
Seluruh keluarga ditambah dua asisten berlari menuju mushola. Ada yang membawa sapu, tutup panci, gagang untuk kain pel. Bahkan ada yang mengambil wajan yang warnanya hitam berniat untuk memukul maling.
Juan Mahardika yang mendengar teriakan pemuda tanggung itu langsung berdiri dan berteriak, "Tunggu dulu, aku garwone El bukan maling!"
Yang paling kaget dengan ucapan Juan Mahardika adalah Mami Mitha. Menyebut sebagai garwo atau istri dari putrinya. Apalagi mendengar bahasa jawa yang diucapkan terdengar kaku, "Istri dari mana?"
"Garwo mbahmu beck!" teriak Elfa.
"Untung Anda belum jadi digebukin, Tuan." Asisten Surya meletakkan sapu yang dipegang.
"Bikin kaget saja, Mas Londo!" teriak Bude Marmi.
"Mengapa Anda tidur di mushola, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra.
"Yaaah padahal tangan sudah gatal ingin memukul maling," kata Pakde Sarto.
Hanya Papi Alfarizi yang tidak berkomentar dan langsung mendekati Juan Mahardika, "Sekarang ayo sholat dulu nanti kita bicarakan setelah sholat!"
Juan Mahardika sedang duduk di hadapan Papi Alfarizi dan Pakde Sarto setelah selesai ibadah. Di dampingi dua asisten yang duduk sambil membuka laptop masing-masing. Tidak ada Elfa dan Mami Mitha karena berada di kamar masing-masing.
"Bagaimana dengan diarenya, Mas Juan?" tanya Pakde Sarto.
"Alhamdulillah, sudah tidak diare lagi setelah minum jamu dari Bude Marmi."
"Katakan mengapa kamu memilih tidur di mushola?" tanya Papi Alfarizi.
"Juan menjaga nama baik El, Juan mulai mengerti sekarang sejatinya mencintai hanya akan menjaga dan mengayomi. Tidak mungkin Juan akan merusak gadis yang sangat Juan cintai."
"Bagus kamu sudah banyak berubah, bagaimana dengan El sendiri?" tanya Papi Alfarizi lagi.
"Juan yakin putri Anda juga cinta, tetapi Juan masih harus meyakinkan dengan berjuang lebih keras lagi."
Papi Alfarizi mengangguk perlahan, pandangan mata menatap wajah Juan Mahardika yang terlihat serius. Kisahnya benar-benar mirip seperti perjuangannya dulu mengejar cinta Mami Mitha.
"Menurut Pakde Sarto bagaimana?" tanya Papi Alfarizi.
"Pakde merestui kalau Mas Londo ini menikahi El."
__ADS_1
Asisten Dwi Saputra tersenyum sambil mengacungkan jempol kepada tuannya. Turut bahagia dan senang melihat perubahan menuju lebih baik. Tidak menyangka hanya karena seorang gadis, tuannya sekarang ini terlihat sangat berbeda.
"Apakah kamu sudah siap lahir dan batin, Mas Londo?" tanya Pakde Sarto.
"Insyaallah siap lahir dan batin, Juan tunggu restu Papi dan Mami."
"Papi merestui kamu," jawab Papi Alfarizi.
"Alhamdulillah, apakah itu benar, Papi?" tanya Juan Mahardika.
"Benar, tetapi Papi tanyakan dulu sama El dan Mami."
"Baik, terima kasih, Papi."
"Ayo kita sarapan dulu saja!" ajak Pakde Sarto.
Menu sarapan kali ini sangat bersahabat di perut Juan Mahardika. Pagi ini masih dibuatkan bubur oleh Bude Marmi. Belum boleh makan yang pedas dan keras, hanya makan bubur beras dengan sayur terik tahu dan telur rebus.
Saat sarapan, berkali-kali Juan Mahardika melirik pintu kamar Elfa. Setelah benar-benar mendapat restu dari Papi Alfarizi. Jantung semakin berdegup kencang ingin segera melihat wajah cantik calon istri.
Hanya sayangnya, sampai sarapan selesai, yang ditunggu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ingin sekali mendengar respon jika Papi Alfarizi telah merestui. Tidak sabar ingin sekali membagi kebahagiaan yang ada di dalam hati.
