh berkeliling ajak Mas Londo untuk mengenal kuliner khas Ngawi!"


"Injih, Pakde. El ke sana dulu." Elfa meninggalkan tempat tanpa mengajak Juan Mahardika.


"El, tunggu dong!" Juan Mahardika menarik tangan Elfa untuk di gandeng.


"Jangan pegang!" tangan Elfa langsung di tarik cepat.


Elfa hampir menabrak orang yang berjalan di sebelahnya. Dengan spontan Juan Mahardika menarik Elfa dalam pelukan. Banyak orang berlalu-lalang sambil menyaksikan acara panen raya yang sangat meriah.


"Ini sangat ramai, El. Ayo lewat sini!" ajak Juan Mahardika melepas pelukan diganti dengan menggandeng tangan.


Acara dilanjutkan dengan hiburan pentas seni, musik, pertunjukan tari dan masih banyak lagi. Ada juga pemberian bea siswa bagi anak juara dan pembagian sembako untuk anak yatim dan lansia. Penyerahan bea siswa dan sembako diwakili oleh Pakde Sarto.


Ada banyak pedagang makanan yang sudah dibayar sebelum acara panen raya oleh Papi Alfarizi. Ada yang menggunakan gerobak rombong atau hanya mengangkat meja dan tenda saja. Disediakan gratis bagi setiap pengunjung yang datang baik dari desa sebelah atau tamu dari luar desa.


Ada rombong besar yang ada di pinggir panggung pertunjukan. Makanan khas Ngawi yang sering di sebut tahu tepo. Juan Mahardika mendekati rombong itu sambil memperhatikan dengan heran.

__ADS_1


"Itu makanan apa kok namanya tahu tepo?"


"Tahu tepo itu seperti ketoprak atau tahu tek kalau di Jakarta."


"Akak tidak tahu juga ketoprak, El mau Akak pesankan?"


"Pingin sih, tetapi El malas antri. Itu banyak sekali yang antri."


"Katakan dulu apa saja bahan utama dan condiment yang ada pada tahu tepo itu?"


"Tepo tahu merupakan kuliner turun temurun yang berasal dari Ngawi. Tepo tahu di dalamnya terdapat irisan lontong ditambah adonan tahu yang dicampur telur, kemudian tahu digoreng hingga matang. Setelah kekuningan, tahu disajikan dengan kuah kecap, air asam jawa, dan bumbu halus lainnya."


"Apa tidak ada campuran daging di dalamnya?"


"Tidak ada, hanya ditambah teoge dan kacang tanah goreng."


"El duduk di situ saja, Akak pesan kan!"


"Iya."


Elfa duduk di kursi yang kebetulan hanya satu yang kosong. Lebih dari setengah jam Juan Mahardika baru mendapatkan satu porsi tahu tepo. Harus diracik setelah dipesan yang membuat pelayanan terlihat lama.


"Kok cuma satu porsi, Akak tidak makan?"


"Tidak, nanti Akak cari menu yang ada dagingnya saja."


"Baik, terima kasih."


Elfa menikmati tahu tepo sendirian tanpa menawarkan kepada Juan Mahardika. Pura-pura tidak mengetahui saat laki-laki itu memperlihatkan dengan pandangan penuh cinta. Seolah sengaja ingin menguji kesabaran Juan Mahardika.


"Sudah habis."


"El pingin makan apa lagi?"


"El sudah kenyang."


"Kalau seandainya masih laper pingin apa lagi?"

__ADS_1


"El pingin makan itu!" tangan Elfa menunjuk rombong yang ada di ujung jalan pinggir sawah.


Juan Mahardika menengok tempat yang ditunjuk oleh Elfa. Ada rombong berukuran sedang dengan warna merah yang mencolok. Ada juga gambar hewan kambing yang sedang nyengir dengan tulisan 'tongseng kambing pedas'


"Tongseng kambing pedas seperti enak sekali, El mau?"


"Tidak."


"Akak pingin coba, El mau ya?"


"Baiklah, El tidak pakai nasi."


Elfa melihat antrian di rombong pedagang tongseng kambing pedas lebih panjang dari rombong tahu tepo, "Lihat, antrian sangat panjang, Akak mau ngantri lama?"


Juan Mahardika mengerutkan keningnya melihat antrian yang mengular panjang. Lebih dari dua puluh orang yang ingin menikmati tongseng kambing pedas, "Tentu saja, demi El apapun sanggup Akak lakukan."


"Mulai lagi." Elfa langsung mengerucutkan bibirnya sambil cemberut.


"El duduk dulu di situ ya!" perintah Juan Mahardika dengan tersenyum.


"Terima kasih."


Juan Mahadika tidak pernah melakukan hal yang aneh seperti saat ini. Biasanya selalu dilayani oleh pembantu jika menginginkan sesuatu. Tinggal tunjuk dan memerintah semua sudah tersaji dengan cepat.


Ingin menguji kesabaran, ingin menunjukkan semua bisa dilakukan asalkan berdua. Tanpa ragu langsung berdiri di belakang antrian terakhir. Sambil melihat Elfa hanya terdiam dan melihat sesuatu di ponselnya.


Sudah seperempat jam, belum juga mendapat giliran untuk memesan menu yang diinginkan. Masih lebih dari lima orang yang ada di depannya. Walau kaki rasanya sudah mulai pegal, tetapi tetap sabar menunggu.


Mata selalu tertuju pada wajah yang tertunduk sambil bermain di ponsel. Gadis yang mampu membuat hati jungkir balik mengejar. Hanya Elfa saja yang bisa membuat tindakannya tanpa dipikir panjang.


Menunggu dan mengantri adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Harus berdiri tidak tahu sampai kapan, tetapi tetap dilakukan. Hanya demi pujaan hati rela dilakukan.


Tinggal dua orang lagi antrian tiba, sambil tersenyum Juan Mahardika mulai mendekati pedagang tongseng kambing pedas. Memesan dua porsi satu tanpa nasi. Untuk dirinya sendiri memilih menggunakan nasi, menunggu antrian terlalu lama membuat perut keroncongan.


Ada dua pemuda yang mendekati kursi yang diduduki oleh Elfa. Kebetulan ada dua kursi kosong yang ada di depan Elfa. Kemungkinan dua pemuda itu berasal dari luar daerah karena tidak mengenal Elfa.


"Boleh gabung, Mbak?" tanya salah satu pemuda.

__ADS_1


Satu lagi pemuda di sebelahnya ikut bertanya, "Boleh kenalan, Mbak?"


"Kalian mau menggoda istriku?"


__ADS_2