Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 125. Singa Dikadalin


__ADS_3

Elfa tersenyum devil tanpa berbalik badan saat mendengar Juan Mahardika bertanya sambil menahan rasa, 'Singa di kadalin, sekarang rasakan bagaimana tidak enaknya menahan rasa karena berhenti ditengah?'


Elfa sengaja tidak menutup pintu kamar mandi. Sebenarnya tidak tega pada suami yang menahan rasa. Bertujuan agar tidak sering melakukan itu karena akan sangat malu jika sering terjadi.


Dugaan Elfa benar, Sang suami langsung menyusul ke kamar mandi. Masuk ke buth-up dan melanjutkan aksi sang istri yang terputus. Aksinya kini lebih bersemangat berlipat ganda sampai ke negeri di atas awan.


Setelah selesai ronde kedua, Juan Mahardika kembali ke mode awal. Membantu sang istri beraktifitas dari mengeringkan rambut setelah mandi. Sampai mereka akan beristirahat dan tidur malam.


Pagi hari saat sarapan di kamar, Elfa yang tersenyum sendiri saat teringat tadi malam. Bukan bertujuan meremehkan hanya sekedar menunjukkan menahan rasa ditengah jalan itu tidak enak. Mungkin jika menahan dari awal belum beraksi masih bisa di batalkan rasa itu, tetapi saat sudah di tengah sangat susah dihindari.


"Mengapa El tersenyum begitu?"


"Tidak apa-apa."


"El teringat tadi malam ya?"


"Yang mana, El tidak ingat?" jawab El sambil tersenyum yang di tahan.


"Yang El balas dendam dan mengikuti cara Akak?"


"Ooo Akak menyadari ya, rasanya bagaimana?"


"Maaf, Akak kapok tidak akan mengulangi, berhenti di tengah itu lebih menyiksa."


Elfa tergelak sambil mengecup bibir suami yang dimonyongkan lima centi, "Dimaafkan."


Ada ketukan pintu dari luar dan suara Abi Ali terdengar sedang memanggil cucu dan cucu menantu kesayangan. Elfa bergegas berlari membuka pintu dan mempersilakan masuk, "Apakah suami El belum sehat benar?"


"Tinggal pemulihan saja kok, bagaimana dengan kesehatan Opa?" tanya Juan Mahardika.


"Opa sudah sehat, Alhamdulillah."


"Opa silakan duduk!" perintah Elfa.


"Terima kasih, Opa mau tanya kapan kalian kembali ke Jakarta?"


"Senin pagi, Opa. Apakah Opa mau ikut ke Jakarta?" tanya Elfa.

__ADS_1


"Iya, Opa ingin bertemu dengan si kasep Al dan Ar."


"Kita bareng saja, Opa."


Senin pagi, Juan Mahardika, Elfa dan Abi Ali dari Ngawi langsung ke Bogor. Abi Ali memilih langsung ke tempat cucu kesayangan tidak ke Bekasi. Pasalnya Papi Alfarizi dan Mami Mitha juga berada di Bogor.


Hari ini bertepatan si kasep Al dan Raffa liburan semester genap. Mereka berdua kuliah di Australia mengikuti jejak Elfa di kampus yang sama. Hanya berbeda jurusan yaitu ekonomi dan bisnis.


Juan Alfarizi yang selalu posesif, saat bertemu dengan putra Abang ipar si kasep Al biasa saja. Namun, saat melihat Raffa yang berlari ingin memeluk Elfa saat bertemu. Raffa langsung di sambut oleh Juan Mahardika menggantikan Elfa memeluk.


"Eee, Kak Juan ...?" kata Raffa.


"Raffa dilarang peluk Kak El, yang boleh peluk hanya Kak Juan saja," jawab Juan Mahardika sambil mengacak rambutnya.


"Tega banget sih, Kak. Raffa sangat merindukan Kak El, cuma peluk saja tidak boleh." Juan Mahardika berjalan menyusul Elfa yang akan menuju kamar.


"Kak Juan ...!" panggil Raffa lagi.


"Ada apa lagi?"


Juan Mahardika mengerutkan keningnya teringat laporan Asisten Dwi Saputra tadi pagi. Mantan tunangan sekaligus model majalah dewasa dan wartawan yang telah melewati sidang berkali-kali itu masih berharap ingin bertemu. Pasalnya mereka terbukti bersalah dan tinggal menunggu putusan pengadilan.


