
Dengan linangan air mata, Kris dan keluarga berangkat ke Eropa tepatnya di negara Italia. Bersama Henry Alexander dan Mama Cristine dengan menggunakan pesawat komersil. Elfa dan Rena bersama suami masing-masing hanya bisa mengantar mereka sampai bandara saja.
Semua perlengkapan Kris dan keluarga sudah disiapkan oleh Asisten Dwi Saputra dan karyawan yang ada di sana. Rumah sakit tempat melahirkan juga sudah dipersiapkan sebelum Kris dan keluarga tiba. Karyawan perusahaan yang berasal dari Indonesia ditugaskan khusus untuk membantu keluarga Kris beradaptasi tinggal di negara orang.
Mama Cristine tidak kalah sedih, disamping sudah mengaggap Elfa dan Rena seperti putri sendiri. Mendengar cerita dari Henry Alexander putranya bahwa Kris tidak bersedia tinggal di satu rumah. Kris memilih tinggal di apartemen milik keluarga Mahardika.
"Jangan lupa jaga kesehatan, jangan macam-macam. El punya seribu mata-mata untuk mengawasi Kris!" pesan Elfa sebelum Kris masuk area bandara.
"Iya, terima kasih banyak untuk semua yang El lakukan. Kris tidak akan berani macam-macam hanya cukup satu macam saja," canda Kris mencairkan suasana.
"El punya seribu mata, ingat Rey punya setibu kaki, ke mana pun Kris lari Rey yang akan mengejarnya, mengerti?"
"Iya, Kris mengerti. Terima kasih banyak sudah menjadi bagian hidup Kris selama ini."
Setelah berpelukan bertiga, Elfa memeluk Mama Cristine, "Titip Kris ya, Mama. Tolong jewer telinganya kalau dia ada salah!"
"Tentu, selamat tinggal."
Henry Alexader melipatkan di dada, "Kami pamit, terima kasih."
Air mata terus mengalir saat Kris dan rombongan harus masuk area bandara. Harus rela melepas kepergian Kris yang baru ditemukan. Semua demi kebaikan dan jauh dari laki-laki yang selalu memanfaatkan Kris.
"Ayo kita pulang, Sayang!" Juan Mahardika menggandeng Elfa dan menghapus air mata.
"Iya, El mau makan dulu ya, Akak?"
"El sudah lapar lagi, belum ada satu jam tadi El makan nasi pecel?"
Elfa tersenyum mengembang teringat sebelum berangkat ke bandara tadi makan menu nasi pecel yang dibuat oleh koki. Sekarang perut sudah keroncongan minta diisi. Melihat ada restoran Timur Tengah yang ada di ujung ruang tunggu bandara perut tiba-tiba terasa lapar.
"El sekarang lapar terus."
"Baiklah, El mau makan apa?"
"Itu saja restoran Timur Tengah."
Juan Mahardika dan Elfa berjalan menuju restoran yang diinginkan. Rena dan Asisiten Dwi Saputra bingung, "Tuan mau ke mana?"
"Itu ke restoran Timur Tengah."
__ADS_1
Rena langsung berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Elfa, "Mau makan lagi?"
Sambil tersenyum Elfa mengangguk. Rena menjadi heran padahal sebelum berangkat tadi sudah makan terlebih dahulu, padahal masih jauh dari waktunya makan malam. Sekarang ini baru masuk senja hari waktu Australia.
"Putra-putri El sudah minta makan lagi?" tanya Rena.
"Iya, melihat nasi kebuli iler El mau menetes."
"Ya Allah, Nak. Apa karena keturunan Arab lihat nasi kebuli jadi ngiler?" tanya Rena sambil mengusap perut Elfa dengan lembut.
Juan Mahardika ikut tergelak melihat Elfa dan Rena bercanda. Dua sahabat itu baru saja berpisah dengan salah satu sahabat terbaik. Ada rasa lega dalam hati bisa melihat istri tercinta bisa menerima dengan ikhlas salah satu sahabat harus berpisah.
Tidak hanya nasi kebuli yang Elfa pesan, seolah Elfa sedang lapar mata. Kebab, martabak maryam, cake kurma dan teh syai haleeb atau yang terkenal dengan teh susu rempah Arab dipesan oleh Elfa.
