Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 52. Mengsingkronkan Hati, Pikiran dan Pusaka


__ADS_3

Juan Mahardika jadi salah tingkah sendiri setelah Elfa bertanya dengan menggunakan bahasa yang formal. Pikiran dan hatinya sudah menganggap dan berharap Elfa adalah gadis istimewa. Hanya sayangnya sangat jauh berbeda dengan pemikiran gadis yang sedang duduk terdiam di tempat tidur.


"Apa maskud Anda dengan pemuda berondong makan nasi padang?" tanya Elfa lagi.


Juan Mahardika mulai tidak sabar dan sedikit emosi. Mendekati wajah Elfa dan memandang dengan tatapan mata yang tajam, "Jangan panggil dengan sebutan Anda bisa tidak?"


Elfa mengerutkan keningnya sambil memundurkan badan, "Awas jauh bukan muhrim!"


"Apa itu muhrim?" tanya Juan Mahardika semakin memajukan wajahnya.


"Halo, di zaman canggih gini tidak tahu artinya muhrim, sono tanya Akak goegle," jawab Elfa asal.


Juan Mahardika kembali memajukan wajahnya hampir tidak berjarak. "Jangan sekali-kali El pakai panggilan akak itu untuk orang lain, itu hanya khusus untuk Akak JM, mengerti!"


Elfa mengangguk sambil kembali memundurkan badan sampai mentok ke dasboard tempat tidur. Badannya mulai mengeluarkan keringat dingin dan kepala pusing. Bayangan masa lalu langsung muncul seolah akan terulang kembali.


"Eee ...?" Juan Mahardika menarik tubuhnya setelah melihat Elfa berkeringat dingin. Bergegas mengambil sapu tangan dan mengusap wajah Elfa dengan lembut.


"Sudah jangan dibahas lagi, ayo makan dulu dan cepat minum obat!"


"El tidak lapar."


"El harus makan, apapun yang El inginkan akan Akak JM penuhi asal El mau makan dan minum obat."


"El mau kembali ke tempat bencana."


"Itu pasti setelah sembuh, atau mau Akak JM suapin?"


Elfa langsung menjawab dengan menggelengkan cepat, "Tidak perlu, El masih punya tangan, makan sendiri saja."


"Tangan kanan El ada selang infus, makan pakai tangan kiri tidak boleh. Sudahlah nurut saja sama Akak JM!" Kembali Juan Mahardika meninggikan nada suaranya.


Elfa langsung cemberut sambil mengerucutkan bibirnya. Kesal melihat Juan Mahardika selalu saja emosi dan marah. Mudah sekali emosi dengan mengucapkan kata dengan nada tinggi.


Juan Mahardika mengambil nasi dengan lauk opor ayam. Ditambah sambal terasi dan kerupuk seperti makanan kesukaan Papi Alfarizi, "Ayo buka mulutnya, Akak tahu ini makanan kesukaan Papi!"


Elfa terdiam mendengar Juan menyebut nama papi. Seharusnya seperti orang-orang dengan memanggil dengan sebutan Tuan. Semakin waktu tindakannya semakin aneh dan tidak masuk akal.


"El ...!" Sendok sudah berada di depan mulut Elfa.

__ADS_1


Dengan terpaksa Elfa membuka mulut dan menerima suapan Juan Mahardika. Sekali, dua kali sampai nasi yang ada di piring tinggal setengah. Tangan Elfa menutup mulut sambil menggeleng setelah Juan memberikan suapan selanjutnya, "El sudah kenyang."


"Ini masih banyak nasinya?"


"El sudah kenyang, sini obatnya!"


"Baiklah, ini obat dan ini air putih."


Setelah Elfa meminum obat, kembali menyerahkan gelas yang sudah kosong isinya, "Terima kasih."


Juan akan mengambil menu steak daging yang ada di meja. Duduk di sebelah Elfa yang hanya terdiam. Belum sempat menyuapkan satu potong ke mulutnya sendiri, Elfa bertanya, "Di mana ponsel El?"


Juan Mahardika mengurungkan niatnya untuk makan. Menghadap ke arah Elfa yang masih duduk meluruskan kaki. Tangannya mengambil sesuatu di kantong jas bagian dalam, "Ponsel El masih di tempat bencana, untuk sementara pakai ini saja!"


