Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 45. Relawan Asing


__ADS_3

Para peserta counseling terdiam menunggu jawaban Elfa. Hanya sayangnya Elfa tidak melanjutkan ucapannya. Elfa tersenyum sambil memandang mereka satu persatu.


"Menunggu ya!" teriak Elfa sambil tergelak.


Para peserta ikut tertawa karena Elfa yang membuat penasaran. Disertai komentar dan pertanyaan dengan bersahutan, "Ayolah Kak!"


"Kalau belum ada gebetan, saya daftar?"


"Boleh dong PDKT?"


"Akan aku jadikan menantu seandainya putraku ketemu."


Masih benyak lagi komentar dan pertanyaan yang mereka lontarkan. Pak Jamal sampai bingung mengambil foto mereka yang bertanya saling bersahutan. Tidak ingin ketinggalan satu momen pun terlewat.


"Saya sudah memiliki seseorang spesial, jadi mohon maaf dan terima kasih atas semua simpatinya." Elfa melipatkan kedua tangan di dada.


'Bahkan dua orang spesial itu yaitu Papi Alfarizi danb Abang Alfian.' batin Elfa dalam hati menjawab pertanyaan dari para peserta counseling.


Setiap hari setelah jam lima sore, sebagian besar para relawan laki-laki akan berjalan ke arah pantai. Tidak ketinggalan Pak Jamal juga menuju ke sana untuk mencari sinyal ponsel. Terkadang dengan rombongan terkadang sendiri tetap semangat pergi ke pantai.


Satu minggu berlalu, Relawan dan dokter ahli masih ada yang datang. Datang rombongan relawan dan dokter dari Australia dipimpin oleh Dokter Charnett. Membawa banyak bantuan, mulai dari sembako, pakaian bekas siap pakai, dan obat-obatan.


Dokter Charnett sengaja datang ke lokasi bencana tsunami karena melihat berita breaking news. Dalam berita itu ada tayangan sekilas tentang aksi Elfa dan rombongan sedang mengevakuasi korban. Sehingga dokter itu menggalang dana dan berniat menjadi relawan di lokasi bencana.


Elfa sedang melakukan counseling bersama para korban di satu tenda yang didirikan oleh angkatan bersenjata. Memberikan motivasi dengan mengatakan hal yang positif. Semua peserta terdiam berkonsentrasi mendengar motivasi Elfa.


Sampai Dokter Yohan Charnett datang dan ikut bergabung dan duduk di deretan belakang. Namun, tidak ada yang menyadari termasuk Elfa. Sedangkan Elfa masih terus memberikan motivasi positif yang membangkitkan semangat.

__ADS_1


"Kita memang saat ini sedang bersedih, tetapi tidak boleh larut dalam kesedihan karena di luar sana saudara kita juga merasakan hal yang sama. Mari kita berjuang demi desa kita dan jangan menyerah. Kesedihan bisa kita bagi dengan saling membantu dan berjuang untuk bangkit. Tenaga kita masih diperlukan untuk memulihkan kondisi desa dan perekonomian," kata penutup Elfa setelah diakhir jam pertemuan.


"Bagaimana, teman-teman. Semangat membara sekarang?" tanya Dokter yang mendampingi Elfa.


"Semangat!" teriak Peserta bersamaan sambil mengepalkan tangan dan diangkat ke atas.


Datang rombongan relawan mendekati panggung. Salah satunya rombongan mendekati Elfa, "Saya mengantar relawan asing yang ingin berkenalan. Ada tambahan relawan dan dokter ahli dari Australia, salah satunya duduk di kursi deretan paling belakang," bisiknya di telinga Elfa.


Mata Elfa langsung tertuju pada kursi bagian belakang. Ada dokter yang duduk di sana sambil tersenyum manis. Dokter yang selama ini sudah ditolak cintanya dengan terang-terangan.


"Pak, El izin keluar sebentar tolong lanjutkan ya," bisik Elfa pada Relawan itu.


"Siap," jawab Relawan itu sambil mengacungkan jempolnya.


Elfa keluar tenda dengan tergesa-gesa. Dokter Yohan Charnett bergegas mengikuti Elfa dengan langkah panjang. Pak Jamal juga mengikuti mereka sambil terus merekam vedio secara diam-diam.


Elfa terus berjalan dengan langkah panjang tanpa memperdulikan panggilan Dokter Charnett. Ada rasa kesal di hati ternyata laki-laki itu belum menyerah juga. Sampai harus ke tempat bencana menyusul dengan menjadi relawan.


