
Hari ke tujuh meninggalnya almarhum ibunda Rena. Juan Mahardika membawa seluruh keluarga kecil beserta pengasuh dan tim dokter ke desa Mami Mitha. Tinggal di villa mewah yang sekarang ini sudah direnovasi terutama untuk kenyamanan istri dan buah hati tercinta.
Elfa datang sengaja untuk memberikan dukungan kepada Rena. Karena saat meninggalnya ibu tercinta tidak bisa hadir. Ikut memanjatkan doa kepada yang maha hidup untuk ampunan dan dosa ibu semasa hidup.
Doa bersama berjalan dengan lancar dan khusuk. Tidak ada kendala yang berarti mulai dari awal sampai akhir. Sesaat acara selesai doa, Jonny Evan datang seperti kemarin, ikut duduk menikmati hidangan yang sudah disediakan tuan rumah.
"Tuan, lihatlah dia datang seperti kemarin!" Hanry Alexander hanya memberikan kode dengan menggerakkan kepala sambil menatap tajam ke arah Jonny Evans.
"Biarkan dia selesai makan, nanti kita temui dia apa tujuannya datang?"
"Apakah boleh Henry ikut?"
"Kamu mau ngapain, mau memperkenalkan sebagai calon suami Kris?"
"Henry mau menyelidiki apakah dia masih suka sama Kris atau tidak."
"Ooo ceritanya kamu cemburu?"
Henry Alexander hanya nyengir kuda tanpa menjawab pertanyaan Juan Mahardika. Setelah mengetahui penderitaan pujaan hati di masa lalu semakin memahami mengapa sangat sulit menakhlukkan hati wanita berputra satu. Tidak hanya karena keyakinan yang berbeda, tetapi juga karena pengalaman pahit dengan lawan jenis.
__ADS_1
Juan Mahardika langsung menghampiri Jonny Evans setelah laki-laki itu menghabiskan satu piring menu nasi rames, "Apa kabar, Bro?"
"Juan, kamu di sini?"
"Iya, bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Yah, beginilah aku sekarang, sudah tidak punya apa-apa lagi."
"Sekarang Juan sangat berbeda dengan Juan Yang dulu, kamu terlihat religius. Apakah karena sekarang sudah menjadi menantunya konglomerat keturunan Arab?"
"Semua pilihan hati, Bro. Juan yang dulu sudah terkubur dalam-dalam, sekarang yang ada Juan seorang ayah anak kembar yang sangat mencintai keluarga. Bagaimana dengan Jonny sekarang?"
Juan Mahardika langsung mengerutkan keningnya mendengar jawaban Jonny Evans. Menatap mata yang terlihat misterius hanya bisa menebak laki-laki mantan pemilik kafe esek-esek itu belum banyak mengalami perubahan. Tidak mungkin berani untuk memberikan nasihat jika tidak diminta langsung olehnya.
"Kamu ke sini mencari siapa?"
"Mencari informasi tentang Kris."
Henry Alexander yang dari tadi duduk di samping Juan Mahardika hanya diam dan memandang wajah laki-laki mantan Kris. Wajahnya masih terlihat tampan walau berpenampilan sederhana. Hanya sayangnya sorot mata itu terlihat ada amarah yang terpendam saat menyebutkan nama Kris.
__ADS_1
"Setahu saya, Kris sudah pindah dari desa ini dua tahun yang lalu dan sampai sekarang tidak ada yang tahu di mana dia tinggal."
"Tidak mungkin Juan tidak tahu, bukankah Kris adalah teman istrimu dan teman Rena yang punya rumah ini?"
"Mengapa kamu tidak percaya?"
Sambil tergelak Jonny Evans menepuk pundak Juan Mahardika, "Aku tahu kabar terakhir tentang Kris dari mantan pengacaraku, pengacara itu mengatakan jika Kris tinggal di Bandung, dia sudah menikah dan memiliki satu anak."
"Kalau sudah tahu begitu mengapa sekarang kamu masih mencarinya ke sini?" tanya Juan Mahardika lagi.
"Ibu sahabatnya meninggal seharusnya dia datang, aku ingin bertemu dengan dia karena masih ada sedikit urusan dengan dia."
"Oya, urusan apa itu?"
"Maaf, itu urusanku dengan Kris. Lebih baik Juan terus-terang saja di mana Kris saat ini?"
BERSAMBUNG
__ADS_1