
Dengan kesal Juan Mahardika memukul dengan kepalan tangan ke wajah Dokter Yohan Charnett berkali-kali. Dikatakan tidak gantleman sangat membuatnya tersinggung. Apalagi mengatakan jika Elfa adalah miliknya, sangat membuat hati terbakar cemburu.
"Kamu memang pantas diberikan pelajaran, Bug ... hug ... dasar brengsek!"
Yang di pukul seolah tidak merasa sakit atau kesal. Sambil mengusap darah yang mengalir di bibir Dokter Yohan Charnett tetap tersenyum seolah mengejek. Pak Jamal dan Asisten Dwi Saputra mencoba melerai dua orang yang tidak mau mengalah.
Pak Jamal menarik dokter yang mulai lebam wajahnya. Asisten Dwi Saputra menarik Juan Mahardika yang terlihat emosi dan marah besar, "Pak Jamal bawa dokter itu ke tenda sekarang!" teriak Asisten Dwi Saputra sambil menahan Juan Mahardika.
"Lihat saja kamu berani mendekati El, tidak hanya kamu yang akan aku hancurkan, rumah sakit tempat kamu bekerja juga akan aku hancurkan, dasar bodoh!" teriak Juan Mahardika sambil berjalan menjauh dengan ditarik oleh Asisten Dwi Saputra.
"Aku tidak takut!" teriak Dokter Yohan Charnett.
Asisten Dwi Saputra terus menarik Juan Mahardika yang ingin kembali. Dokter Yohan Charnett yang masih menjawab membuat Juan Mahardika semakin marah, "Cukup, Tuan. Tidak ada gunanya Anda marah, tujuan dokter itu Anda terpancing saja!"
Dengan kesal Juan Mahardika langsung masuk ke helikopter sesaat sampai. Setelah empat pengawal dan Asisten Dwi Saputra duduk ditempatnya. Helikopter langsung mengudara menuju bandara.
Hanya dalam waktu setengah jam berita pertengkaran Juan Mahardika dengan Dokter Yohan Charnett tersebar di kalangan relawan. Berita itu hanya menyebar dari mulut ke mulut saja. Termasuk di dengar rombongan tim dokter dari rumah sakit Aljuzeka.
Pak Jamal yang sangat dibuat kerepotan saat ini. Harus menjawab tepat dan tidak menjatuhkan nama Elfa dan tuannya. Harus sesuai dengan harapan Juan Mahardika yang mulai cinta dengan putri pengusaha terkenal keturunan Arab.
Hampir tiga jam Elfa istirahat di dalam tenda. Walau badan masih kurang fit, tetapi bosan jika harus diam saja dan tidak melakukan apa pun. Tanpa sengaja Elfa mendengar percakapan dua relawan satu anggota tim rumah sakit Aljuzeka saat baru akan keluar dari tenda.
"Siapa sih yang tadi melihat kejadian Dokter Yohan dipukuli oleh Tuan Juan?"
"Aku juga tidak tahu, berita itu menyebar hanya dari mulut ke mulut saja."
"Apakah rumah sakit pusat sudah tahu kabar ini?"
"Baru saja dokter Leo sudah melapor dan belum pulang dari pantai sekarang ini."
"Apakah Tuan Alfian kenal dengan Dokter Yohan dan Juan Juan?"
"Kalau CEO tampan itu siapa yang tidak kenal, semua orang seantero dunia kenal semua. Cuma yang aku heran mengapa seorang CEO tajir datang ke bencana hanya untuk bertengkar dengan dokter yang suka sama Nona El saja?"
"Nona El itu pantas di perebutkan lah, tahu sendiri bagaimana baiknya Nona El kita, 'Kan?"
Belum sempat Elfa keluar dari tenda, Alfian Alfarizi datang menggunakan helikopter bersama Asisten Julio. Mendengar kabar jika Elfa menjadi rerbutan dua laki-laki asing. Tanpa berpikir panjang langsung mendatangi tempat bencana.
__ADS_1
"Di mana kamar, Nona El?" tanya Asisten Julio kepada dua relawan yang sedang berbincang."
"Yang ini, Nona sedang beristirahat. Kami yang bertugas menjaga."