"Ogah, El tidak menerima pemberian apapun."


"Pakai saja selama di sini!"


"Tidak, cepat makan! setelah selesai keluar dari kamar ini, El mau istirahat!"


Juan Mahardika meletakkan ponsel di samping Elfa. Bergegas makan tanpa menjawab perkataan Elfa. Lebih baik mengalah dan mengisi tenaga untuk perdebatan selanjutnya.


"Sana keluar, El mau istirahat!"


"Istirahat tinggal istirahat, jangan mengusir Akak JM juga dong!"


"Katanya tadi mau menuruti apapun permintaan El?"


"Maksud Akak JM itu permintaan berupa barang."


Elfa mulai emosi karena dugaan tentang tentang akan menuruti permintaan ternyata hanya berupa harta dan kekayaan. Itu sangat bertentangan dengan prinsip hidup selama ini. Dari dulu tidak pernah menonjolkan kekayaan orang tua demi sebuah kesenangan.


"Memeng El seperti wanita kebanyakan di luar sana gila harta, sorry ya El sudah memiliki segalanya, cepat keluar kalau tidak El akan pergi sendiri dari sini!"


Juan Mahardika terdiam sejenak teringat pada setiap wanita yang dulu dirayu. Jika dijanjikan akan memberikan apapun yang diminta. Biasanya wanita akan langsung akan bahagia dan sangat senang.


"Akak JM hanya menjaga El saja, tidak akan macam-macam."


"El baik-baik saja tidak perlu di jaga cepat pergi! atau El cabut lagi ini infus!"

__ADS_1


"Eeee jangan dong, ok Akak JM keluar!"


Keluar kamar, Juan Mahardika sambil menggerutu sendiri. Bertepatan Asisten Dwi Saputra datang, "Ada apa Anda marah-marah sendiri, Tuan?"


"Gadis satu ini susah sekali di takhlukkan, sudah dijanjikan aku berikan apa saja yang di minta. Aku tetap saja diusir dari kamar, biasanya gadis yang aku dekati langsung menyerahkan semua tanpa kecuali!"


Asisten Dwi Saputra tergelak sambil mengikuti Juan Mahardika duduk di kursi kecil yang ada di balkon kamarnya, "Anda salah kalau menyamakan Nona El dengan gadis yang lain."


"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Nona El tidak pernah menunjukkan kalau dia putri dari konglomerat Tuan Alfarizi Zulkarnain sejak SMA, dia menyumbangkan uang jajan untuk anak jalanan yang ingin bersekolah, salah jika Anda mendekati dia menggunakan kekayaan."


"Setiap aku ingin balas dendam, aku semakin tertarik dengan gadis itu, aku jadi bingung sendiri," jawab Juan Mahardika sambil mengacak rambutnya.


Kalau tujuan Anda untuk membalas dendam sebaiknya Anda mundur saja, Tuan. Ada banyak pendekar yang berdiri dibelakang Nona El."


"Aku tidak akan balas dendam lagi, aku akan mengikuti pusakaku saja."


"Apa maksud mengikuti pusaka Anda?"


"Pusaka ini hanya bisa bangun kalau bertemu dengan dia saja, maka dari itu mulai sekarang aku akan mengsingkronkan antara hati, pikiran dan pusaka."


"Bilang saja Anda sedang jatuh cinta, Tuan!"


"Aku belum tahu seperti apa rasanya jatuh cinta?"


"Seperti Anda ini, tetapi Anda harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan Nona El, Tuan."


Juan Mahardika mengerutkan keningnya saat mendengar nasihat Asisten Dwi Saputra. Seumur hidup jika merayu wanita selalu menggunakan uang dan ketampanan. Semua wanita pasti akan langsung nempel seperti prangko.


"Apakah ada wanita yang tidak suka dengan harta dan kekayaan?"


"Ada dong. Tuan."


"Jadi dengan apa harus mendekati?"


"Masih banyak cara, salah satunya dengan Anda memperbaiki diri, berpikir dan mengikuti apa yang dilakukan gadis yang Anda cintai."


"Memperbaiki diri, menurut kamu apakah aku tidak cocok untuk dia?"

__ADS_1


"Bukan tidak cocok, Tuan. Anda sangat cocok berjodoh dengan Nona yang baik hati itu asal Anda menjadi pribadi yang lebih baik lagi."


__ADS_2