Datang tamu dari kelompok petani dan koperasi desa. Mendengar Papi Alfarizi datang pagi ini mereka langsung menemui untuk bertemu dan memberikan laporan. Mengajak ke lokasi hasil panen raya dan produksi beras yang sedang dalam proses.
Papi Alharizi langsung setuju walaupun belum sempat beristirahat. Menghargai keramah-tamahan masyarakat desa. Mereka sangat menghormati dan mengharap saran dan masukan dari pendiri sekaligus penasihat kelompok petani.
"Kalian ikut semua ke koperasi petani!" perintah Papi Alfarizi.
"Termasuk Juan, Pi?" tanya Juan Mahardika.
"Ya terutama kamu, suatu saat nanti kamu atau Abang Al akan bisa mewakili Papi jika tidak bisa hadir.
"Apakah tempatnya jauh dari sini, Tuan?" tanya Asisten Dwi Saputra.
"Tidak, ayo kita berangkat!"
Juan Mahardika melirik pintu kamar Elfa sebelum berangkat. Ingin sekali melihat senyumnya sebelum berangkat mengikuti Papi Alharizi. Namun, pujaan hati tidak kunjung ke luar dari kamar.
__ADS_1
Tidak menyangka kunjungan Papi Alfarizi membutuhkan waktu yang lama. Sampai makan siang di rumah ketua koperasi dan berbincang di sana. Berkunjung pula di tempat penggilingan padi menjadi beras dan ke gudang penyimpanan beras.
Hari ini Juan Mahardika semakin merindukan Elfa. Hatinya selalu bergetar dan jantung berdegup kencang. Padahal belum ada satu hari tidak melihat pujaan hati.
Hanya bisa mengirim pesan WA saja sebagai curahan hati. Hanya kata rindu yang di tulis dan emot hati. Hanya sayangnya berkali-kali dikirim, tetapi yang dirindukan tidak mengaktifkan ponselnya.
Waktu seolah berjalan lambat saat mengikuti Papi Alfarizi berkunjung. Selalu berbincang dengan warga yang di temui. Sampai menjelang azar asar mereka baru kembali ke rumah.
Sampai rumah pun, Juan Mahardika tidak juga bertemu dengan Elfa. Bude Marmi bercerita jika Elfa dan Mami Mitha sedang berkunjung di puskesmas. Ada saudara jauh dari keluarga Pakde Sarto yang melahirkan.
Rasa rindu semakin menggebu, tetapi tidak kunjung bertemu. Harus melakukan sesuatu yang bisa segera bertemu dan bisa sekedar memandang wajahnya. Namun, tidak ada ide dan tidak tahu caranya.
"Elfa ke puskesmas bawa mobil sendiri atau jalan kaki, Bude?" tanya Juan Mahardika kepada Bude Marmi saat mereka sedang di dapur.
"Puskesmas ada di kecamatan yang jaraknya sekitar lima kilometer dari sini, tadi Mereka berangkat rame-rame ke sana."
"Mengapa Bude tidak ikut?"
"El dan maminya bawa mobil, Bude bawa motor sendiri. Jadi Bude pulang duluan."
"Apakah mereka juga sudah dalam perjalanan pulang, Bude?"
"Tadi Bude pamit duluan karena ada keperluan, mereka masih di sana."
Juan Mahardika bergegas mengirim pesan WA kepada Elfa. Walaupun pesan yang tadi pagi dan siang hari belum juga dibaca. Tetap saja tidak menyerah terus mengirim kata cinta dan rindu.
Ada suara mobil masuk halaman rumah, "Itu ada suara mobil, mungkin itu El dan maminya," kata Bude Marmi.
"Benarkah itu El, Bude?"
"Coba kamu lihat sana!"
"Injih, matur suwun."
Juan Mahardika berlari ke luar rumah menuju halaman sambil tersenyum. Berharap yang datang adalah pujaan hati. Rasanya tidak sabar lagi ingin mencurahkan kerinduan yang terpendam.
Ada tiga mobil yang masuk halaman rumah. Setiap mobil berisi penuh penumpang dengan pakaian yang mewah. Penampilan mereka seperti orang yang sedang menghadiri acara pesta pernikahan.
__ADS_1
Yang semakin membuat Juan Mahardika bingung dan khawatir adalah ada satu laki-laki yang memakai setelan jas dan memegang buket bunga, "Siapa mereka, kok seperti rombongan yang akan melamar?"