Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 159. Bertemu Henry Alexander


__ADS_3

Awalnya Dokter Emy ragu-ragu membaca laporan rekam medik milik Dokter Yohan Carnett. Diulang dua kali membaca sambil sesekali melihat Juan Mahardika, Elfa dan Asisten Dwi Saputra. Pasalnya rekam medik yang tertulis pasti akan berurusan dengan kantor polisi.


"Mengapa ragu, Dok. Silakan dibaca dengan keras?" perintah Juan Mahardika.


"Kapan Anda mendapatkan rekam medik ini, Tuan?"


"Belum ada satu jam, Dok. Ada apa memangnya?"


"Kemungkinan pasien ini langsung ditangkap polosi, atau akan dipindahkan di ruang isolasi saat ini."


"Apa maksudnya, Dok" tanya Elfa semakin penasaran.


"Dalam darah pasien terdapat barang terlarang dalam jumlah besar, kemungkinan pasien ini pecandu barang terlarang."


Elfa yang pertama kali kaget, mulutnya sampai ternganga mendengar keterangan Dokter Emy. Elfa mengenal dokter urologi itu tidak sebentar. Mulai dari awal praktek lapangan di rumah sakit yang sama, tidak pernah melihat sekali pun dokter itu menggunakan barang terlarang.


"Barang terlarang, Anda yakin, Dok?" tanya Elfa.


"Sangat yakin, Nyonya. Kemungkinan saat ini paseien sudah dalam pengawasan pihak yang berwajib."


Setelah Dokter Emy berpamitan ke luar kantor milik Juan Mahardika. Asisten Dwi Saputra menghubungi lagi anak buah untuk meminta keterangan yang pasti. Hanya dalam waktu setengah jam mereka sudah mengirim laporan lengkap tentang Dokter Yohan Carnett.


Dokter Emy tidak salah dalam memberikan keterangan. Saat ini Dokter Yohan Carnett sudah berada di kantor polisi setengah jam yang lalu. Dalam keterangan polisi dokter asing yang bekerja di bidang sosial itu sudah satu tahun terakhir menggunakan barang haram itu.


Karena dokter itu memakai identitas pekerja asing, pihak yang berwajib berkoordinasi dengan kantor perwakilan negara asal. Dalam tas yang ditemukan tidak ada keterangan jika dia sudah menikah dengan Kris. Hanya ada surat keterangan dia berpindah keyakinan.


Juan Mahardika langsung bergerak cepat untuk memerintahkan anak buah untuk mencari surat nikah milik Dokter Yohan Carnnet itu sebelum tercium media. Berencana pernikahan rahasia akan tetap menjadi pernikahan rahasia sampai waktu yang belum ditentukan. Yang pertama didatangi adalah pengadilan agama untuk mencari keterangan itu setelah ditelusuri dari RT setempat.


Sore harinya Elfa termenung di kamar sendirian teringat dokter yang dulu mengejarnya kini berada dalam masalah. Merasa bersalah karena menolak cinta itu sampai sejauh ini akibatnya. Ditambah memikirkan perasaan Kris jika tahu suami rahasianya masuk bui.


Juan Mahardika ke luar dari kamar mandi melihat Elfa termenung langsung mencium pipinya, "Apa yang sedang di pikirkan?"


"Iiiih Akak, bikin kaget saja, pipi El jadi basah nich!"


Dengan tergelak Juan Mahardika menggelengkan kepala. Rambutnya yang basah setelah mandi, tetesan air itu berpindah ke wajah Elfa, "Akak!"


"Sore hari dilarang melamun!"

__ADS_1


"El tidak melamun, hanya sedang memikirkan nasib Kris dan bayinya."


Juan Mahardika duduk di samping Elfa, mengambil jemari tangannya dan diciumnya berkali-kali, "Jangan berpikir terlalu berat, jangan lupa jaga perasaan twin baby kita. Kris dan dokter gila itu Akak dan Dwi yang akan mengurusnya."


"Tetap saja kepikiran, Akak. Ingat Kris seperti ini secara tidak langsung karena El yang menolak cinta dokter itu!"


Juan Mahardika yang masih memakai handuk terlilit di pinggang meletakkan jemari tangan ke pusaka bumerang yang sudah empat hari tidak beraksi, "Jangan buat Akak cemburu karena El memikirkan dokter gila itu, coba ini pusaka bumerang Akak nganggur gara-gara dia."