Dokter Yohan Charnett menghadang langkah Elfa dengan berlari cepat, "El, please dengarkan aku terlebih dahulu!"


Dengan terpaksa Elfa menghentikan langkahnya. Sambil menarik napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. Tanpa mengucapkan sepatah kata hanya membisu seribu kata.


"Aku tidak akan memaksa kamu untuk mau menerima cintaku."


Elfa masih terdiam, hanya memandang Dokter Yohan Charnett sekilas. Lebih memilih mengalihkan pandangan ke arah belakang dokter itu. Masih kesal dan kecewa campur menjadi satu.


"Aku memang masih mencintai kamu, tetapi aku sadar cinta tidak bisa dipaksa. Jadi El tidak perlu khawatir."

__ADS_1


"Jadi tujuan Anda ke sini murni menjadi relawan sebagai dokter ahli, katakan dengan jujur?"


Dengan jujur Dokter Yohan Charnett menggelengkan kepala, "Jujur aku ke sini memang karena ada El, aku sudah bahagia bisa melihat El dari kejauhan."


"Ok, kalau begitu, laksanakan tugas masing-masing dan jangan mengganggu kegiatan El, permisi!" Elfa langsung berjalan cepat meninggalkan dokter itu.


Pak Jamal terus merekam semua pembicaraan Elfa dengan Dokter Yohan Chanett. Untungnya Elfa tidak memperhatikan Pak Jamal padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya terhalang pintu tenda yang tertiup angin.


Elfa melakukan kegiatan seperti biasa tanpa memperdulikan Dokter Yohan Charnett setelah satu minggu berlalu. Menganggap laki-laki itu tidak ada, walau dia sering memandang dengan tersenyum manis. Dia benar-benar menepati janji hanya melihat dari kejauhan tanpa berinteraksi secara langsung.


Sejak saat itu Pak Jamal yang menjadi pelindung Elfa tanpa diminta. Selalu menjaga dan mengawasi saat Dokter Charnett berada di sekitar Elfa. Mengikuti ke manapun kegiatan Elfa dan rombongan melakukan tugas kemanusiaan.


Sebagian besar tugas Elfa di lapangan. Beda dengan Dokter Yohan Charnett sering melakukan operasi di tenda yang di rancang khusus untuk operasi. Operasi yang berskala ringan akan dilakukan di lokasi bencana.


Elfa lebih sering menghabiskan waktu di lapangan dari pada di tenda. Merasa tidak nyaman dengan adanya Dokter Yohan Charnnet. Setelah adanya dokter itu pikiran Elfa semakin kacau teringat masa lalu dan teringat persoalan Rena.


"El ingin menghindari laki-laki brengsek itu, mengapa sekarang ada dokter pengganggu? seolah ke luar dari kandang harimau sekarang terjerembab masuk kandang singa," monolog Elfa saat sedang beristirahat di tenda miliknya.


Cinta yang ditunjukkan Dokter Yohan Charnett memang tulus. Laki-laki itu mulai bisa menerima jika cinta tidak bisa dipaksakan. Hanya sayangnya masih ingin berjuang dengan menunjukkan kesabaran dan ketekunan.


Elfa sore ini ikut para relawan berjalan menuju pantai. Disamping ingin menghubungi kedua orang tua untuk mengabarkan keadaan yang baik-baik saja. Elfa juga ingin mencari informasi tentang Dokter Yohan Charnett.


Dari informasi di media sosial, dokter yang menyukai adalah orang yang memiliki tipe pantang menyerah. Akan terus mengejar jika memiliki keinginan bagaimana pun caranya. Segala cara akan dilakukan sampai mendapatkan yang dinginkan.


Dari media sosial, Elfa juga mengetahui dokter itu pernah bertunangan dengan gadis asli Australia yang memiliki salon kecantikan. Gadis itu memutuskan pertunangan secara sepihak. Hanya sayangnya tidak dikatakan jelas penyebab gagalnya pertunangan.


Berita hanya menulis alasan jika sudah tidak ada kecocokan karena berbeda prinsip dan berbeda pandangan. Keduanya selalu memegang teguh prinsip dan tidak ada yang mau mengalah. Sehingga dua minggu sebelum pernikahan pertunangan dibatalkan.

__ADS_1


__ADS_2