
Berkali-kali Elfa melirik Juan Mahardika yang tersenyum bahagia. Memandang dengan penuh cinta dan mata berbinar. Dukungan Papi Alfarizi seolah semakin membuat hatinya berbunga-bunga.
Keraguan yang masih dirasakan beberapa hari ini masih dirasakan. Rasa trauma dan sakit hati masih ada di hati. Hampir tidak percaya Papi Alfarizi memerintahkan untuk menikah dalam minggu ini.
"Mami, tolongin El. El belum pingin ...!" Belum sempat Elfa melanjutkan ucapannya. Mami Mitha tersenyum dan mendekati Elfa, "Nak. Mami yang menyarankan sama Papi untuk El menikah di sini dalam minggu ini."
"Mami, mengapa begitu, El belum siap?"
"El, Mami dan Papi sudah mempertimbangkan dan memutuskan tentang kalian. Percayalah sama Mami!"
"Papi bagaimana sih ini, El saja belum menerima cinta Akak JM." Elfa mengerucutkan bibirnya sambil kembali melirik Juan Mahardika.
"El tidak ingin durhaka kepada Papi dan Mami, 'kan?" tanya Papi Alfarizi.
"Iya dong."
"Berarti El harus nurut sama Mami ya, Nak?"
Mami kembali Mitha duduk kursi semula. Teringat tadi saat menyarankan agar Elfa segera menikah dengan Juan Mahardika. Berkali-kali menerima saran dari Pakde Sarto atau keluarga yang lain untuk segera meresmikan mereka.
Mami Mitha dan Papi Alfarizi juga menilai semakin hari Juan Mahardika semakin berubah baik. Perjuangan laki-laki keturunan Jawa Australia hampir sama dengan perjuangan zaman dulu. Hanya bedanya keduanya belum memiliki keturunan dan masih berstatus sendirian.
"El masih ...!" Papi langsung memotong ucapan Elfa, "Percayalah sama Mami dan Papi, Nak. Bagaimana Juan, kamu sanggup menikah minggu ini?"
"Sanggup, Papi. Juan sangat bahagia jika itu terwujud."
"Papi, El tidak mau."
"Apa yang membuat El ragu?" tanya Juan Mahardika dengan tegas.
"El masih ragu, El juga tidak kenal keluarga Akak," jawab Elfa dengan jutek.
"Hari ini Akak hubungi Mom dan Dad untuk ke sini. Bagaimana Papi dan Mami?"
"Ya, Papi setuju."
__ADS_1
Di piring Juan Mahardika masih ada dua jagung lagi yang belum dinikmati. Juan Mahardika mengambil ponsel yang ada di kantong. Belum sempat membuka ponsel, Elfa mengambil ponsel Juan Mahardika, "Jangan hubungi sekarang, nanti dulu El minta waktu. Lebih baik habiskan jagungnya!"
"Baiklah." Juan Mahardika kembali makan jagung rebus yang masih tersisa.
"Mau minta waktu berapa lama lagi, Nak. Percayalah sama Mami?"
"Tidak tahu, Mi. El mau berpikir dan merenung dulu."
Juan Mahardika menatap tajam Elfa. Melihat matanya yang terlihat masih ada rasa kecewa. Masih ada rasa sakit hati atas apa yang dilakukan dulu.
"Sampai besok saja ya, Akak tunggu?"
"Cepat betul, tidak bisa. Sampai batas waktu yang tidak ditentukan."
"Waduh, jangan lama-lama dong!"
"El pusing, mau ke kamar saja." Elfa ke luar ruang makan tanpa menoleh ke belakang.
"Nak ...!" teriak Papi Alfarizi dan Mami Mitha bersamaan.
"Tidak apa-apa, Papi. Juan akan menunggu sampai El memberikan jawaban dengan sabar."
"Terima kasih, Juan sangat bahagia Papi dan Mami merestui kami."
"Papi mau bertanya sekali lagi, yakin sanggup menikah dalam minggu ini?"
"Sanggup, insyaallah Juan siap lahir batin."
"Mami hanya minta jangan sekali-kali Nak Juan sakiti El, putri Mami itu hanya luarnya saja yang keras. Hatinya mudah tersentuh dan sangat penyayang."
"Iya Juan janji, Mami. Segenap jiwa raga Juan mencintai putri Mami."
"Bagus, Mami pegang janji itu."