Satu meja hampir penuh dengan pesanan Elfa saja. Yang lain pesanannya belum datang. Pesanan ibu hamil yang diantar terlebih dahulu.
"Sayang, apakah habis pesanan segini banyaknya?"
"Tidak tahu, saat lihat menu tadi El ingin ini semua."
"Ya sudah silakan dimakan!"
"Mau tambah lagi tehnya, Sayang?"
Elfa belum sempat menjawab tawaran suami tercinta. Ada wanita model mantan Juan Mahardika masuk restoran. Sherly Crash masuk restoran sambil menggandeng laki-laki berpakaian khas Arab.
Juan Mahardika yang duduknya membelakangi pintu utama restoran awalnya tidak tahu sama sekali. Elfa terus melihat wanita itu masuk restoran tanpa berkedip, "Sayang, mau tambah ...?"
Juan Mahardika tidak melanjutkan pertanyaan dan menengok ke samping. Mata Elfa masih melihat wanita model itu melangkah masuk restoran, Ada apa, Sayang?"
"Tuuuh!" Elfa hanya menggerakkan kepala memberikan kode pada sang mantan.
"Tidak usah dihiraukan, cepat makan lagi!" perintah Juan Mahardika.
Rena yang tidak mengenal model majalah dewasa dan mantan suami Elfa melihat dengan penuh kekaguman, "Cantik banget wanita itu, siapa dia, El?"
"Mantan," jawab Elfa jutek.
Karena Elfa melirik Juan Maharika kemudian melirik Asisten Dwi Saputra saat mengatakan mantan. Rena mengira wanita tinggi dan seksi itu adalah mantan dari suaminya, "Dia mantan Aa Dwi?"
__ADS_1
"Hus, ngawur aja." Asisten Dwi Saputra melirik Juan Mahardika yang cemberut dan kesal.
"Jangan sensi Akak, senyum dong!" Elfa mengusap pipi Juan Mahardika dengan gemas.
"Akak jadi tidak selera makan," jawabnya dengan cemberut.
"Mau El suapin?" Dengan senyum mengembang Juan Mahardika mengangguk.
"Ini sebenarnya yang ngidam siapa sih, bumil atau pak su?" tanya Rena berbisik di telinga Elfa.
Elfa menjawab dengan menggerakkan mata sambil tersenyum. Menyodorkan satu sendok martabak maryam plus kari kambing pada suami tercinta, "Buka mulutnya, Akak!"
Baru satu suap masuk mulut, Juan Mahardika melirik wanita seksi model yang baru memesan makanan di restoran paling pojok, "Tidak usah melirik sana. Nanti salah masuk nich kari kambingnya," kata Elfa dengan ketus.
"Masuk ke mana?"
"Ke hidung Akak."
"El cemburu ya?"
"Kagak, ini mau di suapin lagi tidak?" tangan Elfa sudah berada di depan mulut Juan Mahardika.
"Iya."
Yang di pring martabak maryam hanya tinggal sedikit. Juan Mahardika merasa cocok dengan menu yang baru pertama kali di makan. Tangannya langsung diangkat memanggil pramusaji yang berdiri di dekat kasir.
"Akak mau mesan apa lagi?" tanya Elfa.
"Kari kambingnya Akak suka."
"Tidak pakai martabak maryam?"
"Tidak, Akak mau pesan kari kambing saja."
"Rey, Asisten Dwi ... mau juga kari kambing?" tanya Elfa.
"Tidak, kebab aja ini tidak habis," jawab Rena sambil menunjuk kebab daging sapi miliknya.
Karena Juan Mahardika mengangkat tangan sambil memanggil pramusaji, suara itu di dengar oleh Shery Crash yang tadi sedang memilih menu makan. Wanita model majalah dewasa itu langsung bediri dan berjalan mendekati meja Juan Mahardika.
__ADS_1
Juan Mahardika awalnya tidak menyadari dan bahkan tidak melihat saat wanita itu datang. Elfa menyenggol lengan Juan Mahardika sambil menyodorkan satu sendok, "Lihatlah, mantan datang ke sini, Akak!"