Tuntutan hukuman lima tahun penjara dan ganti rugi yang sangat fantastis sudah di bacakan oleh hakim penuntut umum. Masih ada kesempatan untuk bertemu Juan Mahardika sebelum hakim mengetuk palu. Hanya sayangnya, yang ditunggu belum sempat datang dan pulang ke negaranya sendiri.


Dari publik dan masyarakat ada yang bersimpati kepada Sherly Crash. Wanita dewasa yang belum memiliki ikatan pernikahan, tetapi baru saja melahirkan itu. Sering menggendong bayinya saat mengikuti sidang. Sebagian masyarakat menilai wanita itu hanya mencari simpati agar mendapat keringanan hukuman.


Karena selalu menjadi sorotan dan kontroversi publik, Kepolisan memutuskan untuk memberikan keringanan khusus. Selama dalam persidangan Serly Crash hanya menjadi tahanan kota karena memiliki bayi yang masih membutuhkan ASI.


Apa yang kamu ketahui tentang sidang itu?" tanya Juan Mahardika duduk di sofa ruang tamu rumah Alfian Alfarizi.


"Raffa tahu semua karena selalu mengikuti sidang itu dari awal sampai kemarin."


"Raffa datang ke persidangan dengan Alashraf?"


"Tidak, Raffa datang bersama Kak Jasmine."


"Bagaimana menurut kamu persidangan itu?"

__ADS_1


"Mereka melakukan segala cara agar bisa bebas dari hukuman dan ganti rugi yang besar."


"Maksud Raffa apa?"


Raffa bercerita pernah ditemui oleh pengacara Sherly Crash dan Sherly Crash sendiri. Awalnya hanya bertanya karena selalu datang bersama adik kandung Juan Mahardika. Raffa tidak curiga dan menganggap hal biasa saat bertemu dan bertanya.


Setelah sidang berikutnya akan di mulai, pengacara dan Sherly Crash kembali menemui Raffa. Berjanji akan memberikan uang yang banyak asal mau memberi informasi tentang keberadaan Juan Mahardika. Apalagi bisa mempertemukan dengan suami Elfa itu, akan mendapatkan hadiah tiga kali lipat dari tawaran pertama.


Wartawan dan perusahaan yang ikut terseret dan menjadi tersangka juga menemui Raffa. Mereka melakukan hal yang sama demi bisa bebas dari tuduhan. Bahkan, menjanjikan lebih banyak uang dari pengacara Sherly Crash.


Raffa dari kecil sudah diajarkan hidup mandiri dan disiplin yang tinggi oleh Mama Asih. Selalu loyal dan setia kepada keluarga Papi Alfarizi yang sangat menyayangi. Tidak pernah tergiur dengan harta atau benda yang bukan miliknya.


Raffa menolak dengan tegas semua tawaran dari tersangka dan pengacara. Apalagi kasus yang menyangkut tentang kakak tercinta Elfa. Bagi Raffa semua orang yang akan menyakiti Elfa akan menjadi musuhnya.


Mereka juga pernah mengancam Raffa. Menganggap Raffa akan takut karena masih kecil dan mudah diperdaya. Hanya sayangnya, ancaman itu berbalik arah pada mereka sendiri.


"Bagaimana cara kamu bisa mengatasi mereka?"


"Dari pertemuan pertama, Raffa selalu merekamnya."


"Sampai sekarang rekaman itu masih ada?"


"Di ponsel Raffa sudah tidak ada, kemarin mereka merebut ponsel Raffa dan dihancurkan."


"Bagaimana Raffa bisa mengancam mereka balik?"


Raffa kembali bercerita ponsel miliknya selalu terhubung dengan laptop yang ada di apartemen. Jika ponsel hancur masih ada laptop. Dikirim juga kepada Mama Asih melalui email untuk mengantisipasi hal yang tidak terduga.


Saat mereka mengancam kembali dan mengira bukti sudah hancur. Raffa masih bisa membuktikan jika masih memiliki bukti yang terhubung dengan ponsel lainnya.Sehingga mereka tidak berkutik menghadapi Raffa.


"Bagus, bukti itu Raffa kirim ke Asisten Dwi, Kak Juan akan memberikan imbalan apapun yang Raffa minta."


"Benarkah, apapun termasuk Raffa memeluk ...?"


"Kecuali satu, dilarang memeluk Kak El!"


"Yaaaah padahal bagi Raffa yang paling berharga adalah Kak El."

__ADS_1


__ADS_2