Elfa mengerucutkan bibirnya sambil menarik tangan dari posisi di atas pusaka yang belum terbangun sempurna, "Jangan bangun sekarang, twins baby masih malas bertemu pusaka bumerang Akak."


"Kenapa malas?"


"Karena ada yang diinginkan sama twins baby."


"Twins baby menginginkan apa agar pusaka bumerang bisa menjenguk mereka?"


"Belikan martabak dulu."


"Ada koki yang siap membuatkan apa saja tidak perlu beli di luar."


"Baiklah, Akak belikan sekarang. Setelah itu ingat ya, pusaka bumerang boleh bertemu dengan twins baby?"


"Iya bertemunya nanti malam saja."


Juan Mahardika bergegas memakai baju yang sudah di siapkan Elfa sebelum mandi tadi. Dan berangkat menuju tempat penjual martabak yang ada di dekat kampus. Awalnya semangat empat lima menuju kampus, setelah di tempat tujuan sangat ramai pembeli, Juan Mahardika enggan turun dari mobil.


"Bagaimana caranya beli tanpa harus mengantri dan tidak dikenali para mahasiswi itu ya?" monolog Juan Mahardika sendiri.


Juan Mahardika teringat dulu saat menjadi dosen tamu di kampus itu. Pasti para mahasiswi akan dengan mudah mengenal dirinya. Pasti akan berurusan panjang jika Elfa tahu ada mahasiswi yang akan mengejarnya.


Jika di Indonesia akan lebih mudah menggunakan jasa gofood yang sangat mudah ditemui. Namun, Di Autralia akan susah jasa pembeli makanan seperti itu, "Bagaimana ini?" monolognya lagi.


Yang membeli martabak di kedai memang sebagian mahasiswa, tetapi ada juga warga yang ikut mengantri membeli karena rasanya yang terkenal lezat. Tanpa sengaja Juan Mahardika melihat ada sosok laki-laki yang dikenalnya ikut mengantri membeli martapak dan kebetulan sudah selesai pesanan itu dan berjalan mendekat, "Henry!" teriak Juan Mahardika.


"Tuan, Anda di sini?"


"Kamu benar Henry Alexander teman Elfa, 'kan?"

__ADS_1


"Benar saya Henry, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Aku ingin membeli martabak buat El yang sedang ngidam, tetapi enggan jika nanti para mahasiswi itu mengenaliku."


"Oooo sebaiknya Anda bawa pulang martabak ini saja, saya yang akan mengantri lagi."


Juan Mahardika tersenyum manis mendengar penawaran Henry Alexander. Niat awalnya tadi ingin membayar dua kali lipat martapak yang dibelinya. Tanpa diduga laki-laki yang dulu mencintai Kris itu langsung menawarkan sendiri.


"Alhamdulillah, ini uang untuk membeli martapak lagi!" Juan Mahardika memberikan dua lembar uang dolar Australia.


"Tidak perlu, Tuan. Anggap aja sebagai ucapan selamat Anda akan memiliki baby."


"Terima kasih."


Juan Maharika teringat sosok Henry Alexander adalah laki-laki yang dulu menyukai Kris saat kuliah dulu. Di dalam pikiran langsung ada ide ingin mendekatkan lagi laki-laki yang baik untuk Kris. Seandainya memang bukan jodoh paling tidak untuk bisa berteman atau sekedar bertemu teman lama.


"Henry, kamu di sini masih lama, bagaimana kalau mampir ke rumah kami. Aku menundang kamu saat makan malam nanti?"


"Dengan senang hati, Tuan. Tetapi saya mengajak Mama bolehkah?"


"Tentu, nanti alamat rumah aku kirim lewat pesan WA."


"Siap, saya pesan martabak lagi permisi, Tuan."


Baru beberapa langkah Henry Alexander mengayunkan kakinya, Juan Mahardika memanggil dia karena penasaran dengan statusnya sekarang, "Henry, apakah kamu masih berhubungan dengan Magda?"


Henry Alexander berbalik badan sambil menggelengkan kepala. Teringat wanita matre yang dulu di jodohkan mama itu sudah hampir setengah tahun menghilang bak di telan bumi. Berita yang didengar dari mama, wanita itu kembali ke Indonesia bersama kedua orang tua.


"Tidak, Magda sudah lama kembali ke Indonesia bersama orang tuanya."


"Berarti kamu sekarang masih single dong?"


ERSAMBUNG


Hai shobat mampir tok di novel teman yang rekomen ini


__ADS_1


__ADS_2