Juan Mahardika masih menikmati jagung rebus saat Papi Alfarizi dan Mami Mitha berpamitan menyusul Elfa di kamar. Mencoba bersabar dan menunggu Elfa berpikir ulang tentang pernikahan. Sangat memahami apa yang dirasakan gadis yang sangat dicintai, kemungkinan masih belum bisa melupakan apa yang dilakukan di masa lalu.
__ADS_1
Mami Mitha membuka pintu kamar Elfa perlahan. Hanya sayangnya pintu terkunci, "Pintunya terkunci, bagaimana ini, Pi?"
"Biarkan saja, ayo kita ke kamar! Besok pagi saja kita bicara dengan El."
"Tidak biasanya El mengunci pintu jam segini, Pi."
"Tidak apa-apa, biarkan dia tenang dulu."
"Baiklah."
Elfa yang awalnya berpamitan ke kamar, ternyata dia hanya mengunci pintu kamar dan ke luar rumah secara diam-diam. Memilih duduk di batu besar yang ada di pinggir sungai. Malam ini bulan purnama sehingga suasana terlihat terang, apalagi ada kilauan air yang jernih semakin terang dan syahdu.
Sambil melempari air sungai yang mengalir. Elfa terus memikirkan perintah orang tua. Antara sakit hati dan benih cinta yang mulai tumbuh seolah berjalan beriringan. Seperti rel kereta api yang selalu berjajar, tetapi tidak bisa bersatu.
Ucapan, rayuan dan tindakan Juan Mahardika selama di Ngawi belum cukup untuk meyakinkan hati. Bayangan peristiwa masa lalu dan kehidupan Juan Mahardika di masa lalu selalu saja melintas. Seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan.
Merenung dan terus merenung, dengan debaran jantung yang mulai tak menentu. Hati yang perlahan mulai terpaut tanpa disadari. Tidak juga bisa meyakinkan hati untuk menerima sepenuhnya laki-laki yang telah mengambil paksa kehormatan di masa lalu.
Belum pernah jatuh cinta, belum pernah pacaran bukan berarti tidak laku. Dari sejak mengenal lawan jenis, mengetahui kisah Mami Mitha dan Teteh Rania. Langsung membentengi diri untuk bisa hati-hati, ditambah lagi susah jatuh cinta.
Apalagi menyaksikan sendiri gadis desa menjadi korban tradisi dan keegoisan keluarga. Semakin membuat Elfa tenggelam berjuang dan tidak berniat untuk mengenal dan tidak ingin jatuh cinta. Ditambah sebagian lawan jenis sering mendekati karena putri pengusaha yang sukses.
Elfa mulai meneteskan air mata saat membayangkan tiga peristiwa sekaligus, "Ya Allah, mengapa sulit sekali melupakan peristiwa itu?" monolognya sendiri.
Elfa melempari ikan yang berenang mendekati kaki. Seolah mereka sedang mengajak bercanda dan mengetahui isi hati. Menghibur agar tidak bersedih dan bersemangat.
"Apa yang membuat Papi dan Papi seyakin itu?" Elfa bertanya pada diri sendiri.
Elfa teringat kehidupan Teteh Rania dan Abang Alfian bahagia saat ini. Teringat juga Papi Alfaizi yang sangat mencintai Mami Mitha tanpa batas, "Apa maksud Mami dan Papi, apakah dia bisa seperti Papi atau Abang Al yang sangat mencintai pasangan?"
Elfa kembali teringat saat melakukan hypnoterapi setelah kejadian itu terjadi. Tidak menyangka yang dilakukan seolah kembali berbalik pada diri sendiri. Memang sudah tidak menikmati indahnya wanita, tetapi justru mengejar cintanya kini.
"Bagaimana ini, El jadi bingung sendiri, dulu Mami meminta untuk mengikuti kata hati, tetapi mengapa sekarang harus percaya dengan keyakinan Mami?"
Tanpa sengaja Juan Mahardika ke luar rumah untuk mencari angin. Tanpa sengaja bertemu dengan tetangga sebelah yang baru pulang dari sungai, "Mas Londo, mengapa membiarkan El sendirian di pinggir sungai?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Ini baru mau menyusul ke sana," jawab Juan Mahardika pura-pura mengetahui di mana Elfa berada.
Berlari sekencang mungkin menuju sungai. Melihat Elfa sedang duduk sendiri termenung sambil melempari ikan menggunakan kerikil, "Garwoku, bikin khawatir saja. Sudah malam ayo kita tidur!"