Elfa yang tadi berdiri di belakang pintu tenda bergegas duduk kembali di brankar tempat tidur miliknya. Pura-pura tidak mendengar orang yang ada di luar. Memilih berbaring membelakangi pintu.
"Waduh gawat, bagaimana ini?" monolog Elfa dengan lirih dan mencoba bernapas dengan tenang. Dadanya berdegup kencang karena kemarin menolak menikah dengan alasan belum punya pasangan.
"El ...!" teriak Alfian Alfarizi langsung masuk tenda.
"Abang Al!" teriak Elfa langsung bangun dan pura-pura kaget.
"El sudah sehat?"
"Sudah, Bang. Mengapa Abang Al ke sini?"
"Abang baru bisa sempat melihat El sakit."
"El baik-baik saja."
"Saat El kemarin di rawat di rumah sakit kota, Abang, Papi dan Mami sempat khawatir. Setelah di yakinkan tim relawan dan selalu dikirim foto perkembangan El, keluaga tenang."
"El tidak tahu kalau selalu di foto?"
Elfa tersenyum dan berusaha dengan tenang, "Ya tahu dong, Bang. Fotonya bukan pakai ponsel El, ya wajarlah kalau El juga ingin tahu."
"El sih, ponsel di tinggal di tenda. Lain kali selalu dibawa ponselnya!"
"Iya maaf." Elfa mengambil ponsel Alfian Alfarizi sambil termenung. Menduga kemungkinan tidak ada yang tahu saat dirawat Juan Mahardika kemarin. Langsung melihat satu persatu foto yang ada di galeri ponsel abang tercinta.
Foto yang di lihat hanya foto Elfa sendirian. Tidak ada satupun foto Juan Mahardika saat merawatnya. Foto saat beristirahat, ada juga foto sedang minum obat.
Terlihat sangat pandai saat mengambil foto itu. Terfokus pada wajah Elfa dan tempat tidur saja. Sekitar kamar tidak pernah terlihat sehingga setiap orang yang melihat seolah Elfa di rawat di rumah sakit kota.
"Apakah kabar yang Abang dengar itu betul, El?" tanya Alfian membuat Elfa kaget dan gelagapan.
"Kabar apa sih, Bang?"
__ADS_1
"Kabar tentang Dokter dan CEO dari MAHARDIKA CORP."
"Maksud Abang Al apa, El tidak faham?"
"Abang baru saja mendapatkan kabar kalau ada dua laki-laki yang merebutkan El."
"El tidak tahu, Bang. El baru datang tiga jam yang lalu."
Jantung Elfa seolah berdetak lebih kencang karena takut dan khawatir. Pasalnya Asisten Julio pasti langsung menacari tahu tentang biodata dua laki-laki yang bertengkar tadi. Bagi asisten jenius putra sahabat Mami Mitha itu hanya dengan menjentikkan jari saja informasi lengkap terpampang di depan mata.
"El suka salah satu dari dua laki-laki itu?"
"Siapa sih, Bang El tidak faham?" tanya Elfa masih berusaha menutupi tentang dua laki-laki itu.
"Dokter Yohan Charnett dan pengusaha terkenal Juan Mahardika."
"Ooo mereka."
"Yang mana kekasih El?"
"El tidak suka dua-duanya."
"Bagus kalau begitu, yang satu baru saja putus tunangan dan yang satu lagi berstatus tunangan."
"Apakah Abang sudah menyelidiki mereka?"
"Sudah, Abang dan Papi tidak suka dua-duanya. Abang ke sini mau jemput El pulang!"
Elfa membelalakkan mata dengan sempurna. Jika dihitung tugas awal, seharusnya masih sekitar satu minggu lagi bertugas di sini. Seharusnya satu setengah bulan Elfa menjadi relawan.
"Yaaa gimana sih, Bang. tugas El masih satu minggu lagi?"
"Kamu juga masih belum pulih benar, Mami ingin El pulang untuk melanjutkan perawatan di rumah sakit kita!"
"Itu namanya Abang, Papi dan Mami mengingkari perjanjian kita. Waktu itu setelah pulang dari menjadi tugas relawan El akan memimpin rumah sakit."
"Papi dan Mami tidak perduli kalaui El tidak jadi memimpin rumah sakit, yang penting El harus menghindari dua laki-laki itu. Ingat El tidak boleh merebut tunangan orang!"
__ADS_1
"Eee ...?"